Bab Tujuh Belas: Pose
Halaman 1 dari 3
Belum sempat menunggu libur Hari Buruh, Sye Yi-yi sudah kembali bersekolah.
Kalau dipikir-pikir, ia sebenarnya sedang menghindar.
Menghindari orang mesum.
Begitu mengetahui Sye Yi-yi datang ke sekolah, pimpinan sekolah memanggilnya ke kantor dan menunjukkan perhatian kepadanya.
Setelah berbasa-basi menanyakan kabar dan kesehatannya, pimpinan sekolah bertanya, “Sye Yi-yi, setelah libur Hari Buruh, delegasi sekolah akan pergi ke Kota Hong untuk bertukar pengalaman dengan Sekolah Menengah SBL. Maukah kamu menjadi salah satu anggota delegasi sekolah kita dan menunjukkan keunggulan sekolah kita?”
Sejauh yang diketahui Sye Yi-yi, anggota delegasi itu sudah ditentukan sejak tiga bulan lalu. Syarat seleksinya sangat ketat, dan banyak siswa berusaha mati-matian agar bisa ikut.
Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka ingin membawanya, padahal tak ada satu pun bidang yang benar-benar menjadi keunggulannya.
Sye Yi-yi tidak ingin pergi.
Dibandingkan gelar-gelar gemerlap itu, ujian masuk perguruan tinggi yang sudah di depan mata jelas jauh lebih penting.
Melihat keraguan di wajah Sye Yi-yi, pimpinan sekolah berkata dengan nada menyelidik, “Sye Yi-yi, ini kesempatan yang sangat baik. Kelak, pengalaman ini akan menjadi nilai tambah dalam daftar riwayatmu dan juga membantu ketika kamu memilih sekolah untuk melanjutkan studi pascasarjana. Lagipula, soalmu itu…”
Pimpinan sekolah mengangkat cangkir teh dan meniup serpihan daun teh di permukaannya. “Semua orang sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatanmu. Dalam perjalanan kali ini, kami berharap kamu bisa menunjukkan kondisi kesehatan yang sebaik-baiknya.”
Sye Yi-yi memahami maksud pihak sekolah.
Ia mengangguk.
Wajah pimpinan sekolah langsung berseri-seri. Ia meletakkan cangkir teh, lalu mengeluarkan dokumen yang telah disiapkan dari laci dan menyerahkannya kepada Sye Yi-yi. “Baca semua hal yang perlu dipersiapkan ini. Segera ajukan permohonan izin perjalanan agar tidak mengganggu jadwal.”
Sye Yi-yi menerimanya dan mengangguk.
Setibanya kembali di kelas, Sye Yi-yi memasukkan dokumen itu ke dalam tas.
Selain membantu sekolah menutupi kenyataan dan menciptakan kesan seolah semuanya baik-baik saja, ia juga memiliki urusan sendiri yang hendak diselesaikan di Kota Hong.
Saat pelajaran olahraga, Sye Yi-yi mendapat perlakuan khusus dan diminta tetap tinggal di kelas untuk beristirahat.
Ia memanfaatkan waktu itu untuk menyelesaikan lembar-lembar ujian yang belakangan tertinggal.
Terdengar suara langkah kaki memasuki kelas.
Sye Yi-yi mengangkat kepala. Yang datang adalah Deng Hongfei.
Tatapan mereka bertemu. Mata Deng Hongfei tampak kebingungan, sementara Sye Yi-yi tidak menunjukkan emosi apa pun. Ia menunduk dengan tenang dan melanjutkan mengerjakan soal kimia.
Deng Hongfei berjalan mendekat dengan ragu, lalu duduk menyamping di kursi depan Sye Yi-yi dan memutar separuh tubuhnya. “Sye Yi-yi, apa keadaanmu sudah membaik?”
Sye Yi-yi tidak mengangkat pandangan. Ia hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan atas perhatian teman sekelasnya.
Deng Hongfei menjilat bibirnya yang kering, lalu bertanya dengan hati-hati, “Kamu melihat pesan-pesan yang kukirim lewat QQ beberapa hari ini? Juga pesan singkat? Aku bahkan sudah meneleponmu, tapi kamu tidak mengangkatnya.”
Sye Yi-yi seolah tidak mendengar.
Kelas itu sunyi. Yang terdengar hanya suara berdesir ujung pena yang menggores lembar soal.
Deng Hongfei tampak sangat sedih. “Sye Yi-yi, kenapa kamu tidak menghiraukanku? Aku… bukankah kita berteman? Bukankah selama ini kita mengobrol dengan baik?”
Sye Yi-yi tetap tidak bereaksi.
Setelah terdiam beberapa saat, Deng Hongfei berkata, “Sebenarnya kamu memang tidak ingin berteman denganku, bukan? Selama itu kamu mengobrol denganku hanya untuk mendapatkan waktu dan rute kunjungan rombongan inspeksi secara terperinci. Semuanya sudah kamu rencanakan, bukan, Sye Yi-yi?”
