Bab 144: Pertemuan
Menghadapi pengejaran dari ratusan orang, pada akhirnya kami berhasil lolos dari maut. Meskipun harga yang harus dibayar sangat mengenaskan, separuh dari jumlah saudara-saudara kami yang tersisa tewas. Ini adalah kerugian yang luar biasa besar, ditambah lagi entah berapa banyak senjata api dan amunisi yang hilang. Bagi kami yang akan segera menghadapi pertempuran besar, ini adalah kerugian yang tidak dapat dihindari.
Namun, keinginan mendesakku untuk segera bergabung dengan Tian Bo dan yang lainnya memang sudah ditakdirkan, bukan? Dilihat dari serangan kedua geng besar malam ini, pengorbanan semacam ini memang tidak bisa dihindari. Rasa sedih tetaplah kesedihan, tetapi saudara-saudara kita itu tidak boleh mati sia-sia. Aku harus membuktikan bahwa pengorbanan mereka memiliki nilai. Tidak ada waktu bagi kami untuk bersikap sentimental. Ratusan orang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pengorbanan beberapa puluh orang saja.
Kami belum sepenuhnya melenyapkan orang-orang yang dikirim oleh kedua geng besar tersebut, kami hanya menahan sebagian langkah mereka, sementara sebagian lainnya tewas. Memanfaatkan kesempatan inilah aku, Liu Fengxue, dan yang lainnya dapat untuk sementara waktu melepaskan diri dari mereka. Namun, itu hanya sementara. Cepat atau lambat, kami pasti akan kembali berhadapan muka dengan mereka. Aku bukannya takut pada mereka, hanya saja, sekarang, melihat Tian Bo dan beberapa anak buah, aku benar-benar merasa khawatir akan keselamatan Mengmeng dan Kak Hong.
Setelah memberikan perintah kepada Tian Bo, aku tidak lagi menghubunginya. Situasi di pihak mereka pasti juga sangat darurat. Jika sambungan telepon dariku sampai mengganggu sesuatu di sana, aku pasti akan menyesalinya. Oleh karena itu, aku sekarang sedang dalam perjalanan menuju Sekolah Menengah Pertama Nomor Satu. Tian Bo akan kembali ke sana, karena tempat itulah atau area di sekitar sanalah yang menjadi markas utama kita. Mengingat situasi sekarang, mereka tidak bisa pergi terlalu jauh. Aku hanya berharap, di bawah kepemimpinan Tian Bo, Kak Hong dan yang lainnya bernasib baik sepertiku dan berhasil lolos dari pengejaran.
……
Suasana di dalam mobil begitu sunyi tidak seperti biasanya. Anak buahku tidak berani berbicara sembarangan. Pemandangan saat saudara-saudara kami meregang nyawa masih begitu jelas di pelupuk mata, bagaimana mungkin kami memiliki suasana hati yang baik? Masing-masing dari kami tenggelam dalam kesedihan. Liu Fengxue juga menunjukkan ekspresi muram. Pengorbanan malam ini sebenarnya tidak perlu terjadi, tetapi kami masih belum keluar dari krisis ini. Sementara itu, dalang di balik semua ini masih bersenang-senang di balik layar. Aku rasa, kedua geng besar itu telah terang-terangan mencari musuh. Setelah aku menempatkan Kak Hong dan Mengmeng di tempat yang aman, aku akan memperhitungkan seluruh utang ini dengan kedua geng tersebut.
Mengmeng, Kak Hong, kumohon tunggulah aku! teriakku tanpa suara di dalam lubuk hatiku. Perasaan cemasku semakin membuncah, membuatku sangat ingin mobil ini segera tiba dan membawaku ke sisi Kak Hong dan Mengmeng. Meskipun ada Tian Bo, dan kemampuan Tian Bo memang bisa diandalkan, tetap saja itu bukan diriku sendiri yang berada di sana. Perasaan gelisah, cemas, dan khawatir bercampur aduk menjadi satu, membuat suasana hatiku semakin rumit.
