Bab 24: Apakah Masih Bisa Menikmati Makan dengan Tenang?
“Halo, jawab pertanyaanku, kenapa kamu ingin menjebak Ajek?” Melati menyenggol Chen Yu dengan sikunya.
“Kamu benar-benar yakin bahwa Peradaban Dero dan Peradaban Bumi bisa selalu hidup damai bersama? Ada pepatah, saudara kandung pun harus jelas dalam perhitungan! Tak ada pesta yang tak berakhir!” jawab Chen Yu.
Alasan ia ingin menjebak Ajek adalah agar Qilin dan yang lain paham, seakrab apa pun Peradaban Dero dan Bumi, pada akhirnya akan ada saatnya mereka berpisah jalur.
“Memangnya tidak mungkin kedua peradaban melebur jadi satu?” tanya Melati lagi.
“Melebur? Itu butuh keberanian untuk memusnahkan peradaban! Apa kau tidak pernah dengar bagaimana dulu Peradaban Dero menyatu? Dimulai dari perlombaan persenjataan, lalu perang kehancuran. Siapa yang rela tunduk menjadi adik dari peradaban lain? Siapa yang tidak ingin memimpin kejayaan bangsanya sendiri?”
Perlu diketahui, karakter asli Peradaban Dero sangatlah suka berperang dan sangat dominan! Kalau tidak, mana mungkin sampai terjadi perang yang memusnahkan galaksi?
Sampai mati pun mereka tidak mau melebur satu sama lain! Lebih baik saling hancur daripada menyerah.
Dengan watak seperti itu, mustahil Dero bisa diasimilasi oleh Bumi, dan Bumi pun tidak memiliki hak untuk meleburkan peradaban yang sekeras itu.
Ucapan Chen Yu membuat Melati terdiam, belajar dari sejarah memang perlu.
Derstar dan Ronostar sama-sama memiliki satu matahari dan ras yang nyaris identik, tapi mereka tetap tidak mau bersatu damai, apalagi dua peradaban dari dua galaksi!
Belum lagi Malaikat dan Iblis, ratu mereka saja adalah saudari kandung, tetapi tetap saja saling bermusuhan sampai mati.
Jadi, menyatukan dua peradaban itu sangat sulit!
Sulitnya seperti menyuruh menantu dan mertua tinggal satu atap dan rukun.
Memikirkannya saja sudah bikin Chen Yu pusing. Ia mengibaskan tangan, “Sudahlah, jangan bahas yang bikin pusing, tugas kita hari ini cuma makan!”
“Qilin, Mengmeng, sudah dicuci sayurnya?”
“Sudah, tinggal makan saja.” Qilin menoleh dan tersenyum, membuat Chen Yu merasa segar seperti diterpa angin musim semi.
Keempat dewi itu pun duduk mengelilingi meja makan, memegang mangkuk dan sumpit masing-masing, menatap Chen Yu dengan penuh harap.
“Leina, tugasmu kali ini berat! Kau harus merebus daging buaya sampai matang, tapi jangan sampai restoranku kebakaran!”
“Hmm… susah juga ya!” Leina menjawab malu-malu.
Akhirnya Chen Yu memegang tangan Leina, meletakkannya di dasar panci untuk menaikkan suhu, lalu mengajarinya cara mengontrol panas. Setelah beberapa saat, Leina merasa pengendaliannya terhadap energi jadi lebih baik.
Tapi ia segera mengeluh, “Lho, kenapa aku jadi tabung gas! Kalian cuma makan saja! Ini nggak adil!”
“Makanya, makanya tas itu dikasih ke kamu, itu upahnya!” kata Chen Yu.
Mendengar itu, Leina baru merasa nyaman, lalu mendengus, “Masih ada hati juga rupanya!”
Melati dan Qilin saling pandang, dalam hati hanya berharap bisa makan malam ini dengan tenang.
Bakso dan irisan daging buaya buatan Chen Yu dimasukkan ke dalam panci, lalu ia menahan tutup panci dengan kedua tangan, menjadikannya panci tekanan super, dan butuh setengah jam hingga semua daging matang.
Begitu tutup panci dibuka, aroma harum langsung menyebar, daging segar bergolak dalam air mendidih. Melati jadi yang pertama mengambil bakso dengan sumpit, tapi langsung dipukul oleh Leina.
“Aku yang paling capek, aku yang harus makan dulu!”
“Kita semua kerja, kenapa kamu yang duluan? Siapa cepat dia dapat!”
Langsung saja terjadi perebutan, para dewi saling bercanda, suasana jadi sangat meriah. Leina merasa ini jauh lebih menyenangkan dibanding makan sendirian di istana yang dingin. Baginya, merebut dari orang lain justru terasa lebih nikmat.
Kebiasaan Leina itu cepat menular, akhirnya keempat dewi kompak melancarkan serangan ke Chen Yu, sampai ia sama sekali tak kebagian makanan.
“Kalau kalian terus begitu, aku ambil pakai tangan ya!” keluh Chen Yu.
“Berani coba!” para dewi langsung melotot, siap menguliti Chen Yu.
“Setidaknya kasih aku satu suap, atau kalian suapi aku deh! Aaa…”
“Baiklah, karena kamu sudah bekerja keras, nih satu bakso buatmu,” ujar Melati yang tahu benar, Chen Yu benar-benar nekat ambil dengan tangan, dan itu bisa bikin selera makan hilang. Ia pun mengambil satu bakso dan menyuapkan ke mulut Chen Yu.
