Bab 2: Laki-laki Brengsek Itu Datang Mencari
“Apakah benar tuduhan bahwa Tuan Han terlibat dalam kasus prostitusi?”
“Tuan Han, saya dengar Anda sudah punya pacar.”
“Tuan Han…”
Han Linjun berjalan mengikuti polisi, di belakangnya para wartawan terus-menerus meneriakkan pertanyaan. Tak sampai sepuluh menit, saham Grup Han langsung terpengaruh akibat kabar miring ini. Dalam sekejap, berita negatif tentang Han Linjun membanjiri berbagai media.
“Selesai!”
Shen Yichu melirik ponselnya sebentar, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas, mengambil taksi kembali ke kantor. Senyumnya tampak dingin.
Inilah hadiah pertama yang ia berikan untuk Han Linjun.
Kemarin adalah hari peringatan lima tahun hubungan mereka. Han Linjun hanya singkat menjelaskan bahwa ia harus menghadiri rapat di kota sebelah dan tidak bisa menemaninya.
Ucapan itu kini tumpang tindih dengan pemandangan yang baru saja ia saksikan di hotel.
Sejak bersama, kecuali tahun pertama, tak pernah sekalipun mereka merayakan hari jadi bersama.
Shen Yichu menatap ke luar jendela. Mengaku tidak sedih adalah bohong, mengingat semua perasaan selama bertahun-tahun. Namun, yang lebih ia rasakan justru kelegaan.
Ia mengeluarkan surat nikah dari dalam tas, memotretnya, menutupi informasi penting dengan stiker emoji, lalu mengunggahnya ke linimasa media sosial dengan pengaturan hanya bisa dilihat Han Linjun.
Teksnya: “Mulai sekarang, aku tidak lagi sendiri.”
Ini baru langkah pertama.
Ia memejamkan mata, berbaring di kursi mobil, wajah Jiang Yimu terlintas di benaknya, jemarinya saling menggenggam erat.
Begitu sampai di kantor, Song Chen langsung mendekat dengan nada khawatir.
“Kak Shen, kenapa hari ini datangnya telat?”
Biasanya Shen Yichu adalah pekerja keras di departemennya, selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir.
“Tadi izin,” jawab Shen Yichu sambil meletakkan tas di meja dengan sangat lancar. Song Chen tampak hendak bertanya lagi, tapi ia langsung memotong, “Laporan wawancara hari ini sudah selesai?”
Pertanyaan Song Chen pun urung terlontar, ia hanya menelan ludah dan menggeser kursinya untuk kembali mengetik laporan.
Baru mengetik sebentar, seolah teringat sesuatu, ia kembali mendekati Shen Yichu.
“Akhir-akhir ini direktur kita katanya tengah menggarap proyek besar, dengar-dengar akan kerja sama dengan Grup Huan Yu.”
Grup Huan Yu? Shen Yichu berhenti bekerja dan menoleh, memberi isyarat pada Song Chen untuk melanjutkan.
“Kau tahu Jiang Yimu? Diplomat bisnis Huan Yu, belum pernah kalah dalam negosiasi!”
Begitu mendengar nama Jiang Yimu, Shen Yichu refleks merapatkan kedua kakinya, merasakan bulu kuduknya meremang.
“Kak Shen, kenapa jadi tegang begitu…” Song Chen keheranan.
Aneh, seorang jurnalis andal seharusnya tidak mudah gugup dalam situasi apa pun, apalagi Shen Yichu adalah jurnalis andalan.
“Aku tidak gugup!” Shen Yichu buru-buru menepis, ingin mengalihkan pembicaraan, namun ucapan Song Chen selanjutnya membuatnya tak bisa tidak mendengarkan.
“Aku juga dengar gosip soal dia, katanya waktu SMA pernah pacaran sekali, tapi akhirnya nggak jelas kelanjutannya.”
Song Chen mengakhiri ceritanya dengan bangga, menatap Shen Yichu dengan mata bulatnya, menunggu pujian.
“Lagi jam kerja, malah gosip!” Shen Yichu menepuk dahinya.
Padahal tadi ia sendiri juga mendengarkan dengan semangat, sekarang malah berpura-pura tidak peduli.
Song Chen manyun, jelas tak senang, tapi akhirnya kembali ke mejanya.
Suasana baru hening sebentar.
Tiba-tiba terdengar keributan dari luar, semua orang di kantor menengok ke arah suara.
“Shen Yichu! Keluar kau!” Han Linjun yang kini mengenakan kaus santai, matanya penuh amarah, wajahnya sudah menegang.
Seluruh lantai tujuh dipenuhi suaranya. Begitu ia keluar, langsung melihat unggahan Shen Yichu di linimasa, lalu mulai meneleponnya berkali-kali.
Namun, ponsel Shen Yichu terus dalam keadaan mati.