Bab Empat Puluh Tiga: Apakah semua guru telah ditipu olehnya?
Gong Lingxiao tertegun.
"Memangnya aku belum sikat gigi saja? Kamu jauh lebih bau, bahkan tadi sempat kentut ke arahku, aku saja tidak protes."
Si Panci Nasi mengerucutkan bibir mungilnya, menginjak dada Gong Lingxiao dengan perasaan sedih, lalu bangkit dan merangkak turun dari tempat tidur sambil merengek, "Tidak bersih! Aku tidak bersih! Aku mau mandi!"
Gong Lingxiao merasa dunianya runtuh.
Perlu diketahui, ia adalah pria yang terkenal sangat terobsesi dengan kebersihan, namun kini justru dianggap sebagai pria bau oleh putri kandungnya sendiri. Di pagi hari yang cerah ini, harga dirinya benar-benar hancur.
Ia secara refleks berjalan menghampiri Asisten Li, lalu mengembuskan napas, "Apakah bau sekali?"
Asisten Li mengernyit, "Sedikit. Mungkin karena semalam Anda minum alkohol, pencernaan Anda sedang tidak baik, jadi ada bau mulut."
Mendengar itu, Gong Lingxiao semakin meragukan dirinya sendiri. Sepuluh menit di kamar mandi dihabiskannya hanya untuk merenungi nasibnya yang dianggap bau oleh sang putri.
"Tuan Gong, para guru sudah datang."
Gong Lingxiao melangkah keluar dari kamar dengan wajah kesal karena baru bangun tidur. Saat itu, tiga orang guru yang mengenakan pakaian formal sudah menunggu di ruang kerja.
Si Panci Nasi menatap orang-orang itu dengan penasaran, ia mendekat dan mengamati mereka dari kiri ke kanan.
Melihat tingkah laku si kecil yang menggemaskan, para guru itu menyapanya, "Halo, Nona Kecil."
"Hari ini pacarmu selingkuh, ya!"
Satu kalimat dari Si Panci Nasi membuat sang guru wanita yang menyapanya mematung. Guru bahasa itu tidak bisa lagi menahan diri, matanya memerah, "Bagaimana kamu tahu pacarku selingkuh? Bagaimana kamu tahu hari ini dia selingkuh lagi?"
Melihat sang guru menangis tersedu-sedu, Si Panci Nasi mengeluarkan sebutir permen susu dari sakunya, "Karena dia pria brengsek! Kamu harus meninggalkannya, putuskan saja hubungan dengannya!"
Suara yang masih kekanak-kanakan itu mengucapkan kata-kata yang terdengar terlalu dewasa. Sang guru menyeka air matanya, melupakan tujuannya datang untuk mengajar, dan justru menjadi antusias ingin menyelesaikan masalah asmaranya, "Tapi aku sudah dua puluh sembilan tahun. Aku sudah tiga tahun bersamanya, kalau tidak menikah dengannya, akan sulit bagiku untuk mencari suami lagi."
Si Panci Nasi berjinjit dengan kaki mungilnya yang menggemaskan, lalu menyentuh dahi sang guru, "Aku kenalkan seseorang padamu, pria yang sangat tampan! Dia kaya raya, kepribadiannya baik, seratus kali lebih tampan daripada Papa."
Sialnya, ucapan itu terdengar oleh Gong Lingxiao yang baru saja masuk.
Si Panci Nasi tidak menyadari ayahnya sudah mendekat dan melanjutkan ucapannya kepada sang guru, "Pria tampan itu namanya Li Xun. Dia sedang dalam perjalanan ke kantor sekarang. Kalau kamu pergi ke sana sekarang, kamu akan bertemu dengannya dan jatuh cinta pada pandangan pertama!"
"Benarkah? Bagus sekali, kalau begitu aku pergi sekarang." Ucap guru itu sambil menyambar tasnya dan bergegas pergi.
Gong Lingxiao mengernyitkan dahi, ia terus memperhatikan putrinya yang kini beralih ke guru pria kedua, "Kakak, jam sepuluh pagi nanti, belilah tiket lotre, kamu pasti menang hadiah besar!"
Guru pria itu bersemangat, "Benarkah?"
Si Panci Nasi memasang wajah serius, "Lebih nyata daripada mutiara! Kamu harus membelinya tepat jam sepuluh pagi! Kalau tidak, kamu akan melewatkan kesempatan dan harus kerja rodi seumur hidup!"
Ucapan itu membuat guru terakhir yang berdiri di sana merasa tertarik, "Bagaimana denganku? Aku juga ingin kaya! Kapan aku harus membelinya?"
Asisten Li yang berada di samping pun tidak bisa menahan diri, "Nona Kecil, bagaimana denganku? Aku juga tidak mau kerja rodi seumur hidup."
Wajah Gong Lingxiao menghitam. Apakah mereka menganggapnya sudah mati?
Ia berdeham dengan nada marah. Biasanya, setiap kali ia melakukan itu, semua orang akan terdiam dan menatapnya dengan takut. Namun kali ini, mereka semua justru mengabaikannya!
"Keberuntunganmu hari ini sedang buruk! Kamu harus pergi ke luar ruangan untuk mengubah medan energimu. Hari ini adalah waktu yang tepat untuk mengubah medan energi, siapa tahu keberuntunganmu akan berlipat ganda," lanjut Si Panci Nasi memamerkan ilmu metafisikanya.
"Si Panci Nasi, jangan mengoceh dan menipu orang di sini! Kamu cuma tidak mau belajar, kan?" Gong Lingxiao tidak tahan lagi dan menegur dengan suara dingin.