Permata dan Api
Halaman (1/3)
Hujan mulai turun.
Qin Shi menggendong Lanlan dan berlari menyusuri jalan pegunungan.
Tetesan hujan yang dingin menghantam wajahnya seperti ribuan jarum kecil.
Gadis dalam pelukannya seringan bulu, tetapi tubuhnya membara—demamnya sangat tinggi.
“Sial,” gerutu Qin Shi pelan.
Ia telah membunuh begitu banyak orang, tetapi sama sekali tidak tahu cara mengobati atau merawat seseorang.
Air hujan mengalir menuruni pipi pucat Lanlan, tampak seperti air mata.
Bibirnya bergetar pelan, seolah sedang mengatakan sesuatu.
Qin Shi menundukkan tubuhnya.
“Giok...” suara Lanlan selembut dengungan nyamuk. “Yang mereka cari bukan aku... melainkan giok...”
Qin Shi mengernyit.
Giok apa?
Saat ia hendak bertanya lebih jauh, Lanlan kembali jatuh tak sadarkan diri.
Hujan turun semakin deras, dan Qin Shi mempercepat langkahnya.
Ia ingat bahwa di depan terdapat sebuah pondok pemburu.
Pondok itu jauh lebih reyot daripada yang dibayangkannya. Daun pintunya miring tergantung pada engsel, seakan-akan bisa roboh kapan saja.
Qin Shi menendang pintu hingga terbuka. Debu pun berjatuhan.
Di dalam hanya ada sebuah ranjang kayu dan meja yang hampir lapuk, tetapi setidaknya tempat itu dapat melindungi mereka dari angin dan hujan.
Ia membaringkan Lanlan di atas ranjang, lalu menyentuh dahinya.
Panas tubuhnya semakin tinggi.
Qin Shi mengamati sekeliling dan menemukan kayu bakar kering serta batu pemantik di sudut ruangan.
Setelah api menyala, pondok itu perlahan menjadi hangat.
Qin Shi melepas jubah luarnya dan menyelimutkannya ke tubuh Lanlan, lalu duduk di dekat api dengan pedang melintang di atas lutut.
Cahaya api menari-nari di wajahnya yang dingin dan tegas, menegaskan garis-garis wajahnya yang tajam.
“Dingin...” gumam Lanlan dalam tidurnya.
Qin Shi ragu sejenak, lalu berjalan ke sisi ranjang.
Apa yang harus dilakukannya?
Ia telah membunuh tak terhitung banyaknya orang, tetapi tidak pernah merawat siapa pun.
Akhirnya, dengan canggung, ia menggenggam tangan Lanlan.
Tangan itu kecil dan lembut, tetapi dipenuhi kapalan—jelas bukan tangan seorang nona yang hidup serba berkecukupan.
“Kau akan baik-baik saja,” kata Qin Shi kaku, seolah-olah kalimat itu dipaksakan keluar dari tenggorokannya.
Lanlan tampaknya mendengarnya. Napasnya pun menjadi sedikit lebih tenang.
Qin Shi tetap duduk seperti itu, mendengarkan suara hujan di luar dan napas Lanlan.
Entah berapa lama berlalu, kelopak matanya mulai terasa berat.
Seorang pembunuh tidak boleh tidur.
Jika seorang pembunuh tertidur, ia akan mati.
Itulah aturan yang dipelajari Qin Shi pada hari pertama ia memasuki dunia ini.
Namun malam itu, ia membuat pengecualian.
Ketika Qin Shi terbangun dengan terkejut, api unggun hampir padam.
Ia segera menegakkan tubuh. Reaksi pertamanya adalah meraba pedangnya—pedang itu masih ada.
Kemudian ia memandang ke ranjang. Lanlan telah menghilang.
“Sudah bangun?”
Suara itu terdengar dari ambang pintu.
Qin Shi berbalik dan melihat Lanlan bersandar pada kusen pintu, kedua tangannya membawa setumpuk buah liar.
Cahaya pagi menembus tubuhnya yang kurus, menorehkan bayangan panjang di lantai.
“Kau pergi ke mana?” suara Qin Shi terdengar keras dan dingin.
“Memetik buah,” jawab Lanlan sambil melangkah masuk dengan ringan. “Tidurmu sangat lelap, jadi aku tidak membangunkanmu.”
