Bab Enam Belas: Si Mesum
Halaman (1/3)
Sebuah ruangan tanpa jendela di tiga sisinya, dengan lantai abu-abu gelap dan dinding putih keabu-abuan. Tepat di sisi dekat pintu, terdapat kaca satu arah.
Kaca itu begitu bersih tanpa noda, memantulkan lampu dinding di lorong, juga bayangan seorang pria dan seorang wanita.
Gadis itu mengikat rambutnya tinggi-tinggi dalam ekor kuda. Ia mengenakan kaus lengan panjang bergaris horizontal, celana jins, dan sepatu kanvas.
Pria itu memakai kaus pendek, celana pendek kerja, dan sepatu kasual.
Gadis itu terpaku menatap ke dalam ruangan.
Sang pria sedikit menundukkan kepala, mengamati reaksinya dengan penuh minat.
Di dalam ruangan, udara dingin terus mengalir dari celah-celah di keempat sisi langit-langit. Tjo Wen terbaring di tengah ruangan, kedua tangan dan kakinya terikat.
Tanpa sadar, Sie Yi-yi mengangkat tangan dan menempelkannya pada kaca. Baru saja ujung jarinya menyentuh permukaan dingin itu, ia tersadar dan segera menarik tangannya dengan jantung berdebar.
Dengan kaku, ia memutar leher dan menatap Syi Jing.
Wajah maupun sorot mata pria itu sama-sama tenang, seolah tak ada yang perlu dipedulikan.
Inikah… yang ia sebut bermain?
Syi Jing menatap mata indah Sie Yi-yi. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada, lalu berkata dengan nada lambat dan berliku, tetapi setajam pecahan es: “Sekarang, dia milikmu.”
Dada Sie Yi-yi naik turun perlahan. Ia menoleh ke dalam ruangan, memejamkan mata dan menarik napas, lalu memandang Syi Jing sambil memberi isyarat, “Kalau begitu, lepaskan dia.”
Syi Jing mengangkat kelopak matanya sedikit, lalu menggoyangkan telunjuk dua kali di depan mata Sie Yi-yi.
Sie Yi-yi kembali menatap ke dalam ruangan. Rambut hitam Tjo Wen telah dipenuhi lapisan es yang tampak jelas.
Entah sudah berapa lama ia berada di dalam sana.
Sie Yi-yi menoleh dan memberi isyarat kepada Syi Jing, “Paman, sepertinya dia hampir mati.”
Tangan besar Syi Jing mencengkeram bagian belakang kepala Sie Yi-yi dan memaksanya menoleh ke arah lain. “Kau melihat benda yang terpasang di tangannya?”
Di pergelangan tangan Tjo Wen, selain tali rami, terpasang gelang hitam yang bentuknya menyerupai jam tangan.
“Alat pemantau kehidupan.” Nada suara Syi Jing terdengar penuh kesenangan yang kejam. “Kalau dia mati, permainan ini jadi tidak menyenangkan.”
Ia mengatakannya dengan begitu ringan.
Begitu bebas.
Seolah-olah segala sesuatu yang terlihat olehnya di dunia ini hanyalah mainan.
Syi Jing menepuk bagian belakang kepala Sie Yi-yi dua kali dengan agak keras, seperti menepuk bola karet. Kemudian ia menundukkan kepala dan mendekat, sudut bibirnya terangkat. “Bukankah dia mengatakan hal yang sama kepada polisi? Bahwa dia hanya bermain-main denganmu, hanya saja permainannya kebablasan.”
Sie Yi-yi mengatupkan gigi rapat-rapat. Ia tidak tahu dari mana Syi Jing mengetahui semua itu.
Namun setelah dipikir-pikir, mengetahui hal tersebut tentu bukan perkara sulit baginya.
Syi Jing bertanya dengan sangat adil, “Kenapa? Dia boleh mempermainkanmu, tetapi kau tidak boleh mempermainkannya?”
Keadilan tidak bisa didefinisikan seperti itu.
Sie Yi-yi belum sempat membantah ketika Syi Jing meluruskan punggung dan mengangkat tangan, memberi sebuah isyarat.
