Bab 31: Mawar dan Pangsit
Stasiun Persinggahan Kehidupan.
Di meja bar, tiga gelas kaki tinggi perlahan diisi anggur merah tua, tampak semakin memikat di bawah cahaya lampu yang gemerlap.
Morgana mengambil satu gelas, menggoyangkannya perlahan, membiarkan aroma anggur terbangun sempurna, lalu menyerahkannya pada Mawar dengan penuh harap, “Cobalah!”
Mawar agak canggung, rasanya perlakuan ini terlalu baik untuknya! Ia menerima gelas itu dan menyesapnya.
“Bagaimana rasanya?”
“Enak sekali!”
Mendengar jawaban Mawar, hati Morgana lebih manis daripada madu. Namun, saat menoleh pada Chen Yu, wajahnya langsung masam, sebab orang itu hampir saja membunuhnya.
“Kau tahu ini anggur apa? Kau tahu betapa berharganya?” Morgana mendengus.
Chen Yu menggoyang gelasnya, menyesap sedikit. Aroma anggur yang pekat segera menyebar di lidah, rasa yang bertingkat ibarat gelombang lembut mengalir di ujung lidah. Lama Chen Yu merasakan, lalu menyipitkan mata dan berkata, “Lebih dari tiga puluh ribu tahun umurnya. Setiap tahun, anggur segar dan anggur tua dicampur, dikukus, lalu disimpan kembali. Dengan begitu, jejak waktu terpatri dalam setiap tetesnya. Menyesapnya seperti melintasi sungai waktu! Menurutku anggur ini pantas diberi nama Masa Keemasan Mengalir.”
“Serius? Serumit itu?” Mawar menyesap lagi dan baru kali ini merasakan apa yang dimaksud Chen Yu.
“Bukan Masa Keemasan Mengalir, namanya Seratus Kali Berputar Seribu Kali Kembali!” Morgana mendengus, namun dalam hati ia harus mengakui ketajaman lidah Chen Yu. Melihat Chen Yu puas, ia pun berbisik lembut pada Mawar, “Kau mau makan apa untuk kudapan malam?”
“Pangsit saja!” Mawar memang belum tidur, hanya menunggu makanan ini!
“Pangsit bagus, di Bumi ada pepatah, makanan seenak apa pun tak sebanding dengan pangsit!”
Morgana mengangguk, lalu membentak Chen Yu, “Cepat buatkan! Kalau tidak memuaskan, semua anggur Ratu ini akan kupakai mandi dan siram bunga, tak setetes pun untukmu!”
“Baiklah, kalian berdua siapkan sayur dan daging, aku akan menguleni adonan. Enaknya pangsit itu setengahnya ada pada adonannya!”
Chen Yu juga tak mau membiarkan mereka bermalas-malasan, masak sendirian itu melelahkan!
Supaya pangsit enak, pertama, kulit pangsit harus digilas tangan; kedua, dagingnya harus dicincang tangan. Kalau dua syarat ini terpenuhi, pangsit hampir pasti lezat!
Sekarang, pangsit biasanya memakai daging giling mesin, tak ada seribu pukulan cincang, aroma dan tekstur dagingnya hilang, malah terasa hambar.
Kalau kulitnya bukan hasil gilingan tangan, tak ada tekstur sama sekali, lebih baik makan bakso!
“Menuruh Ratu bekerja, kau bermimpi! Mati pun aku tak mau.” Morgana mencibir, lalu menarik Mawar untuk menonton saja.
“Kalau sudah kubilang cincang daging, ya harus cincang, percaya tidak?” Chen Yu tersenyum percaya diri.
“Siapa pula yang percaya!”
“Kau tahu kenapa orang Tionghoa suka makan pangsit? Karena butuh semua anggota keluarga untuk bekerja: mencabuti sayur, mencincang daging, menggilas kulit, membungkus pangsit. Setiap orang punya tugas, setiap pangsit adalah hasil kerja sama keluarga, penuh rasa kehangatan!” kata Chen Yu sambil tersenyum.
Mata Morgana langsung berbinar, lalu menarik Mawar, “Sepertinya masuk akal juga apa yang dia bilang, buat sendiri pasti lebih nikmat!”
Bisa merasakan hangatnya keluarga bersama Mawar, jauh lebih menggoda daripada sekadar makanan enak! Morgana pun langsung lupa janji mati-matian tak mau kerja tadi.
Mawar pun sebenarnya tergugah, sejak kecil ia tak punya ibu, yang paling ia rindukan adalah kehangatan keluarga, maka ia pun mengangguk dan bersama Morgana mulai mencabuti sayur dan mencincang daging.
Chen Yu lantas mengajari Mawar membungkus pangsit secara langsung, Morgana yang melihatnya jadi iri, lalu ikut-ikutan merengek ingin belajar. Meski bentuk pangsit buatannya aneh, tapi ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia alami selama dua puluh ribu tahun lebih.
