Bab Delapan Puluh Enam Kemenangan Gemilang
Setelah mengalahkan orang terakhir dari kelompok Gagak, Wang Meng berlari mendekat dengan penuh kemenangan dan berkata padaku, "Bos, semuanya sudah beres, menurutmu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"
Semua orang menoleh padaku menunggu keputusan.
"Kenapa kalian menatapku begitu? Wajahku kan nggak ditumbuhi jerawat juga!"
Aku mengusap wajahku, "Ayo, kita pergi!"
Setelah mengatasi urusan dengan Gagak, aku langsung merasa lega, karena sekarang kota kecil ini sepenuhnya berada di bawah kendali kami.
Kulayangkan pandangan pada bajuku, kemeja yang kupakai barusan sudah koyak ditarik ulah brengsek Gagak itu. Sial, lagi-lagi harus beli kemeja baru.
"Bos, lain kali kalau berkelahi jangan pakai kemeja putih, deh. Cepat banget belepotan darah."
Aku mengangguk, sangat setuju dengan saran itu.
Saran yang masuk akal, mengingat kebiasaan pekerjaan kami, kelak aku akan membelikan satu baju hitam untuk setiap saudara. Baju hitam paling tahan kotor.
"Wang Meng, keluarkan ponselmu," kataku.
Wang Meng menatapku waspada seperti menghadapi pencuri, "Ini baru beli, lho, merek buah mahal, tujuh-delapan juta."
"Disuruh keluarin ya keluarin aja, nggak usah banyak omong."
Aku mengangkat tangan, mengancam hendak memukulnya.
"Baiklah, baiklah, serem banget sih," Wang Meng cemberut, pura-pura enggan mengeluarkan ponsel barunya dari saku.
Aku menekan tiga digit nomor di atasnya, lalu menempelkan ponsel itu ke wajah Wang Meng.
Begitu Wang Meng melihat tiga digit yang kutekan, rahangnya langsung melorot.
"Tahu kan harus ngomong apa?" Aku menaikkan alis, menatap Wang Meng.
Dengan lesu Wang Meng menjawab, "Halo, polisi? Tadi di gang sini ada perkelahian, hmm, sepertinya kelompok kriminal sedang tawuran, alamatnya ya… bentar, aku lihat dulu… alamatnya di..."
Begitu Wang Meng menyebutkan alamat, ia buru-buru memutuskan telepon. Ia jelas tak ingin banyak urusan dengan polisi.
Polisi bergerak sangat cepat.
Belum sepuluh menit kami berbalik meninggalkan lokasi, suara sirene sudah meraung-raung dari sana.
Dari kejauhan kami mengamati di tempat lain. Tak lama kemudian, empat-lima mobil polisi sudah mengepung kawasan itu. Polisi bersenjata lengkap mengelilingi Gagak dan anak buahnya dengan gagah, sementara ambulans juga datang membawa mereka yang luka parah.
Melihat para pengikut Gagak ditangkap polisi dengan wajah lesu, salah satu dari mereka yang bertubuh kurus bahkan meludah.
Seorang polisi langsung menamparnya, "Kurang ajar, di depan polisi masih berani sok jago, benar-benar tak tahu aturan!"
"Plak!" Wajah si kurus langsung membengkak.
Yang lain makin tak berani melawan, di depan polisi langsung ciut seperti anjing mati, tak berani bicara sepatah kata pun.
"Lepaskan semua senjata kalian. Kamu, kamu, berdiri di dekat tembok, biar aku periksa, bawa senjata atau tidak!"
"Pak Polisi, kami ini korban, lihat sendiri keadaan kami, kenapa malah kami yang ditangkap? Bukannya tugas polisi melindungi masyarakat? Kalau mau tangkap, tangkap saja yang menyerang kami, mereka belum jauh, susul aja lewat jalan ini, pasti ketemu!" salah satu berteriak.
Seorang polisi berpakaian komandan maju mendekat, menendang tubuhnya, "Heh, kami menerima telepon dari warga yang taat hukum, katanya di sini ada kelompok kriminal bersenjata tawuran, mana ada orang lain? Lihat muka kalian, galak semua, jelas kalian bermasalah sendiri, masih mau cari kambing hitam segala, pikir aku bodoh?"
Polisi itu menunjuk Gagak yang tergeletak sekarat di tanah, "Kalian sudah nebas dia sampai begini, ya! Lihat, pisaunya masih di tanganmu, masih mau mengelak?"
Orang yang berteriak itu melirik ke samping, benar saja, ia tak bisa mengelak lagi.
Liu Fengxue menatapku tak percaya, "Bos, kenapa kamu lapor polisi?"
Yang lainnya juga bingung, semuanya menatapku ingin tahu jawabannya.
Bagi mereka, yang kulakukan benar-benar aneh. Sejak dulu, urusan antar kelompok kriminal selalu diselesaikan sendiri, tak pernah melibatkan polisi.
Orang bilang, masyarakat tak melapor, pejabat tak mengusut. Banyak urusan kalau bisa dibereskan sendiri di balik pintu, lebih baik daripada duduk di kantor polisi.
Di dunia bawah, lebih baik mati terhormat daripada hidup dihina.
Hong Jie tersenyum di sampingku. Aku menatap semua orang, melihat mereka masih heran, bahkan Liu Fengxue tampak benar-benar tak mengerti, lalu aku mulai menjelaskan, "Tentu saja ada alasannya. Aku dan polisi saling memanfaatkan."
