Bab Seratus Dua Puluh Dua: Rangsangan
Da Yao berbalik dengan tiba-tiba, membuat kupu-kupu di semak bunga beterbangan.
Nan Yan berjalan mendekat dengan jubah sutra berwarna putih giok, rambut hitamnya disanggul dengan hiasan giok, bibirnya tidak dipulas pewarna, namun tanda lahir berwarna merah tua di antara kedua alisnya tampak merah seperti darah. Ia tetap memasang wajah tanpa ekspresi, namun pesonanya sudah cukup untuk membuat siapa pun terpikat.
"Sepertinya beberapa hari ini kau melaluinya dengan cukup baik."
Begitu Nan Yan membuka suara, Da Yao baru tersadar dari lamunannya. "Terima kasih atas perhatian Sang Dewi."
"Sudah seharusnya. Aku ingin membawa Da Yu sebentar, apa kau keberatan?"
Da Yao tersenyum pasrah. "Jika aku keberatan, apakah Anda tidak akan membawanya?"
Setelah berpikir sejenak, Nan Yan menjawab, "Apa yang kau katakan ada benarnya juga."
Nan Yan datang dan pergi dengan terburu-buru. Da Yu tetap diseret pergi sambil mengomel tanpa henti, hanya saja kali ini isinya adalah aduan. Melihat sosok putih itu menghilang sepenuhnya, Da Yao kembali memasang raut wajah yang hampa. Hatinya tidaklah seangkuh itu, namun teringat kejadian tadi, ia merasa seperti selir di istana belakang yang menanti kunjungan sang raja, namun bunga yang jatuh memiliki niat, sementara aliran air sudah tak lagi memiliki perasaan.
Saat Da Yu melihat Fei Ju, ia tidak mengerti apa tujuan Nan Yan.
Luka Fei Ju sudah membaik, namun karena usia yang sudah lanjut dan tidak sedikit tekanan yang ia alami beberapa hari ini, semangatnya tampak sangat menurun. Ia hanya bersandar untuk duduk. Toh, hubungan mereka sudah retak, ia pun malas untuk terus bersandiwara.
Nan Yan tidak memedulikan hal itu. "Da Yu, Fei Ju mengatakan bahwa saat kerusuhan di Kerajaan Huanyue dulu, dialah yang melindungi Raja dan Permaisuri untuk pergi, dan pelaku pembunuhannya berasal dari kediaman Perdana Menteri Kiri."
Fei Ju terkesiap. Kapan dia mengatakan hal seperti itu?!
Namun, sebelum Fei Ju sempat membantah, Nan Yan melanjutkan, "Aku sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan kerusuhan di kerajaan kalian, tetapi karena ada seseorang yang menyusup ke Istana Feng untuk berbuat onar, aku tidak akan membiarkannya begitu saja!"
"Fei Ju tidak hanya menggelapkan uang, tetapi juga meracuniku. Semua ini disebabkan oleh kediaman Perdana Menteri Kiri kalian. Hari ini, sebaiknya kau berikan penjelasan padaku! Jika tidak, pernikahan ini harus dibatalkan!"
Da Yu benar-benar terpancing dan terperangah. "Dewi, kakak laki-lakiku dulu tewas terbakar di aula agung justru karena melindungi Raja dan Permaisuri. Meskipun saat itu aku masih kecil, pembunuh Raja pastilah bukan berasal dari kediaman Perdana Menteri Kiri kami!"
Ia benar-benar lupa akan pesan Da Yao agar tidak menumpahkan segala sesuatunya kepada Nan Yan seperti kacang yang keluar dari kulitnya.
"Lagipula, jika memang kami pelakunya, mengapa raja boneka yang berkuasa saat ini masih terus menekan kekuasaan kediaman Perdana Menteri Kiri!"
"Putra Mahkota Kerajaan melarikan diri saat kerusuhan itu dan jejaknya belum ditemukan hingga kini. Ia bahkan membawa lari stempel kerajaan. Jika bukan karena itu, kediaman kami tidak mungkin bisa bertahan sampai sekarang. Wanita tua ini benar-benar memfitnah!"
Fei Ju murka. "Omong kosong!"
Da Yu menyingsingkan lengan bajunya. "Aku omong kosong? Kau menghilang bersama Putra Mahkota, sekarang malah membalikkan fakta. Katakan, di mana kau menyembunyikan sang Putra Mahkota?!"
Fei Ju terdiam dan memilih untuk bungkam. Nan Yan sengaja hanya membawa si polos Da Yu ini untuk memancing pembicaraan. Semakin banyak bicara, semakin banyak kesalahan, lebih baik diam.
Da Yu mengangkat dagunya. "Dewi, lihatlah, dia terdiam berarti dia mengakuinya!"
Nan Yan berkata, "Jika yang ia bawa kabur adalah Putra Mahkota, mengapa ia mengatakan bahwa Inspektur Pelayan Istana-ku adalah pewarisnya? Usianya jelas sepantaran denganku."
Da Yu mengusap dagunya, baru menyadari bahwa rentang waktu ini jelas tidak cocok. Usia Putra Mahkota seharusnya sudah mendekati empat puluh tahun.
"Mungkin saat ia dalam pelarian, ia meniduri wanita lain?" gumam Da Yu.
Itu adalah satu-satunya penjelasan yang masuk akal.