Bab 6 Menampar Wajah
Meskipun sikap Lily sangat buruk, Lin Xiaoyu tidak punya waktu untuk meladeninya. Setelah jam kerja dokter dimulai nanti siang, dia harus bergegas pergi ke rumah sakit untuk mendaftar.
Dia hanya berpikir, mumpung sudah di sini, selain ponsel dan laptop, dia juga berniat membeli tablet, *headphone*, dan perlengkapan lainnya secara lengkap. Satu set untuk dirinya sendiri, dan dua set sisanya untuk diberikan kepada kakak perempuan dan adik perempuannya. Karena sedang terburu-buru, dia tidak ingin Lily menghalangi jalannya.
Namun, saat melihat produk di toko mereka begitu mahal, Lily merasa iri melihat Lin Xiaoyu—yang tampak seperti orang udik—berbelanja tanpa ragu sedikit pun. Kini, merasa dipermalukan di depan umum, Lily lupa akan nasihat manajernya saat pelatihan untuk selalu memperlakukan pelanggan bak raja.
Dengan marah, Lily memaki, "Dasar udik! Apa yang kamu sombongkan? Padahal penampilanmu terlihat miskin begitu. Entah uang itu hasil mencuri atau uang jajan dari pria tua simpananmu..."
Selama setengah tahun terakhir, performa penjualan toko sedang lesu. Sang manajer baru saja merasa senang mendapati pelanggan royal seperti Lin Xiaoyu. Dia tidak menyangka Lily, seorang pramuniaga, begitu berani memaki pelanggan tepat di depannya.
Saat manajer hendak melangkah maju untuk menghentikan, Lin Xiaoyu tanpa ragu mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan keras ke pipi Lily.
Meskipun berpakaian sederhana, Lin Xiaoyu memiliki postur tinggi semampai, kulit seputih salju, paras yang cantik, dan sepasang mata sedingin kolam es. Saat ini, kemarahannya memancarkan aura dingin yang tak tersentuh. Bahkan pelanggan di sekitar pun tertegun oleh auranya, hingga hampir lupa cara bernapas.
"Dasar udik, beraninya kamu memukulku!" Lily, yang ditampar di depan umum, merasa malu sekaligus marah. Pipi putihnya dengan cepat memerah dan bengkak. Dia hendak menyerang Lin Xiaoyu untuk membalas dendam.
Namun, baru saja dia melangkah, seorang pria berjas rapi dengan aura eksekutif yang kuat menerobos kerumunan. Dia menarik lengan Lily dan menatapnya dengan penuh amarah. "Cukup! Bagaimana kamu bisa menjadi pramuniaga? Apa manajermu tidak melatihmu sebelum bekerja? Beraninya kamu memaki pelanggan! Minta maaf sekarang juga!"
Lily, yang tadi fokus ingin "membalas dendam" pada Lin Xiaoyu, terkejut saat tiba-tiba ditarik. Dia mengira itu adalah manajer toko dan hendak membalas dengan amarah. Namun, saat melihat wajah pria itu, dia terpaku seolah disambar petir. Dia tidak menyangka bahwa pria itu adalah direktur yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan mereka.
Mengingat peringatan keras manajer selama ini, Lily tidak berani bertindak sembarangan lagi. Dia menahan kemarahannya, mendongakkan kepala dengan mata berkaca-kaca, dan mulai mengadu dengan nada sedih, "Direktur Gao, bukan saya yang ingin membuat keributan, wanita ini yang memukul saya lebih dulu. Saya hanya ingin berdebat dengannya untuk meminta keadilan."
Nada bicaranya begitu dibuat-buat seolah dia adalah korban yang tidak bersalah.
Lin Xiaoyu menatap perubahan sikap Lily yang drastis dengan penuh rasa jijik. Tadi dia bersikap sombong dan angkuh, sekarang di depan direktur, dia berubah menjadi wanita bermuka dua. Di depan umum, tubuhnya bahkan tampak sengaja merapat ke arah Direktur Gao.
Lin Xiaoyu melirik Direktur Gao sambil tersenyum sinis, lalu melemparkan tiga ponsel yang baru saja dibelinya ke meja pajangan. Dia menatap Lily dengan dingin, "Kenapa saya memukulmu, semua orang di sini tidak buta. Lagipula, jangan lupa bahwa toko ini dilengkapi dengan CCTV. Kamu mau menuntut keadilan? Baiklah, saya justru ingin melapor ke polisi atas tuduhan penghinaan dan pencemaran nama baik."