Di tengah situasi seperti ini, akhirnya sebuah hal baik terjadi. Aku dan Tian Bo berpapasan di tengah jalan. Saat aku hampir tiba di sekolah dan sudah berada di area sekitarnya, aku melihat Tian Bo. Aku terus memperhatikan ke luar jendela mobil. Pada saat itu, aku tiba-tiba merasa sangat bersyukur karena terus mengawasi keadaan luar. Sudut mataku tanpa sengaja menangkap sesosok bayangan yang familiar, dan kemudian aku melihat segerombolan orang.
Itulah Tian Bo dan yang lainnya yang sedang melarikan diri bersama Kak Hong dan Mengmeng. Mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan beberapa mobil di pinggir jalan. "Cepat hentikan mobil!" Suaraku yang tiba-tiba melengking adalah sesuatu yang sama sekali tidak diduga oleh orang-orang di dalam mobil. Atas perintahku, mobil berhenti mendadak dengan decitan rem yang keras. Tanpa sempat menjelaskan apa pun, aku langsung bergegas turun dari mobil.
Aku mencegat Tian Bo. Tubuhnya sempat menegang sejenak. Namun, setelah melihat sosok yang berdiri di hadapannya dan mengenali wajahku, dia perlahan menurunkan senjata yang sudan dikokang. Hal pertama yang kucari adalah Kak Hong dan Mengmeng. Tidak ada tanda-tanda bekas luka atau noda darah di tubuh mereka, sepertinya mereka tidak terluka. Aku menghela napas lega. Kak Hong sudah sering mengalami berbagai kejadian, jadi ekspresinya masih tetap tenang. Namun, Mengmeng tidak demikian. Dalam beberapa hari terakhir ini, musibah terjadi secara berturut-turut menimpanya.
Mengmeng benar-benar menderita. "Hiks... Kak Shuo..." Tangisan Mengmeng begitu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya, begitu pula diriku. Mengmeng selama ini selalu menahan diri. Situasi sebelumnya tidak memungkinkan, sehingga dia sama sekali tidak berani menangis ataupun meluapkan emosinya. Namun, begitu melihat diriku, pertahanan Mengmeng langsung runtuh.
Begitu melihatku, air mata Mengmeng seketika tulus jatuh berderai. Dia langsung menghambur ke pelukan, dan aku segera mendekapnya erat. Kak Hong juga berjalan mendekat ke arahku. "Jangan menangis, jangan menangis, semuanya sudah aman..." Aku dengan lembut menepuk-nepuk punggung Mengmeng. Tangisannya tersengal-sengal, dia benar-benar sangat ketakutan. Masalah belum usai, masalah baru sudah datang lagi. Dia bahkan belum sepenuhnya pulih dari trauma penculikan sebelumnya, kini dia harus menghadapi krisis lainnya.
Mengikuti di belakang Tian Bo, aku teringat perintah yang sempat kuberikan padanya agar menggunakan persediaan senjata api itu jika situasinya menuntut. Dan benar saja, senjata yang dipegang Tian Bo adalah barang yang baru saja dibeli sebelumnya. Senjata-senjata itu sudah dikokang, yang berarti apa? Barang-barang itu sudah digunakan. Dan melihat bagaimana Tian Bo bertindak, aku sudah bisa membayangkan betapa kejam dan tegasnya dia dalam mengeksekusi musuh.
Mengmeng dilindungi oleh Tian Bo, tetapi di balik perlindungan itu, dia justru hidup dalam ketakutan dan menyaksikan banyak hal yang mungkin tidak akan pernah dia lihat seumur hidupnya—darah dan kengerian. Hal-hal yang sudah menjadi bagian dari kehidupanku yang biasa. Tidak berlebihan jika mengibaratkan Mengmeng sebagai bunga di dalam rumah kaca. Aku yakin Lao Yang sangat menyayangi putri tunggalnya itu. Namun, siapa sangka pada akhirnya Mengmeng tetap harus menghadapi kenyataan pahit ini. Niat baik dan perlindungan Lao Yang hancur lebur dalam sekejap.
Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menghibur Mengmeng, menggunakan cara yang paling canggung sekalipun. Air mata Mengmeng terus menetes satu persatu, seolah jatuh menghujam langsung ke lubuk hatiku. Ekspresi tenang Kak Hong juga membuat hatiku terasa nyeri. Sebelum ini, dia sudah pernah mengalami kejadian serupa, itulah sebabnya dia bisa tetap tenang. Jika hal seperti ini terus berlanjut, Mengmeng suatu hari kelak juga akan menjadi seperti itu, sesuatu yang tidak sanggup kubayangkan.
Kedua geng besar itu, aku bersumpah dalam hati, mereka pasti harus membayar harga atas semua ini. Pasti. Karena telah membuat Kak Hong dan Mengmeng mengalami hal-hal yang seharusnya tidak mereka rasakan, aku telah mencatat nama mereka. Aku tidak akan melepaskan mereka. Kak Hong dan Mengmeng tidak cocok untuk menghadapi pemandangan mengerikan selanjutnya. Suasana hati Mengmeng juga sudah sedikit membaik setelah kubujur, setidaknya isak tangisnya telah reda.
Aku mengalihkan pandangan ke arah Tian Bo di samping. "Tian Bo, aku serahkan Kak Hong dan Mengmeng kepadamu. Bawa mereka ke tempat yang aman." Tian Bo mengangguk, menandakan bahwa dia mengerti. Kemampuannya membawa orang-orang melarikan diri dengan menerobos kepungan darah telah membuktikan kapasitasnya. Aku tidak perlu memberikan instruksi berlebihan lagi. Aku hanya meminta Liu Fengxue secara diam-diam untuk mengirim beberapa orang mengikuti di belakang mereka, agar jika terjadi hal darurat lagi, mereka tidak sampai kebingungan.
Tian Bo beserta rombongannya segera pergi. Mengmeng menoleh ke belakang beberapa kali menatapku, membuatku hampir tidak kuasa menahan diri untuk ikut pergi bersama mereka. Namun, akal sehatku menuntut agar aku tidak boleh melakukannya. Aku tidak boleh mengorbankan situasi saat ini hanya demi urusan asmara sesaat. Tiba-tiba, aku teringat pada Xu Qiang. Xu Qiang jelas berangkat lebih awal dariku, tetapi di jalan raya tadi aku sama sekali tidak melihatnya. Saat itu aku bahkan sempat merasa bersyukur karena Xu Qiang berjalan lebih cepat sehingga tidak berpapasan dengan kelompok orang tersebut. Namun sekarang, setelah aku berhasil bergabung dengan Mengmeng, mengapa bayangan Xu Qiang justru tidak terlihat sama sekali?
Hal ini seketika menyapu bersih kegembiraan saat aku berkumpul kembali dengan Kak Hong dan yang lainnya, mengubah suasana kembali menjadi tegang. Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, aku segera menelepon Xu Qiang. Beruntung Xu Qiang dengan cepat mengangkat panggilan itu, tetapi laporan yang dia sampaikan sama sekali tidak bagus.
Ratusan orang itu sebenarnya hanya berhasil kami hindari, belum sepenuhnya dilenyapkan. Tanpa diduga, kelompok orang tersebut rupanya mengejar rombongan Xu Qiang. Saat ini Xu Qiang sedang menghadapi krisis. Namun yang aneh, orang-orang yang tadinya bertempur habis-habisan melawan mereka tiba-tiba menarik mundur seluruh pasukannya begitu saja. Krisis itu terselesaikan begitu saja? Xu Qiang merasa sangat bingung dan melaporkan kejanggalan ini kepadaku.