Ketika Chen Yu mengejek pangsit buatan Morgana mirip cubitan anjing, ia pun membalas dengan tangan berlumur tepung menepuk wajah Chen Yu, membuat mukanya penuh tepung. Mawar yang melihatnya langsung tertawa geli.
Chen Yu tak mau kalah, juga mengolesi muka Morgana dengan tepung, jadilah mereka bertiga bermain-main... suasana hangat dan penuh tawa menyelimuti dapur.
“Belum pernah kulihat Ratu sebahagia ini, apa gara-gara ada laki-laki? Jangan-jangan Ratu kena... gangguan hormon?” Artha langsung menyimpulkan dengan gaya sok tahu.
Pffft~~~
Mawar sampai terpingkal mendengar kesimpulan aneh itu!
Chen Yu juga hampir terkejut—bukankah harusnya seperti jatuh cinta? Cara pikir makhluk ini sungguh ajaib!
“Mampus kau, anjing peneliti!” Morgana sudah tak tahan, sekali pukul Artha terlempar, lalu membuka gerbang cacing dan membuangnya ke Mars, terlalu memalukan kalau dibiarkan di sini!
........
Setelah semua pangsit selesai, Morgana merasa aneh, seolah dalam satu jam singkat ini ia dan Mawar sudah jadi sahabat karib!
Kini, mereka berdua duduk di bar, serius memperhatikan Chen Yu merebus pangsit dan menyiapkan saus cocolan.
Minyak panas dituangkan ke bubuk cabai merah, suara desisnya saja membuat nyaman.
Minyak cabai merah menyala dicampur dengan bawang putih tumbuk dan cuka putih, saus asam pedas yang menyegarkan siap disajikan.
Pangsit buatan tangan yang sudah matang bentuknya padat dan kenyal, Mawar mengambil satu, mencelupkan ke saus merah asam pedas, lalu menggigit dengan bibir merahnya. Aroma daging, sayur, dan tepung bercampur meledak di lidah, minyak cabai, bawang putih, dan cuka menyatu sempurna, setiap gigitan adalah petualangan rasa baru, membelai lidah dan menggoda saraf.
Krek, krek, krek.
Bahkan suara kunyahannya membuat orang ingin menelan ludah, pangsit buatan tangan memang kenyal istimewa. Setelah makan satu, minum sedikit kuah rebusan pangsit, rasanya segar dan menghangatkan, aroma daging samar tertutupi aroma tepung, minum selagi panas, perut pun terasa nyaman.
“Ah~~~”
Tanpa sadar Mawar mendesah puas, lalu menoleh dan melihat Chen Yu serta Morgana menatapnya kosong. Ia pun bertanya heran, “Kenapa kalian tidak makan?”
Morgana berdeham, “Kulihat kau makannya lahap, sepertinya yang di mangkukmu lebih enak.”
Bagaimana tidak, pangsit buatan Mawar dan Morgana yang kulitnya robek dan isiannya keluar semua, ditaruh di mangkuk sendiri, melihatnya saja tak selera makan.
“Kalau begitu, makan saja... satu dari mangkukku.” Mawar melindungi mangkuknya dengan tangan.
Satu, hanya satu!
Muka Morgana sedikit kaku, lalu penuh harap berkata, “Mawar, bisakah kau menyuapiku?”
“Menyuapimu, asal kau tak rebut punyaku?... Baiklah!” Mawar berpikir, bisa makan kudapan malam ini juga berkat Morgana.
Ia mengambil satu pangsit, mencelupkan ke saus merah, dan menyuapi Morgana. Saat itu juga, wajah Morgana memancarkan kepuasan yang belum pernah ia rasakan, seperti sinar hangat menembus hatinya.
“Mawar, tanganku sakit, suapi aku juga!” Chen Yu tak mau kalah.
“Enyah kau!” tanpa pikir panjang Mawar menolak.
“Suapi setengah, sisanya untukmu!” Chen Yu memang hanya membuat tiga porsi, satu orang satu. Mawar melirik pangsit Chen Yu, buru-buru mengambil mangkuknya, lalu mulai menyuapi Chen Yu.
“Inilah kenikmatan sejati~~ wahahaha~~”
Setiap kali makan satu pangsit, Chen Yu melirik Morgana dengan penuh kemenangan.
“Sialan kau!” Morgana langsung merasa terpukul seratus ribu kali.
“Aku mau lagi! Besok aku suruh si brengsek ini masak lagi untuk kita!” Akhirnya, Morgana dan Chen Yu sepakat, satu ember anggur ditukar dengan satu kali makan.
“Baiklah!”
Akhirnya, Mawar makan satu sendiri, lalu menyuapi dua orang yang kelaparan itu satu per satu. Suasana yang tercipta begitu harmonis dan semua merasa bahagia.