Bab Empat: Aku adalah Pembawa Petaka
“Ah... Ashu?”
Song Caiwei menatap lelaki yang berjalan keluar dari kegelapan itu dengan sorot mata yang rumit. Tak usah bicara soal penampilan Cao Xiu yang kini bak seorang ningrat muda, hanya dari sinar kepercayaan diri yang terpancar dari matanya saja sudah sangat berbeda dengan lelaki yang dulu ia kenal. Suaranya memang akrab di telinga, karenanya ia tak berani langsung memutuskan apakah pria di hadapannya asli atau palsu.
Ia menurunkan sapu di tangannya, namun jarum perak tetap ia genggam erat. Tubuhnya tetap siaga, bahkan mundur beberapa langkah sebelum bertanya lagi, “Benarkah kau Ashu?”
“Aku kehilangan ingatan. Aku diculik sekelompok orang dan dipaksa menjadi pejabat pengganti...”
Cao Xiu bicara terus terang, sebagaimana yang telah ia sepakati bersama Komandan Luo dan yang lain. Sebenarnya, apakah orang-orang berbaju hitam yang ditemui Song Caiwei adalah pembunuh yang sama dengan yang telah menghabisi pejabat Cao? Karena amnesia, Cao Xiu hanya bisa mencari jawabannya lewat Song Caiwei.
Di bawah sinar bulan, tampaklah wajah bersih seorang gadis belia enam belas atau tujuh belas tahun. Jemarinya ramping, kedua tangan erat memegang sapu, memandang waspada ke arahnya. Jangan tertipu oleh penampilannya yang lemah lembut, sekali ia bergerak lebih dekat, entah benda apa yang bakal menyambar tubuhnya.
Menjaga jarak aman, Cao Xiu kembali menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya dalam dua hari terakhir.
Song Caiwei menatap lelaki yang begitu akrab namun sekaligus terasa asing itu, cemas bertanya, “Bagaimana... bagaimana aku bisa percaya padamu?”
“Aku bisa menjadi saksi!”
Wu Chang muncul dari balik kegelapan, mengeluarkan sebuah lencana dari balik jubahnya dan dilemparkan ke kaki Song Caiwei. “Nona, apa yang dikatakan Tuan Muda Cao benar adanya…”
Song Caiwei memungut lencana Komando Ibukota Kekaisaran itu. Meski tak bisa memastikan keasliannya, namun kata-kata mereka telah membuatnya setengah percaya.
Cao Xiu mencoba mendekat. Bagaimanapun caranya, ia harus mendapat kepercayaan gadis itu.
Song Caiwei tidak menghindar dari pendekatannya, sebab ia tak merasakan ancaman dari pria itu.
Ia hanya berdiri di situ, menatapnya diam-diam. Angin malam berembus pelan, mengibaskan ujung gaunnya.
Hingga jarak mereka hanya tinggal lima langkah, Cao Xiu menundukkan kepala. Rambut yang terurai di pundaknya jatuh menutupi leher, memperlihatkan sebidang luka berkerak di belakang kepalanya, terpapar cahaya bulan.
Bagian belakang kepala manusia teramat rapuh, banyak organ vital berkumpul di sana. Bila dipukul dengan benda keras, bisa saja nyawa melayang seketika.
Song Caiwei menatap pemandangan mengerikan itu, tubuhnya bergetar, air mata panas mengalir membasahi pipi.
Cao Xiu tetap menunduk entah berapa lama, hingga ia merasakan tetes-tetes air hangat jatuh di tengkuknya. Saat ia mendongak, Song Caiwei telah berubah menjadi sesosok gadis yang berlinang air mata.
“Maafkan aku, mereka seharusnya hanya ingin membunuhku saja...
Maafkan aku, akulah yang membuatmu jadi seperti ini...
Maafkan aku, aku memang pembawa sial…”
Ia menurunkan sapu di tangannya dan menangis sejadi-jadinya. Kini, tak ada lagi keraguan di hatinya.
Cao Xiu dibuat gugup oleh tangisan mendadak itu. Andai ada yang melihat, pasti mengira ia telah berbuat sesuatu yang tak pantas pada gadis itu. “Nona Song, jangan menangis dulu, kita masih bisa membicarakannya baik-baik...”
