Bab 8 Biarkan Aku Memotret Wajahmu
Jiang Xia merekam seluruh proses masuknya Yuko Ikehara secara ilegal ke dalam rumah.
Setelah Yuko masuk ke dalam, ia pun membawa kamera dan berjalan diam-diam ke arah sana.
...
Yuko melangkah masuk ke rumah Yoko, lalu menyalakan lampu. Setelah itu, ia langsung masuk ke kamar tidur, mengangkat tangan dan menebarkan setumpuk surat ancaman yang berlumuran darah ayam ke atas tempat tidur milik Yoko Kinoshita.
Selesai melakukan kejahatannya, Yuko memandang tempat tidur yang kini berantakan oleh surat-surat berdarah itu. Teringat pada kondisi Yoko Kinoshita yang belakangan ini sangat buruk, Yuko merasa dirinya benar-benar jenius.
Ia mengibaskan rambut, tersenyum puas, dan bersiap untuk pergi.
Namun siapa sangka, ketika ia berbalik, tiba-tiba dihadapannya ada sebuah lensa kamera hitam yang mengarah lurus padanya.
...
Tubuh Yuko mendadak kaku, hawa dingin menjalar sampai ke ubun-ubunnya.
Di ambang pintu kamar, entah sejak kapan, telah berdiri seorang pria. Orang itu mengenakan masker, hoodie, dan sarung tangan, menutupi seluruh tubuhnya dengan rapat. Matanya tersembunyi di balik bayangan topi, membuat wajahnya sama sekali tak terlihat.
Ia nampak santai bersandar di ambang pintu. Saat Yuko berbalik, pria muda itu mengangguk ke arahnya dan, di luar jangkauan kamera, mengacungkan jempol seolah sangat mengapresiasi aksi Yuko barusan.
Sikap itu seharusnya tergolong ramah.
Namun Yuko menatap kamera itu dengan hati yang membeku:
Masuk rumah secara ilegal, mengganggu dan mengancam rekan seprofesi dengan surat ancaman berdarah... Jika semua ini terekam dan tersebar, bukan hanya kariernya yang tamat, ia bahkan bisa dipenjara!
...Namun, untungnya.
Yuko berpikir, dirinya kini mengenakan syal dan kacamata hitam, dengan syal menutupi hampir seluruh wajah. Asal tidak tertangkap basah atau wajahnya tidak terekam jelas, nanti ia masih bisa membela diri, menuduh orang lain sengaja menyamar sebagai dirinya untuk menjebak dan mencemarkan namanya.
Intinya, ia harus segera kabur dan jangan sampai tertangkap!
Ia melirik Jiang Xia yang menghadang di pintu, berniat mengambil sesuatu lalu melemparnya untuk menjatuhkan atau menakut-nakuti pria itu, kemudian langsung berlari keluar.
Matanya melirik ke bangku kecil di sampingnya.
Ia bersiap untuk menerkam bangku itu dan memukulkannya dengan keras ke kepala Jiang Xia.
Namun pada saat pandangannya sedikit teralihkan, tiba-tiba Jiang Xia sudah mendekat dan langsung merenggut syal serta kacamata hitam dari wajah Yuko, menelanjangi seluruh penyamarannya dalam sekejap.
Wajah Yuko pun langsung terlihat jelas di depan kamera.
...
Kesadaran akan hal itu membuat kepala Yuko terasa berdengung. Ia meronta seperti orang gila, berusaha memukul kamera itu agar hancur.
Tentu saja ia tidak berhasil, malah kerahnya ditarik lalu dihempaskan ke karpet kamar.
Jiang Xia menindih tangan Yuko yang meronta dengan lututnya, lalu dengan satu tangan tetap memegang kamera, tangan satunya mencengkeram wajah Yuko dan menjewer kulitnya dengan keras.
Karena aksi seorang pencuri terkenal, banyak orang di dunia ini sudah paham tentang teknik penyamaran wajah. Jika tidak membuktikan langsung di depan kamera, Yuko bisa saja nanti berdalih bahwa seseorang sudah menyamar menjadi dirinya.
