Bab Sembilan Puluh Enam: Terima Kasih
Pria berkepala plontos itu menoleh dan mendapati Qin Feng berdiri di belakangnya. Sebenarnya, sejak awal masuk, ia sudah menyadari kehadiran Qin Feng, namun karena Qin Feng bersama Li Nan dan satu orang lagi berdiri di pinggir dekat pintu dan tidak duduk di sofa, ia pun tidak terlalu memperhatikan. Tak disangka, belum sempat mencari gara-gara pada Qin Feng, justru Qin Feng yang berani berkata seperti itu padanya. Pria plontos itu pun langsung tertawa.
“Kau bicara padaku?” Ia menunjuk dirinya sendiri, menatap Qin Feng dengan ejekan.
Qin Feng mengangguk pelan, lalu berkata, “Masa aku bicara pada babi? Toh bicara pun dia tak bakal mengerti.”
Tak disangka, Qin Feng berani berkata seperti itu pada si plontos yang dipanggil Bang Zhong! Apa dia tidak melihat apa yang baru saja terjadi pada Zhang Cheng dan temannya tadi?
Seluruh teman sekelas di sekitar terkejut bukan main!
“Mau jadi pahlawan?” Senyum di wajah pria plontos itu malah semakin lebar. Ia sempat menahan anak buahnya yang hendak maju, lalu mengamati Qin Feng dari atas ke bawah. “Kau satu kelompok dengan mereka?”
“Aku juga kurang tahu, bisa dibilang iya, bisa juga dibilang bukan,” jawab Qin Feng datar.
“Sialan, kau ngomong apa sih muter-muter!” salah satu anak buah di sampingnya tak tahan lagi, memaki, “Sialan, singkirkan tangan kotormu, lalu sujud dan minta maaf pada Bang Zhong!”
“Bang Zhong, anak buahmu ini kurang ajar, perlu kubantu ajari?” kata Qin Feng.
Pria plontos itu jelas tak menyangka Qin Feng akan berkata begitu, seketika ia melongo. “Kau yang ajari anak buahku?”
Baru saja kata-katanya selesai, dan sebelum pria plontos itu sempat bereaksi, Qin Feng tiba-tiba mengangkat kakinya dan menyapu ke samping!
“Duk!”
Sebuah tendangan keras menyambar si anak buah bermulut kotor tadi. Karena tidak siap, anak itu terlempar menabrak dinding belakang, memuntahkan darah segar, lalu jatuh berat ke lantai!
Pemandangan itu langsung membuat semua orang terdiam!
Jika sebelumnya ucapan Qin Feng yang menantang hanya membuat mereka heran dan tak mengerti, maka kali ini tindakannya benar-benar membuat semua orang terperangah ketakutan!
Apa yang dilakukan Qin Feng?! Ia benar-benar berani memukul anak buah si plontos?
Pria plontos itu pun sadar, wajahnya langsung berubah suram. “Sialan, berani-beraninya kau pukul orangku?!”
Dalam sekejap, lima anak buah di belakangnya langsung maju mengelilingi Qin Feng dan dua temannya.
Li Nan dan temannya jadi tegang, hanya Qin Feng yang malah tersenyum, “Bang Zhong, aku mengajari anak buahmu, kan atas seijinmu.”
“Ijin apanya!” Bang Zhong marah besar dan hendak bergerak, namun tiba-tiba pundaknya dicengkeram kuat, rasa sakit yang menembus tulang menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya gemetaran hebat.
Ia menoleh, melihat tangan Qin Feng mencengkeram pundaknya dengan paksa, jemarinya seperti masuk ke sendi tulang. Sedikit lagi saja, tulang bahunya bisa copot!
Sekejap, keringat dingin membasahi wajah pria plontos itu, wajahnya memerah dan berkerut menahan sakit, napasnya memburu, “Kau...”
“Bang Zhong, kalau kau bergerak ke kanan sedikit saja, dan tulang lehermu sampai kupatahkan, mungkin seumur hidupmu hanya bisa terbaring di ranjang,” bisik Qin Feng pelan di telinganya, lalu tersenyum tipis. “Jadi, soal aku mengajari anak buahmu tadi, kau keberatan?”
“Sialan...” Bang Zhong masih mau memaki, tapi sebelum sempat selesai, rasa sakit itu datang lagi, dan ia benar-benar bisa merasakan jari Qin Feng bergerak ke arah tulang lehernya.
Ia pun ketakutan, buru-buru berkata, “Tidak... tidak keberatan!”
“Begitu dong!” Qin Feng tiba-tiba mengangkat tangannya, menampar wajah plontos itu, lalu menarik kepalanya dan menghantamkannya ke lutut!
Duk!
Suara keras itu membuat jantung semua orang berdegup kencang!
Di detik berikutnya, tulang hidung pria plontos itu pun remuk dihantam lutut Qin Feng, darah mengucur deras!
Semua teman di ruangan itu menarik napas dingin, tak menyangka Qin Feng ternyata juga begitu kejam!
Orang-orang ini jelas preman, geng hitam! Apa dia tak takut?!
“Cari mati kau!” Bang Zhong sudah tidak bisa bicara, namun lima anak buahnya yang lain sudah naik pitam, hendak menghajar Qin Feng. Tapi Qin Feng segera menarik Bang Zhong lagi, “Berani gerak, jangan salahkan aku!”
