Bab Empat Puluh Delapan: Xiao Tang, Inilah Saatmu untuk Bersinar
Tang Yicheng berkata dengan percaya diri, “Lagi pula, sekarang di matamu aku hanyalah seorang pengangguran. Selain aku, kau tidak punya pilihan kedua. Kenapa aku tidak memasang harga yang membuatku puas? Sehari kurang dari lima puluh ribu, jangan harap aku akan setuju.”
“Kau sekarang jadi pintar, ya? Coba saja dulu kau setidaknya punya kepintaran seperti ini... Sudahlah, lima puluh ribu pun jadilah!”
Tang Yicheng benar dalam semua hal, tak ada yang lebih cocok dibanding dirinya.
“Aku bilang tidak kurang dari lima puluh ribu, kau tidak paham? Bukan lima puluh ribu titik. Enam puluh ribu!”
“Kau kira sedang merampok?”
“Iya, bukankah kau sudah tahu dari dulu?” jawab Tang Yicheng.
“Sialan, kalau kau tidak bisa menemukan Sutradara Lin untukku, lihat saja apa yang akan kulakukan padamu.”
“Cih!”
Setelah menutup telepon, Tang Yicheng tersenyum sinis. Perlu-perlunya mengikuti Lin Shang?
Ia langsung menelpon Lin Shang, “Sutradara Lin, akhir-akhir ini kau ada rencana apa?”
“Di rumah saja, istirahat, sambil memikirkan proyek film.”
“Kalau begitu, kirimkan jadwalmu padaku.”
Tak lama, Lin Shang mengirimkan jadwalnya. Tang Yicheng mengambil tangkapan layar sebagian, lalu mengirim ke Gu Xilan: “Seratus ribu, terima kasih!”
Gu Xilan menjawab, “Itu apa?”
“Jadwal kegiatan Lin Shang beberapa hari terakhir. Tanpa seratus ribu, kau tidak akan melihat seluruhnya.”
“……”
“Tidak percaya? Ya sudah.”
“Tunggu, aku tidak bilang tidak mau. Bisa diskon?”
“Maaf, aku tidak pernah memberi diskon!”
Tang Yicheng melihat ponselnya, seratus ribu sudah masuk ke rekeningnya.
Baru setelah itu ia mengirimkan sisanya ke Gu Xilan.
Haha!
Mencari uang memang semudah itu. Tang Yicheng melempar ponsel dan langsung tidur.
Keesokan harinya, kabar Lin Shang dipukuli sudah tersebar luas.
Banyak media ingin mewawancarai Lin Shang, tapi ia tak bisa ditemui. Media pun segera memburu Meili Media.
Tang Yicheng masuk kantor seperti karyawan biasa, tak disangka hari itu direktur Hao Ren juga masuk kerja.
Begitu melihat Tang Yicheng, Hao Ren mengangguk, lalu duduk di depan sejumlah wartawan dan mulai membual.
Yuan Shanshan datang membawa sarapan, “Mana Tongtong?”
“Dititipkan ke pelayan hotel, orangnya baik, sehari dua ratus ribu cukup,” jawab Tang Yicheng, yang telah menemukan fungsi baru si pelayan hotel.
“Bang Tang, sekarang kita sedang naik daun. Hari ini banyak media ingin bekerja sama, banyak juga yang menanyakan sumber berita kita.”
“Hmm!” jawab Tang Yicheng.
Yuan Shanshan menatap Tang Yicheng, “Bang Tang, dari mana kau dapat berita itu?”
“Aku kan memang dari dunia ini, pasti punya beberapa kenalan.”
Soal dirinya sendiri, tentu saja tak ada hubungannya dengan berita. Ia hanyalah seorang karyawan biasa.
Hao Ren dengan gaya rambut setengah botak, membual sampai suara terdengar keluar. Para wartawan kebingungan, tapi tetap tersenyum mengikuti suasana.
Selama satu jam penuh, setelah selesai dan mengantar para wartawan pergi, Hao Ren segera menepuk bahu Tang Yicheng.
“Xiao Tang, kau memang berbakat. Perusahaan kita sekarang berkembang pesat, aku tahu semua berkat jasamu. Hari ini aku akan memberikan bonus untukmu.”
“Terima kasih, Bos.”
“Tetap semangat!”
“Siapa bos di sini?” Tiba-tiba beberapa orang masuk ke kantor, memukul-mukul meja dengan tongkat di tangan mereka. “Siapa bos, keluar dan bicara!”
Hao Ren segera menoleh ke Tang Yicheng, “Xiao Tang, ini saatnya kau menunjukkan kemampuan.”
“Bos…”