Bab 30: Peringatan, peringatan, ada orang tak dikenal mendekat!
Halaman (1/3)
Wilson tidak berada di taman sepanjang siang. Ia agak sulit duduk diam, jadi ia membawa Si Bola Hitam berjalan-jalan ke luar.
Menjelang petang, ia baru pulang dan mendengar Ada menggerutu dengan marah. Barulah ia mengetahui apa yang telah terjadi.
“Benar-benar membuatku kesal! Kalau siang tadi aku tidak sedang membawa adik-adik membantu kepala taman membuka lahan, sudah pasti kedua orang itu kuhajar!”
Ada mengangkat lengannya yang kurus. Wajah mungilnya yang gagah tampak garang luar biasa.
Rex hanya bisa tertawa getir.
Menghajar?
Dua Ada jika digabung pun belum tentu sebesar Louis. Dengan apa dia mau menghajar mereka?
“Aduh, entah berapa banyak masalah yang akan ditimbulkan bagi kepala taman,” kata Rex cemas.
Wilson pulang tepat pada saat itu. Ia bukan orang yang terlalu suka ikut campur, tetapi begitu mendengar hal itu berkaitan dengan Shen Wanning, ia tetap datang untuk menanyakan sedikit.
Setelah mendengar penjelasannya, emosinya tidak banyak berubah. Ia sudah sering melihat kejadian semacam ini.
Dulu ia bahkan pernah menangani beberapa perkara serupa. Namun sekarang ia sudah mengundurkan diri. Usianya telah lanjut dan dirinya semakin malas bergerak. Selama tidak memengaruhi kekaisaran, ia pada dasarnya tidak mau ikut campur.
Meskipun ia tidak tahu siapa William, keluarga Ivan masih cukup dikenalnya.
Jika dikaitkan dengan keadaan Shen Wanning saat ini, masalah itu memang bukan sesuatu yang dapat diselesaikan oleh gadis kecil tanpa kuasa maupun dukungan seperti dirinya.
Baiklah. Bagaimanapun, sekarang ia tinggal sementara di taman milik gadis kecil itu. Jika ada sesuatu yang bisa dibantunya, tidak ada salahnya ia mengulurkan tangan.
“Tidak ada masalah apa-apa,” jawab Shen Wanning. Ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk mencari orang lain berdiskusi, apalagi meminta bantuan.
Dalam pandangannya, semua ini masih dapat ia selesaikan sendiri.
Wilson jelas tidak menyangka Shen Wanning akan menjawab seperti itu. Ia sempat tertegun.
Namun sesaat kemudian, ia tersenyum.
Mungkin semua gadis kecil memang agak suka memaksakan diri. Karena ia sudah berniat membantu, tidak perlu banyak bertanya. Ia bisa langsung bertindak.
Setelah mandi, Shen Wanning berbaring di ranjang kecil. Meng Ting meneguk susu dengan lahap. Setelah menghabiskannya, ia melempar gelas ke samping lalu menghampiri Shen Wanning.
“Shen Wanning, aku mau menonton kartun.”
Meng Ting tidak memiliki komputer otak, jadi satu-satunya cara baginya untuk menonton kartun adalah meminta Shen Wanning menayangkannya lewat proyeksi umum.
“Cuci dulu gelasmu.”
Meng Ting mengerucutkan bibir, tetapi tetap mencuci gelas itu dengan patuh.
“Sudah selesai. Sekarang boleh menonton?”
Shen Wanning mengangguk puas, lalu membuka jendela kartun dan menayangkannya ke layar.
Meng Ting pun menjadi tenang. Ia duduk di ranjang lipatnya sendiri sambil menonton kartun.
Sementara itu, Shen Wanning sedang mengutak-atik sebuah unggahan baru.
