Bab 57: Keberanian He Ya yang Mempesona
Bab 57: Keberanian He Ya
Tindakan Gu Erbing benar-benar di luar dugaan Jiang Xiaotian. Awalnya, Jiang Xiaotian mengira Gu Erbing akan segera pergi dengan patuh setelah melihat dirinya. Kalaupun tidak rela, paling-paling dia akan menggunakan tinju untuk menyelesaikan masalah.
Namun tak disangka, orang ini malah tidak bertindak kasar, justru memilih menggunakan uang untuk menghina dirinya.
Amarah Jiang Xiaotian pun langsung memuncak. Ia langsung merebut kartu bank dari tangan Gu Erbing dan menghantamkannya ke wajahnya dengan keras. "Gu Erbing! Apa hebatnya punya uang?!"
Gu Erbing merasa perih di wajahnya akibat hempasan kartu itu, tapi ia tak menghindar, malah tersenyum sinis dan berkata, "Benar, punya uang memang hebat. Dengan uang, pacarmu bisa hidup enak, makan makanan lezat, duduk di mobil mewah menikmati keindahan kota, apa pun yang dia mau bisa langsung dibeli. Jiang Xiaotian, kau yang uang jajannya sehari tidak sampai dua puluh ribu, apa bisa melakukannya?"
Ucapan Gu Erbing itu langsung menusuk hati Jiang Xiaotian. Wajahnya langsung muram, tinjunya mengepal erat hingga terdengar berderak, ingin rasanya ia menghantamkan satu pukulan ke wajah sombong itu.
Tepat saat itu, He Ya angkat bicara. Ia melangkah ke depan Gu Erbing tanpa basa-basi, mengangkat tangan dan menampar wajahnya dengan keras.
Gu Erbing tertegun. Saat ia berbuat seperti itu, memang sudah membayangkan bakal dipukul, tapi tak disangka, bukan Jiang Xiaotian yang lebih dulu bertindak, melainkan gadis itu.
"Kau… kau berani menamparku?"
"Benar! Aku memang menamparmu! Aku ingin kau sadar diri!" seru He Ya dengan garang.
"Gu Erbing! Jangan kira kau hebat hanya karena punya sedikit uang, aku sama sekali tidak tertarik! Uang yang kau banggakan itu juga bukan hasil jerih payahmu, itu uang ayahmu! Tanpa ayahmu, kau bukan apa-apa!"
"Jangan kira semua perempuan suka mobil mewah, suka parfum mahal, suka menempel pada anak orang kaya seperti kalian! Dengar ya, aku justru jijik melihat kalian! Meski Xiaotian-ku ini tidak punya uang, aku lebih rela menemaninya mengemis di jalanan ketimbang harus bersama orang sepertimu!"
"Satu hal lagi, meski Xiaotian-ku sekarang belum punya uang, dia tidak akan miskin selamanya. Tak lama lagi, dia akan jadi orang terkaya di kota ini!"
"Sedangkan kau? Tunggu saja, dengan anak sepertimu, ayahmu pasti cepat atau lambat bangkrut. Saat itu, kau akan terlantar, ke mana pun pergi akan menjadi bahan hinaan, dan akhirnya harus merangkak di depan Xiaotian-ku memohon semangkuk nasi!"
Untaian kata-kata tegas He Ya membuat Gu Erbing tak mampu membalas, bahkan Jiang Xiaotian yang berdiri di sampingnya pun ikut tertegun.
Setelah berkata demikian, He Ya melotot ke arah Gu Erbing. "Masih belum pergi juga? Mau aku pukul lagi?"
"Kau…" Gu Erbing gemetar menahan marah.
"Pergi!" pada saat itu Jiang Xiaotian pun akhirnya sadar. Ia menarik Gu Erbing ke samping. "Gu Erbing, cepat pergi dari sini! Kalau kau berani mendekati Kakak Ya lagi, setiap kali aku melihatmu, setiap kali itu pula aku akan membuatmu terbaring di rumah sakit selama tiga bulan!"
Gu Erbing memang cukup gentar dengan tinju Jiang Xiaotian. Ancaman itu langsung membuatnya jadi lebih penurut. Ia pun terseret ke pinggir, hanya bisa menatap dua orang itu berjalan melewatinya lalu masuk ke gedung perkuliahan.
