Bab 9
Para penonton saat itu masih terhanyut dalam berbagai pertunjukan jenaka sebelumnya. Saat melihat layar besar menampilkan wajah Liu Pianpian dari jarak dekat, seseorang bergumam sambil terkekeh, "Aneh, mengapa wanita ini tidak menutupi wajahnya?"
Jika Ning Shu bisa mendengarnya, dia pasti akan menjawab dengan nada yang sangat wajar, "Karena mereka yang tampil sebelumnya hanyalah orang-orang biasa yang tidak akan debut. Tentu saja dia berbeda dengan kandidat unggulan yang sudah kupilih!"
Sementara itu, Liu Pianpian berdiri di pintu masuk panggung. Mendengar namanya diteriakkan dengan lantang oleh pembawa acara, meskipun ia adalah sosok yang percaya diri, hatinya tak kuasa menahan rasa cemas.
Sebenarnya, sebagai primadona Kota Tanpa Malam, ia sudah tak terhitung berapa kali tampil menari di depan banyak penonton. Bahkan, banyak pria dari kalangan kultivator yang menjadi pelanggan setianya. Namun, mengingat pertunjukan ini akan menentukan nasibnya, ia tetap tidak mampu bersikap tenang.
Kenyataannya, sang induk semang di Paviliun Yuanyang tidak rela melepaskan mesin pencetak uangnya itu. Dibandingkan dengan primadona yang memberinya keuntungan besar, wanita serakah itu lebih memilih mencoba peruntungan dengan gadis-gadis muda yang tak dikenal.
"Pianpian, bukan berarti Ibu tidak menyayangimu. Jika kau beberapa tahun lebih muda, Ibu pasti akan mengizinkanmu pergi." Di dalam kamar pribadi, sang induk semang yang berhias menor menyunggingkan senyum yang tidak sampai ke mata, ucapannya terdengar seolah memikirkan nasibnya.
"Lihatlah para kultivator itu, bukankah mereka semua bergabung dengan sekte saat berusia belasan tahun? Sekarang kau sudah dua puluh lima tahun, meskipun mendaftar, bagaimana mungkin kau bisa bersaing dengan gadis-gadis muda itu?"
Ya, aku sudah dua puluh lima tahun. Aku sudah melewati usia untuk bermimpi muluk, aku tahu itu. Liu Pianpian menunduk, menggenggam tangannya di balik lengan baju, dan mengatupkan bibir tanpa berkata-kata.
Melihat Liu Pianpian terdiam, sang induk semang mengira ia telah berhasil membujuknya, lalu ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mendesak, "Lebih baik biarkan gadis-gadis kecil itu yang pergi. Jika gagal, ya sudah. Tapi jika ada yang beruntung terpilih, Ibu akan memberikan Pil Pengawet Muda itu padamu!"
Saat mengatakan itu, mata sang induk semang berbinar penuh gairah. Tangan gemuknya mengelus wajah Liu Pianpian yang putih dan cantik, "Pianpian, saat itu tiba, kecantikanmu akan terjaga dan kau bisa terus menjadi primadona yang disegani di Paviliun Yuanyang kita. Tidak akan ada yang bisa menandingimu!"
*Hah, bicara seolah memikirkanku, padahal dia hanya ingin aku terus menghasilkan uang untuknya selama puluhan tahun lagi, bukan?* Hati Liu Pianpian mencemooh meski wajahnya tetap datar. Ia menunduk dan menghindar dari sentuhan sang induk semang tanpa mencolok.
"Ibu Wang, aku sudah membaca pengumuman dari Sekte Hehuan. Batas usia mereka adalah tiga puluh tahun, aku masih bisa mendaftar."
"Anak ini! Mengapa kau begitu keras kepala!" Melihat Liu Pianpian tidak mau diatur, mata sang induk semang berputar dan ekspresi kasih sayangnya berubah menjadi bengis.
"Kuberitahu kau, kau kubeli dengan uang! Selama surat perjanjian penjualan dirimu masih ada di tanganku, kau adalah milik Paviliun Yuanyang saat hidup dan menjadi mayat Paviliun Yuanyang saat mati! Sayapmu sudah kuat dan ingin menendangku untuk pergi berkultivasi? Jangan bermimpi!"
"Surat perjanjian..." Bahkan di hadapan sang induk semang yang kejam, wajah Liu Pianpian tidak menunjukkan emosi yang berarti. Ia menunduk dalam diam sejenak, lalu menarik napas panjang dan mendongak. "Bagaimana jika aku bisa menebus diriku?"
"Menebus diri?" Sang induk semang tertawa meremehkan, seolah yakin Liu Pianpian tidak akan mampu melakukannya. "Itu tidak murah. Apa kau sudah menggaet pria kaya?"