Pena di tangan Sye Yi-yi perlahan berhenti. Ia memindahkannya ke buku coretan di samping, lalu menulis:
【Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan.】
Deng Hongfei menatap beberapa kata itu, kemudian mengalihkan pandangan ke mata Sye Yi-yi yang jernih.
Sepasang mata itu bening dan lugu.
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
Deng Hongfei tanpa sadar menggeleng dan berusaha berdebat dengan Sye Yi-yi. “Waktu dan rute kunjungan rombongan inspeksi itu direncanakan dan ditetapkan olehku bersama kepala bagian pengajaran. Kamu sudah beberapa kali menanyakan detailnya.”
Deng Hongfei menelan ludah. “Waktu itu aku sering mengeluh kepadamu bahwa tekananku besar, bahwa aku sangat gugup dan takut melakukan kesalahan. Kukira kamu begitu bersemangat membantuku menganalisis dan memberi saran karena kamu peduli kepadaku.”
Deng Hongfei mengenang kembali kejadian itu. “Sore itu, sesuai prosedur, aku memandu rombongan inspeksi masuk ke gedung kolam renang sekolah. Setelah memperkenalkan para atlet renang berbakat yang pernah dimiliki sekolah di ruang peringatan lantai tiga, aku membawa mereka melihat fasilitas kolam renang sekolah…”
Saat itulah ia bertemu dengan Sye Yi-yi yang sedang dirundung oleh Zhuo Wen dan kawan-kawannya.
Deng Hongfei tanpa sadar mengepalkan tangan. “Waktu itu aku juga mengirimimu pesan lewat QQ, mengatakan bahwa kami sudah masuk ke gedung kolam renang.”
Mendengar itu, Sye Yi-yi sedikit menundukkan kepala. Ada kebingungan di dasar matanya.
Ia mengangkat pena dan menulis:
【Kamu salah orang, bukan? Kita tidak berteman di QQ.】
Deng Hongfei menatapnya dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Ia mengeluarkan ponsel, membuka QQ, membuka halaman percakapan, lalu menyodorkannya ke hadapan Sye Yi-yi. “Kita jelas sudah banyak mengobrol!”
Sye Yi-yi memperhatikannya dengan saksama, lalu menulis:
【Kamu salah. Ini bukan akun QQ-ku.】
Deng Hongfei berdiri dengan penuh semangat. “Kenapa kamu menyangkalnya?”
Sye Yi-yi tersenyum tak berdaya dan menulis:
【Kenapa kamu mengira ini akun QQ-ku dan orang yang mengobrol denganmu adalah aku?】
Deng Hongfei tercekat oleh pertanyaan itu. “Aku—”
Sye Yi-yi kembali menulis:
【Wali kelas memiliki akun QQ-ku. Kamu bisa bertanya kepadanya. Ini bukan akun milikku.】
Deng Hongfei membeku.
Benar juga. Bagaimana ia bisa membuktikan bahwa orang di balik akun QQ itu adalah Sye Yi-yi?
Sye Yi-yi sendiri mengatakan bukan.
Jika tidak ada orang lain yang membantu membuktikannya, ia benar-benar tidak mampu membuktikan apa pun.
Deng Hongfei berpikir sejenak, lalu kembali mengutak-atik ponselnya. Ia membuka halaman pesan singkat dan menunjukkannya kepada Sye Yi-yi, kemudian membuka daftar kontak. “Ini nomor ponselmu, bukan?”
Sye Yi-yi memasang ekspresi seolah baru menyadari sesuatu, lalu menulis:
【Selama ini aku memang menerima pesan-pesan tersebut, tetapi aku tidak memahaminya dan juga tidak tahu bahwa kamulah yang mengirimnya. Rasanya sangat aneh, jadi aku tidak membalasnya dan bahkan memblokirmu.】
Deng Hongfei menunduk dan memeriksa halaman pesan singkat itu. Sye Yi-yi memang tidak pernah membalas satu pun pesannya.
Kepalanya terasa berdenyut-denyut.
Sye Yi-yi mengatupkan bibir, lalu menulis:
【Mungkin ada orang yang sedang mengerjaimu?】
Kemudian ia menulis lagi:
【Cepat simpan ponselmu. Nanti kalau guru melihatnya, ponselmu akan disita.】
Setelah selesai menulis, ia membalik kertas coretan itu dan kembali mengerjakan soal kimia.
Deng Hongfei tidak pergi. Ia berdiri selama beberapa menit, lalu perlahan duduk.
Setelah berhasil menenangkan diri, ia berkata dengan tenang, “Sye Yi-yi, aku tidak akan memberi tahu siapa pun. Tenang saja.”
Sye Yi-yi tetap tidak menghiraukannya.
