Bab 3: Siluman
Wang Xiaohu tidak percaya bahwa gadis itu benar-benar berani melawannya. Ia tetap enggan mengembalikan barang itu. “Janji mau main sama aku dulu, baru aku kembalikan Giok Qilinnya.”
Ronghua pun malas berdebat lebih lama. Ia langsung menerjang, menubruk Wang Xiaohu hingga terjatuh ke tanah, lalu menampar wajahnya bertubi-tubi.
Anak perempuan berusia enam tahun itu memang tak punya banyak tenaga, namun jumlah tamparannya cukup membuat Wang Xiaohu kewalahan. Suara “piak piak piak” menggema, dan wajah Wang Xiaohu pun seketika memerah, hingga akhirnya ia tak sanggup lagi menahan, lalu menangis meraung-raung. Di rumah, ia adalah anak bungsu, satu-satunya anak lelaki, sangat dimanja; mana pernah ia menerima perlakuan seperti ini.
Anak-anak lain yang menjadi teman Wang Xiaohu hanya bisa melongo. Baru setelah mendengar tangisannya, mereka teringat untuk membantunya. Namun sudah terlambat, Ronghua telah berhenti menampar.
“Berikan barangnya.”
Kali ini, Wang Xiaohu tak berani membantah. Ia dengan patuh mengeluarkan Giok Qilin, lalu melemparkannya kepada Ronghua. Seketika itu pula ia menaruh dendam di hatinya. “Berani-beraninya kau memukulku! Aku akan mengadu pada—”
Ronghua melemparkan tatapan sinis, lalu mendecakkan lidah dengan nada meremehkan. “Dipukul anak perempuan enam tahun sampai begini, kalau kau tak malu, silakan saja katakan pada siapa pun.”
Wajah Wang Xiaohu pun memerah karena malu, tak sanggup berkata apa-apa.
Ronghua berbalik, menyerahkan Giok Qilin itu kepada bocah lelaki pemiliknya, sembari menasihati, “Simpan baik-baik. Kalau sampai hilang lagi, awas saja, kubuat kapok kau.”
Bocah lelaki itu tentu saja tak berani membantah, ia mengiyakan dengan patuh, lalu menyimpan Giok Qilin itu erat-erat di dadanya.
“Kita pulang,” ujar Ronghua, menarik tangan si bocah lelaki, bersiap kembali ke rumah. Namun tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar dua suara tawa lirih.
Ia menoleh, menelusuri sumber suara. Di tepi jalan, sekitar satu depa dari tempat mereka berdiri, tampak sebuah kereta kuda hitam berhenti. Tampaknya kereta itu terpaksa berhenti karena perkelahian mereka tadi menghalangi jalan. Di depan pintu kereta, bersandar seorang pemuda belia, usianya sekitar sebelas atau dua belas tahun. Alisnya tebal, melebar hingga ke pelipis; matanya sipit memanjang, ujungnya terangkat miring ke atas—sepasang mata phoenix yang memancarkan kecerdasan dan pesona, menawan siapa pun yang memandang. Hidungnya tinggi dan tegak, bibirnya tipis dan lembap. Rambut hitam legamnya terikat rapi, memperlihatkan dahi yang halus dan penuh. Ia mengenakan jubah sutra biru tua bermotif awan ungu samar. Penampilan dan pakaiannya yang demikian istimewa jelas menandakan ia bukan orang sembarangan.
Iblis rupawan. Begitu melihat pemuda itu, dua kata itulah yang pertama kali muncul di benak Ronghua.
Pemuda itu menatap Ronghua dengan penuh minat, pandangannya tak juga beranjak meski waktu telah berlalu.
Kecintaan pada keindahan adalah fitrah manusia. Baik dahulu maupun kini, setiap kali Ronghua bertemu dengan seseorang yang rupawan—entah lelaki, entah perempuan—ia pasti akan memandang lebih lama, sekadar mengagumi. Tentu saja, ia pun tak mempermasalahkan jika dirinya dipandang balik. Namun, ketika ditatap begitu terang-terangan tanpa henti, Ronghua merasa hatinya mulai panas.
Ia berusaha menahan diri sejenak, namun ketika pemuda itu tetap saja tidak mengalihkan pandangannya, Ronghua pun naik darah. Ia membalas dengan tatapan tajam, “Apa yang kau lihat? Tak pernah lihat wanita cantik, ya?”
Pemuda itu tampak sedikit terkejut mendengar ucapan Ronghua, namun sesaat kemudian tawanya semakin lebar. Ia menatap Ronghua lebih lekat, seolah-olah makin terpesona. “Aku sudah pernah melihat banyak orang cantik, tapi baru kali ini bertemu dengan gadis secantik dan seberani kau. Entah lain waktu akan ada kesempatan lagi atau tidak, jadi tentu saja mumpung ada peluang, aku harus puas-puaskan memandang.”
Ronghua mendengus, mengangkat tinju kecilnya dengan gemas. “Kalau kau terus menatap, awas saja, kupukul juga kau!”
Pemuda itu makin geli mendengarnya. Ia lalu memerintahkan pengawalnya, “Jiang Yuan, bawa kemari gadis kecil cantik itu.”
“Baik,” jawab pengawal itu tanpa banyak bicara. Ia melompat turun dari kereta, berjalan mendekat, lalu mengangkat Ronghua dari kerah bajunya, benar-benar membawa gadis kecil itu ke hadapan sang pemuda.