Qin Shi mengerutkan kening.
Bagaimana mungkin seorang gadis tunanetra memetik buah di tengah hutan pegunungan yang asing?
Lagipula...
“Bagaimana kau tahu di mana ada pohon buah?”
Lanlan tersenyum.
“Dari suara burung. Buah yang matang akan menarik burung-burung tertentu.”
Ia meletakkan buah-buah liar itu di atas meja.
“Mau mencobanya?”
Qin Shi tidak bergerak.
“Tadi malam kau mengatakan ‘giok’. Apa maksudnya?”
Jari-jari Lanlan berhenti sejenak, nyaris tak terlihat, tetapi Qin Shi menyadarinya.
“Aku mengigau?”
“Kau berkata, ‘Yang mereka cari bukan aku, melainkan giok.’” Qin Shi maju selangkah. “Giok apa?”
Lanlan berbalik. Matanya yang tak bercahaya “memandang” ke luar pintu.
“Sebongkah giok yang sangat istimewa,” katanya lirih. “Giok itu bisa... membuat seseorang melihat hal-hal yang seharusnya tidak dilihat.”
Qin Shi hendak bertanya lebih lanjut, tetapi tiba-tiba telinganya bergerak.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Ia melesat ke sisi Lanlan dan menutup mulutnya.
“Ada orang,” bisiknya di dekat telinga Lanlan.
Lanlan mengangguk, tanda bahwa ia mengerti.
Qin Shi melepaskan tangannya, memberi isyarat agar Lanlan tetap di tempat. Ia sendiri bergerak tanpa suara ke sisi jendela.
Lima sosok sedang mendekat dari dalam hutan.
Mereka bukan kelompok yang datang tadi malam—langkah mereka lebih ringan, gerakan mereka lebih terkoordinasi.
Pembunuh sungguhan.
Qin Shi kembali ke sisi Lanlan dan berkata singkat, “Lima orang. Para ahli.”
Lanlan menggenggam pergelangan tangannya.
“Bukan orang-orang dari Perkumpulan Naga Hijau,” katanya yakin. “Mereka dari Gerbang Bayangan.”
Pupil Qin Shi mengecil.
Gerbang Bayangan adalah organisasi pembunuh paling misterius di dunia persilatan, bahkan lebih tersembunyi dan lebih mematikan daripada Perkumpulan Naga Hijau.
“Bagaimana kau tahu?”
“Cara mereka bernapas,” jawab Lanlan. “Semua pembunuh dari Gerbang Bayangan melatih Ilmu Napas Kura-Kura. Jeda di antara tarikan napas mereka tiga kali lebih panjang daripada orang biasa.”
Qin Shi menatap Lanlan dengan saksama.
Gadis tunanetra ini tahu terlalu banyak.
“Siapa sebenarnya dirimu?”
“Seseorang yang tidak ingin mati.” Lanlan tersenyum getir. “Keluarlah melalui jendela belakang. Dua puluh langkah dari sana ada sebuah sungai kecil. Ikuti alirannya sejauh tiga li, dan kau akan menemukan sebuah gua.”
Qin Shi tidak bertanya lagi.
Ia menarik tangan Lanlan dan segera melompat keluar melalui jendela belakang.
Begitu mereka meninggalkan pondok, pintu depannya langsung ditendang hingga terbuka.
Air sungai terasa sedingin es.
Qin Shi membawa Lanlan menyusuri arus, dengan air setinggi lutut.
Rok Lanlan basah kuyup, tetapi ia tidak mengeluh sedikit pun. Ia hanya mengikuti langkah Qin Shi dengan erat.
“Belok kiri,” kata Lanlan tiba-tiba ketika mereka melewati sebuah tikungan.
Qin Shi berbelok ke kiri dan benar saja, ia menemukan sebuah celah tersembunyi di dinding batu.
Mereka menyelinap masuk. Qin Shi segera mengamati sekeliling dengan waspada—di dalam gua terdapat bekas api dan “ranjang” yang terbuat dari tumpukan rumput kering.
“Kau pernah datang ke sini,” ujar Qin Shi, menyampaikan sebuah fakta.
Lanlan mengangguk.
“Menemukannya saat melarikan diri.” Ia mulai memeras air dari ujung roknya. “Orang-orang dari Gerbang Bayangan tidak akan mudah menyerah.”