Ketika seseorang telah lama menahan emosi, begitu dinding itu runtuh, segalanya takkan bisa dibendung.
Cao Xiu tak mampu menenangkannya, hanya bisa membiarkan Song Caiwei menangis sampai puas. Setelah lama berlalu, barulah ia berhenti, napasnya lebih teratur, tubuhnya tak lagi gemetar. Cao Xiu pun bertanya hati-hati, “Ehm... Nona Song, bisakah kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”
Song Caiwei mengusap air matanya, meminta maaf, “Maaf, barusan aku terlalu terbawa emosi…”
“Tak mengapa, aku tak mempermasalahkan. Sekarang, lebih baik kau ceritakan semua padaku…” Cao Xiu tersenyum, ia merasa setidaknya sudah berhasil mendapatkan kepercayaannya.
Song Caiwei mengangguk, lalu mulai bercerita, “Semuanya bermula pada malam bersalju, setahun yang lalu...”
...
Beberapa saat kemudian, Cao Xiu duduk bersama Song Caiwei di sebuah bangku kayu di halaman rumah. Meski waktu mereka terbatas, seluruh kisah penting telah disampaikan.
Ternyata, Song Caiwei kehilangan ibunya tak lama setelah ia lahir, sedang ayahnya meninggal mendadak tahun lalu. Setelah upacara pemakaman selesai, di rumah itu hanya tersisa dirinya, pelayan, dan beberapa pengasuh.
Malam itu, salju turun amat lebat. Song Caiwei duduk seorang diri di dalam kamar, pelayan mengantarkan makan malam, namun duka atas kepergian sang ayah membuatnya tak berselera. Justru kucing besar kesayangannya yang meloncat ke atas meja dan melahap makanan di piring.
Awalnya, Song Caiwei tak menghiraukan. Ia memang sering menggoda kucing itu dengan makanan. Tapi tiba-tiba, si kucing jatuh dari meja, mulutnya berbusa.
Belum sempat ia bereaksi, seorang pria berbaju hitam melompat turun dari balok atap...
Untungnya, ia pernah belajar ilmu bela diri beberapa tahun dari seorang pendeta wanita. Walau tak mampu mengalahkan lawannya, setidaknya ia masih bisa mempertahankan nyawanya.
...
Dengan luka di tubuh, ia mendobrak pintu dan lari menuju pintu belakang. Para pengawal rumah yang melihat penyerang berpakaian hitam berjuang mati-matian melindunginya.
Ia menunggang kuda, keluar dari pintu belakang, namun belum jauh ia menoleh dan melihat segerombolan perampok gunung menerobos masuk ke rumahnya, membantai siapa saja yang mereka temui...
Ayahnya tewas secara mendadak, pejabat pemerintah tidak mampu menemukan pelakunya. Lalu, ada yang meracuni secara diam-diam, kemudian datang penyerang berbaju hitam, dan akhirnya perampok. Bahkan orang bodoh pun tahu ada sesuatu yang sangat kelam di balik semua ini.
Dendam atas kematian ayah, kehancuran keluarga—tak membalas berarti bukan anak sejati!
Dalam sedu sedan, Song Caiwei menelan airmata, peluh, dan darah dalam satu napas. Di matanya, rumah tempat ia tumbuh besar kini dilalap api, nyala merah membara terpantul di wajahnya; pekik kematian, teriakan minta tolong, jerit kesakitan—semuanya menancap di telinga.
Ia takut, ia putus asa, namun dengan cepat menenangkan diri. Ia tahu ia harus bertahan, menyimpan nyawa, mencari keadilan, membalas dendam pada dalang di balik semua petaka itu—demi ayah dan demi belasan nyawa keluarga besarnya!
“Aku menunggang kuda sejauh mungkin, tapi jejak di salju membuat mereka bisa mengikuti. Akhirnya aku harus turun kuda dan bersembunyi dari kejaran mereka...”
“Jadi, setelah itu kau bertemu aku?” tanya Cao Xiu.