Sangat aneh, bukan? Apa sebenarnya yang terjadi? Insting tajamku seketika menangkap sebuah benang merah. Orang-orang dari dua geng besar itu menarik mundur pasukan mereka tanpa ada niat untuk terus meladeni Xu Qiang. Padahal jelas-jelas posisi Xu Qiang saat itu berada di pihak yang terdesak. Kira-kira hal apa yang bisa membuat mereka begitu ketakutan hingga memilih mundur?
Gawat! Urusan besar sedang melanda! Begitu kesadaran itu menghantamku, aku langsung berteriak melalui telepon, "Mundur, Xu Qiang, cepat mundur!" Namun jawaban yang kudengar dari Xu Qiang adalah, "Sudah terlambat." Sebuah kalimat berat penuh keputusasaan terdengar dari ujung sana. Bersamaan dengan itu, aku juga mendengar deru suara sirine mobil polisi dari ujung telepon, berangsur-angsur mendekat dari kejauhan.
Baik aku maupun Xu Qiang sama-sama terdiam. Kali ini situasinya benar-benar runyam. Ini bukan lagi masalah bisa atau tidak bisa kabur, mobil polisi sudah berdatangan, bagaimana mungkin bisa lolos? "Jangan menonjolkan diri, perintahkan anak buah agar tidak melakukan apa pun..." Hanya perintah itulah yang bisa kuberikan. Xu Qiang di ujung sana memberikan jawaban singkat dengan nada rendah lalu menutup sambungan telepon. Kurasa, polisi pasti sudah tiba di tempat mereka.
Aku bahkan tidak tahu persis di mana posisi mereka berada. Perasaan tidak berdaya karena tidak bisa melakukan apa pun ini sangat menyesakkan. Selanjutnya, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Apakah Xu Qiang dan anak buahnya bisa lolos dari cengkeraman polisi, itu semua bergantung pada nasib mereka. Aku hanya bisa menunggu kabar dari Xu Qiang.
Meskipun aku sudah memberikan instruksi sedemikian rupa, masalah tetap saja terjadi. Mendekati waktu satu jam kemudian, aku akhirnya menerima telepon dari Xu Qiang. Dia menyampaikan satu kalimat padaku: Wang Meng tidak bisa menahan diri dan akhirnya diciduk oleh polisi. Perintah yang kuwanti-wantikan tidak dijalankan dengan baik. Meskipun Xu Qiang tidak merinci kronologi kejadiannya padaku, aku sama sekali tidak berniat mencari pembelaan untuk Wang Meng. Apakah kata 'sabar' itu begitu sulit dipahami? Sekeras apa pun amarah atau emosi yang dirasakan, ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuat kesalahan.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Wang Meng telah dibawa pergi oleh polisi, dan masalah ini harus aku selesaikan sendiri. Meskipun aku merasa kesal karena dia tidak kunjung dewasa, fakta bahwa Wang Meng terlibat bentrokan sudah terpampang nyata di depan mata. Ini bukan lagi masalah penyesalan yang bisa diselesaikan olehku atau oleh kami semua.
Tertangkapnya Wang Meng kali ini bukanlah jenis masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan sekadar basa-basi atau koneksi remeh. Aku harus pergi menemui dan memohon bantuan pada Lao Yang. Mengetahui bahwa kami telah terlibat bentrokan dengan pihak kepolisian, orang pertama yang terlintas di benakku adalah Lao Yang. Itu wajar saja, Lao Yang memiliki sedikit pengaruh di kantor polisi, dan dia adalah satu-satunya orang di sekitarku yang mungkin bisa dimintai pertolongan. Dalam situasi seperti ini, mustahil bagiku menyelesaikannya seorang diri, sehingga aku terpaksa harus meminta bantuan kepada Lao Yang. Aku hanya bisa berharap Lao Yang bersedia dan mampu membantu kami.