Awalnya Jiang Xia merasa, cukup dengan menjewer wajah Yuko agar terlihat jelas bahwa kulitnya tidak tertempel topeng, dan warna kulit yang memerah alami setelah dijewer bisa menjadi bukti kuat bahwa orang yang ia rekam benar-benar Yuko Ikehara.
Namun dengan cepat, Jiang Xia merasa heran, sesuatu terasa janggal.
Ia memang tidak menemukan topeng penyamaran.
Tapi kulit Yuko juga tidak tampak memerah.
Jiang Xia menatap sarung tangannya yang kini penuh dengan bedak tebal.
...
Setelah diam sebentar, Jiang Xia yang penasaran kembali menjewer wajah Yuko, namun hasilnya tetap sama—tidak ada kemerahan. Mungkin karena riasannya terlalu tebal.
...
Kalau begitu, ia tak dapat membuktikan bahwa itu wajah asli.
Jiang Xia menatap sarung tangan yang kotor, lalu pada Yuko yang masih terus menjerit histeris di bawahnya. Ia sejenak termenung.
Beberapa saat kemudian, ia teringat saat melewati ruang tamu tadi, di meja teh ada sekotak tisu basah.
Sebuah ide cemerlang pun terlintas di benaknya.
Ia mengangkat Yuko bagaikan anak ayam, membawanya ke sofa ruang tamu, dan kembali menekannya di sana.
Kemudian ia mengambil selembar tisu basah dan menggosok wajah Yuko dengan keras.
Kali ini, riasan itu akhirnya terhapus.
Kulit Yuko pun tampak memerah alami di depan kamera, perubahan yang tidak mungkin dilakukan oleh teknik penyamaran apa pun. Ini membuktikan bahwa wajah itu benar-benar miliknya.
...
Yuko merasakan sensasi basah di wajahnya.
Ia membuka mata dengan curiga dan melihat Jiang Xia memegang tisu basah yang dipenuhi sisa riasan wajahnya.
Yuko menatap tisu itu dengan linglung, lalu ke arah kamera yang masih menyorot dirinya.
Setelah menyadari apa yang terjadi, ia menjerit marah sejadi-jadinya.
Jiang Xia terkejut mendengar teriakan itu, refleks menebaskan tangan ke leher Yuko.
Teriakan itu pun terhenti.
Mata indah Yuko membelalak sebelum akhirnya terpejam, ia jatuh pingsan dengan rasa tidak terima.
Ruangan kembali hening.
Jiang Xia menarik napas lega.
Ia melihat Yuko yang terbaring, dan setelah ragu sejenak, merasa lebih baik menyelesaikan semuanya sekalian.
Ia mengambil beberapa tisu basah lagi, menghapus seluruh riasan dari wajah Yuko, lalu merekam proses itu secara lengkap.
Barulah ia menghentikan rekaman.
Dengan bukti ini, entah untuk mengirim Yuko ke penjara atau sebagai alat menekan agar ia berhenti mengganggu, sudah lebih dari cukup.
Namun, ada satu masalah...
Jiang Xia memutar ulang rekaman dan menghentikan di bagian akhir.
Ia memperhatikan wajah Yuko tanpa riasan, lalu membandingkannya dengan penampilannya di poster. Mendadak ia merasa bingung.
Perbedaan antara wajah sebelum dan sesudah sangat besar.
...Apakah ini cukup membuktikan bahwa Yuko bukan orang lain yang menyamar?
...
Tapi toh riasannya sudah dihapus, tak mungkin ia menggambarnya lagi.
Jiang Xia teringat tatapan putus asa Yuko sesaat tadi, dan sadar bahwa Yuko sendiri sangat peduli terhadap bagian rekaman itu.
...Jadi, seharusnya tidak masalah.
Rencananya tetap bisa berjalan seperti semula.