"Gu… Tuan Gu, bagaimana ini? Atau, aku telepon orang-orangku? Kita hajar saja bocah itu sampai babak belur..." Setelah melihat Jiang Xiaotian masuk ke gedung, anak buahnya yang sedari tadi meringis kesakitan sambil memegangi betisnya, akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Kau yang akan kuhajar sampai babak belur duluan!" Gu Erbing yang sedang marah besar langsung menendang anak buahnya itu tanpa ampun. "Dasar sialan, kerjaan cuma ikut makan minum gratis, giliran penting malah tidak berguna sama sekali..."
Para mahasiswa yang kebetulan lewat hanya bisa berhenti dan tertawa melihat adegan dua anjing saling menggigit itu. Unjuk kekesalan yang selama ini menumpuk di hati mereka akhirnya terbalas juga hari ini.
Namun, bersamaan dengan itu, hati mereka juga mulai diliputi rasa kecewa.
Karena mereka baru saja mendengar langsung dari mulut sang dewi, bahwa ia adalah pacar bocah itu!
"Sial, lagi-lagi bunga indah jatuh ke tangan babi!" gerutu salah seorang.
"Iya, tidak menyangka dewi kita ternyata suka anak kecil. Masak pacarnya bocah ingusan begitu, aku tidak terima!" ujar yang lain sambil menepuk dadanya dengan sedih.
"Aku juga tidak terima!"
"Aku juga!"
...
Segera, banyak suara serupa bermunculan. Melihat sang dewi direbut oleh seorang bocah, apalagi bocah bau kencur, membuat para mahasiswa yang selama ini merasa dirinya paling hebat jadi sangat tidak terima. Mereka pun mulai memikirkan cara untuk merebut kembali harga diri mereka, minimal mempermalukan bocah itu di depan sang dewi.
Setelah berjalan mendekati gedung perkuliahan, He Ya tidak langsung masuk ke kelas, melainkan mengajak Jiang Xiaotian keluar lewat pintu lain menuju lapangan utama kampus.
"Ayo, bocah nakal, bukankah kau ingin masuk universitas ini? Hari ini, kakak akan mengantarmu berkeliling di kampus indah ini," ujar He Ya dengan bangga, diwajahnya tampak sinar kebahagiaan.
Entah lupa atau tidak, meski sudah jauh dari jangkauan pandangan Gu Erbing, He Ya tetap menggandeng lengan Jiang Xiaotian, kepalanya bersandar manja di bahunya. Mereka tampak seperti pasangan yang sudah bersama sejak kecil, sangat akrab dan mesra.
Jiang Xiaotian pun tentu saja tidak berniat melepaskan diri. Sebaliknya, ia sangat menikmati saat sang Kakak Ya bersandar di pundaknya, aroma lembut rambut dan tubuhnya membuat ia tenggelam dalam kebahagiaan. Apalagi ucapan tegas Kakak Ya tadi di hadapan Gu Erbing, membuat hatinya dipenuhi rasa bangga dan bahagia.
Meski tahu semua itu hanya untuk membalas Gu Erbing, Jiang Xiaotian tetap merasa bangga.
Di saat yang sama, ia pun diam-diam bertekad. Ia harus berusaha keras, bukan hanya untuk masuk universitas, tapi juga untuk menghasilkan banyak uang. Sangat banyak.
Setidaknya, ia harus punya uang lebih banyak dari ayah Gu Erbing, bukan demi yang lain, hanya agar suatu hari ia bisa menumpuk lembaran uang tebal dan menghantamkannya ke wajah Gu Erbing, bahkan ayahnya pun hanya bisa berdiri di samping tanpa berani melawan.
Ia bersumpah, suatu hari nanti, orang-orang yang selama ini suka menindas dengan uang warisan orang tua akan berlutut di hadapannya, menjilat sepatunya.
Ia ingin punya perusahaannya sendiri, mobil mewah sendiri, membuat Kakak Ya duduk di mobil mewah miliknya, dan membuat semua orang yang dulu meremehkannya menyesal.
Ia ingin mendapatkan banyak uang, membangun rumah paling tinggi, besar, indah dan mewah, agar kedua orang tuanya tidak perlu lagi bekerja keras dan mereka bisa menikmati hari tua di rumah yang luas dan terang.
Ia juga ingin mengobati Xiao Tao, membantu Kakak Ya melunasi hutang keluarganya, memastikan mereka tetap punya rumah, dan tetap berada di sisinya!