Bab Seratus Tiga Puluh Empat: Aku Tahu Apa yang Harus Kulakukan
Sekelompok gadis di depan pintu tampak begitu bersemangat hingga tak bisa menahan diri. Seolah-olah merekalah yang sedang berdiri di dalam sana untuk menasihati Tang Yicheng. Mereka berimajinasi seakan berada di posisi Yuan Shanshan, hingga rasanya ingin sekali menggantikannya.
Beberapa pria dari tim lapangan tampak bingung. Awalnya, mereka tidak tertarik dengan urusan seperti ini, tetapi melihat rekan-rekan wanita begitu antusias, mereka pun ikut berkumpul untuk menonton.
"Apa yang membuat kalian begitu bersemangat?" tanya salah seorang pria yang tidak mengerti, namun hanya dibalas dengan pengabaian oleh para gadis.
Seorang gadis menatap para pria dari tim lapangan itu dengan gemas.
"Kalian tidak lihat apa yang sedang terjadi?" ucap gadis itu tak habis pikir, seraya membatin bahwa nasib kejombloannya mungkin akan terus berlanjut.
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Shanshan sedang mendidik Kak Cheng!" sahut gadis itu. "Paham tidak soal mengurus suami dan mendidik anak? Dia sedang melatih Kak Cheng. Perusahaan berkembang dengan sangat baik, tapi Kak Cheng tampak tidak peduli. Siapa pun yang melihatnya pasti merasa dia tidak punya ambisi. Bagaimana perasaan pacar kalian jika melihat kalian tidak punya semangat maju?"
"Aku jomblo!" sahut seorang pria, membuat gadis itu merasa pening.
Para pria dari tim lapangan itu malah saling bertepuk tangan dengan jenaka.
"Untuk apa punya pacar? Hidup jomblo itu luar biasa."
"Bukankah bermain gim itu menyenangkan? Bukankah istri dua dimensi lebih baik?"
"Pacar itu mahal, hidup sendiri saja sudah cukup."
Gadis yang berniat baik memberi peringatan itu seketika ternganga. Apakah dia sedang berhadapan dengan sekumpulan orang bodoh? Ia pun berbalik dengan perasaan kesal. Jika para pria ini saja tidak punya ambisi, bagaimana nasib mereka para gadis lajang ini?
Setelah melirik tajam ke arah tim lapangan, gadis itu kembali bergabung dengan kerumunan pengintip.
Di dalam ruangan, Yuan Shanshan sedang menasihati Tang Yicheng. Dengan penuh ketulusan, ia berharap Tang Yicheng mau lebih memperhatikan perusahaan. Meskipun bukan miliknya, perusahaan itu kini sedang berkembang pesat, dan jika terus begini, masa depan Tang Yicheng akan terjamin.
"Kak Cheng, bisakah Kakak lebih perhatian pada perusahaan? Bos sangat memercayai Kakak, Kakak pasti akan menjadi eksekutif senior di masa depan, yang berpenghasilan puluhan juta per tahun. Itu jauh lebih baik daripada sekarang!" ujar Yuan Shanshan. "Nanti Kakak juga bisa memberikan masa depan yang lebih baik untuk Tongtong, mungkin bahkan bisa mencari pendamping lagi?"
Setelah mengucapkannya, Yuan Shanshan terdiam. Wajahnya perlahan memerah, dan napasnya mulai terasa sesak.
Ia baru sadar telah keceplosan mengungkapkan isi hatinya. Ia sendiri bahkan belum siap, dan ia lebih takut jika Tang Yicheng menyadari rahasia kecil di dalam hatinya.
Tang Yicheng tersenyum. "Menurutku apa yang kau katakan itu benar, makanya aku mendukungmu. Apa itu salah?"
Yuan Shanshan tiba-tiba membisu. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia katakan, namun tertahan di tenggorokan. Semakin ia mengenal masa lalu pria itu, semakin ia merasa Tang Yicheng diperlakukan tidak adil, dan ia merasa semua itu tidak sepadan untuknya.
Kata-kata yang tertahan di kerongkongan membuatnya merasa sesak, dan sudut matanya mulai memerah, perlahan menggenang seperti tetesan tinta di atas kertas.
Tang Yicheng mengulurkan tangan dan menepuk bahu Yuan Shanshan. Ia bisa merasakan gadis itu gemetar, getaran halus seperti rintik hujan.
"Jangan menekan dirimu sendiri, aku mengerti maksudmu!" Tang Yicheng tersenyum tipis. "Kita akan menjadi lebih baik, perusahaan juga akan semakin maju. Soal bos, biarkan saja dia mati sana."
Tang Yicheng terus mengabaikan Hao Ren, pemilik perusahaan yang sebenarnya, yang sudah beberapa hari ini tidak menampakkan batang hidungnya.
Terkadang Tang Yicheng menghubunginya lewat telepon, namun pria itu selalu entah sedang main mahyong atau sibuk memasak sup di rumah untuk istrinya, dan yang selalu ditanyakan hanyalah apakah perusahaan kekurangan uang.
Keberadaan Bos Hao Ren sudah diketahui oleh para anggota baru tim lapangan, dan mereka semua terpana dengan sikap sang bos yang begitu santai dan tidak peduli dunia.
"Tapi, Kak Cheng..."
Yuan Shanshan terhenti. Tang Yicheng menoleh dan tersenyum lembut padanya. Sinar matahari dari jendela menyusup masuk, membuat sosok Tang Yicheng tampak hangat.
"Aku tahu apa yang kulakukan."