Bab 154 Mawar Kembali
"Tentu saja!" Jawab Hexi dengan tegas. Ia juga melihat Shen Jian yang bertarung seorang diri di sana. Sebagai panglima tertinggi para malaikat, bagaimana mungkin ia bisa menoleransi hal semacam ini.
Para malaikat memiliki kebanggaan yang tinggi. Mereka dianugerahi penampilan terindah dan kekuatan terkuat di alam semesta, jadi kapan mereka membutuhkan prajurit super lain untuk bertarung demi mereka?
"Kalau begitu, mari lanjutkan pertempuran!" Yan menggenggam kedua tangan Hexi dan berkata.
"Hmm!"
Hexi mundur ke samping. Yan bangkit dari singgasananya, lalu berteriak dengan suara sekencang-kencangnya: "Prajurit malaikat yang membanggakan, lihatlah itu! Prajurit super yang disebut Kembar Semesta sedang bertarung demi kalian. Dia kini seorang diri menerobos kepungan musuh. Apakah kalian masih ingin duduk di sini dan menangis?"
Para malaikat sempat terkejut dengan suara Yan yang tiba-tiba itu. Namun, begitu mereka sadar, mereka langsung menatap ke arah Shen Jian di luar. Layar proyeksi besar di Tianren juga menampilkan cuplikan Shen Jian yang berjuang membunuh musuh dengan gagah berani.
"Semua, lihatlah itu! Dia adalah seorang prajurit super yang berasal dari Bumi. Demi kita, tanpa memedulikan hidup atau mati, dia bertarung melawan seluruh Istana Surgawi!" Semakin banyak makhluk sub-laut dan malaikat pria yang mulai mengepung Shen Jian. Pertempuran Shen Jian jelas telah menarik perhatian Istana Surgawi.
Di antara para malaikat musuh itu, bahkan ada sesepuh dewa bernama Xila!
"Yang Ratu, para malaikat pelindung, secara bulat memohon untuk maju ke medan pertempuran!" Zhui berlutut dengan satu kaki dan berkata kepada Yan.
"Tianren Keempat memohon untuk bergabung ke medan perang Istana Surgawi!"
"Tianren Pertama memohon untuk bergabung ke medan perang Istana Surgawi!"
"Armada Peradaban Yiren bersumpah untuk hidup dan mati bersama Nebula Malaikat. Mohon Yang Mulia mengizinkan kami bergabung ke medan pertempuran utama!" Pemimpin Peradaban Yiren berkata kepada para malaikat.
Yan merasa sangat senang. Menghadapi situasi saat ini, Shen Jian telah membangkitkan semangat mereka untuk terus bertempur. Kalau begitu, mari kita berperang!
Semua kapal perang Tianren mulai berkumpul dengan tujuan akhir: Istana Surgawi!
Kecepatan Tianren sangat cepat, sementara langkah Shen Jian tertahan oleh begitu banyak musuh, sehingga kecepatan majunya tidaklah cepat.
Dengan sekali tebasan pedang, ia membunuh seorang malaikat pria. Di bawah sana, sesosok makhluk sub-laut kembali melancarkan serangan kepadanya. Shen Jian paling benci hal semacam ini; bentuknya aneh dan menjijikkan, serta cara menyerangnya pun sangat tidak tahu malu.
Setelah sambaran petir besar membersihkan musuh di suatu arah secara tuntas, Shen Jian mulai mengerahkan hutan petir raksasa yang liar. Musuh-musuh yang terus-menerus berdatangan tanpa henti ini sungguh merepotkan. Jika terus dengan kecepatan seperti ini, bahkan sebelum Istana Surgawi masuk ke lubang cacing, ia tidak akan sempat menyentuhnya.
Tepat saat ia sedang memikirkan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba sebuah perasaan krisis mendera dirinya. Secara insting ia melesat terbang ke atas, dan dalam sekejap ia sudah berada ribuan meter jauhnya. Ketika ia menoleh ke tempat asalnya tadi, Xila sedang berdiri memegang pedang panjang, menatapnya dengan penuh kewaspadaan.
Namun, Shen Jian tidak menyadari bahwa di balik punggungnya, sesosok bayangan aneh tengah memadat.
Kekuatan Xila bukan tandingan sembarangan. Jika ia harus bertarung langsung dengannya, itu akan sangat merepotkan, dan cara terbaik adalah menghindari bentrokan fisik secara langsung dengannya.
Namun, tepat saat Shen Jian bersiap untuk terbang pergi, sebilah bilah tak kasat mata menembus tubuhnya!
"Tunggu, ini bukan senjata..." Shen Jian menatap kosong pada luka di tubuhnya yang tiba-tiba muncul begitu saja, padahal ia sama sekali tidak merasakan adanya bahaya.
Sekelilingnya kosong melompong tanpa seorang pun, tetapi ia benar-benar terluka.
"Siapa itu?" Shen Jian merasa sedikit bingung. Lukanya terasa sangat aneh; setelah tertembus, kecepatan penyembuhannya memang sangat cepat, tetapi energi di dalam tubuhnya juga terkuras dengan kecepatan tinggi.
Tak lama kemudian, luka kedua muncul begitu saja secara misterius di arteri lehernya. Darah segar seketika merwarnai baju zirah perangnya. Lalu, luka ketiga muncul lagi, disusul luka keempat dan kelima yang dengan cepat menghiasi tubuhnya.
