Deru Angin Bertemu dengan Ilmu Inti Emas (Bab Seratus Enam Puluh Satu)
Sebenarnya, masalah ini seharusnya ditanyakan terlebih dahulu kepada para murid Perguruan Diancang. Bagaimanapun, orang merekalah yang tewas terbunuh, tetapi penampilan para murid Diancang itu sungguh membuat orang menggelengkan kepala, hingga mau tak mau memunculkan keraguan tentang seberapa besar kebenaran dari penjelasan mereka.
"Nama saya Zhuge; Zhu seperti warna merah *zhu*, Ge seperti tanaman jalinan *ge*," ucap si pemuda berbaju merah itu menyampaikan kalimat pertamanya. Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan, "Saya tidak punya penjelasan apa pun."
Cara bicara Zhuge ini terdengar sedikit terbata-bata, sama sekali tidak mencerminkan kecerdasan dan ketenangan yang ia tunjukkan sebelumnya. Tanggapannya itu pun tak kalah mengejutkan.
"Tidak ada penjelasan?" Jawaban Zhuge membuat semua orang tertegun. Pemuda ini selalu berhasil membuat orang lain merasa keheranan.
"Apakah kau tahu bahwa jika kau tidak memberikan penjelasan, itu sama saja dengan mengakui segala perbuatanmu?" tanya Wuhuzi.
"Benar! Guru saya pernah berpesan, apa yang sudah dilakukan ya sudah dilakukan, memberikan penjelasan adalah hal yang sia-sia," jawab Zhuge.
"Baru kali ini aku menemui orang seperti ini! Orang yang tidak mau menjelaskan perbuatannya memang ada, tetapi itu biasanya terjadi ketika kemampuan mereka berada dalam posisi yang jauh mendominasi. Namun, lawan dari pemuda ini adalah Perguruan Diancang, salah satu dari sepuluh perguruan besar! Telah membunuh anggota dari perguruan tersebut, tetapi tetap enggan memberikan penjelasan?" Wuhuzi merasa situasi ini begitu menggelikan sekaligus membingungkan. Ia tidak tahu apakah pemuda ini benar-benar naif atau memang memiliki sandaran lain.
Namun, karena pemuda itu telah berkata demikian, tidak ada lagi hal yang perlu ditanyakan lebih lanjut. Wuhuzi juga tidak bisa terlalu memihak kepadanya.
Xingyun merasa cemas saat melihat Zhuge sama sekali tidak berniat memberikan penjelasan. Diancang adalah salah satu dari sepuluh perguruan besar. Jika tuduhan membunuh murid Diancang ini terbukti dan ia menolak untuk menjelaskan alasannya, akhir nasib pemuda itu sudah bisa ditebak dengan pasti.
Di satu pihak adalah orang yang berulang kali melakukan penyergapan secara diam-diam dari belakang, sementara di pihak lain adalah orang yang pernah turun tangan menyelamatkan dirinya. Bagi Xingyun, bagaimana pun juga ia tidak bisa mempercayai bahwa murid Diancang yang tewas itu sama sekali tidak bersalah! Oleh karena itu, ia pun membuka mulut untuk membujuk, "Saudara Zhuge, sebaiknya Anda berpikir ulang. Saat ini kakek guru saya ada di sini. Jika kesalahan memang bukan berada di pihak Anda, keadilan pasti akan ditegakkan untuk Anda. Namun, jika Anda sama sekali tidak memberikan penjelasan, itu sama saja dengan menghabisi nyawa Anda sendiri. Perguruan Diancang adalah salah satu dari sepuluh perguruan besar. Sekalipun Anda mampu mengalahkan satu atau dua murid mereka, mungkinkah Anda bisa melawan seluruh kekuatan Perguruan Diancang?"
Mungkin karena ucapan Xingyun terdengar begitu tulus, Zhuge tertegun sejenak seolah-olah sedang berpikir, lalu berkata, "Merekalah yang menghina perguruan saya terlebih dahulu. Saya mendatangi mereka untuk meminta kejelasan, tetapi mereka tidak terima dan menantang saya untuk bertanding. Namun... namun siapa sangka murid Diancang itu ternyata bahkan tidak mampu menahan satu jurus pun? Lagipula, dari awal kita sudah sepakat bahwa hidup dan mati ditanggung sendiri, meskipun saya sama sekali tidak berniat membunuhnya."
Penjelasan seperti itu masih terdengar masuk akal. Bisa dibayangkan, Perguruan Jingang selama ini selalu dijadikan contoh buruk oleh berbagai perguruan untuk mendidik murid-murid mereka sendiri. Siapa sangka bahwa Zhuge ternyata begitu hebat?
