Bab 63: Menara Para Pelajar
Bab 63 Menara Pelajar
Setelah diinterogasi cukup lama, pada akhirnya He Ya tetap tidak mendapatkan apa pun. Jiang Xiaotian hanya berkata satu kalimat, “Kakak Ya, aku benar-benar juga tidak tahu kenapa, mungkin karena tidak mau mempermalukanmu, jadi tiba-tiba saja jadi sehebat itu.”
Tentu saja He Ya tidak percaya, tapi ia juga tahu, jika anak ini tidak mau bicara, pasti ada alasannya sendiri. Lagi pula, selama anak ini baik-baik saja, buat apa ia harus menggali terlalu dalam? Siapa sih yang tidak punya rahasia kecil sendiri?
“Sudahlah, anak nakal, aku tak tanya lagi, oke?” akhirnya He Ya memilih menyerah. “Hari ini kamu sudah berjasa besar, membantu mengusir dua lalat pengganggu.”
“Lalatnya memang sudah pergi, tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi mungkin setelah ini tak ada lagi yang berani mendekatimu. Kakak Ya, sekarang semua orang sudah tahu kamu punya pacar, siapa yang berani mengejarmu lagi?” Jiang Xiaotian mencoba bercanda dengan He Ya.
“Itu kan justru keberuntungan buatmu!” He Ya meliriknya sambil tersenyum.
Jiang Xiaotian hanya terkekeh, tidak menganggapnya serius. Mereka sudah bertahun-tahun saling bercanda dan bersama, sudah tak terhitung lelucon yang mereka lontarkan.
Namun, mengingat kejadian tadi, saat ia meringkuk di pelukan He Ya dan mencium pipinya beberapa kali, jantung Jiang Xiaotian berdebar tak karuan.
Ia tak tahan untuk melirik He Ya, tepat saat itu He Ya juga sedang memandangnya. Tatapan mereka bertemu, wajah keduanya seketika merah dan He Ya langsung menundukkan kepala.
“Apakah Kakak Ya akan marah padaku? Di depan banyak orang aku menciumnya, bahkan meringkuk di pelukannya…”
Saat Jiang Xiaotian sedang larut dalam pikirannya, He Ya membuka suara, “Xiaotian, aku ingin keluar kerja paruh waktu.”
Perkataan itu membuat Jiang Xiaotian tersentak kaget, ia segera mengangkat kepala, “Kenapa? Kakak Ya, bukankah kamu belum lulus? Tinggal setahun lagi kan, jangan sampai cuti kuliah!”
Ia langsung teringat pada kesulitan ekonomi keluarga Kakak Ya. Jangan-jangan ia ingin membantu keluarga hingga rela meninggalkan kuliahnya yang tinggal setahun selesai?
He Ya tersenyum, “Dasar anak bodoh, aku sekarang sudah tingkat tiga, semester depan sudah hampir tak ada mata kuliah lagi, malah harus mulai cari tempat magang sendiri. Jadi lebih baik aku bersiap-siap sejak sekarang. Lagipula…”
Kata-kata selanjutnya sempat ia tahan, tak ia lanjutkan.
Namun Jiang Xiaotian sudah tahu maksudnya, pasti karena keluarga membutuhkan uang, jadi ia ingin cepat-cepat kerja untuk meringankan beban.
“Kakak Ya, apa benar karena keluarga butuh uang, makanya kamu…”
“Bukan!” Kakak Ya langsung memotong perkataannya, “Aku cuma ingin melatih diri, biar cepat beradaptasi dengan dunia kerja, tak ada hubungannya dengan keluarga.”
Jiang Xiaotian tidak berkata apa-apa lagi, ia tahu Kakak Ya orang yang kuat, sama seperti Paman He. Dalam keluarga mereka, harga diri itu sudah mendarah daging.
“Kakak Ya, kamu harus jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa, panggil aku saja.”
“Dasar anak bodoh, kakak cuma mau kerja, bukan melakukan sesuatu yang berbahaya. Apa pula yang perlu dikhawatirkan?” Nada He Ya tampak menggoda, tapi hatinya hangat. Memiliki adik yang peduli seperti ini, sungguh menyenangkan.
“Ngomong-ngomong, Kakak Ya, sudah tahu mau kerja di mana? Sudah dapat pekerjaan?”
“Sudah, teman sekelasku mengenalkan, jadi sekretaris di sebuah perusahaan, gajinya lumayan.”
“Baguslah.”
