Bab 68: Makhluk Kecil yang Jahat
Gang di lorong ini memang sangat terpencil, sehingga ketika malam tiba, pejalan kaki hampir selalu memilih jalan memutar. Kini, tiba-tiba muncul seorang remaja lelaki, membuat para preman yang sedang berbuat onar langsung mengalihkan seluruh perhatian mereka padanya.
Gadis yang semula menjadi korban pun ikut terperangah oleh kemunculan pemuda itu. Awalnya ia mengira sang remaja datang sebagai pahlawan kesiangan yang hendak membela kebenaran.
Siapa sangka, pemuda itu justru berniat berjalan melewati mereka begitu saja. Ia bahkan tampak terganggu oleh para preman yang menghalangi jalannya, lalu berkata dengan nada sebal, “Kalian menghalangi jalan.”
Mendengar ucapan itu, salah satu preman yang berdiri di depan refleks hendak menyingkir. Namun, temannya segera membisikkan sesuatu ke telinga pemimpin mereka, “Kakak, jangan biarkan dia pergi! Bagaimana kalau dia lapor polisi?”
Suara mereka sangat pelan, hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Akan tetapi, meski berdiri agak jauh, pemuda itu mendengar dengan jelas. Ia menengadah menatap si pembisik, lalu berkata, “Aku tidak akan melapor.”
Itu memang kata-kata yang jujur darinya.
Namun, siapa yang mau percaya? Jelas sekali, para preman itu sama sekali tidak mempercayainya.
“Kamu pikir kami bakal percaya begitu saja?!” seru salah satu dari mereka.
Tiga atau empat pria langsung mengitarinya, mengepung pemuda itu di tengah. Bau asap rokok yang menyengat di udara kini terasa semakin memuakkan.
Pemuda itu mengernyitkan alisnya, tampak sangat terganggu oleh aroma tak sedap tersebut. Orang-orang ini benar-benar menyebalkan, bolehkah mereka dihabisi saja?
Begitu pikiran itu terlintas, dahinya terasa seperti terbakar, sakitnya membara. Sebuah simbol merah samar-samar muncul di dahinya, menahan hasrat membunuh yang mulai menyala di dalam dirinya. Mata yang semula membara perlahan kembali teduh.
Semua perubahan itu terjadi dalam sekejap mata, tak seorang pun di sana menyadarinya.
“Anak muda, salahkan saja nasibmu yang sial malam ini. Bukankah kamu bisa lewat jalan lain? Kenapa harus masuk ke wilayah kami?” Salah satu preman berkata sambil menyipitkan mata, mendekat dengan senyum licik. Dialah yang sebelumnya paling berani berbuat kurang ajar pada sang gadis.
“Benar! Sudah berani datang ke sini, dan bahkan melihat hal yang seharusnya tak boleh kamu lihat, jangan harap bisa pergi!” sahut yang lain.
Saat mereka mendekat, dalam temaram lampu lorong, akhirnya mereka bisa melihat jelas wajah pemuda itu. Seketika para preman tertegun.
Remaja itu jelas-jelas tampak polos, jenis anak baik-baik yang tak semestinya muncul di kawasan seperti ini pada larut malam.
Mereka mengira orang yang suka ikut campur urusan orang lain itu pasti berbeda. Ternyata yang datang adalah seorang remaja dengan wajah menawan, jelas bukan penduduk sekitar.
Di wilayah ini, kebanyakan memang orang-orang yang keras dan suka membuat onar, terutama malam hari, segala hal busuk sering terjadi dalam gelap. Pemuda seperti itu sungguh tak pantas berada di sini.
Tapi, siapa peduli dia orang mana. Sudah berani ikut campur, hajar saja dulu!
“Ngapain banyak omong? Hajar saja dia!”
Sebenarnya, pemuda itu sedang dalam suasana hati yang buruk. Sekarang, kebetulan ada orang yang datang mencari gara-gara, jadi pas sekali untuk melampiaskan emosi yang tertahan.
Dengan kemampuan pemuda itu, bisa ditebak betapa parah nasib para preman itu. Namun, ia justru mempermainkan mereka seperti sedang menghibur diri.
Tak satu pun pukulan para preman itu mengenai dirinya. Semua pukulan justru mendarat pada rekan mereka sendiri.
Pemuda itu melompat ringan, lalu berjongkok di atas tembok tinggi yang membatasi lorong. Ia menunduk menyaksikan kekacauan di bawah sana, tersenyum jahil hingga lesung pipitnya terlihat, benar-benar seperti iblis kecil yang sedang mengerjai orang, hanya kurang dua tanduk di atas kepalanya.
Situasi di lorong makin kacau, dan sang gadis sudah sejak tadi memanfaatkan keributan itu untuk melarikan diri. Ia jelas bukan gadis bodoh; jika bukan sekarang, kapan lagi dia akan lari?
Setelah lelah menonton kericuhan, pemuda itu bangkit berdiri di atas tembok yang sempit, lalu melangkah ringan menjauh dari sana.
Seolah setelah mengerjai sekelompok preman dan membuat mereka saling serang, suasana hatinya pun membaik. Punggungnya yang ramping, tampak telah kehilangan aura muram dan gelisah dari tadi.
Tak lama setelah ia pergi, tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan seorang pria.
“Aduh! Sakit sekali! Berhenti, kalian! Berhenti!” Pemimpin para preman akhirnya sadar ada yang tidak beres, setelah dipukuli oleh anak buahnya sendiri di tanah.