Bab 3: Keluarga Gu yang Dihantui
“Zhuo, pergilah dulu ke Dunia Manusia. Kakak akan segera menyusulmu. Bersikaplah baik dan lindungi dirimu baik-baik! Tunggu kakak menjemputmu!”
Zhuo melihat wajah cemas Kakak Yue yang berulang kali mengingatkannya. Ia menggerakkan bibir, mengeluarkan suara lirih nyaris tak terdengar, “Aku tidak mau pergi...”
Namun Yue tidak mendengarnya. Kalaupun ia dengar, ia tetap tidak akan setuju.
Beberapa prajurit roh memperhatikan ke arah mereka, salah satunya menunjuk dan berteriak, “Lihat ke sana! Iblis besar itu mau melarikan diri!”
Yue segera melepas cincin hitam pekat di jarinya, yang berisi segel untuk mengubah rupa Zhuo dan menyembunyikan auranya. Dengan tergesa-gesa, ia mengenakan cincin itu di jari Zhuo, lalu mendorong Zhuo ke dalam celah ruang dan berkata dengan tegas,
“Cepat pergi! Sekarang juga!”
Yue sendiri sudah tidak punya pilihan untuk lari. Kalau ia tidak menahan mereka, Zhuo pasti segera tertangkap.
Jika itu terjadi, semua usaha kerasnya selama ini akan sia-sia.
Raja Dunia Bawah yang melihat hal itu sangat murka hingga janggutnya bergetar, menunjuk Yue dan membentak, “Siapa sebenarnya kamu?! Berani-beraninya kau membebaskan iblis besar itu!”
Yue menahan rasa getir di tenggorokannya, dan di tangannya tiba-tiba muncul sebilah pedang panjang yang memancarkan aura hitam. Ia tersenyum sinis, “Hah, kalau mau bertarung, ayo cepat, untuk apa banyak bicara?”
Melihat pedang di tangan Yue, Raja Dunia Bawah terkejut bukan main.
“Ternyata kamu!”
Zhuo tiba-tiba didorong masuk ke dalam celah ruang. Kesadarannya yang memang sudah setengah menghilang kini semakin kacau. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi, hanya satu kalimat yang terngiang di benaknya: tunggu kakak menjemputmu.
—
“Tuan Mo, di depan itu rumah keluarga Gu. Katanya dua tahun ini rumah itu sering diganggu makhluk halus.”
Melihat vila di hadapan mereka yang tampak gelap dan menyeramkan, suasananya memang seperti rumah hantu.
“Bagaimana kalau... kita menginap di hotel dulu semalam? Tunggu sampai besok pagi, baru kita ke sana... Kalau-kalau nanti benar-benar melihat sesuatu...”
Pria yang duduk di kursi belakang mendengar ucapan asistennya di depan, alisnya langsung berkerut, “Jangan bicara seperti itu. Kau tahu aku tak pernah percaya pada hal-hal begitu.”
“Baik, Tuan Mo.” Justin menelan ludah, ketakutan, bahkan ogah turun dari mobil. “Tuan Mo... saya ini bukan orang yang tidak percaya hal gaib. Jadi, bolehkah saya tidak ikut masuk?”
Mo Han Cheng tahu Justin memang sangat takut pada urusan seperti ini, jadi ia tidak memaksanya. Sambil membawa ponsel, ia turun dari mobil.
“Tunggu saja di mobil.”
Mendengar itu, Justin langsung merasa bosnya adalah penyelamat hidupnya. “Terima kasih, Bos!”
Mo Han Cheng tidak menjawab lagi. Ia sudah melangkah pergi dengan kaki jenjangnya.
Keluarga Gu di Kota Mu sebenarnya bukan keluarga terpandang, tetapi cukup dikenal di kalangan orang kaya. Vila ini memiliki lokasi yang sangat baik, interiornya mewah, dan taman bunga yang selalu menebar wangi sepanjang tahun.
Karena alasan itu, vila ini dulu menjadi tempat yang sangat diidamkan banyak orang. Sampai dua tahun lalu, kepala keluarga Gu dan istrinya tewas dalam perjalanan dinas, dan anak lelaki mereka menjadi gila.
Semua pelayan keluarga Gu pergi, meninggalkan putra keluarga itu sendirian di vila. Ia tidak pernah keluar, tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun, hingga tak ada yang tahu apakah ia masih hidup atau sudah mati.
Beberapa orang yang penasaran mencoba mendekat, namun setiap kali mereka mendekati vila itu, selalu ada saja kejadian aneh dan suara-suara ganjil, hingga akhirnya vila itu dikenal sebagai rumah hantu.
Para tetangga mulai merasa sial dan takut, mereka yang bisa pindah, segera angkat kaki. Kawasan vila yang dulu damai dan harmonis mendadak menjadi sunyi dan sepi.
Alasan Mo Han Cheng datang ke tempat itu adalah karena permintaan seseorang untuk menjaga anak keluarga Gu yang kini disebut gila.
Selain itu, keluarga Gu pernah berjasa besar padanya di masa lalu, sehingga ia merasa tidak enak jika menolak.
Menjaga satu orang saja bukanlah perkara sulit baginya, jadi ia pun menerima permintaan itu.
Ia menempuh perjalanan jauh dari Kota Lan ke tempat ini, menghabiskan banyak waktu di jalan. Ia berangkat siang, dan baru tiba sekarang. Padahal di perusahaannya masih banyak urusan menantinya. Karena itu, sebagai seorang pekerja keras, Mo Han Cheng memilih datang ke rumah keluarga Gu pada malam hari.