Bab 37: Begitulah Cara Bermain Kubus Rubik
“Momo, sebenarnya kita mau ke mana sih?”
Yan Zhuo yang duduk di sebelah perlahan-lahan menyandar ke tubuh Mo Han Cheng, memeluk lengan laki-laki itu dengan bosan, bibirnya cemberut, wajahnya penuh ketidakpuasan.
Duduk di dalam mobil begini sangat membosankan, Momo bahkan tidak membiarkannya bermain gim.
“Tunggu sebentar lagi, kita akan segera sampai.” Mo Han Cheng mengangkat tangan mengelus kepala Yan Zhuo, “Sedikit lagi saja, sabar ya.”
Yan Zhuo menatap pemandangan di luar jendela yang melaju mundur dengan cepat, lalu mengeluh, “Mobil ini lambat sekali.”
Andai saja bisa terbang seperti Yin Yin, pasti sudah sampai, kenapa harus naik mobil...
Tentu saja kalimat “terbang saja” tidak keluar dari mulut Yan Zhuo. Setelah mempelajari begitu banyak pengetahuan zaman sekarang, Yan Zhuo tahu, kalau ia berani mengucapkan kata-kata seperti itu, pasti akan dianggap orang gila.
Bukan karena ia tidak bisa memanggil Yin, melainkan sudah paham, tidak semua orang bisa terbang seperti dirinya. Ia hanyalah seorang yang berbeda dari yang lain.
Selain itu, di zaman sekarang ada tempat bernama institusi penelitian, khusus meneliti orang-orang aneh sepertinya.
Demi menjaga keselamatan diri, Yan Zhuo merasa lebih baik meniru orang-orang di sekitarnya. Kalau pun ingin terbang, harus diam-diam saja.
“Pak Asisten Zhen, bisakah kau ngebut sedikit lagi?” Yan Zhuo mulai mendesak Justin yang mengemudikan mobil.
Asisten Zhen Justin: “........”
Sejak Yan Zhuo tahu bahwa dirinya memang benar asisten Mo Han Cheng, hanya saja bermarga Jia, ia pun langsung memanggilnya Asisten Zhen...
Justin tersenyum paksa, “Tuan Muda Gu, kalau lebih cepat lagi nanti melanggar batas kecepatan.”
Yan Zhuo mengerutkan kening, “Lambat begini saja sudah hampir melanggar batas kecepatan?”
Justin: “.......” Sepanjang perjalanan, kecepatannya sudah di batas maksimum, masih dibilang lambat???
Sedikit lebih cepat lagi, pasti sudah dikejar mobil polisi.
“Bosan ya?” Mo Han Cheng yang duduk di sebelah tiba-tiba bertanya.
Yan Zhuo mengangguk pelan.
“Tunggu sebentar.” Ujar Mo Han Cheng, lalu meraba-raba kotak di samping pintu mobil, mengeluarkan sebuah kubus kecil, tiap sisinya terbagi menjadi banyak kotak kecil berwarna-warni.
Perhatian Yan Zhuo langsung terpikat, ia belum pernah melihat kubus ajaib itu sebelumnya.
“Apa ini?” katanya riang, memutar-mutarnya kubus kecil itu, melihat dari kanan dan kiri.
Mo Han Cheng hanya bisa pasrah. Anak kecil ini, mudah sekali disenangkan, hanya dengan sebuah kubus saja sudah puas.
Mo Han Cheng mendekat, menjelaskan, “Ini namanya kubus ajaib, caranya adalah dengan menyusun warna di setiap sisi menjadi sama semua, lalu...”
Belum selesai ia bicara, kubus di tangan Yan Zhuo sudah dibongkar menjadi bagian-bagian kecilnya, benar-benar dibongkar sungguhan.
Mo Han Cheng: “.......”
Kubus: “.......”
Yan Zhuo membongkar kotak-kotak kecil itu, lalu mulai merakitnya kembali, dan sekarang setiap sisi warnanya sudah sama semua.
“Momo! Aku sudah selesai! Benar begini cara mainnya?!” Yan Zhuo dengan wajah penuh harap, mengulurkan kubus yang baru saja ia bongkar-pasang ke depan Mo Han Cheng.
Mo Han Cheng melihat ekspresi Yan Zhuo, tak tega mematahkan semangatnya, akhirnya mengangguk sambil menahan tawa, “Benar, memang begitu caranya, monster kecil kita memang pintar.”
Yan Zhuo langsung tersenyum lebar, “Hehehe.” Dipuji Momo, rasanya sangat bahagia!
Justin yang duduk di kursi sopir depan: “.......” Aku tidak melihat apa-apa... tidak mendengar apa-apa...
Anak kecil yang baru saja dipuji itu, dengan riang membongkar dan memasang kubus di tangannya, semakin lama semakin cepat dan semakin mahir.
Mo Han Cheng yang duduk di samping melihat Yan Zhuo bermain tanpa bosan-bosannya, hanya bisa tersenyum pasrah, hmm... yang penting monster kecil ini bahagia.
Justin: “.......”
Waktu pun berlalu tanpa terasa saat Yan Zhuo sibuk membongkar dan merakit kembali kubus ajaib itu, entah sudah berapa kali ia menyusunnya ulang, akhirnya mobil pun berhenti.
Di depan gerbang sekolah terbentang jalan raya yang lebar, di kedua sisinya berjajar pohon-pohon kenari, tinggi menjulang hingga menutupi sebagian besar langit di atas.
Sekarang sudah masuk musim awal perkuliahan di bulan September, musim gugur pun diam-diam menghampiri, suhu mulai mendingin, daun kenari hijau mulai menguning perlahan, walau belum terlalu terlihat jelas, tapi tak lama lagi, jalan raya di depan gerbang sekolah ini akan berubah jadi tempat yang sangat indah.
Mobil berhenti di pinggir jalan, Mo Han Cheng menoleh ke arah anak laki-laki di sampingnya yang masih asyik membongkar kubus, dengan nada penuh pasrah berkata, “Monster kecil, kita sudah sampai di sekolah.”
Hanya dengan sebuah kubus kecil, bagaimana mungkin monster kecil ini bisa betah bermain sepanjang jalan?