Seiring terdengar langkah kaki, seseorang datang dari ujung lorong yang remang-remang. Ia membuka pintu, mengambil selang air yang entah disambungkan dari mana, memutar kerannya, lalu menyemprot Tjo Wen seperti sedang mencuci sawi putih.
Seharusnya air panas.
Pergantian suhu panas dan dingin membuat ruangan dipenuhi kabut air, seolah-olah berubah menjadi negeri kahyangan.
Namun kaca itu tetap tidak berembun sedikit pun. Pemandangan di baliknya terlihat sangat jelas.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Pintu ruangan kembali tertutup.
Di dalam, kabut air perlahan menghilang. Tjo Wen kembali terlihat di balik kaca. Lapisan es di kepalanya telah lenyap, seakan-akan ia untuk sementara “hidup kembali”.
Ia membuka mata dan memandang ke sekeliling. Lehernya tak mampu diangkat, air mata putus asa terus mengalir, tubuhnya gemetar tanpa henti…
Syi Jing menopangkan satu tangan pada kaca. “Sudah kubilang, aku membawamu kemari untuk bermain.”
Sie Yi-yi menatap Tjo Wen yang sekarat di dalam ruangan.
Ia sudah tak memiliki kesombongan dan keangkuhan seperti dahulu, kini lemah seperti seekor semut.
Mungkin, di mata pria yang berdiri di sampingnya itu, mereka semua sama saja—semut-semut tanpa perbedaan.
Memang, Sie Yi-yi menandatangani surat damai hanya demi mempertahankan citra dirinya; itu adalah kemunafikan. Namun ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk bersikap begitu dingin hingga harus menanggung kematian seseorang.
Kematian manusia yang masih hidup.
Ia tidak memiliki hak, juga tidak memiliki kemampuan untuk menanggung nyawa seseorang.
Dengan wajah memohon, Sie Yi-yi memberi isyarat kepada Syi Jing, “Paman, kumohon lepaskan dia. Dia pasti sudah tahu kesalahannya.”
Syi Jing menyipitkan mata, tak mampu memahami maksudnya.
Sie Yi-yi menarik ujung pakaian Syi Jing, memohon seperti seorang anak kecil yang meminta permen.
Syi Jing menunduk dan memandang tangan lancang itu. Bekas jeratan dan memar berdarah di pergelangan tangannya belum sepenuhnya menghilang.
Ia mengangkat kelopak mata dan mengingatkan, “Kau belum bermain.”
Sie Yi-yi menggeleng. Ia berusaha membujuk dengan perasaan dan alasan, “Kakek akan tahu dan menghukummu, Paman. Jangan sampai kau dihukum karena aku.”
Syi Jing menyeringai, penuh penghinaan. “Kau bermain saja. Jangan mengkhawatirkanku.”
Sie Yi-yi: “Aku tidak suka permainan seperti ini.”
Syi Jing membungkukkan tubuh, membuat jarak di antara mereka seketika menyempit.
Tatapannya yang tajam menyusuri wajah Sie Yi-yi, sementara nadanya terdengar menyalahkan. “Kalau begitu, bukankah semua usahaku membawa dia kemari jadi sia-sia?”
Sie Yi-yi berpikir sejenak, lalu mengertakkan gigi. Ia berbalik menuju pintu, membukanya, mengambil selang air dari lantai, memutar keran, dan menyemprot Tjo Wen sekadarnya.
Setelah menyelesaikan semua itu, ia berjalan keluar dengan lega.
Syi Jing bersandar malas pada dinding, kedua tangan terlipat di depan dada. Ia lebih dulu berkata, “Keponakanku, kau sedang mempermainkanku?”
Sie Yi-yi tak sempat menyampaikan perkataannya dan hanya bisa memberi isyarat, “Apa yang harus dilakukan agar ini berakhir?”
Syi Jing sedikit mendongakkan kepala, seolah sedang berpikir.
Lampu dinding di lorong menyoroti garis samping wajah pria itu. Lekuknya tegas seperti pahatan pisau, bagaikan sebuah karya seni.
