Bab 54: Keraguan di Dalam Hati
Bab 54: Pertanyaan di Dalam Hati
"Jiang Xiaotian!" He Ya berlari tergesa-gesa hingga terengah-engah, dua kelinci putih di dadanya pun ikut melompat-lompat.
"Kakak Ya? Bukankah kau pergi ke kampus?" tanya Jiang Xiaotian penasaran.
"Dasar bocah nakal, aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kau tetap saja tidak berhenti, aku sampai harus mengejarmu sejauh ini," ujar He Ya sambil terengah-engah di hadapannya. Terlihat jelas bahwa ia benar-benar sudah mengejar cukup lama.
"Ada apa, Kak Ya?"
"Tentu saja ada perlu, makanya aku mencarimu," jawab He Ya. "Bagaimana, bocah nakal, mau tidak kau bantu kakakmu ini?"
"Tentu saja mau! Kak Ya, bilang saja apa yang kau butuhkan, bahkan kalau kau suruh aku terjun ke api pun aku rela," jawab Jiang Xiaotian menepuk dadanya.
"Kalau begitu, hari ini jangan ke sekolah dulu, ikut kakak ke kampus, bantu aku menyelesaikan sesuatu," kata He Ya.
"Menyelesaikan sesuatu? Apa itu?" Jiang Xiaotian bertanya heran. Ia tidak mengerti ada urusan apa yang membuat He Ya harus membawanya ke kampus dan bahkan menyuruhnya membolos. Atau jangan-jangan ada yang mengganggu Kak Ya? Begitu memikirkan kemungkinan itu, Jiang Xiaotian pun langsung tegang.
"Kak Ya, ada apa? Apa ada yang mengganggumu?" Jiang Xiaotian mengepalkan tinjunya. "Ayo, tunjukkan padaku siapa orangnya, akan kubuat dia tak dikenali orang tuanya!"
He Ya tertawa geli. "Mana ada yang berani menggangguku, dengan punya adik sehebat ini siapa yang berani macam-macam?"
Mendengar itu, Jiang Xiaotian pun tertawa. "Jadi, apa yang perlu kubantu?"
He Ya menggeleng pelan, lalu berkata dengan nada misterius, "Jangan banyak tanya, nanti kalau sudah sampai, kau akan tahu sendiri. Tapi kau tidak masuk sekolah hari ini, apa tidak apa-apa? Apa wali kelas kalian tidak akan memanggil orang tuamu lagi?"
Jiang Xiaotian menepuk dadanya dengan bangga. "Tenang saja, Kak Ya. Sekarang aku murid kesayangan Bu Guru Xie. Asal nilai raporku tidak bermasalah, Bu Xie tidak akan memarahiku."
He Ya teringat kejadian tempo hari. Ia tahu sekarang Jiang Xiaotian memang sudah jadi idola para guru, jadi tidak perlu khawatir lagi soal panggilan orang tua. Karena itu, ia tidak berkata apa-apa lagi dan langsung menarik tangan Jiang Xiaotian menuju halte bus di seberang jalan.
Kampus tempat He Ya kuliah, Universitas Kota Xiashi, tidak terletak di Kabupaten Chi, melainkan di Kota Xiashi yang berjarak tiga puluh kilometer dari situ. Di seberang jalan memang ada bus yang menuju ke sana.
Mereka menunggu sekitar sepuluh menit, lalu naik ke sebuah bus. Barulah di dalam bus itu He Ya menjelaskan tujuan sebenarnya membawanya ke kampus.
Ternyata, He Ya adalah salah satu dari empat mahasiswi tercantik di Universitas Kota Xiashi, sehingga sering dikejar-kejar banyak mahasiswa. Itu sudah biasa. Namun, belakangan ini, di antara para pengagumnya tiba-tiba muncul seorang asing.
Orang itu bukan mahasiswa kampus, melainkan seorang siswa SMA. Tapi anak SMA itu sama sekali tidak seperti pelajar, malah lebih mirip preman. Setiap hari ia datang ke kampus, menunggu di depan kelas He Ya dan selalu mengganggunya. Para mahasiswa yang menyukai He Ya sudah mencoba mengusirnya, tapi bukannya berhasil, malah mereka yang ketakutan sampai pucat pasi tak bisa berkata-kata.
Rupanya anak itu membawa pisau!
Mahasiswa-mahasiswa yang biasanya sok jago di depan para gadis, di hadapan preman seperti itu jadi tak berdaya. Meskipun melihat gadis pujaan mereka diganggu, tak ada satupun yang berani maju.