Qin Shi berjaga di mulut gua selama beberapa saat. Setelah memastikan tidak ada yang mengejar, barulah ia kembali ke dalam.
Lanlan telah meraba-raba dan mengumpulkan rumput kering serta ranting. Ia sedang berusaha menyalakan api.
“Biar aku.”
Qin Shi mengambil batu pemantik dari tangannya.
Api segera menyala.
Lanlan mengulurkan tangan untuk menghangatkannya. Di bawah cahaya api, jari-jarinya tampak ramping dan panjang, tetapi terdapat beberapa bekas luka yang jelas.
“Mengapa mereka mengejarmu?” tanya Qin Shi terus terang.
Lanlan terdiam beberapa saat.
“Karena aku ‘melihat’ rahasia giok itu,” katanya pelan. “Meskipun mataku sudah tidak bisa melihat, ada hal-hal tertentu... yang dapat ‘dilihat’ tanpa mata.”
Qin Shi tidak begitu memahaminya, tetapi ia tahu setiap orang memiliki rahasianya sendiri.
“Di mana giok itu sekarang?”
“Di tempat yang aman,” jawab Lanlan. “Setidaknya, aku berharap begitu.”
Qin Shi mendengus.
“Sebaiknya kau memberitahuku lebih banyak. Kalau tidak, aku tidak akan bisa melindungimu.”
“Kau sudah mulai mengkhawatirkan keselamatanku?” Lanlan tiba-tiba tertawa. “Ini sama sekali tidak seperti gaya pembunuh nomor satu.”
Qin Shi kehilangan kata-kata.
Memang benar, menurut kebiasaan, seharusnya sejak awal ia sudah meninggalkan masalah ini dan pergi seorang diri.
Namun entah mengapa, ia tidak ingin melakukan itu.
“Aku sudah menerima bayaran,” jawabnya kaku.
Senyum Lanlan semakin lebar, tetapi ia tidak bertanya lagi.
Mereka berdua duduk diam menghangatkan diri di dekat api. Dari luar gua terdengar suara gemericik air sungai.
“Tadi malam kau menjagaku sepanjang malam,” kata Lanlan tiba-tiba.
Qin Shi tertegun.
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku mencium bau asap di tanganmu,” jawab Lanlan. “Selain itu, saat terbangun, aku merasakan... rambutku seperti baru saja dielus.”
Telinga Qin Shi mendadak memanas.
Memang, ketika Lanlan tertidur, ia tanpa sadar sempat membelai rambutnya.
Sentuhan lembut seperti sutra itu mengingatkannya pada perasaan yang telah lama dilupakannya—perasaan ketika ibunya masih hidup.
“Kau mengigau karena demam. Aku takut kau mati,” kata Qin Shi dingin.
Lanlan tidak membongkar kebohongannya.
Ia hanya mengulurkan tangan dan dengan tepat menemukan pergelangan tangan Qin Shi.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Terima kasih,” katanya lirih. “Apa pun alasannya.”
Qin Shi tidak menarik tangannya.
Anehnya, ia tidak membenci sentuhan itu.
“Lalu mengapa orang-orang dari Gerbang Bayangan baru mencarimu sekarang?” ia mengganti topik. “Kau bilang sudah cukup lama diracuni.”
Ekspresi Lanlan berubah rumit.
“Karena selama ini aku terus bersembunyi. Namun tiga hari lalu, aku... merasakan giok itu telah dipindahkan. Mereka pasti menyadarinya, sehingga memperketat pengejaran.”
Qin Shi mengerutkan kening.
“Meraskan?”
Lanlan tampaknya sadar telah keceplosan. Ia buru-buru berkata, “Itu hanya firasat. Intuisi orang tunanetra biasanya lebih tajam.”
Qin Shi tahu ia sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi memutuskan untuk tidak mendesaknya untuk sementara.
“Beristirahatlah. Setelah hari gelap, kita akan pergi dari sini.”
Lanlan mengangguk, lalu berbaring di atas hamparan rumput kering.
Qin Shi duduk di mulut gua, memandang aliran sungai di luar.
Pikirannya agak kacau—misi ini jauh lebih rumit daripada yang dibayangkannya, sementara gadis tunanetra bernama Lanlan itu menyimpan terlalu banyak teka-teki.