Kepala Taman Binatang Nomor Satu Antargalaksi, Shen Wanning: Tebak gambar sebelumnya ternyata tidak ada yang menjawab dengan benar. Sepertinya hadiahnya hanya bisa kunikmati sendiri.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Terima kasih atas perhatian kalian kepada Taman Binatang Nomor Satu Antargalaksi. Hari ini kita lanjutkan permainan tebak gambar. Yang berhasil menebak tetap akan mendapat hadiah, ya~
[Gambar] [Gambar] [Gambar]
—Aduh, setiap kali selalu dibuat seaneh ini. Siapa yang bisa menebaknya?
—Kalau memang tidak ingin orang lain menebak, bilang saja terus terang. Buat apa repot-repot begini?
—Tunggu, binatang apa yang punya pita sebesar itu?
—Di mana Baize? Aku hanya mau gambar Baize beresolusi tinggi!
—Aku bayar lima puluh. Kirimkan satu gambar Baize secara pribadi.
—Aku bayar lima ratus. Biarkan aku menyentuh Baize sekali.
—Aku bayar lima ribu. Baize kusewa semalam!
—Yang di atas, pergi sana! Masih juga bicara soal semalaman. Menjijikkan sekali.
Shen Wanning tertawa terbahak-bahak saat membaca komentar-komentar itu.
Ya, dia memang suka membuat hal-hal absurd. Memangnya mereka mau membunuhnya?
Kali ini, ia menggabungkan Ada dan Rex ke dalam tiga gambar tersebut.
Pada gambar pertama, ia menambahkan siluet marten sable dengan ular berpita, sehingga bentuknya tampak seperti kupu-kupu raksasa.
Pada gambar kedua, ia menggandakan beberapa siluet marten sable dan menyusunnya menjadi sebatang tongkat. Setelah itu, ia menggandakan ular berbentuk hati dan menaruhnya di atas tongkat tersebut—dan tadaa, manisan hawthorn tusuk berbentuk hati pun selesai dibuat.
Pada gambar ketiga, Ada dan adik-adiknya disusun bertingkat membentuk piramida. Kali ini ular itu diubah menjadi sebatang tongkat. Jadilah pohon Natal yang sederhana dan mudah dipahami.
Rasanya sungguh menyenangkan mengerjai para warganet. Lain kali ia akan melakukannya lagi.
Setelah selesai tertawa, Shen Wanning pergi membalas pesan-pesan pribadi di balik layar. Setelah itu, ia mulai mengutak-atik tiket pembelian awal.
Di sebuah situs jual beli daring, ia menemukan seorang mahasiswa jurusan seni rupa dan membeli gambar dasar bertema Baize dengan harga yang sangat murah.
Untuk menambahkan tulisan dan sebagainya, Shen Wanning berencana mengerjakannya sendiri. Selama gambar dasarnya cukup bagus, tampilan tiketnya tentu tidak akan terlalu buruk.
Setelah semua urusan itu selesai, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas.
Entah sejak kapan Meng Ting tertidur. Satu kakinya bertumpu di atas meja, sementara kaki lainnya menginjak ranjang lipat. Ia tidur dengan sangat pulas.
Shen Wanning memungut selimut yang ditendangnya hingga jatuh ke lantai, lalu menyelimutinya sampai ke perut.
Setelah mematikan layar proyeksi, ia pun hendak tidur.
Baru saja memejamkan mata, suara alarm sistem terdengar.
[Peringatan, peringatan. Ada orang tak dikenal yang mendekat!]
Shen Wanning membuka mata dengan penuh kejengkelan. “Buka pemantauan.”
Kamera pengawas bawaan taman binatang memang rusak, tetapi sistem memilikinya. Cakupannya tiga ratus enam puluh derajat tanpa titik buta sedikit pun. Satu-satunya kekurangannya adalah hanya Shen Wanning yang dapat melihatnya.
Layar pemantauan terbuka. Terlihat tujuh atau delapan orang turun dari sebuah kendaraan. Ada yang membawa ember, ada pula yang membawa kapak. Sekilas saja sudah tampak bahwa mereka bukan orang baik-baik.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Shen Wanning mengernyit. “Sebanyak ini?”
