Bab 11: Rumah Emas untuk Sang Kekasih?
Yan Zhuo hanya memikirkan untuk keluar mencari makanan, tentu saja ia tidak memperhatikan hal-hal lain. Begitu membuka pintu kamar tidur, aroma makanan yang begitu menggoda langsung menyergap hidungnya, matanya pun langsung berbinar, bahkan tidak menuruni tangga seperti biasa. Dengan satu tangan, ia bertumpu pada pegangan tangga lantai dua dan langsung melompat turun, kemudian mendarat dengan sempurna.
Untung saja pemandangan ini tidak dilihat oleh Bibi Yuan, kalau tidak mungkin nyawanya sudah melayang karena kaget. Orang biasa jika melompat dari lantai dua tanpa bantuan apapun pasti akan patah tulang tangan atau kakinya, berbeda dengan Yan Zhuo, ia melompat turun seolah-olah itu hal yang biasa saja.
Yan Zhuo berlari dengan penuh semangat ke meja makan dan duduk, wajahnya penuh harap, "Bibi Yuan! Udang! Udang! Udang!" Hal penting memang harus diucapkan tiga kali.
Bibi Yuan baru saja mengangkat udang mantis goreng dari atas kompor. Melihat Yan Zhuo yang begitu bersemangat, ia pun ikut tersenyum, kerutan di wajahnya semakin dalam, membuatnya tampak semakin ramah dan hangat.
"Tuan Muda Gu, hati-hati ya, jalannya pelan-pelan. Saya baru saja mengepel lantai, airnya belum kering, nanti bisa licin," pesan Bibi Yuan sembari meletakkan masakan di atas meja. "Ini udang mantis goreng lada baru saja matang, hati-hati panas, nanti masih ada lagi, makan pelan-pelan saja dulu."
Yan Zhuo menatap semangkuk besar udang mantis di meja, langsung ingin mengambilnya dengan tangan. Jika Mo Han Cheng ada di rumah, pasti ia sudah mendapat teguran lagi karena kebiasaan itu.
Hari ini Mo Han Cheng tidak makan di rumah, jadi Bibi Yuan sudah lebih dulu mengupas semua cangkang udang, sehingga lebih praktis untuk Yan Zhuo.
Bibi Yuan membawa keluar abalon kukus yang sudah matang, melihat gerak-gerik Yan Zhuo yang hendak mengambil makanan dengan tangan, ia pun buru-buru menghampiri untuk mencegahnya.
"Aduh, Tuan Muda Gu! Cepat tanganmu ditarik! Udangnya baru saja diangkat dari kompor!" seru Bibi Yuan.
Yan Zhuo terkejut, belum sempat mengambil makanan, ia langsung menarik kembali tangannya dengan patuh.
"Makan pakai sumpit, ya," ujar Bibi Yuan setelah melihat meja makan yang hanya terisi dua piring lauk dan hiasan bunga. Ia menepuk dahinya, "Aduh, salah saya, lupa ambil sumpit dan mangkuk!"
Mumpung Bibi Yuan ke dapur mengambil peralatan makan, Yan Zhuo dengan gesit menyambar satu ekor udang dan diam-diam mencicipinya. Semakin ia mengunyah, matanya semakin berbinar, terlihat betapa bahagianya ia.
Udang ini... benar-benar enak...
***
Surga Dunia, tempat hiburan terkenal di Kota Lan, menyediakan fasilitas untuk bersantai, hiburan, dan penginapan. Lantai bawahnya adalah bar bawah tanah yang buka sepanjang malam dan selalu ramai. Lantai satu berisi ruangan karaoke yang terpisah, sedangkan lantai dua merupakan tempat tenang untuk menikmati teh. Singkatnya, segala fasilitas hiburan tersedia di sini, menjadikan tempat ini surga bagi para konglomerat Kota Lan.
Lantai tiga Surga Dunia, hanya bisa dimasuki oleh orang-orang berkuasa dan kaya.
Di salah satu kamar VIP di lantai tiga, lima atau enam pria tengah berkumpul, mengobrol dalam kelompok kecil, minum-minum, dan satu orang sedang bernyanyi sambil memegang mikrofon. Hanya satu orang yang duduk diam di sudut ruangan, sesekali memeriksa waktu di ponselnya, tampak gelisah.
Orang itu tak lain adalah Mo Han Cheng, yang akhirnya bisa meluangkan waktu untuk bersantai.
Keningnya sedikit berkerut, seakan-akan segala hal di sekitarnya tidak ia hiraukan; pikirannya hanya tertuju pada rumah.
Entah anak itu sudah makan dengan baik atau belum, atau malah masih asyik bermain ponsel?
"Han Cheng, susah-susah kau mau keluar, kenapa malah duduk sendirian di sana? Wajahmu juga kelihatan gelisah begitu." Seorang pria membawa gelas anggur mendekati Mo Han Cheng sambil tersenyum nakal, "Jangan-jangan kau punya kekasih rahasia di rumah? Lagi rindu si cantik, ya?"
Mo Han Cheng langsung teringat pada sosok di rumahnya. Kalau saja bukan seorang pemuda, mungkin memang bisa disebut menyembunyikan kekasih di rumah.
Namun wajahnya tetap datar, Mo Han Cheng menatap dingin Ye Yiyang yang berani-beraninya menggoda dirinya. Begitu bertemu tatapan itu, Ye Yiyang langsung menarik diri dengan patuh.
"Han Cheng... anggap saja aku tidak pernah bicara apa-apa barusan..." Dalam hati ia membatin, setelah bertahun-tahun lulus, aura Han Cheng tetap saja begitu mengintimidasi, tinggi dan dingin...
Xiang Bolin menarik Ye Yiyang ke samping dan berbisik, "Berani-beraninya kau menggoda Han Cheng, mau cari mati, ya..."
Hari ini mereka semua memang sengaja berkumpul. Awalnya hanya iseng mengundang Mo Han Cheng, tak menyangka dia benar-benar datang, semuanya pun sempat dibuat terkejut bukan main.