Bab 146 Kebahagiaan Datang Tanpa Diduga
Kebahagiaan Datang Tanpa Diduga
Sepanjang sore, Jiang Xiaotian sama sekali tidak keluar kamar. Ia memilih berdiam diri di dalam untuk tidur sepuasnya. Bagaimanapun, semalam ia tidur cukup larut, dan malam ini masih ada acara penting. Ia harus memulihkan tenaganya dengan baik.
Begitu pula dengan Long Aotian yang tidak keluar, tetapi ia memilih meringkuk di kamarnya sambil mendekap laptop untuk bermain <i>game</i>.
Menjelang senja, Jiang Xiaotian bangkit dari tempat tidur, mencuci muka, lalu bersiap untuk memanggil Chen Ying agar mereka bisa segera berangkat.
Namun, baru saja ia melangkah keluar kamar, ia melihat sesosok bayangan berkelebat di depan dan terburu-buru berbelok ke toilet umum di sebelah.
Chen Ying! Jiang Xiaotian merasa sedikit terkejut, sebab kamar Chen Ying berada di lantai atas, dan sebelumnya mereka telah sepakat bahwa Jiang Xiaotian akan naik ke atas untuk menjemputnya begitu waktunya tiba. Namun sekarang, tanpa menunggu dirinya datang memanggil, gadis itu justru turun lebih dulu.
Jiang Xiaotian berdiri menunggu di luar toilet, sembari merenungkan apakah malam ini akan menjadi hari yang penuh kemajuan dalam hubungannya dengan Chen Ying. Siang tadi, saat ia diam-diam mencium pipinya, gadis itu sempat terlihat agak marah, tetapi tidak lama kemudian ia melupakan kejadian tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa Chen Ying juga menyukainya, hanya saja ia merasa tindakan Jiang Xiaotian terlalu ceroboh dan tergesa-gesa.
Tengah asyik melamun, ia tiba-tiba mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa. Dua pria berbusana serba hitam dan mengenakan kacamata hitam berlari turun dari tangga, lalu berdiri di lorong sambil mengedarkan pandangan. Begitu melihat Jiang Xiaotian, salah satu pria itu mendekat dan bertanya, "Hei, apakah kau melihat seorang wanita turun dari lantai atas dan datang ke sini?" Suaranya terdengar kaku, persis seperti orang asing dengan aksen yang sangat cadel.
Nada bicara pria itu kurang bersahabat, membuat Jiang Xiaotian merasa tidak suka. Ia pun menjawab acuh tak acuh, "Tidak," lalu membuang muka.
Kedua orang itu mengamati sejenak lagi dan tidak tinggal terlalu lama, lalu bergegas turun mengikuti tangga.
Begitu suasana di tangga kembali sunyi, pintu toilet akhirnya terbuka. Chen Ying, yang berada di dalam cukup lama, akhirnya keluar. Namun, saat gadis itu melangkah keluar, Jiang Xiaotian tiba-tiba merasakan kejanggalan.
Ekspresinya tampak kurang santai. Sepasang matanya terus bergerak ke kiri dan ke kanan, menyiratkan kepanikan. Bahkan ketika pandangannya menyapu wajah Jiang Xiaotian, ia hanya berhenti sejenak lalu langsung mengalihkannya.
Selain itu, pakaian yang dikenakannya hari ini tampak berbeda dari biasanya.
Biasanya, saat di sekolah, Chen Ying selalu mengenakan pakaian yang sangat sopan. Meskipun ia sering mengenakan rok, modelnya selalu berupa gaun panjang yang menutupi hingga betis, menyisakan separuh betis bawah yang terlihat. Tetapi hari ini, ia justru mengenakan rok yang sangat pendek—begitu pendek hingga hanya mampu menutupi paha atas, sementara lutut dan separuh pahanya terekspos jelas di udara.
Bukan hanya itu, tatanan rambutnya hari ini juga tidak seperti biasanya. Biasanya, bahkan saat mereka berjalan-jalan bersama siang tadi, ia selalu menguncir rambutnya menjadi ekor kuda. Namun sekarang, rambutnya dibiarkan tergerai bebas di atas bahu.
Terlebih lagi, Chen Ying hampir tidak pernah mengenakan riasan wajah dalam kesehariannya karena ia masih seorang pelajar. Tanpa pulasan makeup pun, wajah polossnya sudah jauh lebih cantik ketimbang gadis-gadis yang mengenakan riasan tebal, serta lebih memikat di mata para pemuda.
Namun sekarang, ia justru berdandan!
Meskipun hanya riasan tipis, itu memancarkan pesona yang sama sekali berbeda dari hari-hari biasanya!
Jika biasanya ia tampak begitu polos dan suci, hari ini ia terlihat jauh lebih dewasa dan menawan!
Jiang Xiaotian tanpa sadar terpesona. Ternyata Chen Ying memiliki sisi yang begitu memesona.
Di saat Jiang Xiaotian masih terpaku menatapnya, Chen Ying hanya meliriknya sekilas dengan dingin, lalu berjalan tergesa-gesa menuju lift.
"Chen Ying, tunggu aku!" seru Jiang Xiaotian buru-buru sambil menyusul.
Mendengar panggilan