Pintu ruangan masih terbuka dan udara dingin terus mengalir. Sie Yi-yi tanpa sadar menggigil.
Syi Jing berjalan menghampirinya.
Sebuah pisau lipat kecil nan indah buatan Swiss tiba-tiba muncul di depan matanya. Sie Yi-yi bahkan tidak melihat dari mana Syi Jing mengeluarkannya.
Dengan satu tangan menggenggam gagang pisau, ia menggerakkan buku jarinya. Sarung pisau itu meluncur jatuh, lalu ditangkap dengan mantap oleh tangan yang lain.
Bilah pisau berkilau putih kemerahan itu berada tepat di depan mata.
Sie Yi-yi membelalak tak percaya dan mundur.
Seolah sudah menduga ia akan gentar, Syi Jing meraih lengannya. Ia memutar pergelangan tangan, lalu dengan mudah memutar tubuh Sie Yi-yi setengah lingkaran dan menariknya ke dalam dada, menghadapkannya pada Tjo Wen di dalam ruangan.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Suara pria itu terdengar samar. “Ini baru berakhir kalau aku bilang sudah berakhir.”
Bilah pisau di depan mata kembali mendekat.
Sie Yi-yi menggeleng.
Syi Jing meraih tangan Sie Yi-yi dan memaksa pisau lipat itu masuk ke genggamannya.
Sentuhan gagang yang dingin serta pola ukiran yang dalam dengan jelas memberitahukan kepada Sie Yi-yi apa yang sedang terjadi.
Ia takut.
Benar-benar takut.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sosok di belakangnya keras dan kokoh. Ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melawan.
Ia tak mampu melepaskan diri. Karena panik, air mata mengalir deras dari pelupuknya, menggantung di dagu, lalu jatuh ke punggung tangan pria itu.
Punggung Syi Jing menegang. Ia mengernyitkan dahi, mencengkeram lengan Sie Yi-yi, lalu dengan cekatan memutar tubuhnya menghadap ke depan.
Ujung hidungnya memerah, bibirnya tergigit.
Menangis tersedu-sedu.
Sangat menyebalkan.
Syi Jing mengembuskan napas. “Sie Yi-yi, tidak pernah ada yang memberitahumu bahwa kebaikan yang berlebihan bisa membuatmu mati?”
Ia melafalkan setiap kata dengan jelas, satu demi satu, sebagai nasihat. “Mencelakakan orang, mencelakakan diri sendiri.”
Sie Yi-yi tidak memahami kata-kata yang diucapkan tanpa alasan itu. Ia hanya berusaha melepaskan tangannya.
Pisau lipat itu terjatuh ke lantai.
Untung saja Syi Jing segera melepaskan tangannya. Kalau tidak, bilah pisau itu akan dengan mudah membelah separuh telapak tangan Sie Yi-yi.
Syi Jing memandang gadis lemah itu. “Tidak tahu diri.”
Sie Yi-yi mundur dua langkah.
Syi Jing menundukkan kepala, mengembuskan napas, lalu bertolak pinggang dengan satu tangan dan melambaikan tangan.
Seseorang datang dan menyeret Tjo Wen pergi.
Syi Jing menatap Sie Yi-yi dengan tidak senang. Ia membungkuk untuk mengambil pisau lipat dari lantai, dan dari sudut matanya melihat Sie Yi-yi menggeser-geser kaki, lalu mundur setengah langkah lagi.
Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.
Ia menggosokkan bilah pisau itu dua kali pada permukaan sepatunya, bolak-balik, lalu memasukkannya ke dalam sarung.
Sie Yi-yi memalingkan wajah.
Dahulu, Sie Yi-yi hanya menganggap Syi Jing sebagai seseorang yang tidak menghormati tata krama, tidak mematuhi hukum, dan bertindak seenaknya.
Kini, ia merasa pria itu benar-benar sinting.
Bahkan ia merasa, seharusnya sejak awal ia sudah menyadari hal tersebut.
Halaman (3/3)