Bab Sembilan Puluh Sembilan - Yang Mengmeng
Aku berdiri dan berpamitan pada Pak Yang. Baru saja aku hendak berbalik pergi, tiba-tiba terdengar suara manja dari lantai atas, “Kakak Zhang Shuo, tunggu aku!”
Aku dan Pak Yang serempak menoleh ke arah tangga. Terlihat Yang Mengmeng mengenakan pakaian sederhana nan segar, rambutnya dikuncir kuda, berjalan sambil berlari kecil ke arah kami.
Melihat wajahnya yang tampak cemas, aku tersenyum tipis, menyipitkan mata sambil bertanya, “Mengmeng, kenapa buru-buru memanggilku? Ada apa?”
Yang Mengmeng berlari ke hadapanku, terengah-engah. Setelah napasnya kembali normal, ia berkata cepat-cepat, “Kakak Zhang Shuo, biar aku ikut denganmu, ya.”
Aku sempat bingung harus menjawab apa. Aku melirik Pak Yang yang duduk di sofa, memperhatikan kami tanpa berniat melarang Mengmeng pulang bersamaku. Karena itu, aku pun tidak menolak ajakannya.
Kami naik kendaraan menuju gerbang sekolah. Mengmeng menggenggam tanganku, berjalan di sampingku dengan senyum ceria, benar-benar seperti seorang istri muda. Penampilannya yang bersih dan anggun membuat banyak orang menoleh dengan pandangan berbeda. Namun Mengmeng sudah terbiasa dengan perhatian semacam itu. Ia tetap tenang berjalan di sisiku, kadang-kadang mengajakku mengobrol.
Berbeda denganku, aku malah jadi sorotan. Di mata mereka, aku seperti sampah yang merusak bunga indah. Pandangan mereka penuh cemoohan, tapi aku sama sekali tidak peduli, tetap tenang menggandeng Mengmeng menuju asrama.
Sayangnya, selalu saja ada orang yang tidak tahu diri. Melihat gadis cantik bersama pria biasa, pasti ada yang ingin mencari gara-gara.
Dan benar saja, ketika aku menggandeng Mengmeng menuju asrama, tiba-tiba dari sudut jalan muncul seorang preman kecil. Matanya tak henti-henti melirik tubuh Mengmeng. Begitu melihat aku menggenggam tangan Mengmeng, ia menatapku dengan kesal.
Saat aku hendak menarik Mengmeng pergi, tiba-tiba dia membentak, “Hei, berhenti di situ!”
Aku menatapnya datar. Ia jelas tidak suka aku menggandeng tangan Mengmeng, matanya penuh amarah saat berteriak, “Hei, kamu kelihatan songong juga ya, berani-beraninya pegang tangan cewek secantik ini!”
Melihat aku cuek saja, amarahnya langsung memuncak. Baru saja hendak maju, tiba-tiba salah satu temannya menariknya. Ia menoleh ke arah temannya itu, bingung.
Saat hendak marah, temannya itu beberapa kali melirik Mengmeng, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya. Dari sorot matanya, aku tahu pasti dia mengenali siapa Mengmeng, dan tak mau karena ulah temannya malah mendatangkan malapetaka.
Setelah mendengar bisikan itu, sorot mata preman kecil itu tak lagi garang, jadi jauh lebih jinak. Ia pura-pura tenang membentakku, “Kali ini kamu beruntung, aku lagi baik, jadi aku biarkan kamu. Hmph!”
Aku dan Mengmeng melihat preman yang tadinya galak itu pergi bersama teman-temannya. Mengmeng yang sedari tadi menahan tawa akhirnya tertawa lepas, “Hahaha, Kakak Zhang Shuo, lucu sekali orang tadi. Padahal dia yang manggil kamu, eh, sekarang kabur seperti tikus.”
Melihat tawa Mengmeng yang polos, rasa kesalku pun menguap. Aku mengulurkan tangan, mengelus rambutnya lembut, menatapnya hangat, “Sebenarnya, preman tadi mundur gara-gara kamu, Mengmeng. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah berantem dulu sebelum bisa pulang dan beres-beres kamar.”
“Eh, masa sih aku sehebat itu? Kakak Zhang Shuo yang paling jago, kok,” jawab Mengmeng, menyangka aku kesal karena tidak jadi berkelahi. Padahal ia tidak tahu, aku memang malas berurusan dengan orang seperti itu.
Lagi pula, sebagai pendatang baru, aku tak mau cari masalah sebelum tahu situasi. Itu konyol. Siapa pun juga tak akan bertindak bodoh begitu. Karena tak ingin menjelaskan panjang lebar pada Mengmeng, aku langsung menggandengnya masuk ke asrama.
Tak seorang pun menyadari, preman yang tadi ditarik temannya, setelah sampai di tempat sepi, langsung bertanya, “Kamu serius dengan omonganmu tadi? Kenapa aku sama sekali belum pernah lihat cewek itu?”
Teman yang menariknya juga tampak resah, bukan cuma karena kejadian tadi, tapi juga karena mereka nyaris menyinggung nona besar keluarga Yang. Setelah menenangkan diri, ia buru-buru menjawab, “Bos, aku nggak bohong. Tadi itu benar-benar berbahaya. Kalau kita sampai menyinggung nona besar keluarga Yang, bisa-bisa kita sulit hidup di sini. Aku tahu kamu nggak suka lihat cowok itu, tapi nggak ada gunanya cari masalah sama dia.”
