Bab Tujuh: Tersangka Baru
Yang satu berdiri di tempat lebih tinggi, menatap tanpa emosi, sementara yang lain menahan rasa iri dan menggantinya dengan ketulusan.
"Selamat, Nanyan."
"Jabatan pemimpin yang penuh beban ini, apa yang perlu dirayakan?"
Wajah Nanshui membeku, sikap Nanyan terhadapnya memang aneh sejak tadi malam. Apakah dia sudah menyadari sesuatu? Tapi dalam rencana kali ini, semua orang yang ditempatkan tidak pernah ia ganggu. Orang itu sudah berpesan, ia hanya perlu menyalakan ‘api’ di saat yang tepat. Jika rencananya gagal, meski semua orang dijatuhi hukuman, itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Terlebih, orang itu sudah mengirim pesan agar ia ‘menunggu’.
Nanshui tetap tenang.
"Yang Mulia, tolong jaga kesehatan Anda."
Dahi Nanyan berkerut, Nanshui jelas tidak setenang ini sebelum upacara pelantikan dimulai. Namun, selama proses itu, ia selalu dalam pengawasan Nanyan. Siapa pula yang bisa ‘menenangkan’ dirinya?
Ekspresi Nanyan tetap datar ketika ia melanjutkan, "Pelayan yang mengantarkan makanan itu mencoba bunuh diri, sayang sekali... gagal."
Nanshui menunduk, menyembunyikan keterkejutannya. Bagaimana mungkin seorang pelayan kematian tertangkap hidup-hidup? Tangannya di balik lengan baju mengepal erat, lalu ia menegakkan kepala dan tersenyum.
"Itu kabar baik."
Nanyan mengangkat alis, menilai Nanshui dengan pandangan berbeda.
"Tadi malam kau... sudah bekerja keras, pergilah beristirahat." Setelah berkata demikian, Nanyan melangkah perlahan meninggalkan tempat itu.
Nanshui menatap kepergiannya dengan ekspresi tak terbaca.
Sinar matahari siang menusuk mata, namun tidak sedikit pun mengusir hawa dingin musim gugur. Yishan memakaikan jubah pada Nanyan dan berjalan pelan mengikutinya dari belakang.
"Ada orang yang aneh hari ini di balairung utama?" Perubahan sikap Nanshui membuat Nanyan yakin pasti ada sesuatu yang ia lewatkan.
Yishan terdiam sejenak, lalu memberi isyarat agar para pelayan di belakangnya mundur.
"Feiju sangat mencurigakan."
"Oh?" Dalam benak Nanyan terlintas sosok wanita tua yang ramah. Ia adalah mantan kepala istana dalam, sangat dihargai oleh Nan Hui.
"Dia terlalu tenang."
Nanyan tidak terlalu ambil pusing dan berkata santai, "Feiju memang sudah lama di istana. Penyerangan kali ini juga tak terkait dengan istana dalam, jadi wajar jika ia tetap tenang."
"Tapi setelah mendengar Anda hampir terbunuh, dia bahkan tak menunjukkan rasa terkejut atau pun khawatir."
Saat itu Yishan masih menunggu di depan pintu balairung, sehingga ia bisa melihat Feiju yang berdiri di belakang Nanyan.
Setiap penerus pemimpin wanita selalu mengangkat pelayan utamanya menjadi kepala istana dalam, itu sudah menjadi tradisi.
Andai saja Feiju tidak terlalu tua, Nanyan sebenarnya ingin ia tetap menjabat. Bagaimanapun, Feiju yang membesarkannya dan satu-satunya yang paling lama mendampingi ibunya. Yishan jelas tidak akan berbohong padanya, namun apa alasan Feiju membantu Nanshui?
Sepanjang perjalanan, Nanyan tenggelam dalam pikirannya.
Istana Fenyang (Kediaman sang Pemimpin Wanita)
Yishan menerima jabatan kepala istana dalam. Karena upacara persembahan dan perayaan tidak diadakan, ia harus segera bertemu Feiju untuk serah terima, lalu mengurus segala urusan ‘pasca kejadian’.
Shuyun sudah mengatur pemindahan barang-barang dari Istana Rongfu ke sini. Kini ia satu-satunya pelayan utama Nanyan, jadi semua harus ia urus sendiri. Melihat Shuyun berkacak pinggang, wajahnya memerah penuh semangat, perasaan sumpek di dada Nanyan pun perlahan menghilang.
Ia tidak mengganggu Shuyun yang sedang sibuk, membiarkannya mengatur semua orang di sekeliling hingga suasana jadi ramai. Tanpa kehadiran Yishan, Shuyun memang harus belajar mandiri.
Melihat Nanyan, Shuyun buru-buru mengikuti dari belakang, kedua telunjuknya saling memutar di depan dada.
Nanyan tahu, Shuyun pasti ingin mengeluh lagi.