Kekuatan Zhuge begitu luar biasa. Ketika mereka mulai bertarung, wajar saja jika murid Diancang menderita kekalahan. Hanya saja, pertanyaannya adalah: apakah pemuda ini benar-benar tidak sengaja membunuh murid Diancang? Meskipun tadi pemuda itu telah membantu Xingyun secara sukarela, mengingat kecerdasan yang ditampilkannya dalam pertarungan melawan Chen Mo, Xingyun pun tidak berani memastikan apa sebenarnya niat sesungguhnya dari murid Perguruan Jingang berwajah dingin dan bertutur kata kaku ini.
Memikirkan hal itu, Xingyun mau tak mau mengalihkan pandangannya ke arah kubu Diancang, di mana ia melihat Gong Feng tampak sangat marah hingga wajahnya membiru, tetapi pemuda itu tidak mampu memberikan sanggahan.
"Sepertinya kejadian ini memang benar adanya. Hanya saja, tindakan Zhuge memang terlalu kejam. Disengaja atau tidak, masalah ini pasti tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah," keluh Xingyun dalam hati.
Bagi dirinya sendiri, Zhuge pernah menolongnya, jadi sudah sepatutnya ia membantu pemuda itu. Namun, bagi Perguruan Qingcheng, jika ia membantu Zhuge, dikhawatirkan hal itu akan membuat Qingcheng berseteru dengan Perguruan Diancang. Meskipun interaksi antara kedua perguruan tersebut selama ini tidak terlalu banyak, toh tidak pernah ada permusuhan di antara mereka. Demi seseorang yang baru saja dikenalnya, Xingyun tidak berani menyeret kepentingan pergurunya sendiri ke dalam masalah ini.
"Guru saya pernah berkata, pertarungan di dunia persilatan adalah urusan hidup dan mati. Jika keahlian seseorang kalah dari orang lain, bahkan jika ia mati, ia tidak bisa menyalahkan orang lain," tiba-tiba Zhuge melontarkan kalimat tersebut.
Apa yang dikatakannya sebenarnya memang beralasan. Dalam pertarungan di dunia persilatan, selain duel persahabatan yang telah disepakati sebelumnya, insiden hilangnya nyawa secara tidak sengaja adalah hal yang lumrah terjadi. Pada saat itu, orang hanya bisa menyalahkan ketidakmampuan diri sendiri, terlebiha lagi jika sebelumnya telah ada pernyataan bahwa hidup dan mati ditanggung sendiri. Dunia persilatan bukanlah tempat untuk bermain-main. Tampaknya generasi muda dari berbagai perguruan besar telah terlalu lama hidup dalam kedamaian hingga melupakan kenyataan pahit ini.
Ucapan Zhuge itu membuat Chen Mo yang berdiri di sampingnya begitu geram hingga mengatupkan gigi rapat-rapat. "Bagus! Bagus sekali!" teriaknya, namun ia tidak mampu mengucapkan kata-kata lain lagi. Ia hanya mencengkeram gagang Pedang Suci Xiaofeng dengan tangan yang semakin gemetar kencang.
Perlu diketahui, kapan pernah Chen Mo menanggung penghinaan sebesar ini? Sebagai murid terkemuka Perguruan Diancang sekaligus salah satu dari sepuluh pendekar muda teratas, posisinya bisa dikatakan telah mencapai puncak yang diimpikan oleh semua anak muda. Namun, ia justru dipermalukan sedemikian rupa oleh seorang pemuda tidak terkenal dari Perguruan Jingang! Terlebih lagi kekalahan itu terjadi karena ia terjebak tipu daya! Dan sekarang ia malah dibilang kalah karena tidak becus! Meskipun ucapan itu mungkin ditujukan kepada adik seperguruan Zhang Zhiheng yang sudah tewas di sana, namun bagaimana pun kalimat itu didengar, rasanya tetap sangat janggal dan menyakitkan!
Meskipun Zhuge tampak kaku, kata-kata yang diucapkannya sangat menusuk hati. Entah apakah ia melakukannya dengan sengaja, pada saat itu ia kembali berkata, "Guru saya juga pernah berkata, segala sesuatu harus dilakukan sesuai dengan kemampuan diri sendiri. Jika terjadi masalah, kita tidak bisa menyalahkan orang lain."