“Kamu kira aku sebodoh itu?” Preman itu menggerutu. Tadi ia memang ingin menghajar Zhang Shuo, lalu merebut Mengmeng jadi pacarnya. Tapi setelah mendengar identitas gadis itu, kini ia hanya bisa berharap Mengmeng lupa wajahnya, dan kejadian tadi segera dilupakan. Ia tak berani bilang ini pada temannya, hanya membatin dalam hati. Lalu ia berkata, “Dengar, selama cowok itu masih dekat dengan nona besar keluarga Yang, kita jangan cari masalah dulu. Nanti, kalau dia sudah tidak menarik minat nona lagi, itu kesempatan kita. Kita harus balas dendam, nggak boleh biarkan penghinaan hari ini begitu saja.”
“Siap, Bos.” Anak buahnya meski tak paham isi hatinya, sangat tahu siapa Mengmeng dan posisinya. Kalau bos saja sudah ogah cari masalah, mereka pun tak mau ikut-ikutan.
Setelah menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan diri, preman itu pun mengajak teman-temannya meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di asrama, Mengmeng langsung berinisiatif membersihkan kamar yang berantakan, bahkan membantuku merapikan tempat tidur. Aku hanya berdiri di samping, memandangi tingkahnya. Dalam hati aku berpikir, kalau Mengmeng kelak menikah pasti jadi istri yang baik, rajin, dan penyayang. Gadis seperti dia sudah jarang ada.
Tanpa sadar, aku menggoda Mengmeng yang sedang membentangkan seprei, “Mengmeng, kalau nanti menikah, pasti jadi istri idaman, ya.”
Tiba-tiba Mengmeng menoleh, tersenyum manis padaku. Pipi putihnya seketika memerah, lalu dengan malu-malu berkata, “Kakak Zhang Shuo, kalau Mengmeng memang sebaik yang kamu bilang, kamu mau nggak jadikan aku istri?”
“Eh, Mengmeng... kamu masih kecil, urusan begini nanti saja dipikirkan, ya. Kalau sudah besar, baru dibahas lagi.” Aku langsung mati gaya, tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya aku cari alasan saja. Dalam hati, aku ingin menampar mulutku sendiri yang suka bicara sembarangan. Bagiku, hanya ada Hongjie di hatiku.
Mengmeng tampak tak puas dengan jawabanku. Ia mendengus pelan, lalu kembali sibuk merapikan tempat tidur. Melihat ia diam, aku pun merasa lega. Namun, saat aku kira semua sudah selesai, tiba-tiba ia bertanya pelan, “Kakak Zhang Shuo, kalau nanti Mengmeng sudah besar, kamu mau menikahi aku nggak?”
Aku kaget mendengar pertanyaannya, benar-benar bingung harus jawab apa. Untungnya, Mengmeng sadar aku canggung, jadi ia tak melanjutkan pertanyaannya, hanya diam merapikan tempat tidur.
Dalam suasana tenang itu, setelah Mengmeng selesai merapikan ranjangku, aku hendak mengajaknya makan malam, tapi Mengmeng bilang ia harus segera pulang. Aku tahu Pak Yang sangat menyayangi Mengmeng, tapi soal keamanan tak pernah main-main. Biasanya ia harus pulang tepat waktu, dan jika tidak, pasti ada yang menjemput dan melindunginya.
Aku mengantarnya dari asrama sampai ke gerbang sekolah. Dari jauh sudah terlihat sopir utusan Pak Yang menunggu di sana. Saat Mengmeng menyadarinya, ia menoleh padaku, wajahnya tampak sedih. Dengan manja ia berkata, “Kakak Zhang Shuo, lihat, Kakekku lagi-lagi menyuruh orang menjemputku. Aku tahu, aku nggak pernah punya kesempatan supaya kamu sendiri yang mengantarku pulang.”
Melihat raut wajah lesunya, aku tahu ia bukan sedih karena harus dijemput, tapi karena pertanyaannya tadi tidak kujawab. Meski aku tak berani memberi janji apa pun, aku tetap berharap ia baik-baik saja. Sekarang pun aku tak ingin menunda hidupnya.
Namun aku hanya menanggapi, “Sebenarnya, Mengmeng, Kakekmu melakukan ini demi keamananmu. Lihat saja, kamu lucu dan manis seperti ini. Banyak orang jahat di luar sana bisa saja berniat buruk. Jadi wajar saja Kakekmu sangat menjaga. Jangan salahkan dia, ya.”
“Aku tahu, kok!” jawab Mengmeng lesu. Melihatnya begitu, aku tak banyak bicara lagi, hanya mengelus rambutnya pelan, “Ayo, naik mobil.”
Sampai di depan mobil, tinggal dua langkah lagi, Mengmeng tiba-tiba membuka pintu, lalu balik secepat kilat dan mencium pipiku, kemudian langsung lari masuk ke dalam mobil.
Aku hanya bisa tersenyum, memandangi mobil yang semakin menjauh.