Anak-anak buah itu langsung tak berani maju, hanya bisa memaki dengan kata-kata kotor, menunjuk-nunjuk Qin Feng.
Qin Feng mengabaikan makian mereka, lalu mendekatkan wajah Bang Zhong ke wajahnya, “Perempuan yang kalian bawa tadi, di mana?”
“Sialan... kau tahu akibat menyinggung kami... Sialan, aku habisi keluargamu...” Bang Zhong yang masih berdarah-darah tetap mengancam dengan suara pelan.
Tatapan Qin Feng langsung tajam, ia menampar lagi wajah pria itu.
Kali ini tamparannya sangat keras. Jika Qin Feng tak menahan leher pria itu, mungkin ia sudah terjatuh seperti anak buah sebelumnya.
“Aku kasih kau satu kesempatan lagi untuk bicara baik-baik,” kata Qin Feng dingin.
Akhirnya Bang Zhong tak berani lagi bertingkah, menelan darah di mulut, gemetar berkata, “Di atas... di ruang privat lantai atas...”
“Orang-orang kami mana?” tanya Qin Feng lagi.
“Maksudmu... dua orang tolol itu juga ada di atas. Tapi mereka juga tak bisa keluar, sedang minta ampun... Lalu Bang Fa suruh aku turun bawa orang yang tadi melawan ke atas...”
Yang dimaksud dua orang itu tentu saja Guo Tao dan He Hao.
Mendengar ini, semua teman sekelas pun terkejut. Pantas saja Guo Tao dan temannya belum juga turun membawa Zhang Bixia, rupanya mereka sudah kalah di atas! Tapi, dengan status Guo Tao, masa sampai harus minta ampun? Sebenarnya siapa yang ada di ruang privat atas itu? Siapa pula Bang Fa?
Ketakutan menyebar di hati setiap orang di ruangan itu.
Bahkan mata Qin Feng pun menyipit, ia menjatuhkan Bang Zhong ke lantai, lalu berbalik menghajar kelima anak buah.
Hanya dalam belasan detik, Qin Feng sudah melumpuhkan lima preman bertubuh besar itu, lalu menoleh ke arah sofa dan berkata, “Ada yang mau jaga mereka?”
Teman-teman pria di sekitar saling berpandangan, tapi tak satu pun yang berani maju.
Tadi di restoran Hua Sheng Ji, mereka semua memandang rendah Qin Feng, tapi saat benar-benar dibutuhkan, mereka malah ciut.
“Tak ada yang mau?” Qin Feng mengernyitkan dahi. “Mereka sudah tak bisa melawan, kalian jaga saja juga tak berani?”
Hampir semenit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya seorang maju dengan suara gemetar. Ternyata itu Luo Pengyuan. “Bang Feng... biar aku yang jaga.”
“Bukan bantu aku,” ujar Qin Feng datar, menatapnya. “Kalian jaga untuk diri kalian sendiri.”
Semua langsung terhenyak.
Ucapan Qin Feng memang benar. Jika tadi ia tak berani bertindak, pasti banyak dari mereka yang sudah dibawa keluar, dan menghadapi para preman sadis itu, entah apa yang akan terjadi.
Maka setelah kata-katanya, banyak yang menunduk malu.
“Aku juga ikut!” Seorang pria lagi maju.
“Aku juga jaga mereka!”
Setelah Luo Pengyuan memulai, semakin banyak yang maju mengelilingi pintu, menatap penuh benci ke arah Bang Zhong dan anak buahnya yang terkapar.
“Kau tamat, brengsek!” Bang Zhong menggeram, berbaring di lantai sambil mengancam, “Dan kalian semua, aku hafal wajah kalian satu-satu... aarrgh!!”
Belum sempat mengancam lebih jauh, Qin Feng sudah menginjak wajahnya, membuatnya tak bisa bicara lagi.
“Kalian juga tetap di sini,” Qin Feng menoleh pada Li Nan dan Zhu Longchao.
“Bang Feng, kau mau ke mana?” Li Nan bertanya gugup, meski ia sudah tahu jawabannya.
Qin Feng menggeleng, “Aku mau lihat ke atas.”
“Tunggu, Qin Feng!” Saat itu Wu Yingying menahannya.
Qin Feng sudah hampir melangkah keluar, tapi berbalik, “Ada apa?”
Dengan suara gemetar Wu Yingying berkata, “Mereka itu geng hitam, kau sudah menghajar mereka, cepatlah pergi!”
“Aku mau bawa Zhang Bixia kembali,” Qin Feng tersenyum, “Bagaimanapun, dia juga teman sekelas kita.”
“Qin Feng, jangan pergi! Guo Tao saja tak sanggup, kau cepat kabur! Kalau mereka tahu, nanti terlambat!” Wu Yingying berkata penuh emosi.
“Terima kasih atas perhatianmu!” Qin Feng menatap Wu Yingying, lalu tersenyum, “Setidaknya aku masih merasa ada sedikit rasa persahabatan.”
Ucapannya membuat semua teman di sekitar menunduk, tak berani menatapnya.
Setelah itu, tanpa menoleh lagi, Qin Feng mengangkat tangan melambaikan salam, lalu melangkah keluar dari ruang privat.