Bab Dua Puluh Sembilan: Memancing Ikan ke Dalam Jebakan
“Tuan Muda Lin, kau tahu tidak kalau Si Cendekia Berwajah Putih sangat mahir dalam seni merubah wajah?” Tieniu bersandar di ambang pintu, menatap matahari senja yang memerah, lalu bertanya dengan nada aneh.
“Seni merubah wajah?” Lin Yan tidak terlalu penasaran, “Para pendekar yang mengembara di dunia persilatan kerap menyamar untuk menyembunyikan identitas. Itu hal biasa.”
“Bukan sekadar menyamar,” Tieniu mengalihkan pandangan dari indahnya matahari terbenam, suaranya pun berubah dingin seolah kehilangan hangatnya mentari. “Ini semacam pergantian identitas yang nyata. Aku hanya mendengar dari obrolan santai dengan rekan kerja. Katanya, ada yang menguliti seseorang lalu mengenakan kulit itu pada dirinya, dengan metode tertentu, akhirnya ia bisa benar-benar berubah menjadi orang yang dikuliti itu.”
Lin Yan mencubit pipinya sendiri, bergumam, “Dikuliti? Sepertinya tubuhku dan Bai Xiaoyu memang mirip.”
Saat Tieniu merasa merinding, Lin Yan menepuk pundaknya seraya tersenyum, “Saudara Tieniu, di rumahmu ada ranjang kosong? Aku agak sulit pulang, jadi terpaksa menginap di sini malam ini.”
Kepala besar Tieniu sempat linglung, namun segera paham bahwa Lin Yan sengaja tinggal demi melindungi keselamatan dirinya dan istrinya. Ia pun tersenyum haru dan semangat, “Ada, ada! Saudara Lin mau tinggal berapa lama pun tak masalah! Anggap saja rumah sendiri, jangan sungkan.”
Lin Yan tersenyum lalu masuk ke dalam bersama Tieniu.
Malam kian larut. Bulan purnama menggantung di langit, sinarnya yang dingin menembus kisi-kisi jendela, menyebar cahaya remang di ujung ranjang, berlari-lari di atas tikar anyaman.
Lin Yan berbaring tanpa melepas pakaian, sulit memejamkan mata, pikirannya penuh berbagai hal.
Pertama-tama tentu saja, bagaimana menyelamatkan dirinya dan pasangan Tieniu dari upaya pembunuhan Bai Xiaoyu yang berikutnya.
Meski hanya pernah bertemu sekilas, namun terhadap pemuda berwajah lembut yang menempati peringkat keempat dari sepuluh pendekar muda terbaik di Kota Xiaoshui itu, ia sama sekali tak punya kesan baik.
Karena penculikan hari ini diduga dirancang dan dikendalikan Bai Xiaoyu dari balik bayangan, dengan sifat licik dan kejamnya, setelah rencananya gagal, ia pasti akan mencari cara baru untuk menghabisi dirinya.
Memikirkan itu saja sudah membuat kepalanya pening.
Jika tujuan sebenarnya Bai Xiaoyu adalah membunuhnya lewat Niu Si, lalu mengambil kulit tubuhnya agar bisa menyamar dan mendekati Mei Jiangxue, mengapa setelah membungkam Niu Si dengan tusukan bambu, ia tidak langsung membunuhnya saat itu juga?
Ia berpikir lama namun tetap tak mengerti jalan pikir Bai Xiaoyu.
Tetapi demi memanfaatkan keadaan, besok ia memang harus melakukan sesuatu terhadap Qing Feng. Kalau tidak, dengan sifat kejam Bai Xiaoyu, ia pasti akan curiga.
Kesempatan itu pun hanya ada besok. Apakah masalah ini bisa tuntas untuk selamanya, jawabannya mungkin segera terjawab.
Itu baru satu dari sekian hal yang dipikirkan Lin Yan di atas ranjang. Di hatinya, tersimpan rencana lain.
Kematian Niu Si membuat bisnis gandum di dermaga terancam berhenti. Ia berniat menggunakan uang hasil gadai Mutiara Malam untuk membantu Tieniu mengambil alih bisnis itu. Dengan pengalaman Tieniu di dermaga dan para pekerja yang sudah ada, bisnis bongkar muat bisa langsung berjalan.
Tindakan ini bukan sekadar membantu Tieniu, tapi juga untuk dirinya sendiri.
Bisnis gandum itu bisa memberinya pemasukan. Ia butuh uang agar dapat berlatih dengan tenang, meningkatkan kekuatan, dan secepatnya kembali ke Kota Kaisar Langit.
...
Esok harinya, Lin Yan bangun pagi-pagi dan tanpa membangunkan pasangan Tieniu, ia langsung berjalan ke pusat Kota Xiaoshui.
