Bab 60: Monster Kecil yang Kehilangan Nafsu Makan
Sejak keluar dari toko perhiasan, senyum di wajah Yan Zhuo tak juga luntur. Ia duduk di dalam mobil, menatap kalung di tangannya dengan cahaya matahari menembus permata ajaib yang berkilauan, di dalamnya tampak samar-samar asap hitam yang berputar, tapi di tangan Yan Zhuo, semuanya terasa jinak dan patuh.
Hadiah ini, pasti akan disukai oleh Mo Mo!
Bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti, Yan Zhuo sudah meloncat keluar dengan gembira, membuat sopirnya ketakutan hingga mandi keringat dingin.
Selama bertahun-tahun mengemudi, belum pernah ia bertemu penumpang yang bertingkah seperti Yan Zhuo—benar-benar bikin jantung mau copot. Kalau tidak punya mental sekuat baja, pasti tak ada yang berani jadi sopir Yan Zhuo.
Begitu membuka pintu rumah, senyum di wajah Yan Zhuo langsung pupus. Di rumah hanya ada aroma Bibi Yuan—tidak ada sedikit pun jejak Mo Han Cheng.
Mo Han Cheng belum pulang.
“Bibi Yuan, di mana Mo Mo?” Yan Zhuo berjalan menuju dapur, bertanya sambil melongokkan kepala di ambang pintu.
Bibi Yuan sedang menyiapkan makanan. Mendengar suara Yan Zhuo, ia menoleh dan tersenyum, “Tuan Muda hari ini sibuk di kantor, jadi makan siang tidak pulang. Ia suruh Tuan Gu makan lebih dulu, tidak usah menunggu.”
Harapan dan ketegangan di mata Yan Zhuo lenyap begitu saja. Jari-jarinya yang menggenggam liontin di saku semakin erat.
“Aku mengerti.”
Ia tak bertanya lagi, segera berbalik ke ruang tamu, mencuci tangan, lalu duduk untuk makan.
Baru beberapa suap, sumpitnya sudah diletakkan.
Benar-benar tak berselera, dada terasa sesak, makin makan matanya makin panas.
“Bibi Yuan, aku sudah selesai, silakan makan pelan-pelan.”
“Eh?!” Bibi Yuan keluar dari dapur, tak percaya, “Tuan Gu! Kamu baru makan berapa suap? Kok sudah kenyang?”
Makanan di meja hampir tak tersentuh, di mangkuk hanya ada sepotong daging, digigit sekali lalu dibiarkan.
Dulu, satu meja makanan lezat seperti ini bisa dihabiskan sendiri oleh Tuan Gu!
Hari ini menu juga biasa saja, kenapa baru sesendok sudah tak mau makan lagi?
“Ada masalah di sekolah hari ini?” Bibi Yuan agak khawatir. Setelah Yan Zhuo naik ke atas, ia segera menelepon Mo Han Cheng.
Seharian ini hati Mo Han Cheng kacau, pikirannya dipenuhi si kecil di rumah.
Bayangan si kecil yang manja, senyumnya dengan dua lesung pipi, saat tidur, saat merengek, saat makan... Semua itu terlintas di benaknya.
Tanpa disadari, selama liburan musim panas yang singkat ini, ia sudah menyimpan begitu banyak kenangan tentang si kecil.
Dulu pikirannya hanya soal pekerjaan, kini tiba-tiba ada satu orang yang mengisinya. Mo Han Cheng sendiri tak tahu harus merasa apa.
Bukan tak suka, malah ingin meninggalkan pekerjaan, pulang, mengelus kepalanya, memujinya.
Sambil memijat alis, tekadnya untuk menjaga jarak dengan si kecil kembali goyah.
Atau... pulang saja? Menelepon juga boleh, mendengar suaranya pun sudah cukup.
Begitu pikiran itu terlintas, ponsel di meja langsung berdering.
Mo Han Cheng mengira itu telepon dari Yan Zhuo, sudut bibirnya tak bisa menahan senyum, meski buru-buru ia kendalikan.
Ia merapikan dasi yang sebenarnya sudah rapi, lalu mengambil ponsel. Ternyata nomor dari apartemen.
Telepon tersambung, ia berusaha membuat suaranya terdengar tenang seperti biasa.
“Halo?”
Mendengar suara Mo Han Cheng, Bibi Yuan baru merasa lega. Ia langsung melaporkan keadaan Yan Zhuo hari ini tanpa ditambah atau dikurangi.
“Entah karena hari pertama sekolah jadi belum terbiasa, atau ada hal yang membuat hatinya tak senang, pokoknya Tuan Gu tadi siang hampir tak makan.”
Si Kecil tidak makan, itu urusan besar.
Alis Mo Han Cheng hampir bertaut jadi satu, hawa dingin di tubuhnya makin terasa, sampai-sampai suhu di kantor ikut menurun.