Bab Seratus Lima Puluh Tujuh: Toko Ini Sungguh Luar Biasa
Dekan Hu hampir saja meneteskan air mata karena kelezatan makanan tersebut.
Begitu mencium aromanya, ia sudah tahu bahwa hidangan itu pasti lezat, tetapi ia sama sekali tidak menyangka akan selezat ini!
Nasi putihnya juga sangat enak dan harum.
Satu mangkuk nasi langsung habis dalam sekejap.
Ia hampir saja memanggil pelayan untuk menambah nasi.
Namun, yang ada di sini hanyalah makhluk buas.
Ketika anjing berwarna abu-abu putih itu mengantarkan ikan kuah asam ke mejanya, ia mengeluarkan sebutir batu energi dari saku bajunya dan berkata kepada anjing itu, "Bisakah kamu memberiku tambahan satu porsi nasi?"
Anjing abu-abu putih itu menggelengkan kepalanya.
"Kira-kira siapa orang ini! Ternyata si Anjing Tua Hu. Kamu bahkan tidak tahu aturan restoran ini. Makan di sini tidak ada sistem tambah nasi. Kalau makannya banyak, bawalah nasi sendiri dari rumah."
Antara satu universitas dan universitas lainnya pasti ada persaingan.
Oleh karena itu, karena pendirian yang berbeda, Dekan Hu dan Dekan Shi selalu saling bersaing secara diam-diam setiap kali mereka bertemu.
Dekan Shi tampak sangat bangga. Ia membawa dua buah roti pipih di dalam kotak termos. Meskipun roti pipih itu tidak memiliki rasa yang kuat, rasanya menjadi sangat nikmat saat dicelupkan ke dalam kuah.
Dekan Hu melirik sekilas ke arah menu pesanan Dekan Shi, lalu tertawa terbahak-bahak, "Aduh, Tua Shi, perbuatanmu ini sungguh tidak terpuji. Menumpang makan masakan mahasiswamu sendiri, bagaimana bisa seorang pendidik mengeksploitasi mahasiswanya sedemikian rupa!"
"Ini adalah bentuk berbakti dari anakku, tidak seperti orang tertentu yang melajang seumur hidupnya. Dulu sewaktu muda bersenang-senang, sekarang giliran ingin menumpang makan pun tidak ada tempat untuk menumpang."
"Aku tidak butuh, aku bisa membelinya sendiri. Coba lihat ikan kuah asamku ini, daging ikannya sangat harum! Benar-benar enak."
Dekan Hu berkata dengan penuh rasa bangga kepada Dekan Shi.
Bagian dasar dari ikan kuah asam itu dilapisi dengan sayur asin fermentasi, sementara di atasnya tersusun rapi irisan ikan gabus. Sayur asinnya terasa begitu segar dan menggugah selera, irisan daging ikannya berwarna putih bersih dan sangat lembut, sementara kuah ikannya direbus hingga berwarna putih kekuningan. Aromanya tercium begitu harum. Di atas kuah ikan tersebut mengapung beberapa buah cabai merah acar yang tampak bagaikan peri kecil. Begitu dihidangkan, aromanya langsung tercium, membuat nafsu makan Dekan Hu melonjak drastis dan air liurnya hampir menetes. Terlebih lagi, kuah dasarnya ini setara dengan sup ikan pekat yang bisa langsung diminum, dengan sensasi rasa asam dan pedas yang terasa amat luar biasa di lidah.
Dekan Hu mencicipi sesap kuah ikan kuah asam tersebut, dan seketika itu juga, segala kepahitan serta kekesalan seolah-olah ikut larut bersama rasa pedas ikan kuah asam ke dalam perutnya, membuat suasana hatinya menjadi sangat lega dan bahagia.
Bahkan Dekan Shi yang biasanya begitu menyebalkan pun terasa tidak begitu menjengkelkan lagi.
Aroma sup sayur hijau miliknya terasa jauh lebih hambar jika dibandingkan dengan sup ikan kuah asam yang begitu kaya rasa, hingga aroma sup sayur hijau itu tertutup sepenuhnya.