Tujuan pertamanya adalah Cao Sanshui.
Ini adalah bagian dari sandiwara yang ia mainkan untuk Bai Xiaoyu. Walaupun ia tak tahu untuk apa Bai Xiaoyu ingin memanfaatkannya, ia paham Bai Xiaoyu akan terus mengawasi setiap geraknya, agar situasi sepenuhnya dalam kendali.
Benar saja, ketika berjalan menuju kediaman keluarga Cao, Lin Yan merasa dirinya diawasi. Seolah ada sepasang mata tersembunyi yang memandangi setiap tindak-tanduknya.
Lin Yan tetap tenang dan melanjutkan perjalanan sampai tiba di depan gerbang rumah keluarga Cao.
“Tuan kami pergi kemarin,” kata dua penjaga yang pernah menerima uang dari Lin Yan dan tak berani bersikap cuek seperti sebelumnya. Mereka berkata jujur.
Cao Sanshui tidak biasanya pergi, dan kebetulan ia menghilang kemarin. Jika Lin Yan benar-benar curiga bahwa Cao Sanshui dan Qing Feng ingin mencelakainya, tentu ia akan menganggap Cao Sanshui melarikan diri.
Apakah semua ini memang bagian dari rencana Bai Xiaoyu?
Lin Yan makin waspada terhadap Bai Xiaoyu.
“Pergi? Aku mau masuk dan memeriksa!” Ia melanjutkan sandiwara, mengayunkan tangan dan berbicara dengan nada agak memaksa.
Dua penjaga itu tahu kemampuan Lin Yan, dan walau seharusnya tak membiarkan orang sembarangan masuk, mereka akhirnya membiarkannya lewat.
Lima menit kemudian, Lin Yan keluar lagi dengan wajah masam di depan pintu.
“Cao Sanshui bilang kapan pulang?” tanyanya dengan nada dingin.
Kedua penjaga menggeleng tak tahu. Lin Yan menatap gerbang keluarga Cao dengan kesal, lalu pergi dengan enggan.
Ia yakin semua tindakannya ini pasti masuk dalam pengawasan mata di balik bayangan.
Ia pun melanjutkan perjalanan, kali ini menuju Gerbang Qingwu.
Di jalan yang sudah mulai ramai, Lin Yan tiba-tiba merasakan ada tangan cekatan menyentuh pinggangnya. Saat ia meraba, kantung sutra yang baru saja ia dapatkan dari rumah gadai ternyata telah hilang!
Dua tael emas di dalamnya baru terpakai sedikit, jumlahnya lumayan besar, tak mungkin dibiarkan kabur oleh pencuri.
Lin Yan segera mengejar.
“Maling! Berani-beraninya kau mencuri!” teriaknya.
Begitu Lin Yan menyeberang jalan dan sampai di sebuah gang tikungan, ia mendapati si pencuri malang sudah terkapar di tanah, sementara kantung sutra itu berada di tangan seseorang yang memegang kipas!
Melihat kemunculan Lin Yan, Bai Xiaoyu tampak terkejut, “Uang ini milikmu?”
Lin Yan tetap tenang, hanya mengangguk.
Bai Xiaoyu melemparkan kantung uang itu ke arah Lin Yan seraya tersenyum, “Lukamu waktu itu pasti sudah sembuh, bukan?”
Lin Yan tersenyum dan mengangguk, Bai Xiaoyu pun melanjutkan, “Qing Feng memang sering bilang aku kejam, tapi pernahkah aku asal membunuh orang? Justru dia, karena iri hati dan sedikit keahlian, langsung menyerangmu. Itu yang tidak kusukai darinya. Oh ya, soal kejadian kemarin, aku memang harus meminta maaf. Kau tahu aku juga menyukai Jiangxue, dan melihat kedekatanmu dengan Mei Jiangxue, aku merasa kurang nyaman. Kata-kataku di Hutan Cemara kemarin sungguh tak pantas, semoga kau tak terlalu mengambil hati.”
Lin Yan menanggapi dengan wajar.
“Tuan Bai menangkap maling di depan umum, sungguh jiwa keadilan yang patut dikagumi. Uangku kembali, aku berterima kasih. Mana mungkin aku masih menyimpan dendam atas urusan lalu.”
Bai Xiaoyu tersenyum, menegur pencuri di tanah, lalu, setelah melepas pencuri itu pergi, melipat kipas dan membungkuk memberi salam, “Ternyata Saudara Lin! Penampilan dan tutur kata Saudara Lin memang luar biasa, wajar saja dekat dengan Nona Jiangxue. Nanti, tolong Saudara Lin banyak-banyak memujiku di depan Nona Jiangxue, supaya aku juga punya sedikit kesan baik di mata sang jelita.”