"Sekarang, kekuatan kriminal di mana-mana sudah saling berakar dan rumit, masyarakat jadi tak aman. Ini jelas bukan yang diinginkan polisi. Mereka ingin situasi damai, meski hanya di permukaan. Tetapi kekuatan kriminal terlalu banyak. Jika setiap hari ada bentrokan, polisi juga akan kerepotan. Bekerja sama dengan polisi adalah jalan pintas terbaik. Polisi ingin memakai tanganku untuk mengendalikan dunia kriminal, sedangkan Gagak, karena terlalu sombong, sudah lama diincar, aku hanya memberi mereka alasan untuk bertindak. Salah Gagak sendiri yang tak tahu diri."
"Polisi akan mengurus bagian mereka, kita membantu mereka menyingkirkan Gagak, tentu mereka tak akan cari masalah denganku. Mereka justru berterima kasih. Selama kita tak bikin ribut di wilayah mereka, mereka juga akan membiarkan. Bayangkan, kalau kamu polisi, lebih suka hadapi kelompok kriminal yang setiap hari bikin onar, atau kerja sama dengan kelompok yang patuh dan bisa diajak kompromi? Kerja sama dengan kita adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Kita pun baru menginjakkan kaki di kota ini, tak berani macam-macam. Sebaliknya, kita juga patuh, mereka berharap bisa mengendalikan kita agar dunia kriminal lebih stabil."
"Aku minta polisi yang bereskan Gagak, juga supaya mencegah kelompok Gagak yang lain membalas. Kalau memang ada kekuatan lain, kita pasti kerepotan. Di sinilah manfaat polisi terlihat."
Setelah mendengar analisaku, Wang Meng dan yang lain menatapku dengan lebih kagum, "Bos, bagaimana kamu bisa kepikiran ide secerdik itu, benar-benar sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Gagak disingkirkan, membereskan masalah juga polisi yang urus, polisi tahan Gagak, kelompok lain pun mau membela juga tak berani terang-terangan. Strategimu sungguh jitu, jauh lebih matang dari yang kami bayangkan. Pantas saja kamu jadi pemimpin."
Apa yang mereka tidak tahu, aku bisa bekerja sama dengan polisi juga berkat saran seseorang. Aku melirik Hong Jie yang sejak tadi tersenyum lembut di sampingku, namun sama sekali tak bicara sepatah kata pun.
Dulu, saat Hong Jie memberi ide ini, aku juga kaget. Tapi setelah ia menjelaskan untung ruginya, aku langsung memutuskan mempercayainya.
Tapi Hong Jie membiarkanku menjelaskan pada semua orang, ia tak ikut campur, bahkan tak sedikit pun ingin dipuji. Ia selalu menjadi wanita di belakangku.
Seperti kata pepatah, di balik pria sukses pasti ada wanita hebat. Wanita yang mendukung kesuksesanku adalah Hong Jie. Ia selalu berdiri di belakangku, tanpa ragu menolong saat aku dalam bahaya, dan selalu memberi saran saat aku menghadapi kesulitan.
Sejak pandangan pertama, aku tahu aku tak akan pernah bisa lepas darinya.
Aku menatap Hong Jie, ia tahu apa yang kupikirkan. Senyumnya tipis seindah bunga malam, nyaris membuatku terpana.
Pelan aku bergumam, "Terima kasih."
Hong Jie berjalan mendekat dengan penuh kelembutan. Di matanya hanya ada rasa haru, tanpa rasa keberatan. Ia menggenggam lenganku, jari kecilnya mengelus tanganku, bersandar di bahuku, dan berkata lembut, "Aku hanya ingin kamu baik-baik saja. Selama kamu baik, apapun yang kulakukan tak ada artinya."
"Kali ini Gagak tumbang, daerah kekuasaan kita bertambah sepertiga lagi, benar-benar kabar menggembirakan."
Hong Jie berkata begitu, lalu menyandarkan kepala di dadaku, menggesekkan pipinya pelan ke dada, membuatku kembali terhanyut.
"Benar juga, kali ini kita benar-benar bisa meluapkan dendam," Xu Qiang berkata, ia tak menyadari kedekatan antara aku dan Hong Jie, langsung saja berkata, "Coba lihat, wilayah Gagak itu kebanyakan tempat hiburan, bos, langkah selanjutnya terserah kamu, beri kami petunjuk."
Aku mengelus dahi, "Xu Qiang, kupikir kamu sudah cukup dewasa, urusan seperti ini seharusnya bisa kamu tangani sendiri."
Xu Qiang tertegun, "Bos, kalau soal berkelahi aku jagonya, sekali kamu perintah langsung aku hajar, tak pernah mengeluh. Tapi untuk mengelola kelompok, aku benar-benar bingung harus mulai dari mana."
Aku tahu Xu Qiang berkata jujur, tapi itu bukan jawaban yang kuharapkan.
"Baiklah. Selanjutnya, kita beri tahu semua pengelola tempat itu, Gagak sudah tamat, wilayahnya sekarang resmi di bawah kendaliku, Zhang Shuo. Jika ada yang tak terima, silakan langsung cari aku."
"Dan tempat hiburan itu beda dengan tempat lain, semuanya sarang uang. Yang datang ke sini biasanya orang-orang terpandang."
"Para pemilik tempat hiburan juga sangat dermawan. Mereka takut kelompok kriminal datang mengacau, demi keamanan mereka rela membayar banyak uang perlindungan pada Gagak. Mulai sekarang, mereka harus beralih setia pada kita."
Kutatap semua orang, benar saja, wajah mereka langsung berseri-seri.
Siapa sih yang tak suka uang? Kalau bukan demi kepentingan sendiri, siapa yang senang berkelahi terus?
Semakin besar pengorbananmu demi keinginan, semakin besar pula yang kau peroleh. Di bagian selatan kota ini, jumlah tempat hiburan tidak terhitung, KTV saja puluhan, belum lagi pemandian, sauna, berbagai grup tari dan kasino yang sangat digemari para orang kaya.