Bab 23 Tidak Boleh Memberi Hadiah Secara Percuma
"Berdirilah dan melangkah."
Remaja laki-laki itu menunduk menatap anak perempuan yang duduk di tanah tanpa memberikan penjelasan apa pun. Sesaat kemudian, saat tatapannya bersirobok dengan ekspresi terkejut sang gadis kecil, ia membungkuk dan menyentil dahi anak itu. "Ini hadiah dari Kakak Seperguruan untukmu. Jika sebelumnya ada hal yang menyinggung... eh, maksudku jika ada yang kurang berkenan, Adik Seperguruan pasti akan memaafkan Kakak, bukan?"
Kilatan kelicikan melintas di mata Qi Ye, sementara senyum yang terukir di wajahnya tampak begitu tulus.
[Memberi hadiah tetaplah memberi hadiah, tapi segalanya harus diperjelas.]
[Bagaimanapun, dia adalah peran pendukung wanita yang jahat...]
Jiang Ying mengerjapkan matanya, memiringkan kepala dengan ekspresi bingung, sama sekali tidak memahami maksud perkataan Qi Ye. Ia hanya tahu bahwa Kakak Seperguruan Keempat yang biasanya bersikap dingin kepadanya, kini memberinya sepasang sepatu yang sangat cantik.
Memikirkan hal itu, rasa haru muncul di mata Jiang Ying. Ia merangkak bangun dari tanah, lalu menerjang maju dan memeluk erat kaki Qi Ye.
Menyembunyikan wajahnya di balik kain lembut pakaian pemuda itu, suara Jiang Ying terdengar teredam, "Terima kasih, Kakak Seperguruan Keempat..."
Hati Qi Ye seketika melunak, rasanya seperti dibelai lembut oleh sehelai bulu. Tanpa sadar ia mengangkat tangan, ingin mengelus kepala Jiang Ying, namun sebelum telapak tangannya mendarat, suara mekanis yang dingin bergema di benaknya.
[Sialan...]
Tugas yang datang tiba-tiba itu bagaikan seember air dingin yang disiramkan tepat ke atas kepalanya. Setelah mendengar isi tugas tersebut, tubuh sang pemuda tampak bergetar hebat, disusul dengan ekspresi pergulatan batin di wajahnya.
[Sistem, jangan paksa aku memaki dirimu di saat yang begitu hangat dan indah ini.]
Tangan Qi Ye yang menggantung di udara tiba-tiba mengepal dan segera ditarik kembali.
[Kau yakin tugas ini untuk menekan peran pendukung wanita, bukannya supaya dia tumbuh kuat lalu membunuhku?]
[Tutup mulutmu, aku muak.]
[Berikan aku paket cemilan besar.]
[Ya, sekarang juga.]
[Memangnya kenapa kalau aku mau makan? Aku lapar, apa tidak boleh?]
Suara dingin yang familier di dalam benaknya membuat Qi Ye mengerutkan kening, rasa kesal di matanya kian memuncak. Seiring dengan bunyi mekanis yang menandakan "Penukaran Berhasil", Qi Ye tanpa ampun mengangkat tangan dan mendorong Jiang Ying yang masih memeluknya dengan kuat.
Jiang Ying terhuyung, hampir terjatuh ke tanah.
Sudut bibir Qi Ye sedikit turun, wajahnya menampilkan ekspresi jijik, lalu ia berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri, "Anak tidak tahu malu, berani-beraninya menyentuhku..."
"Kakak Seperguruan Keempat, apa yang kau katakan?" Jiang Ying yang didorong tiba-tiba terhuyung, matanya menunjukkan kebingungan. Suara Kakak Seperguruan barusan terlalu samar, ia sama sekali tidak menangkap isinya.
Tepat saat Jiang Ying bertanya, Qi Ye mendengar nada notifikasi bahwa poin telah masuk. Bunyi nyaring itu membuat ketegangan di wajah sang pemuda seketika sirna, berganti dengan ekspresi lega. Ia menghela napas panjang, sepertinya ia berhasil mengelabuhinya.
"Kakak bilang... ingin menunjukkanmu sesuatu yang berharga." Setelah sadar, Qi Ye menyunggingkan satu sisi bibirnya, senyumnya tampak malas.
Jiang Ying mengerjapkan mata dengan heran. Detik berikutnya, ia melihat sang pemuda mengeluarkan sebuah kantong dengan pola aneh dari balik punggungnya seolah sedang melakukan trik sulap, lalu menyodorkannya ke dalam pelukan gadis itu.
Kantong itu berukuran setengah dari tubuh Jiang Ying, terasa berat saat dipegang. Jiang Ying meremasnya dengan penasaran, dan kantong itu mengeluarkan bunyi "krak-krak". Barulah ia menyadari bahwa di dalam kantong besar itu terdapat banyak kantong kecil berwarna-warni.
