Bab Seratus Dua Puluh Enam: Dibuang Sepenuhnya
Bai Su hanya perlu melihat sekilas untuk mengetahui bahwa tempat itu adalah gudang terbengkalai. Biasanya tak ada orang yang datang kemari. Pelanggan Nomor 6 mungkin memilih tempat ini justru karena alasan tersebut, lalu memintanya menaruh semua barang di sini.
Namun, ia tidak mengikuti permintaan itu untuk menyimpan barang-barang tersebut secara terpusat di Gudang Nomor 8. Sebaliknya, ia membuka kontainer Nomor 18 yang paling dekat dan menjejalkan semua barang ke dalamnya.
Dengan waktu yang tersisa hanya beberapa menit sebelum Jaringan Bintang ditutup, Bai Su masuk ke jaringan dan mengirimkan alamat yang benar kepada pihak lain, beserta kode angka sementara untuk kontainer tersebut.
Tiba-tiba, dari jarak dua kontainer, terdengar suara yang familier.
“Wah, sungguh tak kusangka. Ternyata Penguasa Kota Nilang kita juga bisa muncul di tempat seperti ini.”
Bai Su segera berbalik. Setelah memastikan tidak ada seorang pun di sisinya, ia melompat naik ke atas kontainer, lalu merunduk sambil mengintip ke luar, memanfaatkan tumpukan kontainer yang berlapis-lapis untuk menyembunyikan sosoknya.
Di bawah sana, benar saja, berdiri dua orang yang dikenalnya: Barena dan Nilang.
Apa yang mereka lakukan di sini?
Bai Su menyipitkan mata, mengamati sekeliling dengan saksama. Gudang Nomor 8 tidak jauh dari kedua orang itu. Jangan-jangan… Pelanggan Nomor 6 adalah salah satu dari mereka?
Nilang mengenakan topeng emas, bibir merahnya terangkat membentuk senyum tipis. “Kebetulan sekali. Tak kusangka Barena yang selalu terhormat juga datang ke tempat seperti ini. Sungguh membuka wawasan.”
Keduanya saling melontarkan pujian yang sama sekali tidak bermakna, tetapi tak seorang pun menyebutkan tujuan kedatangan mereka. Nilang bahkan sangat waspada. Seolah merasakan sesuatu, ia menoleh ke arah tempat Bai Su berada.
Napas Bai Su tercekat. Ia segera menarik kepalanya kembali.
Untung saja tidak terlihat.
Tunggu, memangnya kenapa kalau terlihat? Wajahnya mengenakan topeng kulit palsu. Mana mungkin mereka bisa mengenalinya?
“Ada apa?” Barena mengikuti arah pandang Nilang. “Ada orang lain? Jangan-jangan Penguasa Kota Nilang datang ke sini untuk bertemu kekasih gelapnya? Apakah tanpa sengaja aku telah menjadi pengganggu sepasang kekasih?”
“Hehe, Barena, kau benar-benar pandai bercanda.” Meski menjawab demikian, langkah Nilang tak berhenti. Ia berjalan lurus ke arah tempat itu. Namun setelah memanjat kontainer dan melompat ke atasnya, ia mendapati tempat tersebut kosong melompong. Tak ada sedikit pun bayangan manusia.
Barena terkekeh. “Melihat sikapmu, sepertinya ini bukan pertemuan dengan kekasih gelap. Lebih mirip menangkap basah perselingkuhan. Eh, apa ada cerita menarik di balik semua ini? Bolehkah kau menceritakannya kepadaku?”
Sesaat sebelum Nilang naik, Bai Su telah melewati pintu ruang-waktu dan kembali ke rumahnya.
Ia melepaskan topeng kulit palsu, lalu memikirkan semuanya sambil mandi. Apakah Pelanggan Nomor 6 sebenarnya salah satu dari mereka? Mengapa dua penguasa kota yang terhormat itu pergi ke gudang terbengkalai?
Bai Su tak mampu menemukan jawabannya. Setelah mandi dengan nyaman, ia berganti pakaian dan keluar melalui gerbang kehidupan. Di tangannya tergenggam benih sayuran hijau abadi dan selada.
Jiang Chao sedang menjaga pintu mobil untuknya, tetapi wajahnya tampak sangat buruk.
Bai Su mendengus pelan. “Tidak perlu sampai seperti itu, kan? Baru sebentar saja, wajahmu sudah masam begini?” Ia berpura-pura menghela napas. “Ah, Xiao He memang lebih baik. Bahkan kalau disuruh berjaga sehari semalam, dia tak akan mengeluh sedikit pun.”
Xiao He?
Dia adalah pengawal pribadinya. Memangnya dia berani mengeluh?
Tunggu! Dari mana perempuan ini melihat bahwa dirinya mengeluh?
Jiang Chao terdiam tanpa daya sejenak, lalu menahan langkah Bai Su yang hendak berjalan ke depan dan mengangguk ke arah mobil. “Sudahlah, jangan menyindir terus. Ayo. Pinjamkan mobilmu sebentar, aku akan membawamu ke suatu tempat.”
“Tidak bisa. Aku harus menanam benih-benih ini.”
Jiang Chao tetap bersikeras. “Tidak akan terlambat hanya karena menunggu setengah hari.”
Baiklah!
