Cucu
Di awal pagi, sebuah dentangan keras dan nyaring tiba-tiba membelah keheningan, bukan hanya menghancurkan mimpi indah sang gadis, namun juga meluluhlantakkan kaca jendela kamarnya. Kamar gadis itu menempel pada dinding luar gedung, dengan posisi yang memungkinkan benda dilempar langsung dari bawah, tidak seperti rumah pada umumnya yang sulit dilempari dari bawah ke atas. Suara dahsyat yang tiba-tiba itu seketika menyentaknya dari alam tidur, sementara pecahan kaca yang beterbangan tanpa ampun menggores lengannya. Ibu sang gadis bertanya, "Nianxue, ada barang yang jatuh di kamarmu?" "Tidak ada apa-apa, Bu, tasku jatuh ke lantai," jawab gadis itu dengan suara lembut. Ia tidak berani memberitahu ibunya, takut mereka akan memukulnya. "Cepat pungut. Oh ya, Ibu harus berangkat kerja, sarapan sudah Ibu taruh di meja, ingat makan setelah bangun," pesan ibunya. "Iya, Bu, cepatlah berangkat," jawab sang gadis. Ibunya menghela napas, "Haih, anak ini, sungguh membuatku khawatir." Setelah itu, ibunya berangkat ke kantor mengendarai sepedanya. Setelah ibunya pergi, gadis itu berjalan ke jendela dan melihat dua atau tiga remaja laki-laki di bawah. Tubuh mereka tegap dan tangkas, jelas terlihat mereka adalah siswa olahraga. Mereka tertawa dan bersenda gurau, salah satu dari mereka berteriak, "Hei, cucu di atas! Cepat turun, main sama kakekmu sini!" Remaja lainnya tertawa terbahak-bahak. "Bang Chen, kapan kau punya cucu? Kenalkan juga pada kami biar kita bisa senang-senang!" "Benar, benar! Bang Chen, punya cucu kok lupa sama saudara, tidak tahu diri namanya!" Pemimpin kelompok itu adalah remaja berambut pirang dengan bekas luka di wajahnya, bernama Chen Ze. Dengan mengandalkan kekayaan keluarga, ia menindas siapa saja dan berbuat onar seenaknya. Ditangkap polisi pun ia tidak takut, karena ayahnya seorang kepala biro; siapa pun yang melihatnya harus tunduk. Kelompok mereka dijuluki Trio Iblis. Chen Ze merangkul teman-temannya, "Iya, iya, nanti kucarikan cucu untuk kalian." Mereka menyahut, "Bang Chen, jangan bohong ya." "Tidak bohong. Cucu di atas itu diam saja, tidak mau memanggil kakek, tidak punya sopan santun," ejek Chen Ze sambil menatap jendela yang pecah di atas. Gadis di atas itu bernama Su Nianxue. Ayahnya meninggal lebih awal, menyisakan ia dan ibunya. Sejak kepergian ayahnya, ibunyalah yang merawatnya. Kondisi keluarga mereka tidak miskin, namun juga tidak kaya, tergolong keluarga menengah. Su Nianxue menutup tirai jendela, enggan berurusan dengan kelompok itu. Ia turun ke lantai bawah, menoleh ke kiri dan kanan mencari sesuatu, lalu melihat sarapan di atas meja. Ia menghampirinya dan mulai menyantap hidangannya. Setelah selesai, ia mencuci piring dan mengembalikannya ke tempat semula, lalu membuka pintu dan berjalan menuju lift. Ia tinggal di lantai dua, yang sebenarnya sangat dekat dengan lantai satu, namun ia enggan menuruni tangga. Sesampainya di luar, ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan memindai kode QR pada sepeda sewa. Mengenakan helm, ia mengayuh sepeda menuju sekolah. Di sepanjang jalan, ia menikmati indahnya bunga, burung, dan pepohonan, serta berpapasan dengan teman-teman sekelasnya. Ia menyapa mereka, dan mereka pun membalas sapaannya dengan ramah. Di tengah temaram cahaya pagi, sebuah sepeda motor berhenti dengan mulus di depan gerbang sekolah. Dengan sigap, pemuda itu melepas helm abu-abu peraknya, menyibakkan rambutnya yang sedikit berantakan karena tertekan helm, lalu melangkah masuk ke area sekolah dengan langkah tegap. Daun-daun ginkgo di depan gedung pengajaran berdesir tertiup angin. Ia berjalan melewati para siswa yang berbincang sambil memeluk buku, lalu menapaki tangga menuju lantai lima. Sebagai siswa Kelas 12-7, remaja berusia delapan belas tahun ini sempat berhenti sejenak di depan papan hitung mundur—hanya tersisa 98 hari menuju Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Namanya selalu bertengger di puncak papan kehormatan angkatan, piala kompetisi sains dan matematika memenuhi mejanya, namun yang paling membuat orang kagum adalah kesediaannya membantu teman-teman memecahkan soal sulit sambil tersenyum. Tawanya yang renyah sering kali mengema di lorong, seolah menerangi seluruh sekolah dengan semangat mudanya. Saat melangkah masuk ke kelas, hawa segar dan rapi langsung menyapunya. Dinding putih bersih laksana kanvas tanpa noda, tanpa sedikit pun coretan vandalisme. Di atas meja, buku dan alat tulis tersusun rapi dan teratur, seolah menyuarakan ketekunan para siswa akan kebersihan. Barisan meja dan kursi tertata lurus bagaikan prajurit terlatih yang siap siaga. Tempat sampah kosong melompong, lantai disapu bersih tanpa debu, mengkilap bagai cermin yang memantulkan cahaya dari jendela, seolah dilapisi kaca kristal yang bening. "Hai! Su Nianxue, selamat pagi." "Ya, selamat pagi." Anak buah Chen Ze menatap Su Nianxue. "Cih! Bukankah ini cucunya Bang Chen?" Su Nianxue bahkan tidak sudi meliriknya. "Sialan, berani-beraninya mengabaikan gue. Kasih muka malah makin menjadi, ya?" Di depan banyak orang, ia tidak berani memukul Su Nianxue, karena takut pada anjing penjaganya.