"Bagus sekali, 'segala sesuatu harus dilakukan sesuai dengan kemampuan diri sendiri'!" Sebuah tawa panjang terdengar, dan sesosok bayangan berwarna biru muda melesat tiba-tiba. Ketika bayangan itu berhenti dan berdiri tegak, ternyata ia adalah seorang paruh baya berusia sekitar empat puluh tahunan. Meskipun usianya tidak lagi muda, ia tampak sangat terawat; kulitnya putih dan halus, wajahnya bersih tanpa janggut, mengenakan jubah panjang berwarna biru muda yang membuatnya tampak seperti seorang cendekiawan dengan aura yang tenang dan elegan.
Setibanya di tengah arena, orang itu terlebih dahulu membungkuk memberi hormat kepada Wuhuzi. "Jingang dari Diancang datang menghadap Senior Wuhuzi. Sungguh tidak tahu bahwa Senior juga melewati Nanyang, jika tahu, Jingang pasti sudah sejak awal pergi berkunjung."
Pendatang itu ternyata adalah Ketua Perguruan Diancang!
Wuhuzi membalas salam hormat itu dan berkata, "Ternyata Ketua Diancang yang datang. Kalau begitu, urusan di sini tidak perlu lagi dinilai oleh saya."
Mendengar hal itu, Jingxian tersenyum tipis dan berkata, "Senior harap tenang, Jingang pasti akan menangani masalah ini secara adil dan tidak akan memihak hanya karena melibatkan murid dari perguruan saya sendiri." Setelah berkata demikian, ia memberi isyarat kepada Gong Feng untuk maju dan menceritakan seluruh kejadian yang telah terjadi dari awal hingga akhir. Di hadapan begitu banyak orang yang menyaksikan, Gong Feng tidak berani memutarbalikkan fakta atau berdusta.
Setelah Gong Feng selesai menuturkan seluruh kejadian secara jujur apa adanya, ekspresi wajah Jingxian sama sekali tidak berubah. Ia berbalik menghadap Zhuge yang berdiri di samping dan tersenyum. "Pertarungan di dunia persilatan memang tidak luput dari risiko cedera dan kematian. Murid Diancang saya kurang berlatih sehingga keterampilannya dangkal, jadi kami memang tidak punya alasan untuk menyalahkan siapa pun."
Begitu kalimat ini terucap, Gong Feng langsung merasa cemas dan membuka mulutnya seolah hendak melayangkan protes, namun pada akhirnya ia tidak berani mengeluarkan suara.
Xingyun mengira setelah Ketua Diancang tiba, ia akan membela murid dari perguruan sendiri. Siapa sangka pria itu justru melontarkan perkataan seperti itu. Sebenarnya, dalam masalah ini Zhuge dari Perguruan Jingang memang bukan sepenuhnya tanpa cela, tindakan yang diambilnya memang terlalu berat.
Namun, baru saja Xingyun memikirkan hal itu, nada bicara Jingxian tiba-tiba berubah. "Akan tetapi, bagaimana pun juga murid Diancang saya tewas di tanganmu. Risiko cedera dalam pertarungan bukanlah berarti boleh mengabaikan nyawa. Hanya karena masalah sepele akibat ucapan yang terlepas secara tidak sengaja lantas dibunuh, tindakan itu sudah keterlaluan meskipun dilakukan dalam sebuah pertarungan."
"Aku tidak akan mempersulitmu terlalu banyak. Ikutlah bersamaku menghadiri Persekutuan Gunung Song. Setelah persekutuan selesai dan kita kembali ke Diancang, para sesepuh di perguruan kami akan memberikan keputusan yang adil untukmu. Namun, apa pun hasil akhirnya nanti, aku, Jingxian, menjamin keselamatan nyawamu."
"Ucapan macam apa itu! Padahal sebelumnya sudah jelas dikatakan bahwa hidup dan mati ditanggung sendiri, kenapa sekarang malah menjadi tidak berkaitan dengan hidup dan mati? Mana mungkin akan ada keputusan yang adil dengan cara seperti ini?" Xingyun merasa sangat cemas di dalam hatinya, tetapi ia tidak bisa mengatakannya secara terus terang. Ia hanya bisa memandang tajam ke arah Zhuge, berharap pemuda itu mengerti dan sama sekali tidak boleh menyetujui tawaran tersebut.
Entah Zhuge menyadari isyarat dari Xingyun atau tidak, pemuda itu menggelengkan perlahan dan berkata, "Tujuan saya datang ke sini adalah untuk menghadiri Persekutuan Gunung Song, demi memulihkan reputasi Perguruan Jingang di hadapan dunia persilatan. Oleh karena itu, saya tidak bisa pergi bersama Anda ke Diancang. Masih ada banyak urusan di Perguruan Jingang yang memerlukan kehadiran saya."