Kalau sendirian, ia juga tidak akan sanggup menghadapi mereka. Semua manusia binatang di taman itu adalah kaum tua, lemah, sakit-sakitan, atau masih kecil. Tidak ada satu pun yang benar-benar memiliki kemampuan bertarung.
[Karena itu, tuan rumah tetap harus menyelesaikan tugas secara aktif dan meningkatkan tingkat taman binatang.]
[Seiring meningkatnya tingkat taman binatang, tingkat pertahanannya juga akan meningkat. Waktu perlindungan dan kekuatannya pun akan bertambah.]
Shen Wanning mencibir. “Kalian benar-benar menggali lubang demi lubang, lalu menunggu sampai aku melompat ke dalamnya.”
Ternyata perisai pelindung transparan yang menghalangi Louis dan George pada siang hari tidak bekerja tanpa henti. Pada tahap sekarang, perisai itu hanya dapat digunakan selama dua jam.
Di luar waktu tersebut, perisai itu tidak dapat diaktifkan.
Di layar pemantauan, orang-orang itu tampaknya menyadari bahwa mereka bisa memanjat tembok. Mereka pun saling membantu membentuk tangga manusia dan memanjat masuk.
Sekelompok orang itu merayap dalam kegelapan seperti tikus, lalu segera tiba di lokasi pembangunan paviliun baru.
Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menyiramkan isi ember mereka, sementara kelompok lainnya membongkar bangunan utama paviliun yang baru saja didirikan.
Suara keributan itu tidak terlalu keras, tetapi juga tidak bisa dibilang kecil. Semua binatang dan manusia binatang di kandang terbangun.
Ye Ji bergerak paling cepat. Bahkan ia merasa gerakan dalam wujud manusia terlalu lamban, sehingga ia berubah ke wujud binatang dan melesat pergi sambil meraung.
Tiga anak kecil menyusul di belakangnya, menggonggong dengan keras.
Entah apa yang terpikir oleh Rex, wajahnya seketika menjadi pucat pasi.
Ada menyuruh adik-adiknya tetap berada di dalam kandang. Setelah memberi tahu Rex, ia pun pergi ke lokasi pembangunan.
Yang terakhir tiba adalah Wilson. Lelaki tua itu menggoyangkan kepalanya yang masih agak pening, lalu memaki dengan suara geram, “Dasar pembuat masalah! Tengah malam begini masih mengganggu tidurku. Lihat saja, akan kupelintir kepala mereka dan kusumbatkan ke pantat mereka!”
Belum selesai kata-katanya, Wilson sudah lebih sadar. Ia menyadari bahwa dirinya baru saja mengumpat, dan suasana hatinya pun semakin buruk.
Ia sudah bersumpah untuk tetap tenang dan bersikap sopan. Selama sebulan penuh ia berhasil menahannya, tetapi di tengah malam begini ia malah melanggar sumpahnya.
“Grrr!”
Ye Ji merendahkan tubuh bagian depannya ke tanah, memperlihatkan taring putih yang tajam, lalu memperingatkan orang-orang yang sedang merusak bangunan utama paviliun.
Orang-orang itu sama sekali tidak takut. Sebuah kapak melayang ke arahnya.
“Minggir! Kalau masih menggonggong, akan kubantai kau!”
Orang di belakangnya menghentikan tindakan itu. “Sudah, jangan cari gara-gara. Haozi dan yang lainnya hampir selesai. Kita pergi.”
Mereka tidak perlu menghancurkan seluruh bangunan utama paviliun. Kerusakan yang ada sekarang sudah cukup.
Setelah menerima perintah, orang-orang itu menghentikan pekerjaan dan mundur menuju luar taman.
Pria bernama Haozi melihat bahwa rekan-rekannya hampir semuanya sudah keluar. Dengan bunyi klik, ia menyalakan pemantik api, lalu melemparkannya sekuat tenaga.