Bab 25: Kebenaran Adalah Pedang yang Paling Tajam
(Halaman 1/3)
Bibi Dong masih berdiri di kamar Radeo, tepat di hadapan patung Radeo, tak bergerak sedikit pun. Seluruh tubuhnya membeku; hanya napas, bola mata, dan pikirannya yang masih dapat bergerak.
Ia melirik patung Radeo di sampingnya.
Kekuatan misterius yang terpancar dari patung itu telah mengunci gerakannya.
Namun, yang lebih menarik perhatiannya adalah wajah Radeo pada patung tersebut.
Bukan lagi wajah yang tertutup tudung, melainkan wajah seorang pria sejati. Walaupun patung itu tidak memiliki warna, tetap saja terlihat jelas bahwa ia memiliki ketampanan yang tiada banding.
Dengan pandangan paling kritis sekalipun, Bibi Dong terpaksa mengakui bahwa di antara semua pria yang pernah ditemuinya, patung Radeo menampilkan sosok yang paling tampan.
“Dasar pria narsis!”
“Dan semakin munafik! Demi reputasi, dia sengaja berpura-pura angkuh. Sekarang dia juga pergi menikmati ketenaran dan keuntungan bersama Qian Daoliu, bukan?”
“Bagaimana mungkin dia dibandingkan dengan Xiao Gang-ku?”
“Mahaguru hanya ada satu! Yaitu Xiao Gang!”
Bibi Dong memaki dengan penuh kebencian di dalam hati.
Saat itu, pintu kamar terbuka.
Radeo telah kembali. Ia masih mengenakan tudung dan berjalan mendekati Bibi Dong.
Bibi Dong tetap tidak bergerak, tetapi energi yang bergolak di dalam tubuhnya membuat suhu tubuhnya meningkat dan keringat mengucur deras, hingga membasahi seluruh gaunnya.
Kain gaun yang tipis melekat pada tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuh yang sempurna.
Wajah cantiknya memancarkan pesona yang menggoda, tampak menyedihkan, namun juga menyimpan keangkuhan keras kepala yang membuat orang ingin menaklukkannya.
Aroma harum memenuhi seluruh ruangan.
Jika pria lain yang masuk, mungkin ia akan berubah menjadi Yin Zhiping dari Kisah Pendekar Rajawali Sakti.
Radeo berkata, “Aku akan membebaskanmu, tetapi jangan membuat keributan.”
Setelah berkata demikian, Radeo menjentikkan jarinya. Patung batu itu pun lenyap dengan cepat.
Bibi Dong mendadak mendapatkan kembali kebebasannya. Tubuhnya masih kaku, sehingga tanpa sadar ia terhuyung ke depan dan menabrak tubuh Radeo.
Radeo bergeser ke samping, membuat Bibi Dong terjatuh ke lantai.
“...”
Kebencian langsung terpancar dari mata Bibi Dong.
Setelah terdiam beberapa detik di lantai, ia tidak menunggu Radeo masuk ke kamar tidur dan berkata dengan suara dingin, “Munafik! Kau pasti sangat menikmati kemasyhuranmu sekarang, bukan? Begitu banyak orang memanggilmu Mahaguru. Kau pasti sangat bangga, bukan?”
“Hanya orang bodoh yang akan menanyakan hal semacam itu,” jawab Radeo datar.
“Kau!”
Bibi Dong mengertakkan gigi dan menatap Radeo dengan marah.
(Halaman 2/3)
Radeo melanjutkan, “Aku membenci orang yang tidak tahu sopan santun dan gemar melontarkan kata-kata kasar. Tentu saja, itu juga berlaku untuk diriku sendiri. Jika kau hanya ingin membuang waktuku, dengan sikapmu terhadapku saat ini, aku tidak akan menoleransimu. Paham?”
Radeo menoleh sekilas ke arah Bibi Dong. Mata pada kepala patung batu itu memancarkan tatapan yang begitu hidup.
Ia sedang mengancam Bibi Dong.
Ekspresi Bibi Dong menegang. Dari serangan Radeo barusan, ia telah menyadari satu kenyataan.
Walaupun Radeo bukan seorang ahli jiwa, kekuatannya ternyata berada di atas dirinya!
Kini Radeo sedang mengancamnya. Jika ia terus melontarkan penghinaan, mungkin ia benar-benar akan menerima pelajaran darinya.
Orang normal pasti tahu kapan harus berhenti.
Bibi Dong tersenyum. Pada wajahnya yang sangat cantik, tampak sedikit kegilaan.
Kebetulan sekali, dia bukan orang normal!
“Benarkah? Apa yang bisa kaulakukan terhadapku? Membunuhku? Atau apa? Jangan lupa, aku adalah Paus Balai Jiwa Bela Diri! Aku adalah ibu Qian Renxue! Aku adalah ibu mertuamu!”
“Coba katakan kepadaku, apa yang akan kaulakukan terhadapku? Hah, Radeo! Jangan mengira kau hebat hanya karena berhasil menemukan suatu rumus teori.”
“Di mataku, kau tetap saja seorang pecundang yang sama sekali tidak pantas menyandang gelar Mahaguru!”
Bibi Dong menyeringai sambil melontarkan kata-kata keji.
Ekspresi Radeo tetap tenang saat memandangnya. Ia telah meremehkan batas kebodohan seseorang.