Perlu diketahui, Paviliun Yuanyang bukanlah tempat yang bisa didatangi sembarang orang. Orang-orang yang datang dan pergi adalah mereka yang berkecimpung dalam dunia kultivasi. Para kultivator yang merasa diri mereka tinggi hati itu selalu memandang rendah orang biasa seperti mereka, bagaimana mungkin mereka mau mengeluarkan banyak uang untuk menebus seseorang?
Tangan Liu Pianpian di balik lengan baju mengepal hingga urat-uratnya menonjol. Ia mengertakkan gigi, seolah telah mengambil keputusan besar. Setelah sekian lama, barulah ia berucap, "Aku sendiri. Aku yang akan menebus diriku sendiri."
"Kemarin aku sudah menghubungi petugas pendaftaran sipil di Kota Tanpa Malam, dan dananya sudah kuberikan sepenuhnya. Sebentar lagi mereka akan datang."
Kota seperti Kota Tanpa Malam tidak memiliki hukum negara yang pasti; segala aturan bergantung pada kehendak para kultivator. Jika Sekte Hehuan mengatakan bahwa wanita rumah bordil boleh menebus diri, maka tidak ada satu pun rumah bordil yang berani membantah.
Namun, mengatakannya lebih mudah daripada melakukannya. Sangat sedikit wanita yang mampu mengumpulkan uang sendiri.
Suasana di ruangan itu membeku sejenak. Sang induk semang yang tersadar kemudian mencemooh, "Kau menghabiskan seluruh tabunganmu selama ini? Apa kau tidak memikirkan nasibmu setelah gagal terpilih? Kurasa kau benar-benar sudah gila!"
Ya, dia memang sudah gila. Dia tidak ingin lagi tinggal di tempat yang seperti neraka ini. Dia ingin menonjol, ingin menjadi seperti para kultivator yang agung dan hidup abadi. Meskipun harapannya tipis dan ia telah memutus jalan kembalinya, dia tetap ingin berjuang.
Kejadian setelah itu terasa kabur baginya. Ia tidak ingat bagaimana ia menandatangani dokumen dengan petugas, juga tidak ingat bagaimana ia berjalan keluar dari Paviliun Yuanyang sendirian di tengah tatapan dingin dan ejekan sang induk semang. Saat ia tersadar, ia sudah berdiri di pintu masuk pendaftaran Sekte Hehuan.
Di sana dipenuhi lautan manusia. Jika dipandang, semuanya adalah gadis-gadis muda yang lincah dengan wajah lugu yang penuh harapan, sangat kontras dengan dirinya yang telah melalui asam garam kehidupan.
Pikirannya yang sempat panas setelah mendengar kesempatan berkultivasi akhirnya mendingin. Ia tersadar akan apa yang telah ia lakukan, dan wajahnya yang dipulas riasan tebal kini terlihat pucat pasi.
"Kau juga datang untuk mendaftar?" Seorang gadis muda yang duduk di depan meja memiliki pembawaan yang dingin. Saat berbicara, terpancar rasa percaya diri dan keangkuhan dari dalam dirinya. "Pergi ke belakang dan mengantrelah."
...Sudah tidak ada jalan untuk mundur.
Ia menarik napas panjang dan berjalan menuju ujung antrean di tengah tatapan penasaran orang-orang di sekitarnya.
Terbangun dari lamunannya, Liu Pianpian menggigit bibirnya, berusaha menekan gemetar di tubuhnya, dan berjalan perlahan dari belakang panggung menuju ke tengah.
Saat melewati Tangga Menuju Keabadian, ia sedikit menoleh. Sudah ada lebih dari seratus peserta yang masuk sebelumnya, namun tidak satu pun yang berhasil memikat hati para kultivator untuk duduk di kursi pemilihan.
*Jalan menuju keabadian ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan. Aku sudah menyinggung induk semang rumah bordil terbesar di Kota Tanpa Malam demi datang ke sini. Jika nanti tidak terpilih...*
Kepercayaan diri dan keberanian yang ia pertahankan selama ini hancur berkeping-keping dalam beberapa langkah. Saat berdiri di atas panggung yang diterangi lampu, Liu Pianpian sudah mulai menyesal. Para kultivator yang duduk di kursi juri menatapnya dengan ekspresi terkejut. Liu Pianpian merasa mereka pasti menganggapnya tidak tahu diri karena berani mendaftar di usia setua ini.
Kepalan tangan di kedua sisinya bergetar pelan. Pikirannya kosong.