“Ya, di sebuah kuil tua. Waktu itu kau memanggang seekor tikus bambu yang kaku karena dingin...” Saat berkata demikian, Song Caiwei menengadah menatap Cao Xiu, “Sekarang kau memang agak berbeda, dulu kau sedikit kaku...”
“Heh...” Cao Xiu mengalihkan pembicaraan, “Ngomong-ngomong, aku belum tahu siapa ayahmu, kenapa bisa terjerat masalah sebesar itu?”
Song Caiwei menjawab, “Ayahku adalah Song Yuanming, mantan pejabat Kepala Daerah Liyuan.”
“Uh...”
Sungguh janggal, berarti ia kini berhadapan dengan putri pejabat terdahulu?
Cao Xiu hampir saja tersedak, lalu bertanya, “Baiklah, sungguh dunia ini sempit. Kalau begitu, Nona Song, sampai sejauh mana kemampuan ilmu beladiri yang kau kuasai?” Ia teringat tadi Song Caiwei berkata dirinya bisa silat. Sejak datang ke dunia ini, Cao Xiu memang sangat ingin melihat langsung kehebatan jurus-jurus tinggi. Rasa ingin tahunya pun menggelitik.
Song Caiwei tertegun, agak malu menjawab. Bagi gadis muda di dunia seperti ini, menguasai bela diri memang bukan hal biasa. Ia hanya berkata, “...Tak seberapa tinggi, hanya sekadarnya saja.”
Sekadar itu sampai sejauh mana?
Tapi, seorang gadis lemah lembut bisa sehebat apa? Cao Xiu berpikir, mungkin ia sengaja merendah agar tidak tampak terlalu rapuh di hadapannya, takut membuatnya khawatir. Ya, sungguh gadis baik.
“Hehe, kalian ini tampak benar-benar sepasang kekasih!”
Mendadak, suara sumbang memecah keheningan.
Keduanya langsung waspada, menoleh ke arah hutan.
Seseorang berdiri di puncak pohon. Wu Chang yang berada di bawah segera melompat naik.
Namun, belum sampai sepuluh jurus, Wu Chang sudah terpelanting jatuh seperti lalat, hanya dengan satu serangan telak.
Bukankah Komandan Luo berkata, selama ada Wu Chang, keamanan tak perlu dirisaukan? Tapi ini...
Awalnya dikira Wu Chang seorang ahli, ternyata hanya prajurit rendahan.
Orang berbaju hitam itu menoleh memandang Cao Xiu. Cao Xiu menarik tangan Song Caiwei, buru-buru melarikan diri.
“Hmph, kalian pikir bisa lari ke mana?”
Orang berbaju hitam itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Dalam sekejap, ia sudah menghadang mereka di depan.
Cao Xiu ingin sekali mengeluh, "Dengan begini, hukum Newton pun tak bisa menahannya di dalam peti mati."
“Orang bilang, belalang menangkap kumbang, burung pipit mengintai di belakang. Anak muda, aku telah membuntuti kalian sepanjang jalan. Malam ini, belalang dan kumbang ini akan kukirim ke alam baka,” ujar si baju hitam, matanya memancarkan penghinaan.
Cao Xiu melangkah ke depan, melindungi Song Caiwei. Suara si baju hitam terdengar tua, barangkali ia memang seorang kakek.
Namun, kakek pun tetap saja mustahil mereka menangkan.
Apa yang harus dilakukan...
Cao Xiu mulai panik, bahaya mengintai dari segala penjuru.
Otaknya berputar cepat, namun tak kunjung menemukan jalan keluar. Hingga ia melihat seseorang di belakang si baju hitam, tampak sedang memainkan batu kecil. Ia pun tiba-tiba tersenyum, “Kau memang tahu cerita belalang dan burung pipit. Tapi tahukah kau, di belakang burung pipit seringkali ada ketapel kecil?”
“Hmph, bocah, jangan berceloteh. Kau kira bisa menipuku dengan cara seperti itu?”
Manusia memang begitu, semakin kau berkata jujur, semakin tak dipercaya.
Cao Xiu berkata, “Percaya atau tidak, aku tetap pamit dulu.”
Ia menarik lengan Song Caiwei, berlari lagi.
