Bab Sembilan: Masih Belum Cukup!
Chen Yuan tidak tahu bahwa kehadirannya yang singkat saja sudah meninggalkan kesan yang tak terhapuskan dalam dunia dua orang itu... dan juga kenangan yang mungkin tak akan mereka lupakan seumur hidup. Hanya saja, kenangan itu tidaklah indah.
Namun sejujurnya, Chen Yuan tidak berniat menakuti mereka. Ia hanya ingin memperingatkan agar jangan membicarakan dirinya di belakang. Setidaknya, jangan di tempat yang bisa didengarnya.
Chen Yuan paham, dengan reputasinya selama ini, wajar saja bila ia dipandang rendah. Ia juga tak merasa perlu terjebak dalam upaya membuktikan diri. Para pemburu amatir memandangnya seperti katak dalam sumur yang mengira dirinya menggapai bulan. Para pemburu sejati melihatnya laksana seekor plankton menatap langit biru.
Bayangan Chen Yuan akan berkeliaran di pegunungan itu untuk waktu yang lama. Saat itu tiba, mereka pun akan belajar menghormatinya layaknya dewa!
Waktu akan membuktikan segalanya. Namun untuk saat ini...
"Eh, bukankah itu Chen Yuan? Apa kau tahu diri karena tak mampu memenuhi target, jadi pulang dengan ekor di antara kaki?"
Baru saja ia tiba di gerbang desa, suara ejekan yang tak berusaha disembunyikan sudah terdengar dari kejauhan, membuat Chen Yuan hanya bisa menghela napas.
Sebelum waktunya tiba untuk membuktikan segalanya, gangguan-gangguan semacam ini masih harus ia hadapi sendiri...
Wang Yun sudah menunggu di gerbang desa bersama beberapa wanita yang akrab dengannya, lengkap dengan meja, bangku, dan timbangan. Meski perburuan kecil itu berlangsung tiga hari, tenda pemeriksaan hasil buruan sudah didirikan sejak hari pertama. Ini memang untuk memacu semangat para pemburu.
Memang tidak ada hadiah nyata, namun menjadi yang pertama mendapat hasil adalah pertanda baik, dan bisa sangat memuaskan rasa bangga diri sendiri maupun istri di rumah. Tentu saja, sepulangnya mereka akan mendapat keuntungan tersendiri. Maka semua orang pun berlomba-lomba.
Tak disangka siapa pun, orang pertama yang kembali dengan hasil buruan justru bukan tim pemburu paling berpengalaman, melainkan Chen Yuan—dia yang dianggap mustahil bisa menyelesaikan tugas.
Bukan hanya Wang Yun yang tak percaya Chen Yuan bisa memenuhi target. Selain seorang gadis seusia Chen Yuan, para wanita lain pun tak henti-hentinya mengejeknya.
Ibu-ibu yang suka menjilat Wang Yun bahkan berkata sambil tertawa, "Chen Yuan, cepat minta maaf pada Kak Yun. Siapa tahu kalau Kak Yun sedang senang, kau tak perlu setor hasil buruannya!"
Ucapan itu disambut oleh gelak tawa lainnya. Wang Yun yang duduk di bangku pun tersenyum lebar, wajahnya penuh kerutan karena terlalu gembira dipuji-puji.
"Tidak perlu," jawab Chen Yuan dengan wajah datar, lalu meletakkan gerobaknya di depan mereka agar semua bisa melihat apa isinya.
Sejenak suasana hening, lalu tiba-tiba ramai penuh kehebohan.
"Itu musang madu? Aku sering dengar, tapi belum pernah lihat! Cantik sekali bulunya! Chen Yuan bisa dapat sebanyak ini, hebat juga dia!" ujar Li Tao, perempuan muda nan cantik itu.
Matanya bersinar penuh semangat. Ia langsung mengambil satu musang madu yang bulunya masih bersih, lalu memerhatikannya dengan takjub.
Para wanita lain pun mulai ramai membahasnya, mata mereka jelas-jelas penuh iri. Jika bulu seindah itu bisa menjadi pakaian mereka, mereka tak berani membayangkan betapa banyaknya tatapan iri yang akan mereka dapat!
Bulu musang madu memang indah dan mencolok, bahkan di antara musang pun termasuk yang paling cantik. Pada zaman ketika orang-orang mulai memedulikan perpaduan warna dan kemilau kain, musang madu ini bagaikan pengejawantahan keindahan yang mereka idam-idamkan!
Hanya Wang Yun yang wajahnya langsung berubah kelam. Sejak awal ia memang tidak suka pada Li Tao, yang kecantikannya hanya kalah dari Qin Su. Kini mendengar pujian Li Tao yang terdengar nyaring itu, ia semakin kesal. Biasanya pusat pujian adalah dirinya, kini berganti pada Chen Yuan—bagaimana ia bisa senang?
"Itu cuma kebetulan! Apa hebatnya? Kalau beratnya kurang, kau harus kembali berburu lagi!" kata Wang Yun pada Chen Yuan, tapi matanya menatap tajam ke arah Li Tao.
Melihat tatapan Wang Yun, Li Tao baru tersadar, buru-buru meletakkan musang madu itu dan kembali ke sisi Wang Yun, meski matanya masih menatap penuh keengganan.
Wang Yun lalu menimbang tupai abu-abu dan kelinci liar yang memang tidak terlalu berharga dengan wajah datar, lalu pura-pura tidak peduli ketika akhirnya memindahkan pandangan ke musang madu.