"Eh? Bukankah orang ini..." Zixiao menatap sosok di tengah panggung sambil mengingat-ingat. Beberapa detik kemudian, ia berbisik kaget, "Bukankah ini primadona itu? Dia benar-benar datang?"
Bai Xuan yang mendengar itu juga mendongak untuk memperhatikan peserta tersebut. "Primadona?" Ia menyambung dengan nada terkejut, "Dia sepertinya sudah berusia dua puluh tahunan, ya? Sepertinya dia gadis yang cukup berani."
Ning Shu, saat melihat Liu Pianpian berdiri di tengah panggung, merasa ada yang tidak beres. Orang ini terlalu gugup; jika langsung tampil, kemungkinan besar dia akan tersingkir.
Bukan hanya para juri, penonton di luar layar pun perlahan mulai mengenali orang di tengah panggung.
"Orang ini terlihat familier..."
"Bukankah itu orangnya? Yang menari di kapal bunga Paviliun Yuanyang!"
"Kalau tidak salah namanya Liu Pianpian, bukan? Kenapa dia datang?"
"Dia juga wanita, dan bukankah primadona sangat cocok dengan Sekte Hehuan? Kenapa dia tidak boleh datang?"
"Aduh, maksudku dia kan sudah berusia dua puluh tahun lebih, ini..."
Waktu terbaik untuk berkultivasi adalah saat masa kanak-kanak karena pikiran mereka masih murni. Jika memiliki teknik dan bimbingan yang tepat, kemajuan mereka bisa melesat cepat. Itulah sebabnya keluarga kultivator dan sekte-sekte besar selalu menghasilkan banyak orang hebat.
Namun, orang biasa tidak memiliki kondisi tersebut. Jadi, mendaftar ke sekte saat berusia empat belas atau lima belas tahun juga bisa. Selama bakat dan pemahaman mereka cukup luar biasa, dengan bimbingan guru, mereka belum tentu kalah dari "generasi kedua" kultivator.
Tetapi usia dua puluh tahunan, di mana tulang-belulang sudah terbentuk dan pikiran orang dewasa juga sudah sangat rumit, kecuali jika benar-benar memiliki bakat alami yang luar biasa, kebanyakan orang bahkan akan kesulitan untuk sekadar menarik energi ke dalam tubuh.
"Ada apa ini? Mengapa Sekte Hehuan membiarkannya masuk?"
"Apa mereka tidak menetapkan standar pendaftaran?"
Di kursi penonton, orang-orang berdiskusi dengan riuh.
Ning Shu, yang saat menetapkan standar justru bersikeras menaikkan batas usia, hanya bisa membatin: *Hehe, dunia hiburan tentu harus berwarna. Kalau isinya hanya remaja semua, bukankah terlalu monoton!*
Ia menatap Liu Pianpian yang tampak hampir lupa bernapas di atas panggung, lalu bertanya dengan senyum ramah.
"Bisakah kau memperkenalkan dirimu secara singkat?"
"..."
"Apakah ada tarian yang kau kuasai?"
"..."
Melihat calon bintang ini akan gagal karena demam panggung, Ning Shu menarik napas pelan, mengumpulkan sedikit energi spiritual dalam tubuhnya, dan berseru dengan suara berat, "Liu Pianpian, mengapa kau datang ke sini?"
Pikirannya yang tadi kacau mendadak tersadarkan oleh pertanyaan itu. Liu Pianpian menatap studio yang megah di depannya, dan secara naluriah bertanya pada dirinya sendiri di dalam hati: "Mengapa aku datang ke sini?"
Karena seumur hidupku, aku hanyalah mainan yang tidak berharga.
Karena setiap hari aku menari hingga jari kakiku berdarah, namun aku tidak pernah mendapatkan apresiasi sedikit pun dari pelanggan.
Karena aku juga ingin hidup dihormati seperti para kultivator itu.
"Karena... karena aku tidak rela."
Kita semua sama, aku tidak rela hidup seperti semut, tidak rela diinjak-injak ke dalam lumpur, tidak rela menjalani sisa hidup dengan penuh kehinaan, dan tidak rela menyerah pada nasib begitu saja.
Jadi aku datang, mempertaruhkan segalanya yang kumiliki.
"Bagus, kau memiliki tatapan mata yang sangat mirip dengan seorang kultivator." Ning Shu memberikan senyum penyemangat kepada Liu Pianpian yang kini tampak bersemangat kembali. "Kalau begitu, tunjukkan semua yang telah kau pelajari seumur hidupmu. Penderitaan masa lalumu kini justru menjadi anak tangga menuju jalan keabadianmu."
Ia mengulurkan tangan kanannya, memberi isyarat undangan kepada orang di tengah panggung. "Silakan mulai pertunjukanmu."