“Kalian pikir bisa lolos dari tangan tua ini?” Orang berbaju hitam menyiapkan jurus, hendak melompat, tapi tiba-tiba dari belakang terdengar suara benda melesat, dan saat ia menoleh, sebuah batu sudah membesar di depan matanya.
Duk!
...
Cao Xiu tak menyangka Komandan Luo akan muncul tiba-tiba. Jika Wu Chang hanya prajurit rendahan, maka Komandan Luo adalah pendekar sejati.
Orang berbaju hitam tadi, bukankah tadi ada di kelenteng Dewa Kota? Barangkali ia datang dari sana, makanya Komandan Luo terus membuntutinya.
Mereka pun bergegas meninggalkan pondok kecil itu, namun belum jauh, Qin Tongzhi bersama pasukan dan obor telah tiba.
Sejak tadi memang terasa ada yang mengikuti dari belakang—ternyata benar, Qin yang mengutus mereka.
Di kelenteng tadi, mereka masih bersaudara seperjuangan.
Sungguh...
“Cao Zhixian, siapa ini?” Begitu melihat Song Caiwei, mata Qin Tongzhi langsung berbinar.
Cao Xiu tak banyak menjelaskan, buru-buru menggenggam tangannya, “Saudara Qin, tak sempat menjelaskan. Cepat ke depan, si baju hitam itu ada di sana...”
Qin Tongzhi berseru, “Apa? Orang berbaju hitam? Dalang di balik semua ini!”
Begitu Cao Xiu mengangguk, Qin tak memperdulikan Song Caiwei ataupun Cao Zhixian, segera membawa pasukannya pergi.
Cao Xiu memandangnya, dalam hati berkata, “Orang ini memang gampang diarahkan.”
Song Caiwei memandangnya, “Sebenarnya apa yang terjadi?”
Cao Xiu menjelaskan semuanya. Song Caiwei bertanya, “Berapa lama lagi kau akan menyamar sebagai pejabat ini?”
Cao Xiu menghela napas, “Sepertinya... masih cukup lama.”
“Semuanya salahku…”
Cao Xiu memotong, “Tak ada waktu membahas itu. Cepat pergi.”
“Kalian tidak bisa pergi!”
Dari depan kembali terdengar suara, dua pria berbaju hitam muncul di pinggir jalan.
Cao Xiu kembali berdiri melindungi Song Caiwei, berkata, “Cepat lari, cari komandan tadi. Ia bisa melindungimu.”
Song Caiwei menatap punggung yang tak terlalu lebar itu, yang bahkan setelah kehilangan ingatan pun tetap rela mengorbankan diri demi dirinya. Matanya basah, teringat bagaimana selama berbulan-bulan pria itu selalu berdiri di depannya, melindunginya.
Senyum pun terbit di bibir Song Caiwei—senyum yang tak pernah ia tunjukkan lagi sejak ayahnya wafat. Ia melangkah keluar dari belakang Cao Xiu, di tangannya kini tergenggam dua jarum perak.
“Sebelum ini kau selalu melindungiku, sekarang giliranku!”
Song Caiwei maju menghadapi dua pria berbaju hitam itu. Mereka tertawa sinis, “Song Caiwei, sebaiknya kau patuh saja. Kami bisa menjamin jasadmu tetap utuh.”
“Hehe, benar juga. Gadis ini manis sekali. Kakak, nanti kau duluan atau aku?”
Cao Xiu tertegun. Ada apa dengan Song Caiwei, berani sekali? Ia pun berteriak, “Nona Song, jangan gegab—”
Belum selesai bicara, Cao Xiu terdiam. Ia menatap dua pria yang telah tergeletak di tanah, masing-masing lehernya tertancap satu jarum perak.
Tak percaya, ia menatap Song Caiwei sekali lagi. Ternyata, tadi ia hanya menggerakkan pergelangan tangan, kedua jarum perak itu melesat dengan kecepatan luar biasa, membuat kedua pria berbaju hitam itu tewas seketika, tanpa sempat melawan.
Cao Xiu terperangah. Gadis ini sungguh menakutkan.
Jadi, ia benar-benar menemukan seorang wanita yang luar biasa hebat?