Bab 35: Bencana Besar Lin Wen Akan Tiba

Panduan Memelihara Raja Iblis Awan Berirama 1465kata 2026-03-05 01:20:59

Paviliun Penyimpanan adalah gedung penyimpanan buku terbesar milik Keluarga Lin, tempat ini menyimpan banyak kitab rahasia tentang teknik menggambar jimat dan simbol kultivasi. Kebanyakan merupakan harta yang sangat langka dan sulit ditemukan di dunia kultivasi masa kini, hanya kepala keluarga Lin serta para pewaris garis utama saja yang berhak masuk ke dalamnya.

Namun, kepala keluarga juga akan membagikan sumber daya di dalam paviliun berdasarkan bakat dan tingkat kultivasi para murid di dalam keluarga. Jika ada keturunan, baik dari garis samping maupun utama, yang berbakat dan memiliki kekuatan tinggi, mereka tetap berkesempatan memperoleh kitab-kitab rahasia terbaik. Inilah salah satu alasan utama mengapa kedudukan Keluarga Lin di dunia kultivasi modern tak pernah surut.

Tak lama kemudian, seorang pria berwajah bersih dan tampan membuka pintu besar Paviliun Penyimpanan dan melangkah masuk. Pria itu adalah Lin Wen.

“Ayah.” Lin Wen melihat seorang pria paruh baya berpakaian jubah Tao, lalu menyapa dengan hormat.

Lin Tian mengangguk, memberi isyarat agar Lin Wen duduk.

“Ayah, ada urusan apa sehingga memanggilku kemari?” Di hadapan Lin Tian, Lin Wen selalu bersikap hormat; bahkan saat duduk, punggungnya tetap tegak lurus.

Ayah di depannya ini selalu terkenal tegas. Sejak kecil, Lin Wen diajari untuk menahan diri dan menjaga sopan santun, menempatkan kultivasi sebagai prioritas utama. Selama bertahun-tahun, Lin Wen selalu menunjukkan perilaku terbaik di depan Lin Tian.

Lin Tian tak bertele-tele, “Kali ini aku memang memanggilmu karena ada urusan yang harus kau selesaikan.”

“Ayah, silakan perintahkan.”

“Aku butuh kau sendiri yang pergi ke SMA Shenglan. Paman Zhang-mu sedang menghadapi masalah, kau harus membantunya.”

Lin Wen pernah menghabiskan tiga tahun masa mudanya di SMA Shenglan; sekolah itu adalah almamaternya. Paman Zhang adalah kepala sekolah di sana sekaligus teman ayahnya. Baik dari segi perasaan maupun kewajiban, memang sudah sepantasnya ia turun tangan sendiri.

“Aku mengerti, Ayah. Aku akan segera berangkat.”

“Tunggu sebentar.” Lin Tian menahan Lin Wen yang hendak pergi, lalu mengingatkan dengan khawatir, “Hati-hati dalam segala hal. Masalah kali ini tidak sepele. Simbol pelindung yang dulu kuberikan pada Paman Zhang-mu sudah hancur. Padahal itu adalah simbol yang kau gambar sendiri.”

“Aku mengerti, Ayah.”

Lin Tian memandang punggung Lin Wen yang perlahan menjauh. Ia tahu kekuatan anaknya tidak rendah, namun hatinya tetap saja tak tenang. Ia merasa seolah-olah akan terjadi sesuatu yang besar.

“Ah—” Lin Tian menghela napas, bangkit berdiri, lalu menengadah memandangi lukisan gulungan di dinding Paviliun Penyimpanan, seraya bergumam, “Kalau itu memang takdir, mustahil dihindari. Ujian besar Wen-er akan segera tiba. Entah bisa mengubah malapetaka menjadi berkah atau tidak...”

Semoga semuanya berjalan lancar.

Ujian yang harus dihadapi Lin Wen, sekalipun Lin Tian tahu, ia tetap tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menunggu.

Tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi di masa depan.

Hari pembukaan sekolah pun tiba.

Sejak pagi buta, Justin sudah menerima panggilan dari bos besar. Ia lalu mengemudi menuju rumah Mo Hancheng, lalu menekan bel pintu. Yang membukakan pintu adalah Bibi Yuan.

Bibi Yuan mengenal Justin. Dua bulan lalu, ia bahkan pernah mengantarkan beberapa kebutuhan rumah tangga ke rumah.

“Ah, Asisten Jia sudah datang! Silakan masuk!”

“…”

Justin hanya bisa tersenyum pahit, bisakah ia tak dipanggil Asisten Jia lagi?

Sejak Yan Zhuo bertanya padanya di mana asisten khusus yang sebenarnya, Justin semakin tak sanggup menghadapi sebutan itu.

Celakanya, setiap kali Bibi Yuan mengatakan itu, wajahnya begitu ramah dan sumringah, membuat Justin tak tega membalas atau membantah.

“Tuan Muda dan Tuan Gu ada di kamar. Perlu saya panggilkan mereka?”

Justin menggeleng, “Tidak perlu, Bibi Yuan. Silakan lanjutkan pekerjaan. Saya tunggu saja di sini sampai Tuan Mo dan yang lain turun.”

“Baiklah.” Sambil berkata begitu, Bibi Yuan menuangkan segelas air untuk Justin sebelum kembali membereskan dapur.

Dua orang yang baru saja selesai sarapan kini sedang berganti pakaian di ruang ganti.

Yan Zhuo terus bingung memilih baju apa yang akan dikenakan ke sekolah. Bagaimanapun juga, ia ingin tampil menarik saat bertemu teman-teman baru.

Mo Hancheng tampak tenang di wajah, namun dari gerak-geriknya jelas ia pun sedang galau.

Dulu, ia biasa asal mengambil setelan jas dan langsung memakainya. Tapi hari ini, di depan cermin besar, ia justru ragu memilih jas mana yang pantas.

Ini pertama kalinya ia mengantar anak kecil di rumah ke sekolah. Ia ingin memastikan penampilannya tidak mempermalukan “monster kecil” miliknya sendiri.

Keduanya sama-sama dihantui kekhawatiran masing-masing.

Akhirnya, karena waktu hampir habis, mereka pun turun ke bawah.