Bab 72: Monster Kecil Itu Adalah "Penjahat"
Di sisi lain, setelah pulang ke rumah, yang ada di rumah hanyalah ibunya, Nyonya Lin.
"Ibu," panggil Tong Xin, langsung memeluk erat ibunya dengan manja. "Aku kangen sekali padamu!"
Rasa takut di dalam hatinya baru mereda setelah ia memeluk sang ibu.
Nyonya Lin tertawa, mengetuk pelan kepala putrinya, lalu berkata dengan nada geli, "Baru satu hari pergi, sudah kangen? Bukan seperti lama tidak bertemu."
Tong Xin menjulurkan lidah, tersenyum nakal, "Sehari tak bertemu rasanya seperti tiga tahun, Bu!"
Nyonya Lin makin geli, "Dasar manis mulut."
"Oh iya, di mana Ayah?" Tong Xin melirik sekeliling, tapi tak menemukan ayahnya.
"Ayahmu ada urusan mendadak, baru saja kembali ke kantor," jawab ibunya.
"Lembur lagi?" Tong Xin mengerutkan dahi, terlihat tidak senang.
"Mau bagaimana lagi, ayahmu kan polisi." Nyonya Lin mengelus rambut pendek putrinya yang sebahu. "Kamu harus belajar memahami ayah, mengerti?"
Tong Xin cemberut, "Iya, aku mengerti."
"Aku mau ke atas dulu, mau bersih-bersih. Ibu juga istirahatlah lebih awal."
"Baiklah."
——
Begitu Yan Zhuo mendekati apartemen, ia langsung merasakan ada aroma orang asing di dalam rumah. Dengan bingung, ia mendorong pintu dan langsung melihat sekelompok orang berseragam sedang mondar-mandir di apartemen. Ada pula yang membawa kamera, sibuk memotret.
Apa yang sedang mereka lakukan?
Yan Zhuo benar-benar bingung. Ia hanya keluar sebentar jalan-jalan, tapi apa yang sebenarnya terjadi saat ia pergi?
Terdengar suara gaduh, seseorang memperhatikannya. Melihat seorang remaja berdiri di depan pintu seolah menonton keramaian, mereka mengira Yan Zhuo adalah anak tetangga. Salah satu polisi dewasa yang tampak sangat serius segera menghampiri, bermaksud menyingkirkannya dari lokasi.
"Polisi sedang bertugas, anak kecil jangan di sini, cepat pulang!"
Biasanya, siapa pun akan gentar melihat polisi serius seperti itu, apalagi anak-anak. Tapi Yan Zhuo sama sekali tidak gentar.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Yan Zhuo, menatap polisi di depannya tanpa ekspresi. Rumah yang ia tinggali bersama Mo Mo, tiba-tiba dimasuki begitu banyak orang asing, membuat hatinya benar-benar tidak senang.
Ia ingin menghajar semua orang itu dan melempar mereka jauh-jauh.
Saat ia mengepalkan tangan, siap bertindak, tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenalnya.
Suara Bibi Yuan yang panik semakin mendekat, menerobos kerumunan polisi dan langsung menghampiri Yan Zhuo, menggenggam kedua tangannya erat-erat dengan cemas, "Tuan Muda Gu! Ke mana saja kamu?! Bibi hampir mati ketakutan! Apakah orang jahat itu menyakitimu? Kamu terluka di mana?"
Yan Zhuo hanya bisa melongo. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang jahat yang dimaksud?
Polisi di samping mereka, menyadari Yan Zhuo dikenal oleh Bibi Yuan, segera berbalik melapor pada kaptennya.
Kapten mereka adalah pria paruh baya, berumur lebih dari empat puluh tahun, dengan tubuh masih tegap dan wajah yang tegas, penuh jejak waktu. Tatapannya yang dalam terus mengamati retakan di dinding keramik, seolah dapat melihat segala sesuatu yang tersembunyi di baliknya.
Jari-jarinya mengikuti garis retak itu, di pikirannya terlintas berbagai kemungkinan penyebab kerusakan, tapi tak satu pun yang masuk akal.
Jelas, ini bukan ulah orang biasa.
Pandangan sang kapten akhirnya tertuju pada Yan Zhuo, entah apa yang sedang ia pikirkan.
——
"Bibi Yuan, orang jahat apa maksudmu?" Begitu mendengar kata "orang jahat", mata Yan Zhuo seperti menyimpan badai yang siap meledak. Berani-beraninya, saat ia keluar mencari Mo Mo, ada yang datang mengincar rumahnya!
Tak bisa dimaafkan! Kalau tertangkap, ia pasti akan memuntir kepala pelakunya!
Bibi Yuan dan Yan Zhuo duduk di sofa, lalu Bibi Yuan menceritakan secara rinci apa yang ia lihat saat pulang.
"…Rumah jadi seperti itu! Jelas-jelas habis dirampok! Lampu gantung di ruang tamu semua hancur! Kamu juga tidak tahu ke mana, jadi Bibi langsung lapor polisi, takutnya orang jahat itu menyakitimu!"
Mendengar penjelasan Bibi Yuan, Yan Zhuo mulai menduga sesuatu.
Semua kekacauan di ruang tamu… jangan-jangan perbuatannya sendiri?
Ia ingat saat itu sangat marah, tak bisa mengendalikan diri, lalu pergi keluar tanpa sempat mengunci pintu...
Astaga... salah pahamnya makin besar...