He Ya jadi pusing dan akhirnya memutuskan mencari bantuan Jiang Xiaotian. Ia tahu kemampuan adiknya ini. Meski selama ini nilainya biasa-biasa saja, tetapi soal berkelahi, Jiang Xiaotian jagonya. Yang lebih penting lagi, demi He Ya, anak ini berani melakukan apa saja.
He Ya masih ingat jelas, waktu SMP ia pernah diganggu preman kecil di luar sekolah, dan Jiang Xiaotian yang saat itu masih SD, sendirian membawa batu bata dan berhasil mengusir empat-lima preman kecil itu.
Walaupun usianya tiga-empat tahun lebih muda, di hati He Ya, adik ini bagaikan pelindung. Selama Jiang Xiaotian ada di sisinya, ia tidak takut apa pun!
Benar saja, belum selesai He Ya bercerita, Jiang Xiaotian sudah mengepalkan tinju dan memukul sandaran kursi di depannya. "Sialan, bocah mana yang berani mengganggu Kak Ya? Kenapa kau tidak bilang dari kemarin? Biar kucari dia sekarang juga, akan kubuat dia kapok dan tak berani lagi mendekatimu!"
Karena emosi, suara Jiang Xiaotian terdengar sangat keras hingga seluruh penumpang bus menoleh ke arah mereka.
He Ya buru-buru menarik lengannya. "Bocah nakal, pelankan suara! Apa kau sengaja ingin semua orang tahu?"
Barulah Jiang Xiaotian sadar suaranya terlalu keras, ia pun buru-buru duduk kembali.
"Bocah nakal, aku ingatkan, nanti kalau sudah sampai, kau hanya boleh menakut-nakuti anak itu saja, cukup buat dia kapok dan tidak datang lagi. Jangan berkelahi, jangan buat masalah, mengerti?"
"Mana bisa begitu, Kak Ya? Kau tidak tahu, preman-preman seperti itu tidak cukup hanya ditakuti dengan kata-kata, harus dipukul. Kalau kali ini kuberi pelajaran, baru lain kali dia tidak berani datang lagi. Kalau tidak, dua-tiga hari lagi dia pasti kembali," kata Jiang Xiaotian dengan percaya diri. Sejak punya kemampuan rahasia dari sistem, ia memang tidak takut siapa pun. Menghadapi anak seperti itu, dia yakin bisa membuat preman itu trauma sampai mimpi buruk.
"Xiaotian!" He Ya mulai kesal, ia langsung mencubit telinga Jiang Xiaotian. "Dasar bocah nakal, tidak mau dengar ya? Kalau kau tidak mau dengar, sekarang juga turun dari bus, aku tidak butuh bantuanmu lagi!"
Suara He Ya cukup keras dan nadanya galak, penumpang bus kembali menoleh. Mereka tak menyangka gadis cantik dan kalem seperti ini ternyata galak juga.
Jiang Xiaotian buru-buru minta maaf. "Baik, baik, Kak Ya, aku nurut. Kita coba nasehati dulu, kalau tidak bisa baru pakai cara keras, begitu kan boleh?"
He Ya tertawa geli. "Bocah nakal, kau masih punya hati nurani? Menasehati orang? Aku rasa kau itu preman sejati! Pokoknya ingat, jangan sampai berkelahi, paham?"
"Paham, paham…"
...
"Oh ya, Xiaotian, tadi waktu ke rumahmu kenapa aku tidak lihat Paman Jiang dan Bibi Jiang? Mereka tidak di rumah?" tanya He Ya.
"Oh, semalam mereka memang tidak pulang. Katanya Kakek sakit, jadi mereka menunggui di rumah kakek," jawab Jiang Xiaotian santai.
"Oh? Begitu ya? Wah, mereka benar-benar repot, tapi bukankah masih ada bibimu dan pamanmu yang lain? Kenapa harus Paman Jiang juga ikut tinggal di sana? Apalagi kau sebentar lagi mau ujian akhir, biasanya mereka tidak mungkin membiarkanmu sendirian di rumah," He Ya berkata dengan nada ragu.
Jiang Xiaotian menggeleng. "Aku juga tidak tahu, mungkin penyakit kakek agak parah, nanti aku juga harus sempatkan waktu menjenguk beliau."
Setelah berkata begitu, mendadak muncul keraguan di hatinya. Sudah beberapa hari ini, meski ia pulang sangat larut, ayah dan ibunya selalu tidur lebih awal, kamar mereka sepi, dan tak pernah terlihat terganggu oleh kedatangannya.
Ini agak aneh. Dulu, setiap kali ia pulang malam, ayah ibunya pasti terbangun dan menanyainya. Sekarang mereka tidur pulas sekali.
Selain itu, beberapa hari ini ia hanya sempat bertemu ibu di pagi hari, dan sama sekali belum pernah bertemu ayah.