Xiao Bai yang tadinya melayang tenang di udara segera menggerakkan telinganya saat mendengar bunyi itu, lalu ikut mendekat dengan rasa ingin tahu.
"Kakak Seperguruan Keempat, benda apa ini sebenarnya?" Jiang Ying mendongakkan wajah polosnya, matanya yang bening mengerjap-ngerjap penuh rasa ingin tahu.
Qi Ye seolah teringat sesuatu, kilatan cemas dan waspada melintas di matanya. Ia segera menempelkan jari ke bibirnya, memberi isyarat agar Jiang Ying diam. Setelah memastikan tidak ada yang aneh, ia tanpa banyak bicara menarik tangan mungil Jiang Ying dan bergegas menuju kediamannya.
Jiang Ying diseret sepanjang jalan, kantong berisi cemilan itu terseret di tanah, menimbulkan suara gesekan yang kasar. Suasana yang sunyi membuat suara itu terdengar sangat mencolok, sehingga Qi Ye buru-buru membungkuk dan mengangkat kantong itu ke dalam pelukannya.
Memberikan barang-barang ini kepada anak kecil mungkin tidak masalah, namun jika dilihat orang lain, pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan. Ini adalah dunia kultivasi, di mana pengetahuan dan gaya hidup orang-orang berbeda dengan dunia luar. Jika seseorang bertanya tentang asal-usul barang ini dan ia tidak bisa menjelaskannya, ia khawatir akan dianggap sebagai penganut aliran sesat dan mendatangkan masalah yang tidak perlu.
Keduanya masuk ke dalam kediaman satu demi satu. Qi Ye melirik pemandangan sekitar yang bobrok, lalu mencibir dengan rasa tidak suka. Namun, ia tetap menutup pintu dengan cepat dan merobek kantong tersebut.
"Ini adalah cemilan..." Qi Ye dengan cekatan mengeluarkan sebuah bungkusan bergambar buah berwarna merah. Ia meremasnya sedikit, lalu membukanya dengan terampil. "Ini namanya keripik kentang."
"Batu Roh?" Jiang Ying bingung, matanya yang besar mengerjap cepat.
"Bukan Batu Roh, ini cemilan... ah, kau tidak akan mengerti." Qi Ye memijat dahinya. "Singkatnya, cemilan ini tidak sama dengan Batu Roh yang kau tahu, ini untuk dimakan."
Setelah berkata demikian, tanpa mempedulikan apakah Jiang Ying mengerti atau tidak, Qi Ye segera mengambil selembar keripik kentang yang renyah keemasan, lalu menyodorkannya ke bibir mungil gadis itu.
Keraguan melintas di mata Jiang Ying. Ia menatap Qi Ye dengan tegang, lalu perlahan membuka mulutnya dengan hati-hati.
Bersamaan dengan bunyi "krak", rasa unik meledak di lidahnya, mata Jiang Ying seketika berbinar.
"Enak sekali!" Anak kecil itu tidak bisa lagi menahan kegembiraannya dan bersorak riang.
"Tentu saja." Qi Ye sedikit mengangkat dagunya, wajahnya menunjukkan keangkuhan. Nada bicaranya mengandung sedikit pamer, "Bagaimana jika Kakak berikan semua ini untukmu?"
"Benarkah..." Jiang Ying membelalakkan mata, tidak percaya.
"Tentu saja benar. Tapi kau harus berjanji pada Kakak... mulai sekarang, apa pun yang terjadi, kau tidak boleh melukai Kakak sedikit pun." Ekspresi Qi Ye tiba-tiba berubah serius, nadanya pun menjadi lebih tegas.
Jiang Ying mengerjapkan matanya yang penuh kebingungan, ia benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Qi Ye. Bagaimana mungkin ia tega melukai Kakak Seperguruan Keempat? Kakak Seperguruan begitu baik, tidak hanya memberinya sepatu cantik, tetapi juga ingin memberikan semua makanan lezat ini kepadanya...
Melihat Jiang Ying terdiam, Qi Ye mengira gadis itu bimbang, hatinya pun mendadak cemas. Ia segera meraih tangan putih mungil gadis itu.
Remaja laki-laki itu menatap lekat-lekat gadis di depannya, lalu berkata dengan mendesak, "Berjanjilah pada Kakak, nanti Kakak akan memberimu cemilan setiap hari!"
[Harga diri atau apa pun itu, nyawa adalah sesuatu yang harus diperjuangkan sendiri. Kalau bisa, jangan suruh aku mengerjakan tugas...]
Mengabaikan suara cemas sistem, Qi Ye mendesak dalam hatinya.