Bab 69: Tidak Akan Pernah Dimaafkan
Mendengar suara yang begitu dikenalnya, para anak buah yang salah pukul itu langsung berhenti dan dengan tergesa-gesa membantu sang pemimpin yang tergeletak di tanah untuk berdiri.
“Kakak! Apa kau baik-baik saja?!”
“Menurutmu, aku ini baik-baik saja?!” Hanya dalam beberapa menit saja, sang pemimpin yang disebut-sebut itu sudah dipukuli oleh anak buahnya sendiri hingga wajahnya lebam dan bengkak.
“Cari anak itu! Aku tidak akan membiarkannya lolos!” Zhang Xiaowu menutup pipinya yang memar, matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa.
Baru saja ia berkata dengan garang, tiba-tiba ia menerima telepon dan langsung berubah ciut.
“Halo.” Zhang Xiaowu memegang ponselnya, wajahnya tersenyum ramah penuh basa-basi, mencoba menyenangkan hati, “Lili, kamu menelpon, apa kamu kangen aku?”
Suara perempuan di seberang terdengar sangat tidak suka: “Jangan banyak omong, Zhang Xiaowu, bagaimana urusan yang aku minta kamu kerjakan?”
Zhang Xiaowu menjawab, “Hari ini kita hampir berhasil.”
“Hampir?!” Suara perempuan itu meninggi, sarat dengan kemarahan yang jelas, “Urusan sepele seperti ini saja kau tidak bisa selesaikan?! Aku hanya memintamu memotret beberapa gambar tak pantas dirinya! Apa susahnya?!”
“Lili, jangan marah, jangan marah, aku pasti akan menyelesaikan ini untukmu, beri aku dua hari lagi.”
“Baik, aku kasih kamu dua hari lagi. Kalau dua hari lagi belum selesai, setelah itu jangan pernah hubungi aku lagi.”
“Akan aku selesaikan! Pasti aku selesaikan!”
Setelah menutup telepon, Zhang Xiaowu menendang salah satu orang di sampingnya dengan keras sambil memaki, “Dasar tidak berguna! Gara-gara kamu! Kalau langsung difoto, mana mungkin ada masalah begini?!”
“Iya, iya, kakak, aku tahu salahku.” Anak buah yang ditendang itu langsung memohon ampun.
Zhang Xiaowu menggaruk rambutnya yang dicat hijau dengan kesal, “Jangan cari anak brengsek itu dulu, selesaikan dulu urusan yang diminta kakak ipar kalian.”
“Baik, bos.”
Seseorang tampak bingung, kenapa harus menargetkan siswi SMA itu, dan tak kuasa bertanya, “Bos, kenapa kakak ipar mau foto tak pantas gadis itu?”
Zhang Xiaowu menjawab dengan malas, “Mana aku tahu?! Itu permintaan kakak iparmu, kamu jalankan saja, ngapain banyak tanya?!”
“Aku mengerti, kakak.”
Sementara itu, seorang gadis berlari tergesa-gesa ke pinggir jalan yang ramai, memberhentikan sebuah taksi. Hatinya yang tadi dipenuhi kecemasan, perlahan mulai tenang.
“Pak, ke... Vila Linfeng.”
“Baik.”
Taksi bergerak dan menyatu dalam arus kendaraan.
Setelah suasana hatinya lebih stabil, Tong Xin baru mengambil ponsel untuk menelepon keluarganya.
“Halo, Ma.”
Suara lembut seorang ibu terdengar di seberang, menanyakan dengan penuh kasih sayang, “Pelajaran pianomu sudah selesai? Mau Ibu suruh Ayah menjemputmu?”
Mendengar suara lembut ibunya, Tong Xin hampir tak mampu menahan air mata. Ia menahan rasa takut dan perasaan tertekan dalam hatinya, menggeleng pelan—namun sadar sang ibu tak bisa melihat, ia pun berkata, “Tidak usah, Ma, aku sudah di perjalanan pulang. Jangan khawatir, kalian istirahat saja dulu.”
“Kamu hati-hati di jalan, aku dan ayahmu tunggu kamu pulang di rumah.”
Setelah menutup telepon, Tong Xin baru menahan isak di tenggorokannya lalu menangis pelan.
Ia seorang gadis yang sejak kecil selalu terlindungi, kapan pernah mengalami hal seperti ini?
Andai saja pemuda itu tidak muncul tiba-tiba, hari ini ia pasti sudah... sudah menjadi korban mereka...
Hanya memikirkannya saja membuat tubuhnya gemetar ketakutan.
Ia anak yang selalu patuh dan tidak pernah pergi ke tempat seperti itu. Lalu kenapa ia bisa ke sana?
Oh iya, Lili. Lili yang bilang dia mabuk dan tidak bisa pulang sendirian, menyuruhnya menjemput.
Ternyata, Lili tidak ia temui, justru ia bertemu sekelompok preman.
Mengingat Lili, Tong Xin buru-buru meneleponnya, namun berkali-kali tidak diangkat.
Bagaimana ini? Apakah Lili mengalami sesuatu?