Ucapan yang tampak akrab itu membuat seolah Bai Xiaoyu punya alasan yang masuk akal untuk mengenal Lin Yan.
Tanpa penilaian sebelumnya, mungkin Bai Xiaoyu benar-benar bisa menjadi sekutu Lin Yan melawan Qing Feng. Sayang, di hati Lin Yan yang bening seperti cermin, ia hanya bisa tertawa sinis, sembari terus bersandiwara dengan Bai Xiaoyu.
“Saudara Bai sudah masuk jajaran sepuluh pendekar muda, ditambah latar belakang serta penampilan istimewa, tentu membuat Nona Jiangxue terpesona. Aku tak layak untuk itu, hahaha.” Lin Yan membalas salam.
Hubungan mereka seolah menembus batas antara pemuda berbakat dan rakyat desa, menjadi lebih akrab.
“Ngomong-ngomong, Saudara Lin tadi terlihat marah, dan aku sempat melihatmu keluar dari keluarga Cao dengan muka kesal. Apa keluarga Cao membuatmu marah?”
Saat keluar dari gang, Bai Xiaoyu bertanya seolah penasaran dan tak sengaja.
“Bukan keluarga Cao, tapi Qing Feng!” jawab Lin Yan, tampak sebal dan tak punya tempat melampiaskan kekesalannya, sehingga pada orang lain pun ia tak ramah.
Bai Xiaoyu membuka kipasnya, mengibaskan angin dengan santai, namun tetap bertanya seolah tak tahu-menahu, “Aku juga melihat konflikmu dengan Qing Feng. Apa ini ada hubungannya dengan keluarga Cao?”
Lin Yan menahan tawa dingin dalam hati, tapi ia tahu tak boleh membongkar kedok Bai Xiaoyu di depan umum, apalagi menceritakan kejadian kemarin padanya.
“Terima kasih atas perhatian Saudara Bai, tapi aku tidak ingin membicarakannya.”
Setelah berkata demikian, Lin Yan menunggu Bai Xiaoyu bertanya lebih lanjut, karena jelas ia telah menyusun sandiwara maling di keramaian demi suatu niat tertentu.
“Saudara Lin, apa kau mau langsung naik ke Gunung Qingwu untuk melampiaskan amarahmu?” Bai Xiaoyu bersandiwara seolah terkejut, menganggap Lin Yan bertindak gegabah.
“Hmph, meski harus mati, aku tetap akan menuntut keadilan!” seru Lin Yan penuh amarah.
Bai Xiaoyu pun menemukan celah, bersikeras ingin menemani Lin Yan naik ke Gunung Qingwu. Dengan demikian, Lin Yan punya alasan menceritakan kejadian kemarin pada Bai Xiaoyu.
Mendengar penuturan Lin Yan, Bai Xiaoyu pura-pura terkejut.
“Tak kusangka Qing Feng sebegitu rendahnya, sampai menggunakan dua orang awam tak bersenjata untuk memaksamu menyerah. Dendam ini memang harus dibalas! Saudara Lin, meski reputasiku buruk, tapi aku selalu setia kawan! Kau pergi sendirian menuntut Qing Feng sangatlah berbahaya, aku rela menemani dan membantumu menuntut keadilan. Dengan kita berdua naik ke Gunung Qingwu, aku yakin Qing Feng tak berani macam-macam!”
Karena “tidak tahan” oleh kegigihan Bai Xiaoyu yang tampak penuh semangat persaudaraan, Lin Yan akhirnya “setuju”.
Namun Lin Yan langsung sadar mengapa Bai Xiaoyu tidak membunuhnya kemarin dan mengambil kulit tubuhnya.
Jika Bai Xiaoyu benar-benar menemaninya ke Gunung Qingwu lalu bertemu Qing Feng, pasti ia akan memprovokasi Qing Feng, menciptakan suasana permusuhan, tetapi juga memastikan Qing Feng tidak berhasil membunuhnya. Setelah konflik reda, Bai Xiaoyu akan turun gunung bersamanya, dan saat itu, ia bisa membunuh Lin Yan lalu menyalahkan kematiannya pada Qing Feng, membuat reputasi Qing Feng hancur...
“Rencana ini sungguh kejam,” batin Lin Yan.
“Tapi, aku juga bukan orang bodoh. Tak mungkin aku diam saja dibohongi dan malah membantu menghitung untungnya.”
Menyadari hal itu, otak Lin Yan pun bekerja cepat.
Ia harus bertindak sebelum Bai Xiaoyu, dan satu-satunya tempat sepi di sepanjang jalan hanyalah Hutan Cemara di lereng Gunung Qingwu!