"Mau menunggu aku sendiri yang mengambil musang madu itu? Kenapa tidak kau letakkan di sini?" tanyanya dengan suara dingin.
Tapi kini, hati Wang Yun justru membuncah kegembiraan. Bagi dirinya, ini adalah rejeki nomplok! Target perburuan sudah ditetapkan. Jika hasil lebih, sisanya akan ditukar dengan beras atau minyak dan dikembalikan ke mereka.
Karena itu, kelebihan hasil tidak terlalu penting. Ia hanya perlu mencatat hasil buruan di bawah jumlah sebenarnya bagi mereka yang melebihi target, sehingga kelebihannya bisa jatuh ke tangannya sendiri. Itulah sebabnya keluarganya selalu makan enak.
Semua orang sudah paham aturan tak tertulis ini. Lagipula, di belakang Wang Yun ada kepala desa, tak ada yang berani protes. Meski Wang Yun licik dan egois, ia masih tahu batas. Potongan hasil yang ia ambil paling-paling membuat mereka kehilangan satu-dua kali makan daging, tidak sampai mengganggu hidup.
Lama-kelamaan, semua terbiasa ditindas. Bahkan, mereka yang tak berani melawan memilih jalan lain: berusaha menyenangkan hati Wang Yun, berharap ia akan berbaik hati. Wang Yun pun kadang memberi mereka sedikit imbalan, agar mereka merasa "uang perlindungan" yang diberikan memang berguna, sehingga mereka rela terus-menerus dimanfaatkan.
Karena itulah, Wang Yun semakin lama semakin arogan dan semena-mena. Ia ingin Chen Yuan tahu betapa pedih akibat melawan dirinya! Jika hasil buruan Chen Yuan tidak mencapai target, ia akan bersikap tegas dan "menjalankan tugas"!
Kalau Chen Yuan tak mau berlutut memohon ampun, ia akan menempelkan label malas pada Chen Yuan, membuatnya tak pernah bisa bangkit! Yang paling penting, Chen Yuan tampaknya tidak tahu nilai musang madu, bahkan belum menguliti bulunya!
Jika sudah di tangannya, semua bulu itu pasti jadi miliknya! Dengan bulu secantik itu, ia bisa menjahit mantel indah yang pasti mengalahkan Qin Su. Di desa ini, hanya dia yang pantas mengenakan mantel bulu musang madu secantik itu!
Membayangkan hal itu saja sudah membuat hatinya berbunga-bunga. Bulu musang dari suami Qin Su, nantinya pun tetap akan ia kenakan!
Namun saat ia sedang berkhayal, tiba-tiba Chen Yuan mengambil seekor musang madu, meletakkannya di atas meja, lalu mengiris perutnya dengan satu sayatan panjang!
Musang-musang madu itu baru mati kurang dari dua jam, darahnya pun masih segar. Begitu dibelah oleh Chen Yuan, darah pun muncrat ke mana-mana!
Bahkan Wang Yun yang dikenal pemberani pun terkejut bukan main.
"Chen Yuan! Apa yang kau lakukan!" bentaknya marah setelah berhasil menenangkan diri.
Chen Yuan tak menggubris. Ia memang sengaja menunggu hingga saat penimbangan untuk menguliti musang itu, agar Wang Yun hanya bisa gigit jari.
Dengan pisau runcingnya, Chen Yuan menguliti musang itu dengan gerakan halus dan cepat. Begitu kulitnya terlepas, daging musang madu itu langsung jatuh ke atas timbangan.
Adegan itu membuat beberapa wanita yang belum pernah melihat proses berburu sampai menjerit ketakutan dan buru-buru menoleh menjauh.
"Kenapa belum mulai menimbang? Atau kau mau aku sendiri yang menimbangnya?" ujar Chen Yuan, menirukan nada Wang Yun.
Wajah Wang Yun pun merah padam menahan marah, namun ia tak punya pilihan selain memungut musang madu yang sudah tak berkulit dan mulai menimbangnya.
Chen Yuan pun segera menguliti musang kedua, kali ini lebih cekatan daripada sebelumnya. Wang Yun menatap satu per satu kulit musang yang terlepas, sementara angka di timbangan terus bertambah mendekati target, hatinya semakin sakit dan marah.
Ia sudah menganggap bulu-bulu itu miliknya! Kini Chen Yuan secara terang-terangan merebut harta yang sudah ia klaim! Ini adalah penghinaan!
Melihat ketenangan wajah Chen Yuan, amarah Wang Yun seolah membakar dadanya. Namun tiba-tiba ia teringat satu hal: sejak kecil Chen Yuan sudah suka bergaul dengan preman. Jadi ia tak hanya payah dalam berburu, membaca dan berhitung pun tak bisa!
Yang paling parah, Chen Yuan bahkan tidak tahu cara membaca timbangan! Kebenaran dan kebohongan semua ada di tangannya!
Menyadari itu, Wang Yun pun mendapat ide cemerlang.
Chen Yuan sendiri tidak tahu niat buruk Wang Yun, ia hanya semakin mahir dan cepat dalam menguliti setiap musang. Bahkan Wang Yun yang hanya tinggal menimbang pun mulai kewalahan mengejar kecepatannya.
Meski begitu, Wang Yun tetap menolak bantuan teman-temannya dan memilih menimbang sendiri, berpura-pura sangat teliti dan cermat.
Setelah musang terakhir dilempar ke keranjang besar di sampingnya, Wang Yun menatap Chen Yuan dan mencibir, lalu berkata dengan acuh, "Tidak cukup!"