Lentera Tua Berlumuran Darah
Salju itu dingin, dan darah itu panas.
Ketika lentera merah yang telah pudar itu bergoyang di dalam angin, para peminum di penginapan tiba-tiba terdiam.
Ada sebuah lubang pada lentera tersebut, angin menerobos masuk dari sana dan mengeluarkan suara mendengung seperti ratapan, bagaikan seseorang yang sedang menangis.
Pemilik penginapan mendongak sekilas, lalu menunduk kembali untuk melanjutkan permainannya dengan sempoa.
Ia tahu, lentera ini telah tergantung di sini selama tujuh tahun, dan selama tujuh tahun itu, lentera ini tidak pernah menyala.
Namun malam ini, lentera itu tiba-tiba menyala.
Satu, Tamu Tak di Undang
Pintu itu ditendang hingga terbuka.
Angin dingin membawa serpihan salju masuk, memadamkan lilin terakhir di sudut ruangan.
Semua orang memicingkan mata, kecuali pemilik penginapan di balik konter yang tidak bergerak.
Ia masih menundukkan kepalanya, jari-jarinya dengan lembut menggeser manik-manik sempoa, seolah-olah yang masuk bukanlah manusia, melainkan hembusan angin yang tidak berarti.
Namun orang-orang lain di dalam penginapan itu langsung menegang.
Karena yang masuk adalah seseorang yang membawa pedang.
Pedangnya tidak panjang, tetapi sangat ramping, begitu ramping hingga menyerupai seberang sinar bulan.
Sarung pedangnya berwarna hitam pekat, hulu pedangnya dililit dengan kain sutra merah yang telah pudar, menyerupai darah yang telah mengering.
Jubah sang pendekar pedang dipenuhi oleh timbunan salju, pinggiran topi bambunya ditarik sangat rendah, hanya memperlihatkan separuh wajahnya yang pucat.
Ia berjalan ke depan konter, lalu melemparkan sebatang batangan perak.
“Anggur.”
Hanya satu patah kata, suaranya serak, seolah-olah sudah sangat lama tidak berbicara.
Pemilik penginapan akhirnya mendongak, meliriknya sekilas, lalu mengambil sebotol anggur dari bawah konter dan mendorongnya ke depan.
Pendekar pedang itu tidak menerimanya, ia hanya menatap lekat-lekat pada lentera merah yang menyala itu, lalu tiba-tiba bertanya: “Mengapa ia bisa menyala?”
Jari pemilik penginapan berhenti sejenak, lalu berkata dengan tenang: “Karena seseorang telah kembali.”
Pendekar pedang itu terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tersenyum.
“Benar, seseorang telah kembali.”
Ia mengulurkan tangan untuk melepas jubahnya, menampakkan wajah yang dipenuhi oleh bekas luka.
Penginapan itu seketika menjadi sunyi senyap.
Karena semua orang telah mengenalinya—
“Pedang Hantu” Ye Gudeng.
Dua, Hutang Tujuh Tahun Silam
Tujuh tahun yang lalu, ada tiga bilah pedang tercepat di dunia persilatan.
Bilah pertama adalah pedang milik “Pedang Pemutus Jiwa” Liu Canyang, setiap kali pedangnya keluar pasti akan terlihat darah.
Bilah kedua adalah pedang milik “Pedang Tanpa Bayangan” Feng Wuhen, setiap kali pedangnya melintas tidak akan meninggalkan jejak.
Dan bilah yang ketiga, adalah pedang milik Ye Gudeng.
Pedangnya tidak memiliki nama, karena setiap orang yang pernah melihatnya, semuanya telah mati.
Tujuh tahun yang lalu, Ye Gudeng pernah menjadi pembunuh bayaran yang paling ditakuti di dunia persilatan, hingga ia menghilang di tengah badai salju lebat.
Ada yang bilang ia telah mati, ada yang bilang ia telah gila, dan ada pula yang bilang ia sudah muak dengan pembunuhan dan bersembunyi di dalam pegunungan yang dalam.
Namun malam ini, ia telah kembali.
Membawa pedangnya, serta sebuah lentera yang seharusnya tidak menyala.
Tiga, Hutang Darah Dibayar Darah
Gucchi anggur dibuka dengan tepukan, aroma anggur yang pekat berhembus memenuhi udara.
Ye Gudeng mendongakkan kepalanya dan menenggak seteguk anggur, anggur keras itu meluncur turun melewati tenggorokannya, bagaikan menelan sebola api.
“Sudah tujuh tahun,” ucapnya dengan suara rendah. “Apa yang kalian hutang padaku, sudah saatnya untuk dikembalikan.”
Penginapan itu masih tetap sunyi, namun tangan setiap orang telah diletakkan di atas senjata masing-masing.
Pemilik penginapan menghela napas, dan akhirnya menutup buku besar pencatatannya.
“Ye Gudeng, seharusnya kau tidak kembali.”
Ye Gudeng tersenyum, senyuman yang membawa hawa dingin setajam bilah pedang.
“Tetapi aku tetap kembali.”
Belum sempat suaranya mereda, pedangnya telah keluar dari sarungnya!
Sinar dingin berkilat, bahkan seorang pendekar pedang yang berdiri paling dekat dengannya tidak sempat mencabut senjatanya, sebuah goresan darah telah muncul di lehernya.
Darah terciprat ke atas lentera, mewarnai merah sapuan warna merah tua yang telah pudar itu.
Sosok Ye Gudeng melesat bagaikan bayangan iblis di tengah kerumunan, setiap tebasan pedangnya dengan akurat mengoyak leher seseorang.
Tidak ada jeritan, tidak ada perlawanan, yang ada hanyalah suara debam mayat yang jatuh ke lantai.
Ketika orang terakhir jatuh, Ye Gudeng berdiri di tengah genangan darah, ujung pedangnya meneteskan darah.
Pemilik penginapan masih duduk di balik konter, seolah-olah tidak peduli dengan pembantaian yang terjadi di depan matanya.
“Kau tidak akan bisa membunuh mereka semua,” ucapnya tenang. “Perkara tujuh tahun lalu, terlalu banyak orang yang terseret di dalamnya.”
Ye Gudeng merenggut darah dari bilah pedangnya, dan berkata dingin: “Kalau begitu, bunuhlah sampai orang terakhir.”
Pemilik penginapan menggelengkan kepalanya, mengambil sepucuk surat dari bawah konter, lalu mendorongnya ke depan.
“Seseorang memintaku untuk menyampaikannya kepadamu.”
Ye Gudeng menatap surat itu, tidak bergerak.
“Surat dari siapa?”
“Seorang kawan lama.”
Ye Gudeng terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangan mengambil surat tersebut dan membukanya.
Hanya ada satu baris kalimat di dalam surat itu—
“Saat lentera menyala, hutang darah dibayar darah.”
Jari-jari Ye Gudeng sedikit mengerat, kertas surat itu berubah menjadi serpihan di dalam telapak tangannya.
Ia mendongak menatap lentera merah itu, lalu tiba-tiba tersenyum.
“Bagus, kalau begitu kita mulai dari malam ini.”