Bab 73: Identitas Rahasia Itu Seperti Memiliki Sayap
Di kuil ini, tampaknya tidak ada aturan “diam saat makan”.
Di seberang Jiang Xia dan An Shitou, beberapa biksu muda dengan cepat mulai mengobrol. Entah bagaimana, pembicaraan mereka beralih ke sebuah legenda kuno—tentang legenda Anjing Kabut.
Sebenarnya, tidak bisa dibilang pembicaraan itu mengalir begitu saja. Letak Kuil Shan Ni sangat terpencil, jarang ada wisatawan. Setiap kali ada tamu yang menginap, kepala biara tua diam-diam akan menggiring obrolan ke arah “Anjing Kabut”—ini juga menjadi daya tarik utama kuil terpencil mereka.
Di daerah ini, legenda Anjing Kabut telah lama beredar. Namun, yang benar-benar membuatnya jadi bahan pembicaraan adalah kasus pembunuhan yang terjadi dua tahun lalu. Dua tahun silam, seorang biksu bernama Zhong Nian diduga dibunuh makhluk gaib “Anjing Kabut”.
Setelah kejadian itu dimuat di koran, jumlah wisatawan yang datang untuk berkunjung ke kuil melonjak drastis, membawa pemasukan yang tak sedikit. Kini, setelah kehebohan reda, jumlah pengunjung kembali turun, namun masih saja ada yang datang karena tertarik oleh cerita Anjing Kabut, entah dari membaca koran lama atau mendengar kisah tersebut langsung dari para biksu.
Terkait insiden “Anjing Kabut membunuh orang”, kepala biara tua merasa bersalah. Sebab, sebenarnya yang membunuh Zhong Nian bukanlah Anjing Kabut, melainkan dirinya sendiri. Namun, rasa bersalah tidak bisa mengisi perut. Jadi, ia tetap memilih meningkatkan ketenaran kuil tanpa ragu.
Saat itu, dengan nada suara yang sengaja dibuat seram, kepala biara tua berkata kepada dua tamu baru, “Anjing Kabut adalah makhluk gaib kuno yang bisa terbang. Mereka muncul pada malam hujan, menyusup ke desa seperti kabut, menembus dinding, menculik warga yang tak bersalah, lalu menggantung mayat korbannya di tempat tinggi sebagai persediaan makanan.”
Sampai di situ, kepala biara tua sebenarnya ingin menakuti dua tamu di hadapannya dengan kejutan mendadak. Namun tiba-tiba ia merasakan firasat buruk—seolah jika benar-benar menakut-nakuti mereka, ia akan langsung dipukul dan diceburkan ke sup sayur.
Selain itu, menakut-nakuti dua pria dewasa rasanya juga tak seru. Kepala biara tua ragu sejenak, akhirnya hanya membelai jenggotnya. Ia melewatkan bagian menakut-nakuti dan langsung menutup, “Tapi tak perlu khawatir, itu semua hanya kisah dari zaman sebelum teknologi berkembang.”
“Tapi, bisa jadi itu bukan sekadar cerita,” ujar biksu ketiga dengan wajah tegang, bergumam cemas, “Bukankah dua tahun lalu kejadian serupa benar-benar terjadi? Kakak Zhong Nian...”
“Mu Nian!” Biksu tertua mengernyit, memotong, “Jangan ceritakan hal seperti itu pada tamu!”
“Tidak apa-apa, silakan lanjutkan,” Jiang Xia justru tampak tertarik, menatap mereka, “Kami detektif, ahli dalam memecahkan kasus aneh.”
“!”
“!”
“!”
“!”
“?!”
Empat biksu muda dan kepala biara tua.
Di atas kepala kelima orang itu, seakan muncul lima tanda seru, masing-masing dengan makna berbeda. Empat biksu menatap Jiang Xia. Yang termuda ragu-ragu berkata, “Sebenarnya aku sudah lama ingin bilang, kau terlihat familiar, apakah kau yang baru-baru ini terkenal... Jiang Xia? Benar begitu?”
“Oh, aku pernah mendengar! Beberapa hari lalu saat aku ke kota, saat mengantre, kebetulan mendengar beberapa gadis membicarakan orang itu,” biksu ketiga juga teringat, ia berseru semangat, “Kalau detektif ternama, mungkin benar-benar bisa mengungkap misteri—yang dua tahun lalu itu...”
“Diam!” Kepala biara tua menepuk meja keras-keras, memotong ucapan muridnya. Wajahnya tampak sangat kesal, menatap keempat muridnya, “Sudah dibilang jangan pernah menyebutkan hal itu lagi! Sudah, waktu makan selesai, semua kembali istirahat!”
Ia menarik napas panjang dengan marah, lalu menoleh ke Jiang Xia dan An Shitou, nada bicaranya jauh lebih dingin, “Ini urusan internal kuil kami, tidak perlu detektif ikut campur.”
Setelah berkata demikian, ia berdiri, wajahnya muram, mengibaskan lengan jubah dan pergi. Nyaris saja ia menuliskan kata “bersalah” di wajahnya.
Kepala biara tua berubah jadi sangat tak ramah. Untungnya, para muridnya tetap ramah melayani. Beberapa biksu muda membereskan ruang makan, lalu mengantar Jiang Xia dan yang lain ke kamar tamu, menyiapkan alas tidur bersih, bahkan entah dari mana mengeluarkan dua set sikat gigi dan pisau cukur sekali pakai.
