Bab 92: Pertemuan Para Pesaing Cinta
“Yang Mulia Putri Agung tiba!”
Dengan seruan penyambutan dari pelayan istana di luar aula, Nanshui pun melangkah masuk ke dalam balairung.
Yishan diam-diam memutar dari belakang dan kembali ke sisi Nanyan.
Nanshui datang setelah berdandan dengan sangat rapi.
Kain sutra berwarna merah muda yang dikenakannya membuat kulitnya yang putih terlihat semakin lembut dan bercahaya. Rambut hitamnya terurai bak air terjun di punggung, sebagian diangkat ke atas dan disematkan dua hiasan emas yang berayun. Alisnya melengkung indah, sepasang matanya jernih dan memikat, hidungnya mancung, pipinya bersemu merah, dan bibirnya tampak lembap berwarna merah ceri.
Tanpa menoleh ke kanan atau kiri, ia berjalan ke tengah aula dan memberi hormat dengan penuh takzim kepada Nanyan.
“Hamba datang terlambat, mohon Dewi memaafkan.”
Suaranya lembut bak musik dari langit, namun tanpa kesan dibuat-buat.
Nanyan melambaikan lengan bajunya.
“Kita keluarga sendiri, tak perlu terlalu formal. Silakan duduk.”
“Terima kasih, Dewi.”
Sejak awal hingga akhir, Nanshui tidak melirik ke mana pun, hanya berjalan menuju tempat duduknya, dibantu oleh pelayan, lalu perlahan duduk.
Di bawah meja, Nanyan memberi acungan jempol pada Yishan. Jika bukan karena petunjuknya, Nanshui dan Lou Yiyi tidak akan jauh berbeda.
Wajah Lou Yiyi memang dari awal sudah kalah dengan Nanyan, kini bahkan dibandingkan dengan Nanshui pun ia tampak surut.
Satu-satunya yang bisa diperebutkan hanyalah posisi tunangan itu.
Jika benar Meng Yifeng seperti yang dikabarkan, menikah dengan keluarga Qingqiu, apa lagi yang tersisa untuknya?
Sejak kecil, hatinya memang sudah dipersembahkan pada Meng Yifeng!
“Yang Mulia Putri Agung, aku dengar kau menaruh hati pada pangeran dari keluargaku?”
Nada meremehkan jelas terpancar dari mata Lou Yiyi.
Tangan Nanshui yang tersembunyi di balik lengan bajunya mengepal, senyumnya nyaris tak mampu dipertahankan.
“Ucapanmu kurang pantas, Yang Mulia. Putri Agung jarang sekali keluar dari istana sejak kecil, bagaimana mungkin bisa mengenal pangeran dari Da Zhou?”
Nanyan berkata datar, lalu melirik pada Nanshui untuk meminta konfirmasi.
Wajah Nanshui memerah, malu-malu menjawab, “Melapor, Dewi. Memang hamba memiliki seseorang yang disukai, tapi tak tahu siapa dia dan apa kedudukannya.”
Nanshui ternyata tidak terlalu bodoh, ia masih berhati-hati, takut salah orang, akibatnya bisa runyam.
Nanyan mengangguk, “Benar juga, siapa sangka pangeran Da Zhou akan jauh-jauh datang ke Qingqiu hanya untuk mencari istri.”
Ucapannya sarat makna, membuat semua orang mulai menebak-nebak.
Jingyan hampir menjadi pusat perhatian semua orang, ia benar-benar tak berdaya karena dirinya pun ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi!
Di Istana Fenggong sedang berlangsung jamuan istana, Meng Yifeng pun memanfaatkan lengahnya penjagaan untuk masuk dan mencari Nanshui.
Namun bukan hanya tak bertemu, ia malah mendengar dari pelayan Nanshui bahwa putri dari Da Zhou telah datang.
Meng Yifeng nyaris terjatuh dari tembok istana, ingin rasanya kembali ke Da Zhou dan memukuli An Hou! Menjaga satu gadis saja tak bisa, malah menambah kekacauan!
Namun kini semua orang di Istana Fenggong telah diganti, ia tak lagi punya orang kepercayaannya.
Dengan watak Nanyan, hampir bisa dipastikan identitasnya akan segera diketahui Nanshui.
Mengira kembali pada sifat keras kepala Lou Yiyi, kepala Meng Yifeng hampir meledak.
Padahal Nanshui adalah satu-satunya bidak terpenting miliknya di Qingqiu, ia benar-benar tak ingin kehilangannya begitu cepat!
Meng Yifeng menggertakkan gigi penuh amarah.
Sejak Nanyan selamat dari upaya pembunuhan di Aula Penghantar Arwah, seolah-olah dewa keberuntungan selalu memihaknya.
Dewa keberuntungan?
Tiba-tiba Meng Yifeng mendapat pencerahan. Ia merasa harus memikirkan baik-baik, siapa sebenarnya ‘dewa keberuntungan’ yang diam-diam membantu Nanyan ini!
Dengan titik terang ini, semua kemudahan yang didapat Nanyan menjadi masuk akal.
Mungkin yang harus ia lakukan bukan langsung menyingkirkan Nanyan, melainkan mencabut satu per satu orang kepercayaan di sekitarnya.
Dengan begitu, Nanyan yang sendirian takkan punya modal lagi untuk bersaing dengannya!