Dekan Hu bahkan sengaja mengunyah dengan suara yang dikecap-kecap agar terdengar jelas.
Dalam sekejap, Dekan Shi merasa sedikit menyesal. Ia mendadak ingin mengganti menu rebusan daging untuk besok dengan ikan kuah asam saja.
Ikan kuah asam ini terlihat begitu lezat!
Ia sebenarnya berusaha untuk tidak melihat ke arah ikan kuah asam itu, tetapi semakin ia melarang dirinya untuk melihat, semakin besar pula rasa penasarannya. Tampak gelembung-gelembung masih meletup di dalam mangkuk kuah ikan tersebut, sementara sayur asin dan irisan ikan yang putih bersih sebagian mengapung di permukaan kuah, dan sebagian lagi telah tenggelam ke dasar. Di permukaan kuah juga tampak mengapung beberapa buah cabai merah cerah yang terlihat sangat menggoda. Kuah ikan tersebut memancarkan aroma asam pedas yang begitu pekat.
Sudahlah, biarkan saja ia memesan ikan kuah asam lusa saja!
Sup sayur hijau miliknya meskipun tampak sederhana, rasanya sebenarnya tetap sangat nikmat.
Rasa sayur hijau tersebut memberikan sensasi kesegaran alami dari alam, tampak hijau dan segar. Saat digigit di dalam mulut, rasanya renyah, menghadirkan nuansa kesegaran yang sangat alami.
Sementara supnya sendiri telah meresap sepenuhnya dengan kelezatan sayur hijau, di mana setiap tegukan terasa begitu segar dan manis.
Menu yang satu ini harus dinikmati secara perlahan, karena menonjolkan cita rasa asli dan murni dari sayur hijau itu sendiri.
Rasanya tidak kalah lezat dibandingkan dengan ikan kuah asam tadi.
Hanya orang-orang yang memiliki selera tinggi yang dapat menikmati kelezatan sup sayur hijau ini secara perlahan.
Sup yang begitu nikmat, dipadukan dengan se gigitan roti pipih, benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam dan tak terlupakan, seolah-olah jiwa seseorang pun ikut memancarkan aroma keharuman sayur hijau.
Keduanya tidak lagi berbicara dan mulai menikmati hidangan dengan serius.
Bagaimana pun juga, pihak lawan sama sekali tidak layak untuk membuang-buang waktu mereka.
Setelah perut mereka kenyang, Dekan Hu melihat Dekan Shi dan putranya masing-masing membawa sebuah gelas untuk mengambil secangkir Sprite.
Ia tidak membawa gelas.
Sesuatu yang dikonsumsi oleh lawannya sudah pasti adalah hal yang bagus.
Besok ia juga harus membawa sebuah gelas.
Sprite ini harganya hanya seribu yuan per cangkir, padahal sebelumnya ia sempat mengira harganya terlalu murah sehingga ia enggan membelinya!
Namun sekarang, ia tahu pasti bahwa segala hal di restoran ini adalah barang-barang berkualitas tinggi.
Keahlian memasak ini bahkan tidak kalah sedikit pun jika dibandingkan dengan koki bintang sembilan di luar sana.
Hanya saja, hidangan buatan koki bintang sembilan terlalu mahal, bahkan dirinya pun merasa harga tersebut sedikit memberatkan.
Sebaliknya, makanan di restoran milik Song Yi ini harganya bagaikan harga sayur murahan di pasar.
Restoran sebagus ini, mengapa harus dibuka di Kota Xingyun?
Alangkah lebih baik jika restoran ini dibuka di Kota Xinghai tempat mereka berada.
Namun untungnya jaraknya juga tidak terlalu jauh, dengan menaikki kendaraan terbang, mereka bisa tiba di Kota Xingyun dalam waktu sekitar satu jam.
Hanya saja para pendekar kelas bawah dikhawatirkan tidak akan mampu menanggung biaya perjalanan kendaraan terbang tersebut secara terus-menerus.
Demi menghemat uang, sudah banyak orang yang memilih untuk menetap di Kota Xingyun.
Bahkan harga properti di sekitar area ini telah melonjak hingga beberapa kali lipat.