Sensasi ini mau tidak mau mengingatkannya pada Jialiya dari Frezel. Namun, orang yang menciptakan luka-luka padanya ini jelas jauh lebih lihai daripada Jialiya.
Xila berdiri di sana sambil mengawasi, dengan senyum licik tersungging di bibirnya. Kedua tangannya melambai, dan musuh-musuh yang berkumpul di sekitarnya langsung menerjang ke arah Shen Jian, sementara luka-luka aneh itu terus bermunculan di tubuh Shen Jian dari waktu ke waktu!
"Gawat, pihak musuh memiliki prajurit super aneh. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana dia bisa melukaiku..." Shen Jian sambil memegangi lukanya dan bertempur menghadapi musuh secara berputar-putar, matanya tetap waspada mengawasi sekeliling. Namun, sama sekali tidak terlihat adanya prajurit super yang kuat di sekitar sini, bukan?
Tubuh Shen Jian kini telah dipenuhi oleh luka-luka. Meskipun ada banyak energi di dalam tubuhnya, kehilangan darah dalam jumlah besar adalah sesuatu yang tidak sanggup ia tanggung. Kecepatan tubuhnya memproduksi darah jauh lebih lambat daripada kecepatan darahnya mengalir keluar.
Shen Jian merasakan tubuhnya semakin terasa berat.
Setiap kali ia mengayonkan pedangnya, ia harus mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Dan gelombang pedang yang ia tebaskan pun kekuatannya semakin melemah, hingga akhirnya lenyap sama sekali.
Karena sebagian besar energinya digunakan oleh tubuhnya untuk memproduksi darah, sambaran petir sama sekali tidak dapat dihimpun. Luka-luka aneh ini hampir saja meremukkan pertahanan Shen Jian.
Tepat pada saat itu, Xila bergerak! Ia dapat melihat bahwa Shen Jian kini sudah berada di ujung tanduk.
Ia berkelebat dalam sekejap ke hadapan Shen Jian dan melayangkan sebuah pukulan. Shen Jian secara insting ingin menangkisnya dengan lengannya, tetapi ia bahkan belum sempat mengangkat lengannya sebelum tubuhnya terpelanting jauh.
"Heh, orang ini adalah milikku!" kata Xila kepada anak buah di sisi kiri dan kanannya. Ketangguhan tubuh Shen Jian benar-benar menarik minatnya, dan terbesit dalam benaknya untuk membawa Shen Jian hidup-hidup kembali.
Sebuah bayangan hitam perlahan memadat di sisinya dan berkata, "Silakan pergi, Nyonya. Bayangan ini akan mengawasi keadaan di sekitar."
"Bagus, heh, sepertinya sekumpulan gadis malaikat itu datang menyerang lagi. Awasi mereka!" Setelah mengatakan hal itu kepada sang bayangan, Xila langsung meluncur mengejar Shen Jian.
Melihat Xila yang semakin mendekat, Shen Jian segera berusaha terbang ke depan, tetapi malang sekali kecepatannya sama sekali tidak sebanding dengan wanita itu. Jarak di antara keduanya semakin lama semakin dekat. Ketika mereka sudah berada dalam jarak yang sangat dekat, Xila mengulurkan tangan dan menarik Shen Jian ke hadapannya.
"Sialan, lepaskan aku!" rontah Shen Jian. Ada beberapa luka di tubuhnya yang masih mengeluarkan darah. Xila mencengkeram Shen Jian erat-erat, lalu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Shen Jian, menjulurkan lidahnya untuk menjilat darah segar di bagian leher pemuda itu.
"Rasanya sangat enak, Adik Manis!" ucap Xila sambil tersenyum. Namun, dengan senyuman yang dipenuhi darah segar di mulutnya itu, Shen Jian tertegun sejenak. Apakah wanita ini benar-benar memakan manusia?
Tepat saat Xila bersiap untuk melakukan tindakan selanjutnya, bayangan di tidak jauh darinya tiba-tiba mengubah pandangannya. Sebuah lubang cacing mendadak muncul di samping Xila, dan sebilah Pedang Raja melesat keluar dari lubang cacing tersebut, menembus tubuhnya.
Tak lama kemudian, sebuah pukulan telak menghantam bagian belakang leher Xila dengan keras, membuat wanita itu langsung jatuh pingsan seketika.
"Berani menyentuhnya, cari mati!" Suara Yan bergema. Xila melepaskan cengkeramannya pada Shen Jian, dan seketika itu juga, Yan yang memegang Pedang Raja kembali menusuk tubuh Xila sekali lagi.
"Guru, kenapa Anda datang?" Shen Jian menatap Yan dan berkata dengan gembira. Ia tadinya mengira riwayatnya akan tamat di sini, tidak menyangka Malaikat Yan akan muncul secara tiba-tiba di tengah jalan.
Tanpa diduga, Yan tiba-tiba berbalik badan dan mendaratkan sebuah tamparan keras di wajah Shen Jian: "Kau benar-benar cari mati, ya!"
"Aku..." Shen Jian merasa pusing akibat tamparan itu dan tidak tahu harus berkata apa.
"Plak!" Satu tamparan lagi mendarat di sisi wajah Shen Jian yang lain. Yan tiba-tiba memeluk erat tubuh Shen Jian, sementara air matanya tak terbendung lagi mengalir turun.
Shen Jian mendengar bisikan lembut Yan: "Jika lain kali kau berani bertindak gegabah lagi, aku akan patahkan kaki anjingmu..."
"Hmm..." Shen Jian balas memeluknya dan menjawab dengan suara pelan.