Bab 73: Dia Tidak Menyalahkanmu

Merasa sudah terlambat Leci Berbuih 1293kata 2026-03-05 11:08:32

Melihat kedua orang itu berbincang dengan begitu akrab, Jiang Yimu pun menarik kembali kakinya yang sudah melangkah ke ruang tamu.

“Ajak juga Mumu bersama,” ujar Nyonya Jiang sambil menggenggam tangan Shen Yichu, berhenti sejenak sebelum tersenyum.

Jika dibandingkan dengan Xu Lingqing sebelumnya, ia jelas lebih menyukai wanita di depannya ini. Wanita itu terlalu mencolok dan ia tidak menyukainya, justru Shen Yichu yang bersikap dingin namun menggemaskan lebih mampu merebut hatinya.

Paruh pertama hari ini bisa dibilang berjalan sangat lancar, namun paruh kedua dipenuhi kegagalan demi kegagalan. Apakah ini hukuman dari langit karena beberapa tahun belakangan ia tidak pernah menulis surat pada Fang Can, sehingga harus diberi pelajaran?

Tak banyak yang menyadari ada telur palsu di antara mereka, sebab perhatian semua orang tertuju pada Qilin yang kembali dilepas oleh Lan Yuanhan.

Ayahnya adalah pewaris gelar bangsawan keluarga Rockefeller saat ini. Orang-orang di luar selalu berspekulasi bahwa Louis Rockefeller sangat memanjakannya lantaran berniat menjadikannya sebagai penerus keluarga.

Yun Chujio melirik sekilas pada kedua orang itu, ia tahu masalah ini pasti tidak sesederhana itu. Namun ia tidak bertanya lebih lanjut, menunggu hingga ujian berakhir untuk menanyakan semuanya.

Hanya dalam sekejap, ia mengerti maksudnya. Mu Nancheng memang perfeksionis soal kebersihan, ia tahu itu sejak lama, bahkan terbilang parah… Belum lama ini, Mo Yichen sempat memeluknya. Ia yakin Mu melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, maka ia berkata demikian.

Keesokan harinya, setelah menghadiri sidang pagi, Xiao Diyuan langsung pergi ke kediaman keluarga Liu untuk menyapa Nyonya Liu, sekaligus menengok adiknya yang baru berusia tiga bulan, Xiao Dining.

Jika mereka benar-benar menikah secara militer, memang tidak mudah untuk bercerai. Namun dalam perjodohan seperti sekarang, apa lagi yang tersisa? Mengingat A Mo, meski mereka belum pernah mengadakan pernikahan, namun beberapa tahun belakangan…

Melihat ekspresi Bei Tianyu, semakin dalam ia menyelidiki, pasti semakin banyak informasi yang akan ia temukan.

Para murid itu hanya menggerak-gerakkan mulut, ingin mengingatkan bahwa di sekte Hun Yuan dilarang menunggangi hewan spiritual. Namun begitu mengingat yang melanggar aturan adalah si pembuat onar, mereka pun pura-pura tidak melihatnya.

Ia membungkuk, menepuk-nepuk sepatu yang berlumpur, lalu memijat kakinya yang kaku dan agak mati rasa sebelum mengetuk pintu.

“Kepala Sekolah Qin, kali ini kami sangat berutang budi padamu. Kau adalah penyelamat keluarga kami. Terima kasih,” ujar ayah Hua Qianyang dengan penuh penyesalan. Malam ini ia menyaksikan sendiri bagaimana Qin Feng menyelamatkan nyawa, dan dalam hatinya begitu bersyukur kepada kepala sekolah muda itu.

Dari ketepatan jurus ini, Bu Er memang pantas disebut jenius. Bagi Ying Yi, Bu Er lebih cocok dijuluki ‘Anak Angin’, karena ia telah menguasai angin hingga ke tingkat sempurna, sulit menemukan orang lain yang lebih memahami angin darinya.

Seluruh kekuatan Hanlai seperti terkuras habis dari tubuhnya. Napasnya begitu lemah hingga nyaris tak bisa disebut hidup, hanya belum sepenuhnya mati.

Tulisan di papan tanda itu makin lama makin kacau, isinya semakin tidak terkontrol, dan setiap kalimat menguar kegilaan yang membinasakan.

“Tak seorang pun tahu namanya. Hanya saja, ia memiliki sebuah sandi: Menara Budha. Dapat dikatakan, di masa lalu ia adalah tokoh legendaris dalam dunia bela diri. Sebuah tonggak yang dikagumi banyak orang,” lanjut Jie Qian.

Mo Tong duduk di kursi penumpang, merasakan aura permusuhan yang sangat kuat keluar dari pria dingin di sebelahnya.

Tatapan Yu Xi tertuju pada Qin Mingyue yang tampak sangat serius. Ia tak bisa menahan diri untuk berpikir, ternyata benar neneknya saat muda sangat memikat dan memesona. Selain kakek, ada dua pria luar biasa yang mencintainya. Ia benar-benar penasaran seperti apa neneknya ketika muda, sampai-sampai Qin Mingyue mencintainya seumur hidup.

Qingyue dan Nan Changqing keluar dari pondok bambu, lalu mendapati Si Chen yang seharusnya sudah pergi, kini tergeletak di tanah, tak tahu masih hidup atau tidak.

Usai berkata demikian, Hu Ze yang marah langsung mengangkat telepon dan menghubungi orang itu. Hari ini ia harus memberi pelajaran. Di Kota Hangzhou ini, kalau aku tak punya kemampuan, mana berani aku menantangmu?

Mendengar itu, Tian Sheng tertegun. Lima tahun lalu ia memang belum pernah bertemu Kong Nu, jadi ia tidak tahu wataknya, apalagi mengetahui bahwa Kong Nu adalah salah satu dari Sepuluh Pendekar Hebat sejajar dengan kakak seperguruannya.