Bab 61: Memasuki Barak Militer
Ketika api menyala dengan hebat di depan gerbang kediaman keluarga Dai, Nanyan pun melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Ibu dan anak dari keluarga Dai bukanlah orang bodoh. Dengan petunjuk yang telah diberikannya, Nanyan yakin bahwa apa pun yang hendak dilakukan Meng Yifeng di Kota Furong kini akan menjadi sangat sulit, bak menjangkau langit dengan tangan. Saat ini Qingqiu memang tidak bisa berhadapan langsung dengan Dinasti Zhou, tapi sekadar menggerakkan lidah, Nanyan amat menikmatinya. Semakin marah Meng Yifeng, semakin besar kemungkinan ia mengambil keputusan yang salah.
Kepergiannya pun dapat mengalihkan perhatian Meng Yifeng, dan secara tidak langsung melindungi ibu dan anak keluarga Dai.
Saat Dai Muqing menemukan penginapan yang telah kosong melompong, keinginannya untuk menangis pun sirna. Kini ia benar-benar telah kehilangan kesempatan dengan Nanyan!
Dai Xiangshan menepuk bahu putranya, berusaha menenangkannya.
Luo Chen, kusir kereta, tampak sangat ceria, bahkan bersenandung lagu kecil yang tak dikenal siapa pun.
Nanyan memeluk sebuah buku, tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.
Lima hari kemudian, Meng Yifeng menerima surat rahasia yang dikirimkan Feiju untuknya.
Dengan marah, Meng Yifeng menghantam meja kayu cendana yang indah hingga hancur berkeping-keping.
Kala itu, ia nyaris diusir dari Kota Furong. Begitu rakyat mengetahui identitas aslinya, semua orang menjauh seperti menghindari wabah. Lukisan dan kaligrafinya dilempar ke jalan, sama seperti yang dilakukan pada keluarga Dai, bahkan dibakar di muka umum.
Seolah mereka sama sekali tidak peduli berapa banyak usaha dan pengorbanan yang telah dicurahkan demi mendapatkan karya tinta Meng Yifeng.
Selama hidupnya, ia belum pernah merasa sehina ini!
Setelah bertahun-tahun membujuk Nanshui, kini justru dialah yang membawa masalah!
Satu per satu, apakah kepala mereka dipenuhi kotoran?
Pengantar surat yang melihat ekspresi menyeramkan Meng Yifeng segera mengubur segala angan-angan tentang wajah tuannya, hanya berharap ia segera diizinkan pergi. Benar-benar menakutkan!
Rombongan Nanyan kini telah tiba di perbatasan. Dari kejauhan, tenda-tenda putih tampak seperti jamur yang tersusun rapi di atas padang rumput.
Suara latihan para prajurit di dalam perkemahan terdengar tegas dan penuh semangat. Jelas bahwa suara teriakan para lelaki lebih mendominasi.
Tampaknya, Yachun telah mengatur mereka dengan sangat baik.
Chong Miao sudah lebih dulu menunggang kuda untuk mengabari kedatangan rombongan. Tak lama kemudian, Yachun bersama beberapa orang menunggang kuda datang menyambut.
Yachun kini tampak jauh lebih kurus, namun justru terlihat lebih bersemangat.
Nanyan telah turun dari kereta, menatap mereka yang gagah di atas kuda, dan hatinya dipenuhi rasa bangga.
Siapa bilang perempuan kalah dari laki-laki!
“Dewi Langit, hamba kira Anda baru akan tiba setelah beberapa waktu lagi!”
Nanyan membantu Yachun yang berlutut dengan satu lutut untuk berdiri. Beberapa hari terakhir ini mereka telah menempuh perjalanan siang dan malam tanpa henti. Melihat pemandangan yang begitu mengagumkan, semua lelah pun terasa terbayar.
“Aku ingin membawa kabar baik ini secara langsung.”
Yachun tertegun, adakah kabar yang lebih baik dari kunjungan Dewi Langit?
Nanyan melangkah menuju perkemahan prajurit.
“Nanti kita bicarakan di jalan.”
Yachun segera mengikuti.
“Aku ingin menaikkan tunjangan bulanan semua prajurit di perbatasan. Selain itu, bagi mereka yang gugur di medan perang atau meninggal karena kecelakaan, akan diberikan santunan dengan tingkat yang berbeda-beda, serta sebidang tanah yang subur. Bagi yang pensiun, kerajaan akan menjamin hidup dan pemakaman mereka. Yang terpenting, jika prajurit lelaki berhasil meraih jasa besar, mereka juga dapat diangkat menjadi pejabat di militer. Namun, pengaturannya akan kuserahkan padamu untuk dipikirkan dengan matang.”
Hati Yachun bergetar hebat. Jika kata-kata ini diucapkan Nanyan di hadapan seluruh prajurit, mereka pasti akan mengangkatnya setinggi langit.
“Terima kasih, Dewi Langit! Hamba…”
Yachun, yang terbiasa bicara lugas, mendadak tak sanggup mengungkapkan rasa terima kasih yang membuncah. Ia hanya menyesal mengapa tidak banyak belajar dulu.
Nanyan berbalik, menatap mata Yachun yang memerah karena terharu.
“Aku yang seharusnya berterima kasih pada kalian semua—para pahlawan yang telah mengorbankan darah dan keringat demi melindungi seluruh rakyat Qingqiu!”
Tatapan tulus Nanyan membuat Yachun langsung menangis terisak tanpa mempedulikan penampilannya…
Nanyan tertegun, tanpa sengaja menoleh pada Luo Chen meminta pertolongan. Sayangnya, Luo Chen sudah mundur beberapa langkah dan menatap langit cerah, mulai menghitung jumlah matahari…