Deng Hongfei berpikir sejenak, lalu menyatakan pendiriannya. “Aku masih ingin berteman denganmu.”
Ujung pena Sye Yi-yi kembali berhenti. Ia mengangkat kepala dan menatap pemuda di hadapannya.
Tubuhnya kurus, mengenakan kacamata, berasal dari keluarga kurang mampu, dan seragam sekolahnya telah dicuci hingga berbulu.
Ia penakut, tetapi selalu membantu Sye Yi-yi sebisanya.
Ia tidak pernah berjaga-jaga terhadapnya dan selalu membuka hati sepenuhnya.
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
Bahkan sampai sekarang, ia masih ingin berteman dengannya…
Deng Hongfei membetulkan kacamata di pangkal hidungnya. “Aku sudah memikirkannya baik-baik. Sekarang aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Pasti ada orang yang sedang mengerjaiku.”
Sye Yi-yi mengembuskan napas tipis yang nyaris tak terlihat, lalu menunduk dan melanjutkan perhitungan soal tadi.
Deng Hongfei menoleh ke sekeliling kelas yang kosong, lalu berkata pelan, “Sye Yi-yi, kamu sungguh hebat. Tidak seperti aku. Ketika dirundung, selain menahannya, yang terpikir olehku justru menyakiti diri sendiri. Sekarang sekolah sangat memperhatikan kasus perundungan. Begitu ditemukan, pelakunya akan ditindak tegas. Orang-orang yang biasanya merasa paling berkuasa itu bahkan sudah tidak berani merundung kami lagi. Suasana sekolah pun membaik. Semua orang bilang itu adalah berkah di balik musibah yang menimpamu, tetapi mereka tidak tahu bahwa semua itu karena kamu—”
Deng Hongfei menutup mulutnya sendiri dan menelan kata-kata yang hendak diucapkannya.
Deng Hongfei berkata, “Sye Yi-yi, terima kasih.”
Sye Yi-yi tidak menerima ucapan terima kasih itu.
Ia hanya melakukannya demi dirinya sendiri.
Deng Hongfei berkata, “Bagaimanapun juga, kamulah yang telah membantu kami. Itulah hasil dari semua kejadian ini.”
Melihat Sye Yi-yi terus mengabaikannya, Deng Hongfei menyandarkan siku di atas meja Sye Yi-yi dan mendekat sedikit. “Kita masih berteman, kan?”
Sye Yi-yi menghentikan penanya, memejamkan mata sejenak, lalu menulis dengan tekanan kuat di atas kertas coretan:
【TIDAK】
Ia bahkan menambahkan tanda seru.
Dua hari kemudian, tibalah libur Hari Buruh. Sebelum liburan dimulai, para siswa menerima lembar-lembar ujian dari guru masing-masing.
Sye Yi-yi merapikan semua lembar ujian itu dan berencana menghabiskan seluruh liburan di toko buku.
Dan itulah yang dilakukannya. Setiap pagi ia berangkat sejak dini hari dan baru pulang setelah langit gelap.
Hari terakhir liburan.
Setelah menyelesaikan seluruh lembar ujian, perut Sye Yi-yi berbunyi. Ia melihat jam dan menyadari bahwa waktu sudah hampir pukul dua siang.
Ia belum makan siang.
Sye Yi-yi membereskan tasnya, lalu pergi ke meja kasir toko buku dan meminta bantuan pegawai untuk menyimpan barang-barangnya.
Toko buku itu sebenarnya tidak menyediakan layanan penitipan barang. Pegawainya hanya bersedia membantu karena telah mengenal Sye Yi-yi selama bertahun-tahun.
Meja kasir toko buku itu setinggi satu meter dua puluh sentimeter. Di atasnya terdapat komputer dan rak penataan dokumen.
Saat menyerahkan tasnya ke sisi dalam meja, Sye Yi-yi berjinjit dan mengangkat tas itu tinggi-tinggi agar tali tasnya tidak tersangkut barang-barang di atas meja.
Sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan. Shi Jing duduk di kursi belakang.
Ketika menoleh, pandangannya tepat mengarah ke pintu masuk toko buku.
Hari itu Sye Yi-yi mengenakan gaun denim biru muda sepanjang betis, dengan tali tipis yang diikat di pinggang. Ujung lengan dan bagian bawah roknya dihiasi renda.
Kakinya mengenakan sepatu kanvas putih dengan tepian hitam.
Lengan dan betisnya yang terlihat tampak ramping dan putih.
Hari itu ia membiarkan rambutnya tergerai. Dari samping, tampak batang hidungnya yang indah serta ujung hidung yang agak membulat.
Gerakannya saat mengangkat dan memasukkan tas tampak sedikit lucu.
Dulu, di pangkalan, pernah ada seorang “anak baru”. Saat pertama kali melempar ransel peledak, posisinya persis seperti itu.
Halaman 3 dari 3