Namun, seperti yang dikatakan Bibi Dong, ia memang tidak akan sembarangan membunuh orang. Ia adalah seorang cendekiawan, seorang tabib, bukan algojo. Bahkan terhadap orang biasa pun, ia belum tentu memiliki niat membunuh yang kuat.
Terlebih lagi, Bibi Dong memang ibu mertuanya—meskipun hanya secara kebetulan.
Akan tetapi, bagi orang bodoh yang keras kepala seperti Bibi Dong, kematian justru lebih menyerupai pembebasan. “Kebenaranlah” yang merupakan pisau paling tajam!
Radeo tiba-tiba berkata, “Kau menjadi histeris karena Mahaguru sebelumnya? Si bodoh bernama Yu Xiaogang itu? Benar, bukan? Sepertinya kau memiliki pandangan yang terlalu mengagungkannya.”
“!!!”
Pupil mata Bibi Dong menyempit. Ia menatap Radeo dengan tak percaya.
Ia tidak menyangka Radeo dapat menebaknya.
“Aku dapat merasakan bahwa pembelaanmu terhadap Yu Xiaogang berasal dari dua orang bodoh yang saling menghangatkan diri, atau mungkin karena alasan lain. Aku tidak peduli. Namun, karena kau ingin memutarbalikkan kebenaran, biar kujelaskan kepadamu.”
“Yu Xiaogang benar-benar seorang yang bodoh.”
“Dia terlalu percaya secara membabi buta pada penelitian para pendahulu. Setiap teori yang dirumuskannya hanya berdiri di atas bahu orang-orang sebelumnya, tanpa keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru. Orang seperti itu paling-paling hanyalah cendekiawan kelas tiga... Tidak, dia hanya murid yang biasa-biasa saja.”
Radeo mulai memberikan penilaiannya.
Penilaiannya sangat masuk akal. Bagaimanapun, Yu Xiaogang tidak pernah menciptakan teori yang benar-benar baru.
(Halaman 3/3)
Ia hanya cocok menjadi seorang murid. Mungkin, jika sudah tersedia karya yang dapat dijadikan acuan, ia mampu menirunya dengan cepat. Namun, memintanya melakukan penelitian dan pengembangan secara mandiri? Itu sama sekali mustahil.
“Omong kosong!”
Wajah Bibi Dong memerah. Dadanya yang tegap naik turun perlahan, membentuk lekuk menggoda.
Jelas bahwa amarahnya mulai tak tertahankan.
Yu Xiaogang adalah pantangan terbesar dalam hidupnya. Sedikit saja disentuh, ia akan langsung meledak!
“Dari sikapmu, aku semakin yakin bahwa kau mencintainya. Di dalam hatimu, kau terus-menerus memperindah sosoknya, mengubah seorang manusia biasa menjadi dewa.”
“Namun, Yu Xiaogang bukanlah dewa. Dia hanya seorang yang bodoh.”
“Kau mencoba menggunakan dewa yang ada dalam hatimu untuk merendahkan pengetahuanku. Namun, kau tidak mampu menipu hatimu sendiri. Karena itulah kau menjadi kalap dan berusaha merendahkanku dari sisi kekuatan, moralitas, serta berbagai aspek lainnya.”
Radeo membungkuk dan menatap Bibi Dong dari jarak dekat.
Seluruh tubuh Bibi Dong bergetar hebat. Bibirnya membuka dan menutup, tetapi ia sama sekali tidak mampu mengucapkan kata-kata!
Sepasang matanya yang indah membelalak, dipenuhi kebencian.
Namun, jauh di dasar tatapannya, terselip sedikit kepanikan.
Sebab, Radeo telah melihat isi hatinya!
Di hadapan Radeo, ia seperti seorang pelacur yang telah ditelanjangi, tanpa tempat untuk bersembunyi.
Perasaan itu seketika menyeretnya turun dari kedudukannya yang mulia sebagai Paus. Seluruh harga dirinya seolah berubah menjadi bahan lelucon—setidaknya di mata Radeo.
“Aku... kau... kau...”
Radeo menekan bahu Bibi Dong. Kekuatan aneh merasuki tubuhnya.
Kekuatan jiwa yang hendak meledak dari tubuh Bibi Dong seketika berubah menjadi genangan air mati.
Radeo mendekatkan mulutnya ke telinga Bibi Dong dan kembali berkata, “Kau memperindah sosok bodoh di dalam hatimu, tetapi kau tidak akan pernah benar-benar mampu menipu dirimu sendiri... Betapa biasa-bisanya kenyataan yang tersembunyi di balik pandangan yang telah kauidealkan.”
“...”
Biasa-biasa saja. Ya, semakin sering melihat Radeo, semakin ia meragukan dirinya sendiri dan semakin tersadar.
Yu Xiaogang tidaklah sepandai dan seserba tahu yang selama ini ia bayangkan, juga tidak setampan dan sehebat yang ada dalam khayalannya...
Sebaliknya, ia hanyalah seorang yang bodoh, yang memanfaatkan rumus-rumus milik Balai Jiwa Bela Diri...
“Puh...!”
Bibi Dong tiba-tiba membuka mulut dan memuntahkan seteguk besar darah. Wajahnya seketika menjadi pucat dan lesu.
(Tamat bab)