Bab Empat Belas: Shen Ran
Ambulans segera tiba di lokasi. Melihat keadaan di tempat kejadian, semua orang tak henti-hentinya merasa takjub atas keberuntungan dua orang di dalam mobil kecil itu. Mobil tersebut hanya tersangkut pada roda belakang; jika saja sedikit maju ke depan, pasti sudah terjatuh ke bawah.
Orang-orang bekerja sama membuka pintu mobil. Begitu kedua penumpang berhasil diselamatkan, mobil itu langsung terjatuh, menimbulkan jeritan kaget dari kerumunan.
“Astaga! Benar-benar nyaris celaka!”
“Kedua orang di dalam mobil ini benar-benar beruntung. Jika saja terlambat sedikit, pasti sudah kehilangan nyawa.”
Petugas medis tidak tahu bahwa mobil itu jatuh tepat pada saat jimat di badan mobil menghilang. Jika bukan karena jimat yang ditempelkan laki-laki itu sebelum pergi, saat ini Mo Han Cheng dan yang lainnya pasti sudah jatuh.
Laki-laki itu membawa ransel di punggung, sendirian menuju pegunungan yang lebat. Semakin jauh masuk ke dalam hutan, dedaunan yang menutupi tanah semakin tebal. Entah sudah berapa lama berjalan, akhirnya ia tiba di depan tebing batu. Namun langkahnya tak ragu sedikit pun, ia berjalan lurus menembus dinding batu itu.
Hal ajaib pun terjadi. Tubuhnya tidak terhalang oleh tebing batu, malah langsung menembus dan masuk ke dalamnya.
Di balik dinding batu itu, pandangan menjadi lapang. Sebuah tangga marmer panjang terbentang di depan, dan jika mendongak, terlihat bangunan kuno bernuansa klasik di atas sana, diterangi cahaya lampu yang temaram.
Saat ia melangkah, lampu di kedua sisi tangga menyala satu per satu. Dengan santai, laki-laki itu naik sampai ke puncak.
Para penjaga yang melihatnya naik segera menyapa dengan hormat, “Salam hormat, Tuan Muda.”
Laki-laki itu mengangguk dan berjalan melewati mereka.
Ketika kepala pelayan melihat Tuan Muda pulang, senyum merekah di wajahnya. “Tuan Muda, Anda sudah kembali. Kepala Keluarga sekarang sedang berada di ruang penyimpanan kitab.”
“Ya.” Begitu mendengar Kepala Keluarga ada di ruang penyimpanan kitab, ia tidak bereaksi apa-apa. Ia melemparkan labu kecil hitam ke kepala pelayan. “Siluman Bayangan sudah tertangkap, kalau tidak ada hal penting, jangan ganggu aku belajar.”
“Baik, Tuan Muda.”
Kepala pelayan menerima labu kecil itu dengan kedua tangan. Mendengar Tuan Muda ingin belajar, ia tidak berkata apa-apa lagi.
Lin Wen kembali ke kamarnya, meletakkan ransel di sofa, melepas topi, mengeluarkan ponsel, lalu berbaring santai di atas ranjang. Tak lama kemudian, suara efek gim terdengar…
Andai kepala pelayan tahu bahwa yang dimaksud belajar oleh Tuan Muda adalah bermain gim, entah ekspresi seperti apa yang akan ditunjukkannya...
Malam itu, Mo Han Cheng tidak pulang ke rumah.
Awalnya Yan Zhuo masih bisa mengalihkan perhatian dengan menonton televisi, bermain ponsel, dan makan-makan, tapi begitu malam tiba dan harus tidur, ia sama sekali tak bisa terlelap, pikirannya dipenuhi oleh Mo Han Cheng.
“Bibi Yuan, kapan Mo Mo pulang?” Yan Zhuo meringkuk di sofa, bosan sambil memainkan telinga boneka kelinci.
Bibi Yuan membawa segelas susu dan menyodorkannya ke Yan Zhuo, mencoba membujuk, “Tuan Muda, kemungkinan Besar Tuan sedang sibuk dengan urusan pekerjaan, jadi terlambat pulang. Bagaimana kalau Anda tidur dulu, jangan menunggu. Tak lama lagi, Tuan pasti pulang.”
“Aku mau menunggunya.” Suara Yan Zhuo terdengar lesu, bahkan segelas susu yang biasa diminumnya setiap hari pun tak ingin ia sentuh.
Di rumah sakit, Mo Han Cheng dan sopir dibawa masuk dalam keadaan pingsan. Sopir mengalami beberapa patah tulang, tapi syukurlah nyawanya selamat. Dalam kecelakaan parah itu, bagian belakang mobil sampai penyok parah, sopir juga cedera berat. Namun Mo Han Cheng yang duduk di kursi belakang hanya mengalami luka lecet.
Ini benar-benar sebuah keajaiban. Hanya bisa dibilang, keberuntungan Mo Han Cheng memang luar biasa.
Mo Han Cheng yang hanya lecet itu segera sadar, kepalanya dibalut perban putih bersih, luka sudah diobati. Luka di lengannya memang lebih parah, sudah diolesi obat tapi masih terasa perih, namun rasa sakit seperti itu tidak ada artinya bagi Mo Han Cheng.
Hal pertama yang ia lakukan saat sadar adalah mencari ponsel, namun ternyata tidak ada di tubuhnya. Keningnya berkerut dalam, ia mencabut jarum infus di punggung tangan, menyingkap selimut, dan bangkit dari ranjang.
Shen Ran masuk tepat saat Mo Han Cheng hendak pergi. Ia mengangkat alis dan berkata, “Wah, Tuan Muda Mo yang beruntung dan panjang umur, mau kemana? Sudah izin sama dokter utamamu belum? Aku izinkan kamu pergi tidak?”
Mendengar suara yang dikenalnya, Mo Han Cheng menoleh dan melihat wajah Shen Ran yang selalu tersenyum itu. Wajahnya putih bersih dan selalu tersenyum, membuatnya semakin terlihat polos. Namun, orang seperti Shen Ran bukanlah orang yang mudah dihadapi.