Wajah Lily berubah pucat. Saat sedang marah tadi, dia benar-benar lupa bahwa toko itu memiliki CCTV. Dia hanya bisa berdoa dalam hati agar Direktur Gao baru saja tiba dan tidak melihat perbuatannya tadi.
Sayangnya, doa itu tidak terkabul. Direktur Gao tidak hanya datang lebih awal, tetapi juga melihat seluruh perilaku buruk Lily dengan jelas. Dia sebenarnya sudah sangat tidak puas dengan sikap pelayanan Lily. Kini, setelah terkena tatapan meremehkan dari Lin Xiaoyu, hatinya merasa sangat tidak nyaman.
Wajah Direktur Gao menunjukkan rasa kesal. Dia mendorong Lily yang masih bersandar di lengannya dengan kasar, membuat Lily hampir terjatuh.
Alih-alih menolong, Direktur Gao justru berkata dengan wajah dingin dan serius, "Saya melihat semuanya. Kamu yang memaki pelanggan lebih dulu, dan sekarang kamu mencoba memutarbalikkan fakta di depan saya. Perilakumu telah melanggar aturan perusahaan secara serius. Mulai saat ini, kamu dipecat!"
Begitu berdiri tegak, Lily mendengar dirinya dipecat. Wajahnya langsung memucat. Mengingat pekerjaan ini didapatnya setelah melamar di puluhan toko, ditambah gaji yang besar serta bonus, dia merasa sangat menyesal hingga ke tulang sumsum.
Tak peduli lagi dengan Lin Xiaoyu, Lily menangis dan memohon agar Direktur Gao memberinya kesempatan kedua. Namun, Direktur Gao tidak ingin pramuniaga seperti itu merusak reputasi perusahaan. Seberapa pun Lily memohon, dia tetap tidak bergeming.
Lily yang putus asa akhirnya terpaksa menerima nasibnya. Saat hendak pergi, Lin Xiaoyu memanggilnya, "Tunggu, kamu belum meminta maaf padaku."
Lily berhenti dan menatapnya dengan penuh kebencian, "Kamu sudah menghancurkan pekerjaanku, untuk apa aku harus meminta maaf padamu?"
Manajer toko, yang sejak awal tidak puas karena Lily mencoba merebut pelanggannya, melihat bahwa Direktur Gao tidak memiliki niat khusus terhadap Lily. Khawatir Lin Xiaoyu akan membatalkan pesanannya, manajer itu langsung memotong, "Kamu sendiri yang memaki pelanggan dan melanggar aturan perusahaan hingga dipecat, jangan coba-coba menyalahkan orang lain."
Melihat kebencian di wajah Lily, Lin Xiaoyu berkata dengan tenang, "Saya beri dua pilihan: kamu minta maaf, atau saya panggil polisi."
Karena ada CCTV, Lily tahu dia bersalah dan tidak akan diuntungkan jika masalah ini dibawa ke kantor polisi. Dengan berat hati, dia meminta maaf, "Maafkan saya, saya seharusnya tidak menilai orang dari penampilan dan memaki Anda sembarangan."
Setelah Lily meminta maaf, Lin Xiaoyu tidak lagi mempermasalahkannya. Manajer toko juga meminta maaf dengan tulus agar tidak kehilangan pelanggan royal tersebut. Direktur Gao pun menyampaikan permintaan maaf yang tulus dan memberikan diskon besar kepada Lin Xiaoyu.
Lin Xiaoyu menerima tawaran itu, melakukan pembayaran, dan mengambil seluruh set tablet serta *headphone*.
Setelah keluar dari toko Apple, Lin Xiaoyu teringat ponsel orang tuanya yang sudah mulai lambat, jadi dia memutuskan untuk membelikan mereka ponsel baru. Dia berbelok ke toko Huawei di sebelahnya.
Kedua toko itu berdekatan, sehingga pramuniaga Huawei telah melihat kejadian tadi. Mereka yang awalnya iri karena toko Apple mendapatkan pelanggan besar, kini menyambut Lin Xiaoyu dengan sangat antusias. Mengetahui Lin Xiaoyu adalah pelanggan yang royal, tidak ada yang berani meremehkannya. Dengan bantuan pramuniaga yang sabar, Lin Xiaoyu memilih dua ponsel yang cocok untuk orang tua.
Setelah itu, dia naik ke lantai tiga untuk membeli beberapa pakaian di butik mewah.
Melihat waktu yang hampir habis, Lin Xiaoyu naik taksi menuju rumah sakit. Yang tidak disangka adalah, selain tidak bisa mendapatkan nomor antrean Dokter Chen melalui ponsel, dia juga gagal mendaftar saat tiba di rumah sakit...