Bab 13 Kebahagiaan Manusia Terlahir dari Perbandingan
Deng Shirong melihat keraguan di mata pasangan suami istri Guan Dewei, lalu ia menimpali, “Biarlah aku bicara jujur, meski pihak laki-laki sudah menaikkan uang mahar empat ratus yuan, tapi dibandingkan dengan sawah yang bakal berkurang, kalian tetap dirugikan. Namun, kalau kedua keluarga kita nanti jadi besanan, sebetulnya tak perlu terlalu memperhitungkan itu. Menurutku, dibandingkan dengan membiarkan Yongying menerima bagian sawah di rumah lalu baru menikah, lebih baik ia segera menikah dulu demi keuntungan yang lebih besar.”
“Bagaimanapun juga, pembagian tanah untuk bertani mandiri itu tidak akan selesai dalam waktu singkat. Kalau Yongying menikah lebih awal, di keluarga suaminya ia bukan hanya bisa mendapat bagian sawah, bahkan kalau ia segera punya anak, bisa jadi anak-anak mereka juga masih kebagian satu dua petak sawah. Kita sebagai orang tua tentu ingin anak-anak hidup bahagia. Kalau Yongying menikah dengan cepat, ia pasti berjasa besar bagi keluarga suaminya. Kehidupannya nanti pasti tidak akan buruk.”
Kata-katanya itu akhirnya meluluhkan hati pasangan suami istri Guan Dewei. Meski di zaman ini kebanyakan orang desa masih memandang anak laki-laki lebih tinggi, tetapi keluarga Guan Dewei tidak termasuk di antara mereka. Mereka cukup menyayangi putri sulungnya ini, apalagi karena ia anak pertama, rajin bekerja, cerdas dan tahu diri. Tentu mereka berharap putri sulungnya bisa hidup baik di rumah mertua. Demi itu, mengorbankan sedikit kepentingan anak laki-laki pun masih bisa diterima.
Tentu saja masih ada satu alasan penting lain: kali ini keluarga laki-laki memang sangat menunjukkan itikad baik, dengan menaikkan uang mahar hingga empat ratus yuan. Uang ini selain sebagian dijadikan mas kawin untuk anak perempuan, sisanya bisa disisihkan untuk nanti mencarikan istri bagi anak laki-laki.
Memikirkan itu, Guan Dewei menarik napas panjang lalu berkata, “Paman Kesembilan, kau benar. Kita sebagai orang tua memang ingin anak-anak kita bahagia. Kalau Yongying tak keberatan, menurutku urusan ini bisa dirundingkan.”
Deng Shirong mengangguk, lalu memandang Guan Yongying yang sejak tadi hanya mendengarkan, dan bertanya, “Yongying, bagaimana pendapatmu? Mau segera menikah?”
Melihat tatapan orang tua dan mak comblang tertuju padanya, hati Guan Yongying benar-benar kacau. Semua ini terasa terlalu cepat baginya. Sampai kemarin, belum ada seorang pun mak comblang datang ke rumah mereka, tapi baru sehari, urusan pernikahan sudah dibicarakan.
Tidak tahu harus berbuat apa, Guan Yongying hanya bisa menjawab pelan, “Aku ikut saja keputusan Ayah dan Ibu.”
Mendengar itu, Deng Shirong sudah paham. Ia lalu berkata pada Guan Dewei, “Kalau begitu, sebaiknya sebelum tim produksi mulai panen padi, kita atur jadwal melihat rumah calon besan?”
Karena putrinya tak menolak, Guan Dewei langsung sepakat, “Baik, kami ikut saja aturannya, Paman Kesembilan.”
Deng Shirong tersenyum, “Sekarang tanggal sembilan belas, bagaimana kalau kita jadwalkan kunjungan rumah tanggal dua puluh dua?”
Guan Dewei pun mengiyakan, “Bisa!”
Setelah jadwal kunjungan rumah disepakati, mereka mulai membahas siapa saja yang akan ikut. Di masa ini, tradisi kunjungan rumah sangat berbeda dengan masa kini. Sekarang, perempuan yang ingin melihat rumah calon suami bisa membawa siapa saja tanpa harus memberitahu pihak laki-laki. Tapi dulu, jumlah orang yang ikut harus disampaikan ke mak comblang, lalu diteruskan ke keluarga laki-laki.
Sebab, setiap tamu perempuan yang datang selain menerima angpau, juga akan diberi masing-masing sebongkah daging babi yang disebut ‘lima rasa’ untuk dibawa pulang. Karena itu, jumlah tamu harus jelas agar keluarga laki-laki bisa membeli cukup daging sebelum hari H.