Keduanya berjalan beriringan di kampus, bahu bersisian, tangan saling menggenggam.
“Itu, di sana ada danau buatan, tempat terindah di kampus kita. Khususnya malam hari, mahasiswa dan mahasiswi pasti ramai ke sana menikmati udara malam.”
“Itu, adalah Menara Pelajar. Setiap mahasiswa yang pernah kuliah di Universitas Xia pasti akan meninggalkan nama dan cap tangan di menara itu,” jelas He Ya sambil menunjuk pada menara putih tinggi di depan.
“Benarkah, semua orang begitu?” tanya Jiang Xiaotian penuh rasa ingin tahu.
“Tentu saja, setiap mahasiswa baru akan menempelkan cap tangan di sana saat masuk, lalu saat lulus nanti menuliskan nama di sampingnya.”
“Aku mau lihat!” Jiang Xiaotian belum pernah dengar ada sekolah yang punya tradisi seperti itu, hatinya langsung dipenuhi rasa penasaran.
Mereka pun berjalan mendekati menara putih. Menara itu terbuka, bagian dalamnya bersih tanpa noda.
“Inilah tempat paling sakral di kampus, jadi setiap hari ada petugas khusus bergiliran membersihkan, supaya selalu suci,” kata He Ya menerangkan.
Jiang Xiaotian mengangguk, dalam hatinya juga timbul rasa khidmat.
“Itu, ini tanda tangan Doktor Niu Zhenhua. Kamu tahu siapa dia?” He Ya menunjuk pada cap tangan dan tanda tangan di lantai pertama.
“Doktor Niu? Bukankah dia ilmuwan biologi terkenal seantero negeri? Apa dia juga alumni Universitas Xia?” Jiang Xiaotian benar-benar terkejut, tak menyangka universitas ini punya lulusan sehebat itu. Niu Zhenhua adalah ahli biologi nomor satu di tanah air, bahkan namanya dikenal dunia!
Ternyata dia juga pernah menimba ilmu di sini!
He Ya mengangguk, “Benar, dulu Doktor Niu juga kuliah di Universitas Xia, lalu lanjut sekolah ke luar negeri, menekuni biologi puluhan tahun, baru mencapai kedudukan seperti sekarang. Ia adalah kebanggaan dan teladan kita semua.”
Jiang Xiaotian merasa sangat terinspirasi, dengan semangat ia berkata, “Kakak Ya, aku juga harus lulus di Universitas Xia, harus kuliah di sini!”
He Ya tersenyum lembut, “Jangan cuma omong doang, kamu harus benar-benar belajar giat, tahu kan? Soalnya masuk Universitas Xia itu susah banget.”
Jiang Xiaotian mengangguk serius, “Tenang saja, tahun ini aku pasti lulus ujian masuk. Nanti kamu jadi kakak kelasku.”
He Ya tertawa pelan, mengusap rambutnya, “Dasar bocah, manggil kakak nggak ada puasnya ya? Di rumah sudah sering panggil kakak, di kampus juga masih mau manggil kakak?”
Jiang Xiaotian tertegun, “Terus aku harus panggil apa?”
He Ya tidak menjawab, hanya meliriknya sejenak, “Pikir sendiri.” Lalu ia lanjut berjalan ke atas.
Mereka pun naik ke lantai dua, tiga, dan di setiap lantai Jiang Xiaotian menemukan nama-nama yang sudah akrab di telinganya. Ada pengusaha sukses, ada pejabat pemerintah. Ia bahkan melihat nama wali kelasnya, Bu Xie, tertulis di sana.
Hal ini membuat Jiang Xiaotian semakin kagum pada Universitas Xia. Ia bersumpah dalam hati, tahun ini harus bisa diterima di kampus ini, dan menuliskan namanya di menara putih yang suci itu.
“Sekarang, giliran kamu menebak!”
Begitu sampai di lantai empat, He Ya berhenti, tersenyum penuh rahasia pada Jiang Xiaotian. “Coba tebak, yang mana cap tangan kakak?”
Cap tangan He Ya? Jiang Xiaotian terdiam, buru-buru meneliti dinding menara. Di dinding lantai ini hanya ada deretan cap tangan yang membentuk cekungan, tapi belum ada tanda tangan di sampingnya. Itu karena para mahasiswa di lantai ini memang belum lulus.
Jadi, yang mana sebenarnya cap tangan He Ya? Rasa ingin tahu Jiang Xiaotian langsung menggelora.