Jiang Xia membereskan barang lebih awal, bersiap “memungut hantu”.
An Shitou tampaknya penasaran dengan kejadian “dua tahun lalu”, tapi ia tidak banyak bertanya—para detektif di dunia ini sepertinya punya kebiasaan tidak bertanya saat orang lain sengaja menahan informasi. Mungkin itu naluri profesional agar mereka tetap punya pekerjaan...
Sedangkan Jiang Xia sama sekali tidak penasaran. Bagaimanapun, ia adalah “peramal” yang tahu banyak hal.
Konon, dua tahun lalu, biksu Zhong Nian dari kuil ini “gantung diri”. Namun kenyataannya, ia dibunuh oleh kepala biara tua. Kepala biara tua ingin menikahkan cucunya dengan pewaris kuil besar, namun cucunya justru saling mencintai dengan Zhong Nian dan berniat kabur bersama. Kepala biara tua pusing memikirkan hal ini, tak pernah bisa membujuk cucunya. Sampai akhirnya, ia mendapat ide: selama Zhong Nian tidak ada, cucunya tentu tidak bisa lagi kabur.
Maka kepala biara tua memanfaatkan letak kuil dan legenda setempat untuk melakukan pembunuhan.
Di Kuil Shan Ni, ada ruang sempit setinggi sepuluh meter yang digunakan sebagai ruang isolasi. Di bagian atas ruang itu, dekat air terjun, terdapat jendela, dan bangunannya sangat kokoh, tak tembus air.
Dua tahun lalu, setelah membunuh Zhong Nian, kepala biara menutup pintu dan jendela di bawah dengan lakban, lalu mengalirkan air ke dalam ruang isolasi menggunakan papan kayu, membawa mayat mengapung ke atas dan menggantungnya di balok paling atas. Setelah itu, kepala biara kembali ke luar, memecahkan dinding bagian bawah, sehingga air langsung mengalir keluar.
Karena di balok yang berdebu itu tidak ada jejak panjatan, tampaknya mayat itu seperti dibawa terbang oleh Anjing Kabut.
Polisi tentu tidak bisa menutup kasus dengan “dibunuh Anjing Kabut”, jadi akhirnya, kasus itu diputuskan sebagai bunuh diri.
Jiang Xia mengingat kembali kejadian itu, tapi tak terlalu berminat. Perhatiannya kini tertuju pada hantu baru itu.
Kamar tamu sangat luas, seluruh lantainya dialasi tatami.
Jiang Xia menarik alas tidurnya mendekat ke pintu, lalu berbaring. Setelah para biksu muda tidur dan An Shitou di sebelahnya pun tak lagi bersuara, ia bersiap mengirim beberapa shikigami keluar melalui celah pintu untuk membangun boneka pengintai.
Namun sebelum sempat melakukannya, ia tiba-tiba merasakan sesuatu mendekat di luar pintu.
Aroma ini... hantu baru itu datang mencarinya?
Begitu aktif?
Jiang Xia ragu sejenak, lalu menarik kembali shikigaminya. Ia berpura-pura pergi ke kamar mandi, bangkit dan melangkah ke lorong.
Begitu menutup pintu, ia menunduk dan melihat hantu baru itu berlari cepat di lorong, tampak cemas, seolah ingin meminta pertolongan.
Jiang Xia menengok ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang. Lalu tanpa ragu ia berjongkok, mengangkat hantu baru itu dan membawanya ke tempat sepi.
Hantu baru itu jelas sedang butuh bantuan. Meski masih tampak gugup di hadapan Jiang Xia, ia tidak lagi menghindar seperti saat makan malam.
Dari dekat, Jiang Xia melihat ada benjolan di punggung hantu baru itu, mirip sepasang sayap.
Ia membawa hantu itu ke kamar mandi yang kosong, dengan sopan menahan diri selama dua detik, namun akhirnya tak tahan juga. Di bawah tatapan gugup si hantu, tangannya terulur meraih ujung sayap.
Dengan sedikit tenaga, sayap itu terbentang. Hantu baru itu panik dan berusaha terbang.
Jiang Xia pun melepaskan tangannya.
Hantu baru itu langsung sembunyi di balik botol sabun, merapikan bulu-bulunya yang acak-acakan dengan ekspresi sedih.
Jiang Xia memperhatikan dari samping, merasa sangat takjub.
Wujud hantu ini sebenarnya adalah versi chibi dari manusia. Namun saat biksu ini mati, pasti dalam wujud manusia normal, bukan dengan sayap—kalau tidak, kasus Anjing Kabut dua tahun lalu pasti jauh lebih terkenal.
Banyak aturan di dunia ini berbeda dengan yang dulu dikenal Jiang Xia. Ia hanya bisa menebak, mutasi mendadak pada hantu baru ini mungkin berkaitan dengan legenda Anjing Kabut yang sering disebut-sebut di daerah itu.
Entah sayap itu hanya hiasan atau benar-benar bisa terbang...
Dengan pikiran itu, Jiang Xia mencoba menyentil hantu itu, ingin melihat apakah ia bisa terbang.
Hantu biksu itu refleks menghindar.
Tapi segera, ia ingat masih perlu bantuan si dukun di hadapannya, lalu berdiri kaku membiarkan Jiang Xia menyentil-nyentilnya.
Karena hantu ini terlalu tenang, Jiang Xia pun belum bisa membuktikan apapun.