Semua orang berkata, sang penguasa sekolah, Luo Yanxing, benar-benar bukan orang yang mudah dihadapi. Hingga suatu hari, di SMA Swasta Quanying, datang seorang siswi baru—kabar burung menyebutkan ia a
Awal September tahun ini di Quancheng Yicheng diliputi oleh terik matahari yang menyengat; cahaya mentari yang membakar jatuh ke tubuh manusia, seolah-olah memanggang mereka tak berkesudahan.
Di bawah naungan pohon, Di Xiaodi melangkah perlahan, menenteng payung hitam dari karet. Namun, hawa panas yang melingkupi segera saja membuat keringat tipis mengalir di wajahnya.
Ketika ia memasuki kantor Kepala Kelas Dua SMA, rona kemerahan yang dipicu panas masih melekat di kedua pipinya, serupa semburat perona pipi yang baru saja dipulas.
“Jadi kamu murid pindahan yang baru, Di Xiaodi?”
Kepala kelas yang bertubuh tinggi dan kurus itu, bila tanpa ekspresi, tampak kaku dan dingin. Ia meneliti berkas Di Xiaodi sejenak, lalu berujar,
“Nilai-nilaimu cukup baik, sementara akan ku tempatkan kamu di...”
Belum sempat kalimat itu usai, pintu kantor diketuk seseorang.
“Lao Xu, kudengar kaulah yang membatalkan pertandingan basket kelas dua tahun ini. Bisa jelaskan alasannya?”
Di Xiaodi menoleh ke arah suara itu, dan di sanalah ia melihat Luo Yanxing, bersandar malas di ambang pintu.
Dalam dekapannya, ia memeluk sebuah bola basket; senyumnya lebar, berani, dan bebas. Rambutnya masih basah—agaknya karena tak tahan panas, ia baru saja membasuh kepala di bawah keran, sekadar menyegarkan diri.
Tetes-tetes air menetes dari sisi wajahnya, mengalir melewati jakunnya yang elok.
Di Xiaodi tertegun sejenak.
Luo Yanxing pun tampak terkejut melihatnya, namun tanpa menghiraukan kehadiran guru di dalam, ia langsung mengangkat tangan men