“Eh! Melati menyuapi cowok! Aku saja belum pernah diperlakukan begitu!” Terdengar suara perempuan yang merdu, penuh candaan, sedikit menggoda dan agak iri.
Mendengar itu, tangan Melati bergetar, ia menoleh malu-malu, “Bukan seperti yang Tante Lianfeng pikirkan!”
“Ya, justru seperti yang kulihat!” Lianfeng tersenyum makin lebar.
“Benar, Melati sampai merah wajahnya! Katanya nggak bakal laku, jangan-jangan aku salah prediksi?” Leina cepat-cepat menambahi, lalu menangkap bakso yang terlempar karena tangan Melati gemetar, menggigitnya dan tersenyum sambil memejamkan mata, “Rasanya lebih enak, ini pasti rasa cinta yang legendaris!”
“Leina! Makan saja masih nggak bisa menutup mulutmu?” Melati mulai kewalahan.
Chen Yu hanya bisa berdiri tak berdaya, menyambut kedatangan Lianfeng dan Dukao yang tak diundang. Dukao tanpa pikir panjang langsung duduk di antara Melati dan Chen Yu.
“Pak Du, geser sana sedikit!” Melati mengernyit.
Ekspresi Dukao jadi sangat rumit, apa ini maksudnya? Lianfeng mengelus rambut Melati, “Sudah dapat pasangan jadi lupa ayah, ya?”
“Oh, begitu rupanya! Tak kusangka Melati seperti ini!” Leina dan yang lain penuh rasa ingin tahu dan tertawa terbahak-bahak.
Chen Yu juga penasaran menatap Melati, apa pesonaku sebesar itu? Padahal wajah dan auraku sudah berubah, tapi tetap saja menawan bagi para dewi?
Ternyata, diriku memang terlalu luar biasa, sampai-sampai tak bisa disembunyikan!
Melati memandang Chen Yu dengan enggan, lalu melirik Dukao, mendengus, “Sejak kecil, Pak Du nggak pernah makan bareng aku, jadi nggak biasa!”
“Jenderal, untuk urusan ini saya tak bisa bantu!” Lianfeng melirik Dukao tajam. Dukao langsung merasa sangat bersalah, ia pun duduk di sisi lain Melati secara kikuk, lalu mengambil sepotong bakso daging paling bagus dari panci dan meletakkannya di mangkuk Melati.
Melati tertegun, mengambil bakso itu dan menggigitnya, setetes air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Ada apa?” tanya Dukao heran.
Sambil mengunyah perlahan, Melati memaksakan senyum, “Kalau aku tak salah ingat, ini pertama kalinya kau makan bersamaku, pertama kalinya kau mengambilkan makanan untukku. Kau tahu? Adegan seperti ini sudah sering kali kubayangkan sejak lama, dulu kupikir ini kemewahan yang tak mungkin kumiliki seumur hidup!”
Bakso itu kini terasa sangat asin.
Wajah Dukao dipenuhi rasa bersalah, menatap Melati dengan penuh kasih, tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya bisa menambahkan sepotong daging lagi ke mangkuk Melati.
“Oh, aku paham rasanya, seperti kedua orang tua sudah tiada, lalu tiba-tiba muncul di depan mata, misalnya saja aku,” Leina mengangguk.
Dukao langsung terbatuk-batuk, ia kan masih hidup, kok bisa disamakan!
Melati juga kesal bukan main, melirik Leina dengan tajam, “Kalau nggak bisa ngomong, diam!”
“Jujur dikit aja nggak boleh! Gimana mau main bareng dengan asyik.” Leina menggerutu.
Dukao menggeleng dan tersenyum pahit, menunjuk tas di punggung Leina, “Kalau begitu aku juga mau jujur, tulisan di tasmu itu berarti bodoh, itu kamu sengaja buat bahan bercandaan ya? Memang sih bisa bikin Pan Zhen marah besar, tapi terlalu berisiko, kan?”
“Bod... bodoh? Bukannya artinya agung?” wajah Leina langsung kaku, lalu melihat Chen Yu tiba-tiba bangkit dari kursi, dan ia pun langsung berteriak, “Ikan mati, berhenti di situ!”
Tentu saja Chen Yu tak mau berhenti, ia mengambil semangkuk daging dan langsung kabur. Kalau sampai bertengkar di sini, restorannya pasti akan porak poranda! Leina terkenal sebagai penghancur rumah tangguh!
Beberapa hari lagi ia harus menjamu tamu penting! Malaikat dan Iblis, rumah ini harus tetap utuh!
Leina baru sampai pintu, lalu kembali mengambil semangkuk penuh daging, setelah itu baru mengejar keluar dengan wajah garang, tak lupa berteriak, “Simpan buat dewi sedikit, setelah kubantai ikan asin itu, aku balik lagi buat makan!”
……
“Baiklah, sekarang dua orang sudah pergi, seharusnya makanan cukup buat semuanya. Ayo, Melati, makan yang banyak!” Dukao tersenyum mengajak semua.
“Memang Jenderal paling bisa, akhirnya bisa makan masakan Chen Yu tanpa harus lihat wajahnya yang menjengkelkan, nyaman sekali!” Lianfeng tersenyum sambil mengambilkan bakso untuk Qilin, Rui Mengmeng, dan Melati, lalu baru mengambil untuk Dukao dan dirinya sendiri.
Tanpa dua pengacau itu, makan jadi terasa lebih nikmat!