Dekan Hu telah mendengar banyak pendekar yang mengeluhkan bahwa harga perumahan di sekitar sini sangat tidak masuk akal.
Eksodus para pendekar kelas bawah ini sebenarnya merupakan suatu hal yang baik, karena mereka merepresentasikan elemen-elemen yang rentan menimbulkan gejolak dan ketidakstabilan.
Namun sekarang, setidaknya mereka bisa menikmati secangkir Sprite dari restoran Song Yi.
Berkat dukungan dari Sprite tersebut, kekuatan mental mereka menjadi lebih tenang dan damai, kondisi fisik mereka membaik, dan seluruh diri mereka pun dipenuhi dengan semangat juang yang tinggi.
Inilah bentuk produktivitas, sekaligus sebuah kekuatan besar yang berhasil mengubah hal yang tidak berguna menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.
Meskipun di dalam hatinya Dekan Hu merasa sangat iri, namun di kota mereka tidak dapat ditemukan seorang pun yang memiliki keahlian memasak semacam ini, apalagi seseorang yang bersedia menjual makanan restoran dengan harga serendah ini.
Melihat ekspresi kebahagiaan di wajah orang-orang sekitar, Dekan Hu menghela napas pelan sambil menjilat sisa-sisa kuah yang menempel di mangkuknya hingga bersih.
Setelah itu baru ia beranjak pergi dengan perasaan enggan. Restoran ini benar-benar tempat yang luar biasa!
Sekembalinya ke akademi, Dekan Hu mendapati bahwa Dekan Shi ternyata telah berhasil menyelesaikan tantangan tersebut. Video keberhasilannya tampak begitu berantakan, tetapi ia benar-benar berhasil menaklukkannya.
Bukan hanya Dekan Shi saja yang berhasil.
Bahkan Harimau Putih di depan pintu restoran Song Yi dan anjing abu-abu putih yang bertugas mengantar makanan di dalam restoran juga telah berhasil menyelesaikan tantangan itu.
Jika dirinya sampai gagal menaklukkannya juga, lalu bagaimana ia bisa memunculkan diri di hadapan para dekan lainnya?
Bukankah itu hal yang sangat memalukan?
Memikirkan hal itu, Dekan Hu memutuskan untuk berusaha dengan sekuat tenaga.
Kesempatan tantangannya hanya tinggal satu kali lagi, jadi ia tidak boleh bertindak gegabah dan menantangnya secara sembarangan.
Ia mempelajari beberapa video penyelesaian tantangan dengan sangat teliti.
Ia mendapati bahwa ada juga peserta yang sejak awal sudah berada dalam posisi yang dirugikan.
Sebagai contoh adalah anjing abu-abu putih itu, yang sepenuhnya mengandalkan tekad pantang menyerah untuk bisa lolos.
Namun, meskipun seseorang berhasil memegang kendali di awal, pada akhirnya semua itu tetap harus bergantung pada kekuatan tekad di ujung laga.
Keberhasilan Dekan Shi dalam menaklukkan tantangan murni karena penggunaan taktik yang sangat baik. Taktik tersebut sangat bagus, dan sebenarnya ia bisa menirunya.
Tidak, bahkan ia bisa memperbaikinya menjadi lebih baik lagi.
Setelah mencoba berkali-kali di ruang latihan, Dekan Hu akhirnya dengan hati-hati mengeklik tahap tantangan tersebut dan mulai bertarung.
Sesuai dengan taktik tersebut, performanya di tahap awal memang sangat baik dan berhasil memegang kendali, namun seiring berjalannya waktu, ia mulai merasa kewalahan.
Tahap tantangan ini terasa begitu nyata, di mana rasa lelah dan sensasi kelemahan yang menghampiri seolah-olah menguras habis jiwanya hingga ke akar-akarnya.
Pada saat inilah kekuatan tekad seseorang diuji.
Kekuatan tekad ini bukanlah sekadar bertahan dengan pikiran bahwa ia hanya perlu bertahan selama tiga puluh menit. Jika seseorang memiliki pola pikir seperti itu, dipastikan ia akan mengalami kekalahan telak.