Yang paling membuatnya gelisah adalah kenyataan bahwa ia mulai mengkhawatirkan keselamatan Lanlan.
Bagi seorang pembunuh, itu adalah kelemahan yang mematikan.
Ketika matahari mulai condong ke barat, Lanlan terbangun.
Ia duduk dan mengusap matanya—gerakan yang sudah menjadi kebiasaan. Qin Shi menyadarinya, meskipun Lanlan sama sekali tidak dapat melihat.
“Apakah ada yang datang?” tanya Lanlan.
Qin Shi menggeleng, lalu baru menyadari bahwa Lanlan tidak dapat melihatnya.
“Tidak ada.” Ia terdiam sejenak. “Kau lapar?”
Lanlan tersenyum.
“Kau mulai mengkhawatirkan apakah aku cukup makan?”
“Itu hanya pertanyaan yang wajar,” jawab Qin Shi kaku. “Orang yang lapar tidak bisa berlari cepat.”
Lanlan tertawa.
“Tuan Pendekar Qin, tahukah kau? Suaramu akan turun setengah nada saat berbohong.”
Qin Shi tidak tahu harus menjawab apa.
Memang, ia tidak pandai berkomunikasi dengan orang lain, terutama dengan seorang gadis tunanetra yang seolah-olah mampu melihat menembus dirinya.
“Ada sedikit bekal kering di dalam tasku.” Lanlan meraba-raba dan melepaskan sebuah kantong kain kecil dari pinggangnya. “Cukup untuk kita makan sehari.”
Qin Shi menerima kantong itu. Di dalamnya terdapat beberapa keping kue kering yang keras dan sedikit dendeng.
Ia mematahkan kue itu, lalu memberikan separuhnya kepada Lanlan.
Mereka makan dalam diam.
Di dalam gua hanya terdengar suara kunyahan dan sesekali bunyi letupan api.
“Mengapa kau menjadi pembunuh?” tanya Lanlan tiba-tiba.
Tangan Qin Shi terhenti.
“Ini bukan waktunya mengobrol.”
“Aku hanya penasaran,” kata Lanlan. “Ada sesuatu dalam dirimu... aura yang istimewa. Kau tidak seperti pembunuh lainnya.”
Qin Shi tertawa dingin.
“Aura seperti apa?”
“Kesepian,” jawab Lanlan lirih. “Seperti serigala yang terpisah dari kawanannya.”
Hati Qin Shi tiba-tiba terasa tertusuk.
Ia bangkit dan berjalan ke mulut gua.
“Bersiap untuk berangkat.”
Lanlan tahu ia telah menyentuh luka Qin Shi. Ia pun tidak berkata apa-apa lagi.
Setelah merapikan pakaiannya, ia mengikuti Qin Shi keluar dari gua.
Senja mulai menyelimuti segala penjuru. Air sungai berkilauan keperakan di bawah cahaya bulan.
Qin Shi berjalan di depan, sementara Lanlan memegang ujung bajunya dan mengikuti dari belakang.
Mereka menyusuri sungai menuju hilir.
“Qin Shi.” Setelah berjalan beberapa saat, Lanlan tiba-tiba berhenti.
“Ada apa?” Qin Shi dengan waspada mengamati sekeliling.
“Terima kasih,” kata Lanlan sungguh-sungguh. “Apa pun alasannya, terima kasih karena tidak meninggalkanku.”
Qin Shi memandangi wajah Lanlan yang diselimuti cahaya bulan. Tiba-tiba muncul perasaan aneh dalam dirinya—seolah-olah gadis tunanetra ini benar-benar dapat “melihat” dirinya, melihat sosoknya yang sebenarnya, tersembunyi di balik topeng seorang pembunuh.
“Ayo,” katanya pada akhirnya.
Namun tanpa disadarinya, suaranya terdengar sedikit lebih lembut.
Mereka melanjutkan perjalanan, dan sosok keduanya perlahan menghilang ditelan cahaya bulan.
Sementara itu, tak jauh di belakang mereka, di dalam hutan, sepasang mata sedang mengawasi punggung mereka. Kemudian, tanpa suara, sosok itu lenyap ke dalam kegelapan.
Halaman (3/3)