Toh hasil panennya nanti bukan untuk dimakannya. Kalau yang bersangkutan saja tidak terburu-buru, untuk apa dia ikut cemas?
Bai Su berbalik dan masuk ke mobil. Sambil menyalakan mesin, ia bertanya, “Kita mau ke mana?”
Sepanjang perjalanan, Jiang Chao hanya memberikan petunjuk arah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seluruh dirinya tampak muram dan penuh hawa membunuh. Bai Su merasa ada yang tidak beres.
“Hei, aku hanya masuk sebentar. Apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu seperti orang yang kehilangan segalanya? Memangnya ada yang berutang ratusan juta kepadamu?”
Jiang Chao menarik napas. “Kurang lebih begitu.”
“Hah?” Bai Su memutar kemudi. Si Kecil O sedang dalam keadaan tak terlihat, sehingga ia berhati-hati menghindari para penghuni bintang yang berkeliaran di jalan. “Serius? Siapa? Berapa banyak utangnya kepadamu?”
Jiang Chao menampilkan sebuah berkas melalui arlojinya. Bai Su melirik sekilas dan langsung terkejut.
“Orang tua Liang tak lagi mengalokasikan dana militer untuk kalian?”
Ia membuat mobil melayang di udara, mengaktifkan mode kemudi otomatis, lalu menerima berkas itu untuk membacanya dengan lebih saksama. Tak lama kemudian, ia mencibir.
“Jadi ini juga gara-gara aku?”
Isi berkas itu sangat jelas. Karena pasukan pertahanan kota Jiang Chao kini berada di bawah kendali Bai Su, segala pembagian perbekalan mereka mulai sekarang tidak lagi berkaitan dengan Kota Menara. Persediaan tidak ada, apalagi dana.
Pasukan Jiang Chao sejak saat itu benar-benar ditinggalkan oleh Kota Menara.
Pantas saja wajahnya seburuk itu. Siapa pun pasti akan merasa tidak nyaman jika berada dalam keadaan seperti ini.
Bai Su menunjukkan kemurahan hatinya. “Ditinggalkan ya sudah. Apa bagusnya terus mengikuti mereka? Setiap hari hanya makan suplemen energi? Tiga kali sehari masing-masing satu tabung? Kalau persediaan menipis, langsung dikurangi menjadi satu tabung sehari?”
Baru membayangkannya saja sudah membuatnya merasa hidup seperti itu pasti menyiksa. Ia menggelengkan kepala.
“Kalau begitu, lebih baik kalian ikut denganku. Aku memang tidak bisa menjanjikan makanan lezat setiap hari, tetapi setidaknya kalian tidak akan kelaparan, bukan?”
Meskipun perkataannya memang masuk akal, ucapan itu terdengar aneh di telinga Jiang Chao dan membuat seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.
Ia mematikan layar arlojinya dan menegaskan, “Hubungan kita adalah hubungan kerja sama.”
Namun Bai Su memahaminya dengan cara berbeda. “Oh, begitu. Mulai sekarang kau tidak punya dana, ya? Sudahlah, demi kita semua yang harus bersusah payah bekerja, mulai sekarang aku tidak akan menagih biaya bahan makanan kepada kalian. Anggap saja kita satu keluarga, tak perlu saling membedakan. Apa yang kumakan, kalian juga akan mendapatkannya!”
Wajah Jiang Chao semakin buruk. Ia terdiam tanpa daya. Baru ketika tujuan mereka sudah tiba, ia berkata, “Kita sudah sampai. Carilah tempat yang tinggi untuk mendarat.”
Bai Su melihat ke kiri dan kanan. Mereka berada di kaki Kota Menara. Tempat yang dahulu kosong itu kini dipenuhi kerumunan. Sebuah lift gantung melayang di udara, dengan sederet orang berdiri di atasnya.
“Ini…” Bai Su memusatkan pandangan untuk mengenali mereka. Akhirnya ia berhasil. “Bukankah itu Lei Hou dan Zhu Na?”
Rambut mereka telah dicukur habis. Mereka mengenakan pakaian berbahan rami berwarna abu-abu gelap, tangan terikat di belakang, dan berlutut di tepi depan lift gantung. Di belakang mereka, sebuah tungku menyala sangat besar. Api merah membara sambil mengepulkan asap hitam.
Sederet prajurit yang membawa tongkat dan tombak panjang berdiri di belakang mereka, seolah-olah berjaga agar keduanya tidak melarikan diri.
Di bawah, masyarakat berkerumun dalam lingkaran demi lingkaran. Mereka menunjuk-nunjuk dan berbisik-bisik. Suara-suara bercampur menjadi keributan, dengan berbagai macam komentar terlontar.
Namun Bai Su berani menjamin bahwa kebanyakan dari mereka mungkin sama sekali tidak tahu mengapa Lei Hou dan yang lainnya harus menjalani hukuman bakar.
Bai Su menarik napas. Suaranya tanpa sadar berubah dingin.
“Kau membawaku kemari untuk melihat mereka dibakar?”
Kedua tangannya terlepas dari kemudi. Ia mendengus dingin.
“Apa ini, Komandan Jiang? Kau tak tega melihat mantan saudaramu, lalu sengaja membawaku kemari agar aku membantumu menyerbu tempat eksekusi?”