Setelah didiskusikan, akhirnya diputuskan siapa saja yang akan ikut ke rumah calon besan. Deng Shirong pun berpamitan, lalu berjalan pulang di bawah terik matahari.
Saat kembali ke desa, keringat sudah membasahi kepala Deng Shirong. Saat itulah ia benar-benar merasakan bahwa menjadi mak comblang tidaklah semudah yang dibayangkan. Apalagi di zaman ini, mak comblang tidak punya kendaraan, semua harus berjalan kaki. Andai urusan perjodohannya jauh, hanya bolak-balik membawa pesan dari rumah laki-laki ke perempuan saja, entah berapa pasang sepatu yang bakal rusak sebelum jodoh itu tercapai.
Karena itu, membeli sepeda adalah kebutuhan yang sangat mendesak. Tapi sekarang, uang Deng Shirong hanya tersisa enam puluh empat yuan lebih sedikit. Ia harus membangun rumah baru dan membeli sepeda, kekurangan uangnya benar-benar besar.
Setelah beristirahat beberapa menit di rumah, minum semangkuk air tajin untuk menghilangkan dahaga, dan merokok beberapa batang, barulah Deng Shirong kembali berjalan menuju rumah Deng Yunqiang.
...
Tengah hari.
Di salah satu asrama SMA Songshan, Deng Yunheng sedang menikmati makan siangnya dengan lahap. Di atas nasinya, selain tumis lobak asin berminyak, ada juga sepotong besar daging rebus dan beberapa batang sayur hijau—makanannya sangat mewah, sampai-sampai hampir membuat teman sekamarnya menelan ludah.
Di zaman ini, kecuali segelintir siswa yang rela membeli lauk di kantin sekolah, kebanyakan siswa berasal dari keluarga yang hidup pas-pasan. Makanan mereka adalah lobak asin yang dibawa dari rumah. Kenapa harus lobak asin? Karena lauk lain tidak tahan lama, apalagi cuaca panas, dua hari saja sudah basi. Lobak asin bisa dimakan sampai seminggu tanpa rusak.
Seorang teman sekamar berwajah penuh jerawat mendekat membawa kotak nasi, lalu bertanya, “Yunheng, waktu pulang minggu lalu, kau nemu uang di jalan ya?”
Deng Yunheng adalah yang paling cerdas di antara tujuh bersaudara, tentu ia langsung paham maksud temannya. Ia menelan makanannya dulu, lalu tertawa, “Aku tak nemu uang, cuma kakakku gagal masuk universitas, jadi ayahku menggantungkan harapannya padaku, ingin keluarga kami punya satu anak yang kuliah. Supaya aku rajin belajar, beliau sengaja meningkatkan uang sakuku di sekolah.”
Teman berjerawat itu mendengar penjelasannya dengan muka iri, “Ayahmu baik banget sama kamu!”
Deng Yunheng menggigit sepotong daging rebus dan mengangguk, “Iya, ayahku memang baik padaku.”
Sambil bicara, Deng Yunheng melirik kotak nasi temannya. Melihat isinya hanya lapisan lobak asin kering, rasa puas dalam hatinya tak terlukiskan.
Kebahagiaan manusia memang soal perbandingan.
Sebelumnya, standar hidupnya di sekolah sama saja dengan teman berjerawat itu dan teman-teman sekamarnya—semuanya makan lobak asin dari rumah, kadang-kadang saja membeli sedikit sayur di kantin sudah terasa mewah. Sekarang, temannya masih makan seperti biasa, sedangkan ia sudah bisa makan sayur hijau, bahkan hari ini berani membeli sepotong daging rebus untuk memperbaiki gizi. Perbedaan itu terasa sekali.
Setelah berbincang sebentar, teman berjerawat itu tak tahan lagi, membawa kotak nasinya keluar asrama untuk menemani teman-teman lain sesama pemakan lobak asin.
Memang, makan lobak asin saja sudah cukup menyiksa, apalagi melihat orang lain makan daging sementara diri sendiri hanya makan lobak asin. Supaya tak kehilangan selera makan, teman-teman lain pun menjaga jarak dari Deng Yunheng.
Melihat itu, Deng Yunheng hanya tersenyum lalu melanjutkan makan dengan lahap. Daging rebus ini makin dimakan makin nikmat. Libur musim panas sebentar lagi tiba, saat pulang nanti, ia harus ngobrol seru dengan adik-adiknya soal ini.