"Yang Mulia, hamba ini serba tak bisa, makan pun tak pernah sisa, kenapa Anda masih mempertahankan saya?"
Mengingat kejadian tadi malam saja masih membuatnya takut. Kalau bukan karena Luo Chen dan Yishan, majikannya mungkin sudah tak selamat, dan ia hampir jadi pesakitan sepanjang sejarah Qingqiu! Pagi tadi ia pikir tugasnya hanya ‘memindahkan barang’, tapi pekerjaan yang orang lain selesaikan dalam satu jam, ia kerjakan berantakan hampir tiga jam. Jika saja Yishan ada di sini...
Memikirkan itu, Shuyun benar-benar merasa bersalah.
Nanyan tertawa pelan, tak tahan mengelus kepala pelayannya itu.
"Karena kamu adalah wujud diri yang paling ingin aku jalani."
Shuyun menatap Nanyan, ragu bertanya, "Anda iri karena saya doyan makan, atau karena saya bodoh?"
Nanyan: …
Luo Chen baru selesai mengurus serah terima dan para tahanan, tepat ketika Nanyan mengutus orang untuk memanggilnya.
Selama setahun Luo Chen bertugas di samping Nanyan, semua pelayan pun mengenalinya. Ia pun masuk tanpa perlu diberitahukan.
"Yang Mulia, ada apa memanggil saya?"
Pintu kamar terbuka, Nanyan mengangkat kepala dan melihat Luo Chen berdiri di bawah sinar matahari. Wajah tampannya semakin bersinar dengan balutan jubah hijau biru barunya. Baru saat itu Nanyan tersadar, pengawalnya yang satu ini—adalah seorang pria.
Tatapan Nanyan sempat menjadi kabur, membuat Luo Chen langsung panik.
"Yang Mulia, hamba ini hanyalah tanah di bumi, Anda adalah awan di langit, jangan sampai hati Anda tergoda oleh hamba!"
Nanyan: "…"
"Dasar tebal muka! Apa sulit bagi majikan kita mencari lelaki?"
Semua orang di ruangan itu sudah saling kenal, dan Shuyun yang polos memang tak pernah mengambil hati, meski Luo Chen kini naik jabatan.
Luo Chen buru-buru menepuk dadanya.
"Astaga! Benar-benar, saya memang kelewatan! Akan saya perbaiki, sungguh!"
Nanyan menepuk kening. "Kalian berdua memang yang paling cerewet di istana ini!"
Shuyun menjulurkan lidah, Nanyan langsung mengusirnya keluar untuk berjaga agar tidak ada yang mengganggu. Urusan membaca situasi, jelas tak bisa diharapkan darinya.
Luo Chen kembali bersikap serius.
"Yang Mulia, apa yang harus saya lakukan?"
"Urusan pemeriksaan para tahanan, tunda saja. Tunggu hukum dan pengumuman baru diberlakukan di seluruh negeri, baru ambil keputusan akhir."
Agar para pejabat tidak sibuk mencari-cari cara untuk menentangnya!
"Selama waktu ini, pasti banyak yang akan mencoba menyogokmu. Terima saja… eh, setengahnya serahkan padaku."
Wajah Nanyan memerah setelah berkata begitu, ia pun buru-buru menyesap teh mengusir rasa malu.
Ekspresi Luo Chen berubah lucu—atasan sendiri mengajari menerima suapan, bahkan minta bagian pula! Ke mana perginya pemimpin agung yang dermawan di balairung tadi?
"Yang Mulia, Anda benar-benar…"
"Ya?"
"Sungguh cerdas~ hehehe…"
Nanyan menerima pujian itu dengan setengah hati.
"Bisa hubungi gurumu?"
Sejenak, dalam benak Luo Chen muncul bayangan seorang perempuan dengan gaya urakan.
"Guru bilang, setelah hasil pemilihan diumumkan, ia akan datang ke istana, tapi tidak bilang bagaimana cara menghubunginya."
Nanyan mengerutkan dahi.
"Kalau begitu suruh saudara Yuan mengawasi Feiju. Selidiki juga apakah keluarganya mengalami perubahan beberapa tahun terakhir. Tak perlu ikut campur, cukup laporkan aktivitas harian Feiju."
Luo Chen sedikit terkejut. Feiju adalah salah satu wanita paling berwibawa yang pernah ia temui sejak datang ke sini. (Satunya lagi tentu saja Nanyan.)
Konon sebelum masuk istana, Feiju punya seorang putri, namun anak itu meninggal dunia karena sakit. Sejak itu ia mengabdikan hidupnya di istana, meski punya rumah di luar, ia tak pernah menikah lagi dan sepenuhnya mengurus ‘pekerjaan’.
Ia tidak menindas orang, rajin, ramah pada siapa saja—nyaris sempurna di lingkungan istana Fenyang.
Namun segera saja, Luo Chen menepis keraguannya.
Seringkali, kesempurnaan justru menjadi celah terbesar.
…